ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

Algoritma di balik Simulasi Uji Tarik dengan Abaqus – Ilham Bagus W

Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Bismillahirrahmanirrahim.

Pada tulisan ini dibahas metode komputasi numerik untuk menganalisis uji tarik laminat komposit T700/epoxy menggunakan Finite Element Method (FEM) pada Abaqus/Standard. Pembahasan mencakup pemodelan ply, persamaan keseimbangan, cara kerja elemen shell S4R, algoritma penyelesaian Abaqus, serta verifikasi dan mesh convergence.

Fokus proyek: memodelkan spesimen laminat yang daerah grip-nya dikopel ke reference point. RP pada satu ujung ditahan, sedangkan RP ujung lain diberi displacement tarik 5 mm. Model menggunakan Static, General dan NLGEOM=ON.

1. Pendahuluan

Komposit serat karbon memiliki sifat mekanik yang bergantung pada arah serat. Oleh karena itu, setiap ply perlu dimodelkan dengan sifat material yang sesuai, seperti elastisitas ortotropik. Arah serat dan urutan penyusunan ply memengaruhi kekakuan serta respons tarik laminat.

Tujuan proyek ini adalah membangun model elemen hingga uji tarik laminat T700/epoxy, mengamati responsnya terhadap displacement tarik, dan membandingkan respons numerik dengan teori laminat klasik. Hasil numerik baru dapat disajikan setelah job Abaqus dijalankan dan diperiksa.

2. Model dan Asumsi Analisis

Rancangan awal proyek menggunakan laminat delapan ply dengan susunan [0/90/+45/โˆ’45]s. Parameter di bawah perlu dicocokkan dengan model Abaqus final dan sumber material yang digunakan.

Bagian modelPengaturan yang diketahuiCatatan
Solver Abaqus/Standard Solver implisit untuk analisis statik ini
Step Static, General Increment diatur otomatis oleh Abaqus
Geometri NLGEOM=ON Efek nonlinearitas geometri diperhitungkan
Material ply General dan Elastic, tipe lamina Material elastik; belum mencakup damage/failure kecuali ditambahkan
Elemen S4R Elemen shell quadrilateral empat node dengan reduced integration
Grip Daerah grip dikopel ke reference point Permukaan dan DOF coupling perlu disesuaikan dengan kondisi grip
RP ujung tetap Ditahan Representasi grip tetap
RP ujung tarik Displacement aksial +5 mm Arah dan tanda displacement perlu sesuai dengan sumbu model
Equation solver method Iterative dipilih saat ini Direct dapat dipertimbangkan sebagai baseline untuk model shell ukuran tugas
Layup dan dimensi Rancangan awal [0/90/+45/โˆ’45]s Konfirmasi jumlah ply, ketebalan ply, dimensi, dan orientasi aktual
Status analisis: pengaturan di tabel menjelaskan model yang direncanakan/dikonfigurasi. Jangan mengisi nilai tegangan, reaksi, atau kontur sebagai hasil sebelum job Abaqus selesai.

Hal yang harus diperiksa pada model

  • Konfirmasi bahwa sumbu displacement benar-benar sejajar dengan arah tarik spesimen.
  • RP ujung tetap dan RP penarik harus terhubung ke permukaan grip yang sesuai.
  • Periksa DOF coupling agar kondisi grip terepresentasi tanpa mengunci kontraksi lateral pada daerah ukur secara tidak sengaja.
  • Orientasi material lokal dan sudut setiap ply harus sesuai dengan urutan layup.
  • Konsistensi satuan geometri, material, dan displacement 5 mm perlu diperiksa.

3. Ilustrasi Uji Tarik dengan Reference Point

Skema konseptual Grip tetap RP-1 tetap Laminat T700/epoxy โ€” mesh S4R Composite layup dengan orientasi ply sesuai model Grip penarik RP-2 Ux = +5 mm arah tarik Coupling ke RP-1 Coupling ke RP-2
Gambar 1. Skema boundary condition dan arah displacement. Regangan visual dianimasikan berlebihan agar gerak mudah terlihat; animasi ini bukan hasil analisis Abaqus dan tidak menunjukkan deformasi aktual.

4. Metode Numerik: Finite Element Method

Metode numerik utama proyek ini adalah Finite Element Method (FEM) atau Metode Elemen Hingga. FEM membagi geometri menjadi elemen kecil yang terhubung pada node. Perpindahan dalam tiap elemen didekati dengan fungsi interpolasi, kemudian persamaan elemen dirakit menjadi persamaan keseimbangan global.

Untuk elastisitas linier dengan formulasi elemen yang sesuai, bentuk umum sistem diskret adalah:

K u = F

K adalah matriks kekakuan global; u adalah vektor perpindahan nodal; F adalah vektor gaya nodal ekuivalen. Pada displacement control, perpindahan pada RP penarik ditentukan dan reaksi keseimbangan pada tumpuan/constraint dapat diekstrak.

Secara konseptual, matriks kekakuan elemen diperoleh dari integral berikut:

Ke = โˆซVe BT D B dV

B menghubungkan perpindahan nodal dengan regangan; D adalah matriks konstitutif material; Ve adalah domain elemen. Untuk shell komposit, respons juga dipengaruhi orientasi ply dan integrasi section melalui ketebalan.

Penerapan pada laminat

Setiap ply memiliki sumbu material lokal. Kekakuan ortotropik didefinisikan pada sumbu material, lalu diarahkan sesuai sudut ply terhadap sumbu spesimen. Abaqus menggabungkan kontribusi tiap ply pada composite layup. Kesalahan dalam orientasi material atau arah stacking dapat mengubah hasil.

FEM adalah metode diskretisasi dan formulasi numerik. FEM bukan nama algoritma iterasi tertentu milik Abaqus.

Model fisik Geometri, material, layup, beban, tumpuan Diskretisasi FEM Mesh, fungsi bentuk, matriks elemen Persamaan global Perakitan K u = F penerapan kondisi batas Respons U, RF, ฮต, S pemeriksaan hasil
Gambar 2. Alur konseptual metode elemen hingga.

5. Algoritma Abaqus: Newtonโ€“Raphson dan Iterative Solver

Model menggunakan Abaqus/Standard dengan prosedur Static, General, NLGEOM=ON, material elastik tipe lamina, dan automatic incrementation. Materialnya elastik, tetapi NLGEOM=ON mengaktifkan nonlinearitas geometri: perubahan konfigurasi struktur ikut diperhitungkan dalam keseimbangan. Karena itu, solusi dibangun secara inkremental dan iteratif.

Persamaan keseimbangan

Pada akhir setiap increment, Abaqus mencari perpindahan yang membuat gaya eksternal dan gaya internal seimbang. Residual keseimbangan secara umum dituliskan sebagai:

R(u) = Pext โˆ’ Pint(u) = 0

R adalah residual gaya; Pext adalah gaya eksternal ekuivalen; Pint adalah gaya internal yang dirakit dari respons elemen; dan u adalah vektor perpindahan nodal. Perpindahan pada RP penarik diterapkan sebagai kondisi batas displacement.

Langkah Newtonโ€“Raphson dalam satu increment

  1. Mulai increment. Abaqus menaikkan displacement RP-2 secara bertahap menuju +5 mm. RP-1 tetap ditahan. Perkiraan awal biasanya berasal dari keadaan increment sebelumnya.
  2. Hitung respons elemen. Dari perkiraan perpindahan, Abaqus menghitung regangan dan tegangan tiap elemen/ply, lalu merakit gaya internal global.
  3. Hitung residual. Abaqus membandingkan keseimbangan gaya eksternal dan internal. Residual yang belum cukup kecil berarti solusi belum seimbang.
  4. Hitung koreksi Newton. Persamaan keseimbangan dilinierkan di sekitar perkiraan perpindahan saat ini:
KT(uk) ฮ”uk = R(uk)
uk+1 = uk + ฮ”uk

KT adalah matriks kekakuan tangent pada iterasi ke-k; ฮ”uk adalah koreksi perpindahan; dan uk+1 adalah perkiraan perpindahan setelah dikoreksi.

  1. Selesaikan persamaan koreksi. Abaqus menyelesaikan sistem linear di atas menggunakan equation solver yang dipilih. Pengaturan equation solver pada model ini adalah Iterative.
  2. Perbarui konfigurasi. Abaqus menggunakan perpindahan yang telah dikoreksi, menghitung ulang respons elemen dan residual, serta memperhitungkan konfigurasi terdeformasi karena NLGEOM=ON.
  3. Periksa konvergensi. Residual gaya dan besar koreksi perpindahan diperiksa terhadap toleransi konvergensi. Jika kriteria belum terpenuhi, iterasi Newton diulang pada increment yang sama.
  4. Terima atau ulangi increment. Increment yang konvergen diterima. Jika solusi tidak konvergen, automatic incrementation dapat mengurangi ukuran increment dan mencoba kembali.
  5. Lanjutkan sampai target tercapai. Proses increment dan iterasi berlanjut sampai displacement RP-2 mencapai +5 mm atau analisis berhenti karena masalah konvergensi.

Perbedaan Newtonโ€“Raphson dan Iterative Solver

IstilahFungsi di AbaqusPengaturan kasus ini
Newtonโ€“Raphson / Full NewtonIterasi keseimbangan nonlinear: menghitung residual, koreksi perpindahan, dan memperbarui kekakuan tangent.Full Newton direkomendasikan sebagai solution technique awal untuk NLGEOM=ON.
Iterative equation solverMenyelesaikan sistem persamaan linear KTฮ”u=R pada setiap iterasi Newton.Iterative digunakan sebagai equation solver.
Automatic incrementationMengatur ukuran increment pembebanan dalam Static, General.Automatic incrementation digunakan.
Intinya: Iterative adalah pilihan solver untuk persamaan linear di dalam iterasi. Newtonโ€“Raphson adalah proses iterasi luar untuk mencari keseimbangan nonlinear. Keduanya mengatur bagian berbeda dari penyelesaian.

Untuk model ini, Full Newton direkomendasikan sebagai solution technique, disertai automatic incrementation. Equation solver yang digunakan adalah Iterative. Untuk spesimen shell berukuran tugas, Direct dapat digunakan sebagai pembanding/baseline. Laporan perlu mencantumkan solver yang benar-benar aktif pada job analisis.

Automatic incrementation mengatur ukuran increment selama step. Tetap periksa ukuran increment awal, minimum, dan maksimum pada Step Editor. Periksa juga file .sta dan .msg untuk memastikan apakah increment diterima, dicoba ulang dengan ukuran lebih kecil, atau gagal konvergen.

Batas model: material Elastic Lamina saja menghitung respons elastik dengan nonlinearitas geometri. Model belum memprediksi kerusakan serat, retak matriks, delaminasi, atau kegagalan komposit kecuali hukum material dan kriteria kegagalan ditambahkan.

Static, General mengabaikan efek inersia untuk analisis statik. Parameter โ€œtimeโ€ pada step ini berfungsi sebagai parameter kemajuan pembebanan, bukan otomatis waktu fisik eksperimen.

Rujukan: Dassault Systรจmes, Solving Nonlinear Problems; Configuring a Static, General Procedure.

6. Verifikasi dengan Teori Klasik Laminat

Classical Laminate Theory (CLT) dapat digunakan sebagai pemeriksaan independen untuk respons membran elastik linier. CLT bukan solver Abaqus; dalam proyek ini CLT berfungsi sebagai verifikasi analitik/semianalitik pada daerah ukur yang jauh dari efek grip.

Langkah perhitungan

  1. Ambil konstanta elastik tiap ply dari sumber data: E1, E2, G12, dan ฮฝ12 untuk asumsi tegangan bidang.
  2. Bentuk matriks kekakuan ply Q pada sumbu material lokal.
  3. Transformasikan Q menjadi Qฬ„ sesuai orientasi masing-masing ply.
  4. Hitung matriks extensional A = ฮฃ Qฬ„k(zk โˆ’ zkโˆ’1).
  5. Gunakan resultan beban per satuan lebar dan kondisi batas yang sepadan dengan model.
  6. Bandingkan regangan aksial atau gaya reaksi FEM pada daerah ukur dengan prediksi CLT.
{N} = [A]{ฮต0} + [B]{ฮบ}
{M} = [B]{ฮต0} + [D]{ฮบ}

N dan M adalah resultan gaya dan momen per satuan lebar; ฮต0 adalah regangan bidang tengah; ฮบ adalah kelengkungan; A, B, dan D adalah matriks kekakuan extensional, coupling, dan bending.

Untuk laminat simetris, B bernilai nol secara teori. Jika laminat juga balanced sehingga coupling tarikโ€“geser dapat diabaikan, dan tepi spesimen bebas berkontraksi lateral (Ny=0), estimasi regangan aksialnya:

ฮตx = Nx / (A11 โˆ’ A122/A22)   ;   ฮดx = ฮตxL

Nx adalah gaya tarik per satuan lebar; ฮดx adalah pertambahan panjang daerah ukur; dan L adalah panjang ukur. Rumus ini mengasumsikan medan membran seragam dan sisi bebas berkontraksi lateral. Jika grip atau coupling mengubah kondisi tersebut, lokasi dan rumus perbandingan perlu disesuaikan.

Satuan, material, susunan ply, ketebalan, panjang ukur, dan boundary condition harus disamakan sebelum hasil CLT dibandingkan dengan FEM. Tegangan maksimum dekat grip tidak dibandingkan langsung dengan solusi CLT yang mengasumsikan medan membran seragam.

7. Mesh Convergence

Mesh convergence diperiksa dengan menjalankan beberapa mesh yang semakin halus, sementara geometri, material, layup, kondisi batas, displacement, dan pengaturan solver tetap. Sumbu X grafik dapat menggunakan number of elements; sumbu Y berisi respons terpilih.

Untuk uji tarik displacement control, respons utama yang disarankan adalah gaya reaksi total pada RP penarik saat displacement mencapai 5 mm. Regangan aksial atau tegangan di area ukur dapat menjadi respons tambahan, selama lokasi dan jenis output-nya konsisten pada semua mesh.

Perubahan relatif (%) = |Ri โˆ’ Riโˆ’1| / |Ri| ร— 100%

Ri adalah respons pada mesh ke-i. Ambang konvergensi, misalnya 2%, merupakan kriteria yang dipilih untuk proyek ini, bukan aturan universal.

Mesh Number of elements Gaya reaksi RP pada 5 mm Perubahan relatif
KasarIsi dari modelIsi dari hasil Abaqusโ€”
MenengahIsi dari modelIsi dari hasil AbaqusHitung terhadap mesh kasar
HalusIsi dari modelIsi dari hasil AbaqusHitung terhadap mesh menengah
Catatan grafik: number of elements meningkat ke kanan, sedangkan respons yang dipilih diplot pada sumbu Y. Data yang ditampilkan harus berasal dari job yang telah selesai. Tegangan maksimum di ujung grip tidak digunakan sebagai satu-satunya metrik karena dapat sensitif terhadap konsentrasi tegangan dan pemurnian mesh.

8. Hasil yang Perlu Dilaporkan Setelah Job Berjalan

OutputInformasi yang dilaporkan
Displacement (U) Perpindahan pada daerah ukur dan bentuk deformasi. Sebutkan jika skala deformasi visual tidak aktual.
Reaction force (RF) Gaya reaksi pada RP-1/RP-2 dan pemeriksaan keseimbangan gaya.
Regangan Komponen regangan aksial, lokasi ekstraksi, dan cara menghitung regangan rata-rata jika digunakan.
Tegangan ply Komponen tegangan pada sumbu material dan section point/ply yang ditinjau.
Konvergensi Status job, jumlah increment/iterasi, dan pesan penting dari file .sta/.msg.
Mesh convergence Jumlah elemen, respons pada tiap mesh, serta perubahan relatif.
Verifikasi CLT Perbandingan respons FEM dan teori laminat dengan asumsi yang sepadan.
Kontur von Mises boleh ditampilkan sebagai keluaran visual, tetapi von Mises bukan kriteria kegagalan umum untuk komposit ortotropik. Prediksi kegagalan memerlukan kriteria komposit yang sesuai dan data kekuatan material yang diperlukan.

9. Kesimpulan

Metode numerik proyek ini adalah FEM dengan Abaqus/Standard, Static, General, material elastik lamina, elemen S4R, coupling daerah grip ke reference point, dan displacement tarik +5 mm. NLGEOM=ON membuat analisis memperhitungkan nonlinearitas geometri. Abaqus menyelesaikan masalah secara inkremental; Full Newton direkomendasikan sebagai solution technique awal untuk mencapai keseimbangan pada tiap increment.

Equation solver method yang saat ini dipilih adalah Iterative. Untuk model shell spesimen ukuran tugas, Direct dapat dipakai sebagai baseline dan dibandingkan bila diperlukan. Keduanya adalah pilihan penyelesaian persamaan linear, bukan nama metode iterasi nonlinear. Keandalan hasil perlu diperiksa melalui keseimbangan reaksi, verifikasi CLT, pemeriksaan orientasi ply, status konvergensi, dan mesh convergence.

Wassalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Referensi

  1. Dassault Systรจmes, Configuring a Static, General Procedure, dokumentasi Abaqus 2025. Buka dokumentasi.
  2. Dassault Systรจmes, Solving Nonlinear Problems, dokumentasi Abaqus 2025. Buka dokumentasi.
  3. Dassault Systรจmes, Including Nonlinearity in an Abaqus Analysis, dokumentasi Abaqus 2025. Buka dokumentasi.
  4. Dassault Systรจmes, Choosing a Shell Element, dokumentasi Abaqus 2025. Buka dokumentasi.
  5. Dassault Systรจmes, Linear Elastic Behavior, dokumentasi Abaqus 2025.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *