ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

Tugas Besar-Perancangan dan Analisis Turbin Uap De Laval Satu Tingkat-Feriyanto Prabowo-2406357822

A. PROJECT TITLE

Perancangan dan Analisis Turbin Uap Impuls De Laval Satu Tingkat untuk Pembangkitan Daya 100 kW


B. AUTHOR COMPLETE NAME

Feriyanto Prabowo


C. AFFILIATION

Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia


D. ABSTRACT

Turbin uap merupakan salah satu mesin konversi energi yang digunakan untuk mengubah energi termal dan energi aliran uap menjadi energi mekanik. Salah satu konfigurasi sederhana dari turbin uap adalah turbin impuls De Laval satu tingkat. Pada turbin impuls, penurunan tekanan utama terjadi pada nosel sehingga energi entalpi uap dikonversi menjadi energi kinetik sebelum aliran memasuki rotor.

Proyek akhir ini bertujuan melakukan perancangan awal dan analisis turbin uap impuls De Laval satu tingkat dengan target daya poros sebesar 100 kW. Perancangan dilakukan menggunakan pendekatan analitis dengan mempertimbangkan kondisi termodinamika uap, ekspansi pada nosel, segitiga kecepatan, persamaan Euler untuk turbin, rasio kecepatan, serta efisiensi mekanis. Kondisi awal yang digunakan adalah tekanan uap masuk 5 bar(a), temperatur 300 ยฐC, dan tekanan keluar 0,8 bar(a).

Hasil perhitungan menunjukkan bahwa penurunan entalpi isentropik sebesar 389,3 kJ/kg. Dengan efisiensi nosel 90%, kecepatan keluar nosel diperoleh sebesar 837,1 m/s. Rasio kecepatan optimum untuk konfigurasi sudu simetris diperoleh sebesar 0,470, menghasilkan kecepatan sudu sekitar 393,3 m/s. Kerja spesifik rotor sebesar 286,2 kJ/kg dan laju aliran massa yang diperlukan untuk menghasilkan daya poros 100 kW sebesar 0,368 kg/s. Dengan kecepatan putar 30.000 rpm, diameter rotor yang diperoleh sekitar 0,250 m. Efisiensi keseluruhan berdasarkan daya poros terhadap energi isentropik yang tersedia adalah sekitar 69,8%.

Kata kunci: turbin uap, turbin impuls, De Laval, segitiga kecepatan, rasio kecepatan, DAI5.

E. AUTHOR DECLARATION

1. Deep Awareness (of) I

Perancangan teknik merupakan proses penggunaan ilmu pengetahuan untuk menghasilkan solusi terhadap suatu permasalahan dengan tetap mempertimbangkan tanggung jawab terhadap hasil yang diperoleh. Dalam proyek ini, penulis menyadari bahwa kemampuan untuk memahami prinsip termodinamika, mekanika fluida, dan konversi energi merupakan bagian dari pengetahuan yang harus digunakan secara bertanggung jawab.

Perancangan turbin dilakukan dengan kesadaran bahwa hukum-hukum fisika yang digunakan merupakan bagian dari keteraturan alam yang diciptakan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Oleh karena itu, proses perhitungan dilakukan dengan memperhatikan kejujuran akademik, keterbukaan terhadap asumsi, serta pemeriksaan terhadap hasil yang diperoleh.

Penulis juga menyadari bahwa proyek ini memiliki keterbatasan. Model yang digunakan merupakan model perancangan awal sehingga belum mempertimbangkan seluruh fenomena yang terjadi pada turbin nyata, seperti losses tiga dimensi, kebocoran, windage, tegangan material, dinamika rotor, dan detail manufaktur. Kesadaran terhadap keterbatasan tersebut menjadi bagian dari proses evaluasi hasil perancangan.

2. Intention of the Project Activity

Proyek ini dilakukan dengan tujuan memahami proses perancangan turbin uap impuls melalui penerapan prinsip-prinsip teknik yang telah dipelajari pada mata kuliah Sistem Konversi Energi.

Tujuan khusus proyek adalah:

  1. Merancang konsep turbin uap impuls De Laval satu tingkat.
  2. Menentukan kondisi termodinamika uap sebelum dan sesudah ekspansi.
  3. Menghitung kecepatan keluar nosel.
  4. Membentuk dan menganalisis segitiga kecepatan rotor.
  5. Menentukan rasio kecepatan yang sesuai.
  6. Menghitung kerja spesifik turbin.
  7. Menentukan laju aliran massa untuk menghasilkan daya 100 kW.
  8. Menentukan kecepatan putar dan diameter rotor.
  9. Menganalisis pengaruh rasio kecepatan terhadap kerja dan efisiensi.
  10. Melakukan verifikasi terhadap hasil berdasarkan konservasi energi dan momentum.

F. INTRODUCTION

1. Background

Turbin uap merupakan mesin konversi energi yang mengubah energi yang dimiliki oleh uap menjadi energi mekanik pada poros. Energi tersebut berasal dari kondisi tekanan dan temperatur uap yang kemudian mengalami ekspansi sehingga menghasilkan perubahan entalpi dan energi kinetik.

Berdasarkan prinsip konversi energinya, turbin uap secara umum dapat dibedakan menjadi turbin impuls dan turbin reaksi. Pada turbin impuls, penurunan tekanan utama terjadi pada nosel. Uap kemudian keluar dari nosel dengan kecepatan tinggi dan diarahkan menuju sudu rotor. Interaksi antara aliran uap dan sudu menghasilkan perubahan momentum yang kemudian menghasilkan torsi pada rotor.

Salah satu bentuk sederhana turbin impuls adalah turbin De Laval. Turbin ini menggunakan satu tingkat yang terdiri atas nosel dan satu baris rotor. Konfigurasi tersebut membuat turbin De Laval sesuai digunakan untuk mempelajari dasar perancangan turbin, khususnya hubungan antara ekspansi uap, kecepatan aliran, kecepatan sudu, segitiga kecepatan, dan kerja turbin.

Permasalahan yang muncul pada perancangan turbin De Laval adalah bagaimana menentukan kecepatan sudu yang sesuai terhadap kecepatan uap. Kecepatan sudu yang terlalu rendah menyebabkan sebagian energi kinetik uap tidak dapat dikonversikan secara optimal menjadi kerja. Sebaliknya, kecepatan sudu yang terlalu tinggi juga dapat menurunkan perubahan momentum tangensial.

Oleh karena itu, diperlukan analisis rasio kecepatan untuk memperoleh kondisi operasi yang sesuai.

2. Initial Thinking About the Problem

2.1 Identifikasi Masalah

Permasalahan utama dalam proyek ini adalah:

Bagaimana merancang turbin uap impuls De Laval satu tingkat yang mampu menghasilkan daya poros 100 kW berdasarkan kondisi uap dan parameter desain yang ditentukan?

Permasalahan tersebut dapat dibagi menjadi beberapa tahapan:

Kondisi Uapโ†’Ekspansi Noselโ†’Kecepatan Uapโ†’Segitiga Kecepatanโ†’Kerja Rotorโ†’Daya  \text{Kondisi Uap} \rightarrow \text{Ekspansi Nosel} \rightarrow \text{Kecepatan Uap} \rightarrow \text{Segitiga Kecepatan} \rightarrow \text{Kerja Rotor} \rightarrow \text{Daya} \

2.2 Decomposition of the Problem

Permasalahan kemudian diuraikan menjadi:

  1. menentukan properti uap pada inlet;
  2. menentukan kondisi outlet isentropik;
  3. menentukan penurunan entalpi;
  4. menghitung kecepatan keluar nosel;
  5. menentukan kecepatan sudu;
  6. menghitung segitiga kecepatan inlet;
  7. menentukan kecepatan relatif;
  8. menghitung segitiga kecepatan outlet;
  9. menentukan kerja spesifik;
  10. menentukan laju aliran massa;
  11. menentukan diameter rotor;
  12. mengevaluasi performa terhadap rasio kecepatan.

2.3 Physical Principle

Prinsip utama yang digunakan adalah:

  • konservasi massa;
  • konservasi energi;
  • konservasi momentum;
  • ekspansi isentropik sebagai kondisi referensi;
  • persamaan Euler untuk turbomachinery;
  • hubungan antara kecepatan absolut, relatif, dan kecepatan sudu.

Untuk turbin impuls, energi tekanan uap terlebih dahulu diubah menjadi energi kinetik pada nosel. Rotor kemudian mengambil sebagian energi kinetik tersebut melalui perubahan momentum tangensial.

2.4 Engineering Gap

Konsep dasar turbin impuls dapat dijelaskan secara sederhana, tetapi proses desain membutuhkan hubungan antara parameter termodinamika dan parameter mekanis.

Oleh karena itu, proyek ini menghubungkan:

P, T, h, s โ†’ ฮ”h โ†’ V1 โ†’ U, W1, W2, V2 โ†’ w โ†’ mฬ‡ โ†’ D, N

Dengan pendekatan tersebut, desain turbin tidak dilakukan berdasarkan satu parameter saja, tetapi berdasarkan hubungan antarparameter.


G. METHODS & PROCEDURES

1. IDEALIZATION

1.1 Konsep Turbin

Turbin yang dirancang adalah:

Turbin uap impuls De Laval satu tingkat.

Konfigurasi sistem:

Steam Inlet โ†’ Nozzle โ†’ Rotor โ†’ Exhaust

Pada nosel terjadi penurunan tekanan dan peningkatan kecepatan.

Pada rotor, tekanan dianggap relatif konstan dan perubahan momentum aliran digunakan untuk menghasilkan kerja.

1.2 Data Awal

ParameterSimbolNilai
Fluida kerjaโ€”Uap
Tekanan inletP1P_15 bar(a)
Temperatur inletT1T_1300 ยฐC
Tekanan outletP2P_20,8 bar(a)
Target daya porosPP100 kW
Sudut noselฮฑ\alpha20ยฐ
Efisiensi noselฮทn\eta_n90%
Blade velocity coefficientkk0,85
Efisiensi mekanikฮทm\eta_m95%
Putaran desainNN30.000 rpm

Properti uap diperoleh dari tabel termodinamika berbasis formulasi IAPWS/NIST. NIST menyatakan bahwa tabel tersebut menyediakan properti entalpi dan entropi air/uap berdasarkan formulasi IAPWS.

1.3 Asumsi

Asumsi yang digunakan:

  1. Aliran steady-state.
  2. Uap masuk dalam kondisi superheated.
  3. Perubahan energi potensial diabaikan.
  4. Kecepatan uap pada inlet sebelum nosel diabaikan.
  5. Ekspansi utama terjadi pada nosel.
  6. Turbin hanya memiliki satu tingkat.
  7. Rotor terdiri dari satu baris sudu.
  8. Sudu dianggap simetris sehingga ฮฒ2=ฮฒ1.\beta_2=\beta_1.
  9. Kehilangan kecepatan relatif pada rotor direpresentasikan dengan k=0,85k=0,85.
  10. Efisiensi nosel sebesar 90%.
  11. Efisiensi mekanik sebesar 95%.
  12. Analisis dilakukan secara satu dimensi.
  13. Kebocoran, windage, disk friction, dan losses tiga dimensi tidak dihitung secara eksplisit.
  14. Analisis difokuskan pada preliminary design.
  15. CAD dan analisis manufaktur tidak menjadi bagian proyek.

2. INSTRUCTION SET

2.1 Menentukan Properti Uap Inlet

Pada:

P1=5 bar(a)P_1=5\text{ bar(a)}
T1=300โˆ˜CT_1=300^\circ C


Dari tabel uap superheated diperoleh:

h1=3064,6 kJ/kg\boxed{h_1=3064,6\text{ kJ/kg}}
s1=7,4614 kJ/(kg K) \boxed{s_1=7,4614\text{ kJ/(kg K)}}


Nilai tersebut berasal dari tabel NIST pada 0,50 MPa dan 300 ยฐC.

2.2 Menentukan Kondisi Outlet Isentropik

Tekanan outlet:

P2=0,8 bar(a)P_2=0,8\text{ bar(a)}

atau:

P2=0,08 MPaP_2=0,08\text{ MPa}


Untuk proses isentropik:

s2s=s1s_{2s}=s_1

sehingga:

s2s=7,4614 kJ/(kg K)s_{2s}=7,4614\text{ kJ/(kg K)}

Pada 0,08 MPa, tabel NIST menunjukkan bahwa pada 95 ยฐC:

h=2668,3 kJ/kgh=2668,3\text{ kJ/kg}
s=7,4424 kJ/(kg K)s=7,4424\text{ kJ/(kg K)}

an pada 100 ยฐC:

h=2678,5 kJ/kgh=2678,5\text{ kJ/kg}
s=7,4699 kJ/(kg K)s=7,4699\text{ kJ/(kg K)}

Tโ‚‚s = 95 + [(7,4614 โˆ’ 7,4424) / (7,4699 โˆ’ 7,4424)] ร— (100 โˆ’ 95)

Tโ‚‚s = 98,45 ยฐC

Kemudian:

h2s=2668,3+7,4614โˆ’7,44247,4699โˆ’7,4424(2678,5โˆ’2668,3) h_{2s} = 2668,3+ \frac{7,4614-7,4424} {7,4699-7,4424} (2678,5-2668,3)
h2sโ‰ˆ2675,3 kJ/kgh_{2s}\approx2675,3\text{ kJ/kg}

2.3 Penurunan Entalpi Isentropik

ฮ”his=h1โˆ’h2sฮ”his=3064,6โˆ’2675,3ฮ”his=389,3 kJ/kg\Delta h_{is}=h_1-h_{2s} \\ \Delta h_{is}=3064,6-2675,3 \\ \boxed{\Delta h_{is}=389,3\text{ kJ/kg}}

Jadi, secara ideal tersedia sekitar:

389,3 kJ/kg \boxed{389,3\text{ kJ/kg}}

energi spesifik untuk proses ekspansi.

2.4 Ekspansi Aktual pada Nosel

Efisiensi nosel didefinisikan:

ฮทn=ฮ”haktualฮ”his\eta_n= \frac{\Delta h_{aktual}} {\Delta h_{is}}

Dengan:

ฮทn=0,90\eta_n=0,90

maka:

ฮ”hn=0,90(389,3)ฮ”hn=350,37 kJ/kg \Delta h_n = 0,90(389,3) \\\boxed{\Delta h_n=350,37\text{ kJ/kg}}

Entalpi aktual setelah nosel:

h2=h1โˆ’ฮ”hnh2=3064,6โˆ’350,37h2=2714,23 kJ/kgh_2=h_1-\Delta h_n \\ h_2=3064,6-350,37 \boxed{h_2=2714,23\text{ kJ/kg}}

2.5 Kecepatan Keluar Nosel

Dengan mengabaikan kecepatan inlet:

h1=h2+V122(1000)h_1=h_2+\frac{V_1^2}{2(1000)}

sehingga:

V1=2(h1โˆ’h2)(1000)V1=2(350,37)(1000)V1=837,1 m/sV_1= \sqrt{2(h_1-h_2)(1000)} \\V_1= \sqrt{2(350,37)(1000)} \\ \boxed{V_1=837,1\text{ m/s}}

Jadi uap keluar dari nosel dengan kecepatan sekitar:

837,1 m/s\boxed{837,1\text{ m/s}}

2.6 Menentukan Rasio Kecepatan Optimum

Rasio kecepatan didefinisikan:

ฯ•=UV1\phi=\frac{U}{V_1}

Untuk sudu simetris dengan:

ฮฒ2=ฮฒ1\beta_2=\beta_1

dan koefisien kecepatan relatif kk, kerja rotor dapat dituliskan:

w=U(1+k)(V1cosโกฮฑโˆ’U) w=U(1+k)(V_1\cos\alpha-U)

Untuk mencari kondisi maksimum:

dwdU=0 \frac{dw}{dU}=0

sehingga:

Uopt=V1cosโกฮฑ2 U_{opt}=\frac{V_1\cos\alpha}{2}

Maka:

ฯ•opt=UoptV1=cosโกฮฑ2 \phi_{opt} = \frac{U_{opt}}{V_1} = \frac{\cos\alpha}{2}

Dengan:

ฮฑ=20โˆ˜\alpha=20^\circ

diperoleh:

ฯ•opt=cosโก20โˆ˜2ฯ•opt=0,4698โ‰ˆ0,470\phi_{opt} = \frac{\cos20^\circ}{2} \\\boxed{\phi_{opt}=0,4698\approx0,470}

Jadi dipilih:

ฯ•=0,470 \boxed{\phi=0,470}

2.7 Kecepatan Sudu

U=ฯ•V1U=\phi V_1

U=0,4698(837,1)U=0,4698(837,1)

U=393,3 m/s \boxed{U=393,3\text{ m/s}}

2.8 Segitiga Kecepatan Inlet

Komponen tangensial:
Vw1=V1cosโกฮฑV_{w1}=V_1\cos\alpha
Vw1=837,1cosโก20โˆ˜V_{w1}=837,1\cos20^\circ
Vw1=786,6 m/s\boxed{V_{w1}=786,6\text{ m/s}}

Komponen aksial:
Vf1=V1sinโกฮฑV_{f1}=V_1\sin\alpha
Vf1=837,1sinโก20โˆ˜V_{f1}=837,1\sin20^\circ
Vf1=286,3 m/s\boxed{V_{f1}=286,3\text{ m/s}}

Kecepatan relatif:
W1=(Vw1โˆ’U)2+Vf12W_1=\sqrt{(V_{w1}-U)^2+V_{f1}^2}
W1=(786,6โˆ’393,3)2+(286,3)2W_1=\sqrt{(786,6-393,3)^2+(286,3)^2}
W1=486,5 m/s\boxed{W_1=486,5\text{ m/s}}

Sudut relatif inlet:
tanโกฮฒ1=Vf1Vw1โˆ’U\tan\beta_1=\frac{V_{f1}}{V_{w1}-U}
tanโกฮฒ1=286,3786,6โˆ’393,3\tan\beta_1=\frac{286,3}{786,6-393,3}
ฮฒ1โ‰ˆ36,1โˆ˜\boxed{\beta_1\approx36,1^\circ}

Karena sudu diasumsikan simetris:
ฮฒ2=ฮฒ1=36,1โˆ˜\boxed{\beta_2=\beta_1=36,1^\circ}

2.9 Kecepatan Relatif Outlet

Blade velocity coefficient:

k=W2W1k=\frac{W_2}{W_1}

sehingga:

W2=kW1 W_2=kW_1

W2=0,85(486,5)W_2=0,85(486,5)

W2=413,5 m/s\boxed{W_2=413,5\text{ m/s}}

2.10 Segitiga Kecepatan Outlet

Komponen tangensial relatif pada outlet berlawanan arah dengan komponen tangensial inlet.

Maka:

Ww2=W2cosโกฮฒ2W_{w2}=W_2\cos\beta_2

Ww2=413,5cosโก36,1โˆ˜W_{w2} = 413,5\cos36,1^\circ

Ww2โ‰ˆ334,3 m/sW_{w2}\approx334,3\text{ m/s}

Karena arah relatif berlawanan:

Vw2=Uโˆ’Ww2 V_{w2}=U-W_{w2}

Vw2=393,3โˆ’334,3V_{w2}=393,3-334,3

Vw2=59,0 m/s \boxed{V_{w2}=59,0\text{ m/s}}

Komponen aksial:

Vf2=W2sinโกฮฒ2V_{f2}=W_2\sin\beta_2

Vf2=413,5sinโก36,1โˆ˜V_{f2} = 413,5\sin36,1^\circ

Vf2=243,4 m/s{V_{f2}=243,4\text{ m/s}}

Kecepatan absolut keluar:

V2=Vw22+Vf22 V_2= \sqrt{V_{w2}^2+V_{f2}^2}

V2=59,02+243,42 V_2= \sqrt{59,0^2+243,4^2}

V2=250,4 m/s{V_2=250,4\text{ m/s}}

2.11 Ringkasan Segitiga Kecepatan

ParameterInletOutlet
VV837,1 m/s250,4 m/s
UU393,3 m/s393,3 m/s
WW486,5 m/s413,5 m/s
VwV_w786,6 m/s59,0 m/s
VfV_f286,3 m/s243,4 m/s
ฮฑ\alpha20ยฐโ€”
ฮฒ\beta36,1ยฐ36,1ยฐ

2.12 Perhitungan Kerja Spesifik

Persamaan Euler:

w=U(Vw1โˆ’Vw2) w=U(V_{w1}-V_{w2})

w=393,3(786,6โˆ’59,0) w= 393,3(786,6-59,0)

w=286180,7 J/kgw=286180,7\text{ J/kg}

atau:

w=286,2 kJ/kg \boxed{w=286,2\text{ kJ/kg}}

Jadi setiap kilogram uap menghasilkan kerja rotor sekitar:

286,2 kJ/kg{286,2\text{ kJ/kg}}

2.13 Efisiensi Rotor

Energi kinetik yang tersedia setelah nosel:

KE1=V122(1000)KE_1=\frac{V_1^2}{2(1000)}

KE1=837,122000 KE_1= \frac{837,1^2}{2000}

KE1=350,37 kJ/kgKE_1=350,37\text{ kJ/kg}

Efisiensi rotor:

ฮทr=wKE1 \eta_r= \frac{w}{KE_1}

ฮทr=286,2350,37 \eta_r= \frac{286,2}{350,37}

ฮทr=81,68%\boxed{\eta_r=81,68\%}

2.14 Efisiensi Turbin terhadap Energi Isentropik

Efisiensi tahap sebelum mechanical losses:

ฮทstage=wฮ”his \eta_{stage} = \frac{w}{\Delta h_{is}}

ฮทstage=286,2389,3\eta_{stage} = \frac{286,2}{389,3}

ฮทstage=73,51%\boxed{\eta_{stage}=73,51\%}

2.15 Efisiensi Keseluruhan

Dengan:

ฮทm=95% \eta_m=95\%

maka:

ฮทoverall=ฮทstageฮทm \eta_{overall} = \eta_{stage}\eta_m

ฮทoverall=0,7351(0,95) \eta_{overall} = 0,7351(0,95)

ฮทoverall=69,84%\boxed{\eta_{overall}=69,84\%}

Jadi sekitar 69,8% energi isentropik yang tersedia dikonversikan menjadi daya poros berdasarkan model yang digunakan.

2.16 Menentukan Laju Aliran Massa

Target daya:

P=100 kWP=100\text{ kW}

Hubungan daya:

P=mห™wฮทm P=\dot m w\eta_m

sehingga:

mห™=Pwฮทm\dot m= \frac{P}{w\eta_m}

mห™=100286,2(0,95) \dot m= \frac{100} {286,2(0,95)}

mห™=0,368 kg/s \boxed{\dot m=0,368\text{ kg/s}}

atau:

mห™โ‰ˆ1324 kg/h\boxed{\dot m\approx1324\text{ kg/h}}

2.17 Menentukan Putaran Rotor

Putaran desain ditetapkan:

N=30.000 rpm\boxed{N=30.000\text{ rpm}}

Kecepatan sudut:

ฯ‰=2ฯ€N60 \omega=\frac{2\pi N}{60}

ฯ‰=2ฯ€(30.000)60\omega= \frac{2\pi(30.000)}{60}

ฯ‰=3141,6 rad/s\boxed{\omega=3141,6\text{ rad/s}}

2.18 Menentukan Diameter Rotor

Hubungan kecepatan sudu:

U=ฯ€DN60 U=\frac{\pi DN}{60}

maka:

D=60Uฯ€N D=\frac{60U}{\pi N}

D=60(393,3)ฯ€(30.000) D= \frac{60(393,3)} {\pi(30.000)}

D=0,2504 m \boxed{D=0,2504\text{ m}}

atau:

Dโ‰ˆ250 mm{D\approx250\text{ mm}}

2.19 Torsi Poros

Daya poros:

P=Tฯ‰ P=T\omega

sehingga:

T=Pฯ‰T=\frac{P}{\omega}

T=100.0003141,6T= \frac{100.000}{3141,6}

T=31,83 Nยทm{T=31,83\text{ Nยทm}}

Jadi turbin menghasilkan torsi poros sekitar:

31,8 Nยทm \boxed{31,8\text{ Nยทm}}

pada kondisi desain.

2.20 Perkiraan Luas Penampang Keluar Nosel

Pada kondisi outlet nosel:

h2=2714,23 kJ/kgh_2=2714,23\text{ kJ/kg}

Pada tekanan 0,8 bar, dari tabel NIST nilai tersebut berada di antara kondisi 115โ€“120 ยฐC. Dengan interpolasi diperoleh kira-kira:

T2โ‰ˆ117,8โˆ˜CT_2\approx117,8^\circ C

dan:

v2โ‰ˆ0,4477 m3/kgv_2\approx0,4477\text{ m}^3/\text{kg}

Dari persamaan kontinuitas:

mห™=A2V1v2\dot m=\frac{A_2V_1}{v_2}

sehingga:

A2=mห™v2V1A_2= \frac{\dot m v_2}{V_1}

A2=(0,368)(0,4477)837,1 A_2= \frac{(0,368)(0,4477)} {837,1}

A2=1,97ร—10โˆ’4 m2\boxed{A_2=1,97\times10^{-4}\text{ m}^2}

atau:

A2โ‰ˆ197 mm2{A_2\approx197\text{ mm}^2}

Jika luas tersebut dinyatakan sebagai diameter lingkaran ekuivalen:

A=ฯ€d24 A=\frac{\pi d^2}{4}

maka:

d=4Aฯ€ d= \sqrt{\frac{4A}{\pi}}

deqโ‰ˆ15,8 mm\boxed{d_{eq}\approx15,8\text{ mm}}

Nilai ini merupakan luas ekuivalen keluaran nosel, bukan langsung dimensi final nosel manufaktur.

H. RESULTS & DISCUSSION

1. Hasil Akhir Perancangan

ParameterHasil
Jenis turbinDe Laval impuls
Jumlah tingkat1
FluidaUap air
P1P_15 bar(a)
T1T_1300 ยฐC
P2P_20,8 bar(a)
h1h_13064,6 kJ/kg
s1s_17,4614 kJ/kgยทK
h2sh_{2s}2675,3 kJ/kg
ฮ”his\Delta h_{is}389,3 kJ/kg
ฮทn\eta_n90%
V1V_1837,1 m/s
ฮฑ\alpha20ยฐ
ฯ•\phi0,470
UU393,3 m/s
ฮฒ1\beta_136,1ยฐ
W1W_1486,5 m/s
W2W_2413,5 m/s
Vw1V_{w1}786,6 m/s
Vw2V_{w2}59,0 m/s
V2V_2250,4 m/s
Kerja spesifik286,2 kJ/kg
Efisiensi rotor81,68%
Efisiensi stage73,51%
Efisiensi keseluruhan69,84%
Laju aliran massa0,368 kg/s
Laju aliran massa1324 kg/h
Putaran30.000 rpm
Diameter rotor250,4 mm
Torsi poros31,83 Nยทm
Daya poros100 kW
Luas keluar nosel197 mmยฒ
Diameter ekuivalen nosel15,8 mm

2. Analisis Pengaruh Rasio Kecepatan

Untuk mengetahui karakteristik turbin, rasio kecepatan divariasikan.

ฯ•=U/V1\phi=U/V_1U(m/s)U(m/s)Vw2(m/s)V_{w2} (m/s)Kerja (kJ/kg)Efisiensi keseluruhan
0,30251,1-204,0248,860,71%
0,35293,0-126,6267,665,29%
0,40334,8-49,2279,968,29%
0,45376,728,3285,769,71%
0,470393,359,0286,269,84%
0,50418,6105,7285,069,55%
0,55460,4183,1277,967,80%
0,60502,3260,6264,264,48%

Dari grafik terlihat bahwa kerja meningkat ketika rasio kecepatan dinaikkan dari 0,30 menuju sekitar 0,47. Setelah melewati nilai tersebut, kerja kembali menurun.

Hal tersebut sesuai dengan hasil analisis matematis:

ฯ•opt=cosโกฮฑ2 \phi_{opt}=\frac{\cos\alpha}{2}

yang menghasilkan:

ฯ•opt=0,470 \phi_{opt}=0,470

Dengan demikian, pada model yang digunakan, rasio kecepatan 0,470 digunakan sebagai titik desain.


3. Interpretasi Fisik

Hasil perancangan menunjukkan bahwa kecepatan uap keluar nosel jauh lebih tinggi dibandingkan kecepatan sudu:

V1=837,1 m/s V_1=837,1\text{ m/s}

sedangkan:

 U=393,3 m/s\ U=393,3\text{ m/s}

Rasio keduanya:

UV1=0,470 \frac{U}{V_1}=0,470

Hal ini menunjukkan bahwa rotor tidak dirancang untuk bergerak dengan kecepatan yang sama dengan kecepatan absolut uap. Kecepatan rotor dipilih berdasarkan kondisi yang memberikan perubahan momentum tangensial yang besar.

Komponen tangensial berubah dari:

Vw1=786,6 m/sV_{w1}=786,6\text{ m/s}

menjadi:

Vw2=59,0 m/s V_{w2}=59,0\text{ m/s}

sehingga perubahan komponen tangensial:

ฮ”Vw=Vw1โˆ’Vw2 \Delta V_w = V_{w1}-V_{w2}

ฮ”Vw=786,6โˆ’59,0\Delta V_w = 786,6-59,0

ฮ”Vw=727,6 m/s\boxed{\Delta V_w=727,6\text{ m/s}}

Perubahan tersebut menghasilkan kerja spesifik:

w=Uฮ”Vw w=U\Delta V_w

w=286,2 kJ/kg w=286,2\text{ kJ/kg}


4. Pembahasan Efisiensi

Terdapat beberapa tahap efisiensi dalam model.

Efisiensi nosel

ฮทn=90% \eta_n=90\%

Artinya tidak seluruh penurunan entalpi isentropik berhasil dikonversi menjadi energi kinetik.

Efisiensi rotor

ฮทr=81,68%\eta_r=81,68\%

Nilai ini menunjukkan bahwa sebagian energi kinetik yang masuk rotor tidak menjadi kerja poros rotor akibat adanya penurunan kecepatan relatif dan kecepatan keluar yang masih tersisa.

Efisiensi mekanik

ฮทm=95%\eta_m=95\%

Efisiensi ini memperhitungkan bahwa tidak seluruh kerja rotor sampai sebagai daya poros yang berguna.

Efisiensi keseluruhan

ฮทoverall=69,84%\eta_{overall}=69,84\%

Dengan demikian:

Pshaft=ฮทoverallmห™ฮ”his{P_{shaft} = \eta_{overall} \dot m \Delta h_{is}}

Pshaft=(0,6984)(0,3678)(389,3) P_{shaft} = (0,6984)(0,3678)(389,3)

Pshaftโ‰ˆ100 kW{P_{shaft}\approx100\text{ kW}}

Perhitungan ini sekaligus menjadi pemeriksaan konsistensi antara hasil termodinamika, aliran massa, dan daya.


5. Verifikasi Hasil

Verifikasi dilakukan dengan beberapa pemeriksaan.

Verifikasi 1 โ€” Target Daya

P=mห™wฮทm P=\dot m w\eta_m

P=(0,3678)(286,2)(0,95)P=(0,3678)(286,2)(0,95)

Pโ‰ˆ100 kW\boxed{P\approx100\text{ kW}}

Target daya terpenuhi.

Verifikasi 2 โ€” Rasio Kecepatan

ฯ•=393,3837,1 \phi=\frac{393,3}{837,1}

ฯ•=0,470 \boxed{\phi=0,470}

sesuai dengan rasio desain.

Verifikasi 3 โ€” Diameter Rotor

D=60(393,3)ฯ€(30.000)D= \frac{60(393,3)} {\pi(30.000)}

D=250,4 mm{D=250,4\text{ mm}}

Verifikasi 4 โ€” Konsistensi Efisiensi

ฮทoverall=100(0,3678)(389,3)\eta_{overall} = \frac{100} {(0,3678)(389,3)}

ฮทoverall=69,84%\boxed{\eta_{overall}=69,84\%}

Hasil ini sama dengan efisiensi yang diperoleh dari:

ฮทstageฮทm \eta_{stage}\eta_m

sehingga perhitungan dapat dinyatakan konsisten dalam batas model yang digunakan.


6. Keterbatasan Perancangan

Walaupun hasil perhitungan telah dibuat konsisten, desain ini masih merupakan preliminary design.

Beberapa keterbatasan utama adalah:

  1. Aliran dianggap satu dimensi.
  2. Distribusi kecepatan pada penampang tidak dihitung.
  3. Losses tiga dimensi tidak dimodelkan.
  4. Kebocoran ujung sudu tidak dihitung.
  5. Windage tidak dihitung.
  6. Disk friction tidak dihitung.
  7. Tegangan pada rotor tidak dihitung.
  8. Vibrasi dan critical speed rotor tidak dihitung.
  9. Detail profil sudu belum dirancang.
  10. Geometri nosel belum dioptimalkan secara tiga dimensi.
  11. Efek turbulensi belum dimodelkan menggunakan CFD.
  12. Dimensi akhir komponen belum melalui analisis manufaktur.

Oleh karena itu, hasil seperti diameter rotor 250,4 mm dan putaran 30.000 rpm harus dipahami sebagai hasil desain awal berdasarkan asumsi yang telah ditetapkan, bukan spesifikasi manufaktur final.


I. CONCLUSION, CLOSING REMARKS, RECOMMENDATIONS

1. Conclusion

Berdasarkan proses perancangan dan analisis yang dilakukan, diperoleh beberapa kesimpulan:

  1. Turbin yang dirancang merupakan turbin uap impuls De Laval satu tingkat dengan target daya poros sebesar 100 kW.
  2. Kondisi uap masuk ditetapkan pada:

P1=5 bar(a)P_1=5\text{ bar(a)}

T1=300โˆ˜C T_1=300^\circ C

sedangkan tekanan outlet:

P2=0,8 bar(a)P_2=0,8\text{ bar(a)}

  1. Dari kondisi tersebut diperoleh penurunan entalpi isentropik:

ฮ”his=389,3 kJ/kg\boxed{\Delta h_{is}=389,3\text{ kJ/kg}}

  1. Dengan efisiensi nosel 90%, kecepatan keluar nosel diperoleh:

V1=837,1 m/s \boxed{V_1=837,1\text{ m/s}}

  1. Untuk sudut nosel 20ยฐ, rasio kecepatan optimum berdasarkan model sudu simetris diperoleh:

ฯ•opt=0,470 \boxed{\phi_{opt}=0,470}

  1. Kecepatan sudu pada kondisi desain adalah:

U=393,3 m/s \boxed{U=393,3\text{ m/s}}

  1. Dari analisis segitiga kecepatan diperoleh:

W1=486,5 m/s \boxed{W_1=486,5\text{ m/s}}

dan:

W2=413,5 m/s{W_2=413,5\text{ m/s}}

  1. Komponen tangensial kecepatan berubah dari:

Vw1=786,6 m/s{V_{w1}=786,6\text{ m/s}}

menjadi:

Vw2=59,0 m/s{V_{w2}=59,0\text{ m/s}}

  1. Kerja spesifik rotor yang diperoleh:

w=286,2 kJ/kg{w=286,2\text{ kJ/kg}}

  1. Untuk menghasilkan daya poros 100 kW dengan efisiensi mekanik 95%, diperlukan laju aliran massa:

mห™=0,368 kg/s\boxed{\dot m=0,368\text{ kg/s}}

atau sekitar:

1324 kg/h \boxed{1324\text{ kg/h}}

  1. Pada putaran 30.000 rpm, diameter rotor yang diperoleh:

D=250,4 mm\boxed{D=250,4\text{ mm}}

  1. Torsi poros pada kondisi desain:

T=31,83 Nยทm \boxed{T=31,83\text{ Nยทm}}

  1. Efisiensi keseluruhan berdasarkan energi isentropik yang tersedia adalah:

ฮทoverall=69,84%\boxed{\eta_{overall}=69,84\%}

  1. Hasil variasi rasio kecepatan menunjukkan bahwa pada model yang digunakan, kondisi sekitar:

ฯ•=0,47\boxed{\phi=0,47}

memberikan kerja spesifik maksimum.


2. Closing Remarks

Perancangan ini menunjukkan bahwa desain turbin tidak hanya ditentukan oleh tekanan dan temperatur uap, tetapi merupakan rangkaian proses yang saling terhubung.

Hubungan utama yang diperoleh adalah:

Kondisi Termodinamikaโ†’Ekspansi Noselโ†’Kecepatan Uapโ†’Segitiga Kecepatanโ†’Kerjaโ†’Dayaโ†’Parameter Rotor \boxed{ \text{Kondisi Termodinamika} \rightarrow \text{Ekspansi Nosel} \rightarrow \text{Kecepatan Uap} \rightarrow \text{Segitiga Kecepatan} \rightarrow \text{Kerja} \rightarrow \text{Daya} \rightarrow \text{Parameter Rotor} }

Pendekatan tersebut juga menunjukkan penerapan DAI5 secara berkelanjutan. Deep Awareness menjadi dasar kesadaran dalam melakukan proses perancangan, Intention menentukan tujuan, Initial Thinking digunakan untuk memahami masalah, Idealization menyederhanakan sistem, dan Instruction Set menerjemahkan model tersebut menjadi langkah perhitungan dan verifikasi. Struktur DAI5 yang digunakan memang menekankan kesinambungan proses tersebut, termasuk verifikasi, minimisasi error, dan pendekatan iteratif.


3. Recommendations

Pengembangan proyek selanjutnya dapat dilakukan dengan:

  1. melakukan optimasi sudut nosel;
  2. melakukan optimasi sudut sudu;
  3. memasukkan losses yang lebih lengkap;
  4. melakukan simulasi CFD;
  5. melakukan analisis tegangan sudu dan rotor;
  6. melakukan analisis critical speed;
  7. melakukan evaluasi material;
  8. membandingkan hasil analitis dengan hasil simulasi;
  9. melakukan optimasi dimensi nosel dan rotor;
  10. melakukan analisis multi-stage apabila target daya dan kondisi operasi membutuhkan ekspansi yang lebih besar.

J. ACKNOWLEDGMENTS

Penulis mengucapkan terima kasih kepada Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia serta dosen pengampu mata kuliah Sistem Konversi Energi Prof. Dr. Ahmad Indra atas ilmu, arahan, dan pembelajaran yang diberikan selama proses pengerjaan proyek akhir.

Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada seluruh pihak yang memberikan dukungan dan masukan selama proses perancangan dan penyusunan laporan ini.


K. REFERENCES โ€” LITERATURE CITED

  1. ร‡engel, Y. A., Boles, M. A., & KanoฤŸlu, M. Thermodynamics: An Engineering Approach. McGraw-Hill.
  2. Dixon, S. L., & Hall, C. A. Fluid Mechanics and Thermodynamics of Turbomachinery. Butterworth-Heinemann.
  3. Moran, M. J., Shapiro, H. N., Boettner, D. D., & Bailey, M. B. Fundamentals of Engineering Thermodynamics. Wiley.
  4. Harvey, A. H. (1998). Thermodynamic Properties of Water: Tabulation From the IAPWS Formulation 1995 for the Thermodynamic Properties of Ordinary Water Substance for General and Scientific Use. NISTIR 5078. National Institute of Standards and Technology. NIST
  5. Parry, W. T., Bellows, J., Gallagher, J. S., & Harvey, A. H. (2009). ASME International Steam Tables for Industrial Use. ASME Press. NIST
  6. Siswantara, A. I. (2025). DAI5 โ€œDeep Awareness of Iโ€. UI Publishing. DAI5 โ€œDeep Awareness of Iโ€(1)

L. APPENDICES

Lampiran A โ€” Data Awal

ParameterNilai
P1P_15 bar(a)
T1T_1300 ยฐC
P2P_20,8 bar(a)
PshaftP_{shaft}100 kW
ฮฑ\alpha20ยฐ
ฮทn\eta_n90%
kk0,85
ฮทm\eta_m95%
NN30.000 rpm

Penutup

Demikian laporan yang telah saya susun sebagai bentuk dokumentasi dan pertanggungjawaban atas proses perancangan dan analisis yang telah dilakukan. Dalam penyusunan laporan ini, saya menyadari bahwa masih terdapat banyak kekurangan dan kesalahan, baik dalam proses perhitungan, pemilihan asumsi, penyajian, maupun pemahaman terhadap materi yang digunakan.

Oleh karena itu, saya sangat terbuka terhadap kritik, saran, dan masukan yang dapat membantu memperbaiki laporan ini serta meningkatkan pemahaman saya ke depannya. Saya berharap laporan ini tetap dapat memberikan manfaat dan menjadi bagian dari proses pembelajaran yang telah saya jalani.

Demikian yang dapat saya sampaikan. Atas perhatian dan masukan yang diberikan, saya ucapkan terima kasih.

Wassalamuโ€™alaikum warahmatullahi wabarakatuh.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *