Deep Awareness of I
Saya menyadari bahwa saat mendapat tugas seperti ini, saya harus mencari data lokasi desa yang cocok untuk penelitian saya dan pilihan saya jatuh kepada Desa Hurun di Lampung. Mengawali tahap Deep Awareness of I, saya menyadari bahwa aliran Anak Sungai Arter yang memiliki head kotor sebesar 11,26 m dan debit 0,0667 mยณ/s bukan sekadar fenomena alam biasa, melainkan wujud kebesaran ciptaan Tuhan yang harus saya manfaatkan secara amanah. Dengan kondisi desa yang sulit dijangkau PLN, saya merasa memiliki tanggung jawab etis untuk merancang sistem kelistrikan mandiri. Saya merenungkan keterbatasan saya karena data awal tersebut didapat dari Jurnal Universitas Lampung bukan saya lakukan secara mandiri. Namun, saya menjaga kesadaran penuh bahwa setiap langkah matematis yang saya ambil bertujuan untuk memberikan penerangan bagi warga, sebuah tugas yang mensyaratkan ketelitian sebagai rasa syukur. Awalnya, saya ingin memakai Turbin Francis untuk penelitian ini, namun setelah perhitungan mendalam, saya memilih Turbin Cross Flow sebagai fokusan saya karena lebih efisien.
Intention
Memasuki tahap Intention, niat utama saya adalah menyelaraskandk proses perancangan ini dengan nilai-nilai kebaikan untuk mengenal Sang Pencipta melalui ilmu teknik. Saya menargetkan perancangan turbin untuk menyuplai listrik bagi 51 rumah yang masing-masing membutuhkan daya 100 W, sehingga total beban terpasang adalah 5,1 kW. Saya berkomitmen untuk menghasilkan solusi dengan perhitungan akurat dan berkualitas tinggi, memastikan sistem berkelanjutan dan ramah lingkungan. Niat ini menjadi dasar dan landasan agar tidak hanya ada di kertas melainkan benar-benar relevan untuk menghasilkan daya aktual yang mendekati atau memenuhi target beban terpasang dalam lapangan. Dengan begitu saya dapat memilih tipe turbin yang tepat agar relevan dengan kebutuhan.Pada tahap Initial Thinking, saya mulai mendalami akar permasalahan dengan mengevaluasi secara komprehensif sebelum merancang turbin. Saya memulai dengan beberapa stakeholder seperti warga dan operator desa, mahasiswa, bengkel lokal, petani dan pengelola lahan serta instansi terkait untuk saling bekerja sama. Saya juga melihat masalah ini karena jaringan PLN sulit menjangkau desa ditambah belum adanya desain turbin yang sesuai serta sumber daya manusia untuk mengelolanya, lalu saya lanjutkan dengan menghitung rugi gesek Penstock (asumsi Dp = 0,2 m dan L = 25 m), yang dimana kecepatan alirannya adalah . Dari sini, rugi gesek Darcy-Weisbach dihitung sebesar dengan rugi minor = 0,3 m, sehingga total head bersih (H) = 10,4 m. Dengan ini, saya menghitung daya hidrolik yang tersedia sebesar . Analisis ini memastikan saya tidak merancang solusi yang melampaui potensi fisik sebenarnya dari aliran sungai tersebut.
Idealization
Dalam Idealization, saya perlu mengeluarkan usulan yang tetap realistik untuk kebutuhan turbin, yakni transmisi sabuk v 3:1 agar generator 4 kutub standar dapat dipakai dan ukuran runner tetap praktis, selanjutnya runner dibuat dari plat baja lengkung yang dilas pada piringan sehingga mudah dikerjakan bengkel lokal, lalu nosel dibagi dua sekat agar efisiensi terjaga saat debit turun dan buat monitoring tetap sederhana agar mudah dioperasikan warga. Lalu saya perlu menyederhanakan masalah menjadi model matematis ideal namun adaptif. Saya menghitung efisiensi total sistem yang menghasilkan daya poros dan menghasilkan daya listrik sehingga memenuhi 99% dari beban target. Untuk menentukan tipe turbin yang sesuai, saya menetapkan putaran n = 120 f/p = 1000 rpm lalu mencari kecepatan sudut = 104,72 rad/s yang membawa saya kepada perhitungan kecepatan spesifik dan nilai tak berdimensinya . Nilai ini berada pada rentang Francis normal, sehingga tipe Francis layak dipakai. Namun, tipe Crossflow lebih diutamakan karena sederhana, murah, mudah dibuat dan dirawat, serta efisiensi stabil pada debit parsial.
Instruction – Set
Terakhir, pada tahap Instruction-Set, saya perlu menjelaskan cara kerja turbin Crossflow. Yang pertama, air dari forebay mengalir lewat penstock menuju turbin dengan energi tekanan dan energi potensial, lalu nosel mengubah energi tersebut menjadi pancaran berkecepatan tinggi dan guide vane mengatur besar debit. Pancaran membentur sudu runner di sisi luar dan memberi sebagian kerja pada runner, air melintasi ruang dalam runner dan membentur sudu di sisi dalam untuk kedua kalinya. Air keluar ke tailrace pada tekanan atmosfer dan tidak ada draft tube maka runner harus berada di atas muka air tailrace dan poros runner menggerakkan generator. Selanjutnya, saya mengeksekusi hitungan menjadi langkah kerja mendetail. Pertama, untuk dimensi runner, kecepatan semprot teoritis = sehingga dengan rasio kecepatan keliling adalah yang mengarahkan pada diameter awal . Dengan ini, nilai aktual menjadi . Saya menentukan kecepatan meridional untuk mencari lebar sudu masuk . Untuk segitiga kecepatan, dari persamaan euler saya dapatkan Dengan sisi masuk, dan sudut guide vane , lalu kecepatan relatif masuk dengan sudut sudu masuk . Pada sisi keluar (): , dan sebagai sudut sudu keluar dan kecepatan relatif keluar . Untuk guide vane, m, tinggi bukaan m, komponen kecepatannya dan serta sudutnya . Untuk rumah siput, kecepatan masuk diatur memberikan luasan dan Draft tube didesain dari membesar ke dengan sudut 8ยฐ memberikan panjang L = (, dan V_3 = Q / ( dan pemulihan head sebesar . Untuk menghindari kavitasi, dihitung diberi margin 20% menjadi 0,084 sehingga batas ketinggian instalasi maksimal adalah m, sehingga saya aman menempatkan turbin pada elevasi +0,5 m. Terakhir torsi mesin dihitung dan diameter poros minimal adalah yang saya bulatkan menjadi d = 30 mm untuk mengantisipasi runaway speed hingga 2000 rpm. Semua perhitungan ini membentuk susunan instruksi komprehensif yang siap dieksekusi di lapangan.