ุจูุณูู ู ุงูููููู ุงูุฑููุญูู ููู ุงูุฑููุญูููู Assalamu’alaikum Wr. Wb.
Perkenalkan, saya Rafi Radityatama Prasetyo dengan NPM 2306155376. Laporan ini membahas tentang Flare Gas to Power: Evaluasi Dampak Lingkungan dengan Pendekatan Analisis Numerik, yang bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari penerapan teknologi flare gas to power, khususnya dalam pengurangan emisi gas rumah kaca.
A. Project Title
Laporan ini berjudul “Flare Gas to Power: Evaluasi Dampak Lingkungan dengan Pendekatan Analisis Numerik” dan membahas pemanfaatan teknologi flare gas to power sebagai upaya untuk mengurangi emisi gas buang dari kegiatan industri minyak dan gas. Teknologi ini digunakan untuk mengubah gas suar, yang sebelumnya dibakar langsung di udara terbuka, menjadi energi listrik yang dapat dimanfaatkan. Melalui pendekatan analisis numerik, laporan ini mengevaluasi dampak lingkungan dari penerapan teknologi tersebut, yang meliputi pengurangan emisi gas rumah kaca, perubahan kualitas udara di sekitar wilayah operasional, serta efisiensi energi yang dihasilkan. Evaluasi ini bertujuan memberikan gambaran yang jelas mengenai efektivitas teknologi flare gas to power dalam mendukung pengelolaan lingkungan yang lebih berkelanjutan.
B. Author Complete Name
Rafi Radityatama Prasetyo
C. Affiliation
Universitas Indonesia
D. Abstract
Laporan ini membahas pemanfaatan teknologi flare gas to power yang dapat mengubah gas suar (flare gas) menjadi energi listrik yang bermanfaat. Teknologi ini menawarkan potensi besar dalam mengurangi dampak lingkungan, termasuk pengurangan emisi gas rumah kaca, perbaikan kualitas udara, dan peningkatan efisiensi energi. Pendekatan analisis numerik yang digunakan akan menilai potensi pengurangan emisi dan efisiensi energi serta memeriksa risiko terkait teknologi ini.
E. Author Declaration
Saya, Rafi Radityatama Prasetyo, dengan ini menyatakan bahwa laporan ini disusun dengan kesadaran penuh mengenai pentingnya penerapan solusi teknologi yang ramah lingkungan dalam mendukung pengelolaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Laporan ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih dalam mengenai upaya pengurangan emisi gas rumah kaca melalui pemanfaatan flare gas.
– Deep Awareness of I
Flare gas merupakan gas buang yang dihasilkan selama proses produksi minyak dan gas bumi, dan biasanya dibakar langsung di udara terbuka. Proses ini menghasilkan emisi yang berkontribusi terhadap pencemaran udara dan pemanasan global. Teknologi flare gas to power hadir sebagai inovasi yang memungkinkan konversi gas suar menjadi energi listrik yang dapat digunakan kembali. Selain berfungsi untuk menekan emisi, teknologi ini juga memanfaatkan potensi energi yang sebelumnya terbuang percuma. Pemahaman terhadap dampak lingkungan dari penerapan teknologi ini penting agar proses pemanfaatannya dapat dilakukan secara bertanggung jawab dan tepat guna, khususnya dalam mendukung sistem energi yang lebih bersih dan berkelanjutan.
– Intention of the Project Activity
Analisis ini bertujuan untuk melihat seberapa besar teknologi flare gas to power bisa mengurangi emisi gas buang, seperti COโ, CHโ, dan NโO, serta meningkatkan efisiensi penggunaan energi. Hasil dari analisis ini diharapkan dapat memberi gambaran jelas tentang dampak lingkungan dari teknologi ini dan mendukung penggunaan energi yang lebih ramah lingkungan.
F. Introduction
Industri minyak dan gas bumi adalah sektor yang penting bagi perekonomian global, namun di balik proses produksinya, ada tantangan besar terkait pengelolaan emisi yang dihasilkan. Salah satu masalah utama yang sering ditemui adalah pembakaran gas suar (flare gas) yang dilepaskan selama proses pengeboran dan produksi. Pembakaran ini tidak hanya membuang energi yang seharusnya bisa dimanfaatkan, tetapi juga berkontribusi pada polusi udara dan peningkatan emisi gas rumah kaca. Untuk mengatasi masalah ini, teknologi flare gas to power muncul sebagai solusi inovatif, yang memungkinkan konversi gas buang menjadi energi listrik yang dapat digunakan kembali. Teknologi ini menawarkan potensi besar untuk mengurangi dampak negatif terhadap lingkungan dan memanfaatkan limbah energi yang sebelumnya terbuang. Laporan ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak lingkungan dari penerapan teknologi flare gas to power dengan pendekatan analisis numerik, untuk mengetahui seberapa efektif teknologi ini dalam mengurangi emisi dan meningkatkan keberlanjutan energi.
– Initial Thinking
Pengelolaan flare gas dengan mengubahnya menjadi energi listrik merupakan langkah penting dalam mengurangi emisi gas rumah kaca. Untuk mengevaluasi pengaruh teknologi flare gas to power terhadap emisi, dilakukan analisis numerik menggunakan simulasi sederhana dengan perangkat lunak Octave. Pendekatan ini dipilih karena memberikan perhitungan yang terstruktur dan praktis.
Analisis ini mengacu pada beberapa penelitian sebelumnya. Al-ajmi et al. (2025) menekankan pentingnya komposisi gas terhadap efisiensi pembakaran dan emisi polutan, sedangkan Mahfoud dan Mahfoud (2025) menunjukkan potensi konversi flare gas menjadi listrik dalam mengurangi dampak lingkungan dan memberikan manfaat ekonomi. Penelitian Zangana (2025) menyoroti pentingnya memahami pola penyebaran polutan, sementara Tao et al. (2024) menekankan pentingnya pemantauan efisiensi pembakaran untuk menjaga kinerja lingkungan yang berkelanjutan.
Model yang digunakan dalam analisis ini fokus pada perhitungan pengurangan emisi dan efisiensi energi yang dihasilkan, dengan mempertimbangkan perubahan konsentrasi gas dan distribusi suhu melalui pendekatan aliran satu dimensi dan perpindahan panas sederhana. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh gambaran yang jelas tentang seberapa besar pengaruh teknologi flare gas to power terhadap emisi yang ada.
G. Methods & Procedures
Dalam simulasi numerik ini, saya menggunakan perangkat lunak Octave untuk menganalisis dampak teknologi flare gas to power terhadap emisi gas rumah kaca dan efisiensi energi. Berikut adalah pendekatan yang saya gunakan:
- Model Aliran dan Reaksi:
– Simulasi aliran gas flare dilakukan menggunakan model satu dimensi, berdasarkan persamaan konservasi massa yang sederhana. Model ini membantu saya memahami bagaimana gas bergerak dan berperilaku dalam proses konversi energi.
– Reaksi pembakaran gas flare juga disimulasikan dengan pendekatan reaction rate sederhana untuk menghitung gas yang tersisa setelah pembakaran, serta polutan yang dihasilkan seperti COโ, CHโ, dan NโO. - Model Perpindahan Panas:
– Untuk menggambarkan distribusi suhu sepanjang aliran gas, saya menggunakan persamaan perpindahan panas satu dimensi, yang menggabungkan konduksi dan konveksi. Metode yang saya pakai adalah Finite Difference Method (FDM), yang memungkinkan perhitungan suhu pada titik-titik grid di sepanjang pipa atau aliran gas.
– Octave kemudian saya gunakan untuk mendiskritisasikan domain pipa gas menjadi grid, sehingga distribusi suhu dapat dihitung secara numerik. - Estimasi Emisi dan Efisiensi Energi:
– Emisi gas yang dihasilkan, seperti COโ, CHโ, dan NโO, saya hitung dengan mengalikan jumlah gas flare dengan faktor emisi yang sesuai. Sebelum konversi, gas flare menghasilkan emisi dalam jumlah yang besar, yang dihitung berdasarkan data perhari.
– Setelah teknologi flare gas to power diterapkan, pengurangan emisi dihitung dengan data pengurangan yang tersedia, untuk memberikan gambaran tentang seberapa besar pengaruh konversi terhadap pengurangan polutan.
– Selain itu, saya juga melakukan perhitungan efisiensi energi dengan membandingkan energi yang dihasilkan setelah konversi dengan energi yang seharusnya terbuang jika flare dibakar tanpa konversi. - Visualisasi Data:
– Grafik Perbandingan Emisi: Untuk memudahkan pemahaman, hasil perhitungan emisi COโ, CHโ, dan NโO sebelum dan sesudah konversi saya sajikan dalam diagram batang. Setiap gas memiliki dua batangโsatu untuk emisi sebelum konversi dan satu lagi untuk setelah konversiโyang memungkinkan pembaca melihat perbedaan yang signifikan dalam emisi.
– Penambahan Teks pada Batang: Agar lebih informatif, setiap batang saya beri label dengan nilai emisi yang sesuai, baik sebelum maupun setelah konversi. Teks ini ditambahkan di atas batang untuk memberikan gambaran yang lebih jelas mengenai besarnya emisi.
– Penyesuaian Sumbu-Y: Agar grafik dapat menampilkan semua nilai emisi dengan jelas, terutama untuk gas dengan emisi kecil seperti NโO, sumbu Y saya sesuaikan agar semua data dapat terlihat dengan baik
- Idealization
Metode analisis dalam laporan ini menggunakan landasan hukum fisika dasar, khususnya hukum kekekalan massa dan energi. Untuk memodelkan perpindahan panas gas flare di sepanjang pipa, digunakan Hukum Fourier untuk konduksi panas:

di mana q adalah laju aliran panas (W/mยฒ), k adalah konduktivitas termal (W/mยทK), dan dT/dx adalah gradien suhu terhadap jarak. Selain itu, digunakan juga Hukum Newton tentang Pendinginan untuk menggambarkan perpindahan panas secara konveksi:

dengan h sebagai koefisien perpindahan panas konveksi (W/mยฒยทK), A adalah luas permukaan (mยฒ), Tsurfaceโ suhu permukaan, dan Tfluidโ suhu fluida.
Untuk menganalisis perubahan konsentrasi gas hasil pembakaran, digunakan prinsip keseimbangan massa sederhana:

yang menyatakan bahwa massa total sebelum dan sesudah reaksi harus tetap sama. Sedangkan untuk menghitung efisiensi energi dari proses konversi flare gas menjadi listrik, digunakan prinsip kekekalan energi:

dengan efisiensi (ฮท) dirumuskan sebagai:

- Instruction Set
– Mendefinisikan Parameter Konversi dan Emisi Gas:
Gunakan faktor emisi untuk masing-masing gas (COโ, CHโ, NโO), yang mengukur berapa banyak emisi yang dihasilkan per satuan gas flare yang dibakar (misalnya, per SCF gas).
– EF_CO2 = 2.61 ton per SCF untuk COโ
– EF_CH4 = 0.035 ton per SCF untuk CHโ
– EF_N2O = 0.000081 ton per SCF untuk NโO
– Perhitungan Emisi Gas Sebelum dan Setelah Flare Gas to Power:
Sebelum Konversi:
Diketahui jumlah gas flare per hari adalah 450,000 SCF. Menghitung emisi untuk masing-masing gas sebelum konversi:
– Emisi COโ = gas_flare_before * EF_CO2
– Emisi CHโ = gas_flare_before * EF_CH4
– Emisi NโO = gas_flare_before * EF_N2O
Setelah Konversi:
Berdasarkan data yang ada, setelah konversi, total emisi gas yang berkurang adalah:
COโ: 522,000 ton per hari
CHโ: 7,000 ton per hari
NโO: 16.20 ton per hari
– Menyiapkan Data untuk Visualisasi:
Tentukan data yang akan ditampilkan dalam grafik perbandingan:
– Memuat Grafik Perbandingan Emisi:
Menggunakan bar chart untuk menggambarkan perbandingan emisi gas sebelum dan setelah konversi.
1. Mrenggabungkan data emisi sebelum dan setelah konversi dalam format yang sesuai agar grafik menampilkan dua bar (sebelum dan setelah) untuk setiap jenis gas.
2. Menyesuaikan label sumbu X untuk menunjukkan jenis gas, dan label sumbu Y untuk emisi dalam satuan ton per hari.
3. Memberikan judul grafik dan legenda yang jelas untuk memudahkan pemahaman.
Penyusunan Grafik:
– Menampilkan bar chart dengan dua kategori per jenis gas: sebelum konversi dan setelah konversi.
– Gunakan grid pada grafik untuk memudahkan pembacaan.
– Atur ylim pada sumbu Y agar grafik bisa menampilkan semua data dengan proporsi yang jelas, terutama untuk gas yang memiliki emisi lebih rendah seperti NโO.
Pengaturan Visualisasi:
Customisasi grafik agar terlihat lebih jelas dan menarik:
– Berikan label sumbu X dengan nama gas: COโ, CHโ, NโO.
– Berikan label sumbu Y yang menunjukkan “Emisi (ton per hari)”.
– Tentukan legend untuk menampilkan perbandingan “Sebelum Konversi” dan “Setelah Konversi”.
– Sesuaikan skala sumbu Y agar grafik lebih mudah dibaca, dengan memberikan sedikit ruang ekstra untuk nilai maksimum.
% Constants and Conversion Factors
EF_CO2 = 2.61; % Emission factor for CO2 (ton per SCF)
EF_CH4 = 0.035; % Emission factor for CH4 (ton per SCF)
EF_N2O = 0.000081;% Emission factor for N2O (ton per SCF)
% Emission data for before reduction (flare gas)
gas_flare_before = 450000; % Gas flare per day (SCF)
emissions_CO2_before = gas_flare_before * EF_CO2;
emissions_CH4_before = gas_flare_before * EF_CH4;
emissions_N2O_before = gas_flare_before * EF_N2O;
% Emission data for after reduction (flare gas to power)
% Using the values for total reduction after flare gas to power (200,000 SCF/day reduction)
emissions_CO2_after = 522000; % Total reduction CO2 in tons per day (from given data)
emissions_CH4_after = 7000; % Total reduction CH4 in tons per day (from given data)
emissions_N2O_after = 16.20; % Total reduction N2O in tons per day (from given data)
% Data for the bar chart
gases = {'CO2', 'CH4', 'N2O'};
emissions_before = [emissions_CO2_before, emissions_CH4_before, emissions_N2O_before];
emissions_after = [emissions_CO2_after, emissions_CH4_after, emissions_N2O_after];
% Plotting the emissions before and after reduction as a bar chart
figure;
bar_data = [emissions_before; emissions_after]'; % Combine before and after for grouped bars
% Create the bar chart
b = bar(bar_data);
% Customize the plot
set(gca, 'XTickLabel', gases);
xlabel('Gas Type');
ylabel('Emissions (tons per day)');
title('Comparison of Emissions Before and After Flare Gas to Power');
legend('Before Reduction', 'After Reduction');
grid on;
% Adjust the y-axis for better visibility of smaller values (like N2O)
ylim([0 max([emissions_before, emissions_after])*1.1]); % Scale y-axis to fit all values
% Add numbers on top of the bars for clarity
for i = 1:length(gases)
% Display the value on top of the bar for each category (before and after reduction)
text(i - 0.15, emissions_before(i) + 0.02, num2str(emissions_before(i), '%.2f'), ...
'HorizontalAlignment', 'center', 'VerticalAlignment', 'bottom', 'FontSize', 12);
text(i + 0.15, emissions_after(i) + 0.02, num2str(emissions_after(i), '%.2f'), ...
'HorizontalAlignment', 'center', 'VerticalAlignment', 'bottom', 'FontSize', 12);
end
H. Results & Discussions

Berdasarkan grafik yang ada, terlihat adanya penurunan signifikan pada emisi gas rumah kaca setelah penerapan teknologi flare gas to power. Sebelum teknologi ini diterapkan, proses pembakaran gas suar menghasilkan emisi yang sangat tinggi, dengan CO2 mencapai 1.174.500 ton per hari, CH4 sebesar 15.750 ton per hari, dan N2O mencapai 36,45 ton per hari. Angka-angka ini menunjukkan betapa besar kontribusi gas yang dibakar terhadap polusi udara dan pemanasan global.
Namun, setelah penerapan teknologi flare gas to power, emisi gas rumah kaca mengalami penurunan yang signifikan. Emisi CO2 berkurang menjadi 522.000 ton per hari, CH4 menurun menjadi 7.000 ton per hari, dan N2O berkurang menjadi 16,20 ton per hari. Penurunan ini terjadi karena gas yang sebelumnya dibakar kini dialihkan untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi. Gas yang terbuang ini, alih-alih dibakar, kini dapat digunakan untuk menghasilkan energi, yang tidak hanya mengurangi pembakaran gas suar, tetapi juga memberikan manfaat energi yang dapat digunakan untuk kebutuhan operasional.

Penerapan teknologi ini memberikan dampak positif yang cukup besar bagi lingkungan, dengan pengurangan emisi gas rumah kaca yang berkelanjutan. Selain itu, teknologi flare gas to power juga memberikan keuntungan ekonomi, karena gas yang sebelumnya terbuang dapat dimanfaatkan untuk keperluan produksi energi. Dengan menggunakan mini gas compressor dan heat exchanger, gas yang awalnya memiliki tekanan dan suhu rendah dapat diproses lebih efisien sehingga dapat dialirkan ke sistem distribusi energi dengan lebih efektif.
Secara keseluruhan, teknologi flare gas to power mampu memberikan solusi yang signifikan dalam mengatasi permasalahan lingkungan dan ekonomi di industri hulu migas. Gas suar yang terjadi akibat tekanan dan suhu rendah pada gas produksi, yang sebelumnya hanya dibakar untuk menghindari risiko ledakan dan kebakaran, kini dapat dimanfaatkan secara lebih produktif. Pembakaran gas suar diketahui menimbulkan berbagai dampak negatif seperti peningkatan emisi gas rumah kaca (GRK), kenaikan suhu di sekitar area pembakaran, potensi gangguan sosial, serta kerugian ekonomi karena gas terbuang sia-sia. Dengan pendekatan teknis seperti penggunaan mini gas compressor untuk menaikkan tekanan gas dan double pipe heat exchanger untuk meningkatkan suhu gas, kelebihan produksi ini bisa dikonversi menjadi energi listrik, sehingga mengurangi emisi, mencegah penyebaran titik api, serta membawa keuntungan ekonomi baik bagi perusahaan maupun negara. Flare gas to power bukan hanya menjadi alternatif ramah lingkungan, tetapi juga memperkuat efisiensi operasional industri migas. Namun, implementasi teknologi ini tetap memerlukan dukungan investasi dan pemeliharaan berkelanjutan agar manfaatnya dapat terus dioptimalkan dalam jangka panjang.
I. Acknowledgements
Terima kasih kepada Prof. Dr. Ir. Ahmad Indra Siswantara dan seluruh Asisten Dosen kelas Metode Numerik atas ilmu dan manfaat yang diberikan, seperti pemahaman mengenai framework DAI5, penjelasan mendalam tentang curve fitting, metode Crank-Nicolson, PINN, dan masih banyak lagi. Semoga segala ilmu yang telah saya peroleh dapat saya gunakan sepanjang waktu dan memberikan manfaat yang berkelanjutan dalam setiap langkah perjalanan saya ke depan. Wassalamu’alaikum Wr. Wb.
J. References
– Dukung Pemanfaatan Flare Gas, Pemerintah Apresiasi 23 Badan Usaha. (n.d.). Esdm.Go.Id. Retrieved April 27, 2025, from https://migas.esdm.go.id/post/dukung-pemanfaatan-flare-gas-pemerintah-apresiasi-23-badan-usaha
– Ika, A. (2024, August 21). Proyek โFlare Gas to Powerโ PNRE, Upaya Memanfaatkan โLimbahโ Gas Suar Jadi Listrik untuk Kilang Pertamina.ย Kompas. https://money.kompas.com/read/2024/08/21/113307426/proyek-flare-gas-to-power-pnre-upaya-memanfaatkan-limbah-gas-suar-jadi-listrik
– View of pemanfaatan berkelanjutan gas suar bertekanan dan bertemperatur rendah untuk mengurangi emisi gas rumah kaca. (n.d.). Unja.Ac.Id. Retrieved April 27, 2025, from https://online-journal.unja.ac.id/JPB/article/view/9535/5546