B. NAMA LENGKAP PENULIS
Radit Yulianto
NPM: 2406343174
C. AFILIASI
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
D. ABSTRAK
Laporan ini merancang turbin Pelton untuk Pembangkit Listrik Tenaga
Mikrohidro (PLTMH) yang melayani satu desa berpenduduk 100 kepala keluarga
(KK). Tujuannya adalah menentukan ukuran turbin yang cukup untuk kebutuhan
listrik desa, andal dipakai bertahun-tahun, dan ramah lingkungan. Metodenya
berurutan: menghitung beban listrik, menetapkan daya yang harus dihasilkan air,
menentukan debit dan tinggi jatuh bersih setelah memperhitungkan rugi pipa, lalu
merancang nozzle, runner, poros, dan sistem transmisi. Karena data lokasi belum
diukur, tinggi jatuh kotor 80 m dan panjang pipa pesat 180 m diambil sebagai
asumsi yang dapat diganti dengan data lapangan.
Beban puncak desa 34 kW, dengan cadangan 20% menjadi target daya
listrik 40 kW. Hasil perhitungan: tinggi jatuh bersih 75,3 m, debit 76,7 L/detik, pipa
pesat baja berdiameter 200 mm, nozzle tunggal berdiameter 51 mm dengan
kecepatan semburan 37,3 m/detik, runner berdiameter 0,55 m berputar 600 putaran
per menit dengan 21 mangkuk, dan daya poros turbin 45,3 kW. Putaran diteruskan
lewat sabuk berasio 2,5 ke generator 50 kVA. Kesimpulannya, satu turbin Pelton
berjet tunggal cukup untuk desa ini, dan hasilnya perlu diuji ulang dengan
pengukuran debit dan tinggi jatuh nyata sebelum dibangun.
Kata kunci: turbin Pelton; PLTMH; mikrohidro; elektrifikasi desa; perancangan
turbin
E. DEKLARASI PENULIS
- Kesadaran Diri yang Mendalam (Deep Awareness of I)
Saya menyadari bahwa saya hanyalah seorang mahasiswa yang sedang belajar, dan bahwa air yang jatuh dari ketinggian, logam yang saya hitung, serta ilmu yang saya pakai semuanya adalah ciptaan dan pemberian Tuhan Yang Maha Esa. Saya tidak menciptakan hukum fisika; saya hanya membaca dan memakainya. Kesadaran ini saya jaga dengan Cara Cerdas Ingat Tuhan (CCIT): setiap kali saya menemukan angka, saya berhenti sejenak dan mengingat bahwa angka itu menggambarkan aturan yang telah Tuhan tetapkan di alam, sehingga saya wajib teliti dan jujur terhadapnya. Saya juga sadar akan keterbatasan saya. Pertama, saya belum mengukur sungai di lokasi, sehingga tinggi jatuh dan debit dalam laporan ini adalah asumsi, bukan fakta lapangan. Kedua, saya cenderung memilih rancangan yang nyaman dihitung, padahal desa membutuhkan rancangan yang sesuai kondisinya. Ketiga, saya belum pernah tinggal di desa sasaran, sehingga kebutuhan warga yang sebenarnya perlu didengar langsung. Karena itu, setiap asumsi saya tulis terbuka agar dapat dikoreksi.
Dari sisi etika, listrik yang dibangun bukan milik saya. Ia menyangkut
sungai yang juga dipakai warga untuk mengairi sawah dan kebutuhan hidup, serta ekosistem di hilirnya. Saya berkomitmen tidak mengambil seluruh aliran sungai, menyisakan debit untuk lingkungan, dan mengutamakan keselamatan warga di atas penghematan biaya. - Niat Kegiatan Proyek (Intention)
Niat saya adalah menjadikan perancangan ini sebagai ibadah ilmu:
memanfaatkan air sebagai nikmat dari Tuhan untuk menerangi 100 keluarga, sehingga anak-anak dapat belajar di malam hari, ibadah dan kegiatan bersama berjalan nyaman, dan usaha kecil warga dapat tumbuh. Tujuan teknisnya: (1) merancang turbin Pelton yang menghasilkan listrik sekitar 40 kW untuk 100 KK beserta fasilitas umum; (2) memastikan rancangan sederhana, tahan lama, dan dapat dirawat oleh warga sendiri; (3) menjaga sungai tetap sehat dengan memakai air tanpa menghabiskannya; (4) menjelaskan setiap perhitungan dengan bahasa yang dapat dipahami, agar ilmunya dapat diperiksa dan diteruskan. Mutu, ketelitian, dan keandalan saya utamakan karena kesalahan rancangan akan ditanggung oleh warga desa, bukan oleh penulis.
F. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Banyak desa di Indonesia berada di daerah pegunungan dengan sungai
berarus deras tetapi jauh dari jaringan listrik PLN. Sungai seperti ini dapat
dimanfaatkan lewat Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH), yaitu
pembangkit skala kecil (umumnya di bawah 100 kW) yang mengubah energi air jatuh menjadi listrik. Untuk lokasi dengan tinggi jatuh besar dan debit kecil, jenis turbin yang lazim dipilih adalah turbin Pelton, karena bekerja dengan semburan air bertekanan yang menumbuk mangkuk-mangkuk pada roda. Laporan ini mengambil kasus sebuah desa fiktif-representatif berpenduduk 100 KK. Masalahnya: bagaimana menentukan ukuran turbin Pelton yang tepat agar daya listriknya cukup, efisien, dan tidak berlebihan?
Pemikiran Awal tentang Masalah (Initial Thinking) Pihak yang terdampak. Warga 100 KK (pengguna listrik), pengelola pembangkit dari desa, petani pemakai air irigasi di hilir, pemerintah desa dan daerah, serta lingkungan sungai. Konteks. Desa terpencil: perawatan harus sederhana, suku cadang sulit didapat, bengkel terdekat jauh, dan kemampuan membayar warga terbatas. Karena itu rancangan harus kokoh dan mudah dirawat.
| Gejala di lapangan | Akar masalah | Respons rancangan |
| Listrik tidak cukup saat malam | Daya dirancang tanpa menghitung beban puncak dan pertumbuhan | Hitung beban puncak lalu tambah cadangan 20% |
| Turbin cepat rusak | Putaran, tekanan, dan kualitas air tidak diperhitungkan | Pilih putaran moderat, cek pukulan air, pakai bak pengendap |
| Daya turun dari rencana | Rugi gesek pipa dan efisiensi tidak dihitung | Hitung tinggi jatuh bersih, bukan tinggi jatuh kotor |
| Sungai kering di hilir | Seluruh aliran diambil | Batasi debit pengambilan dan sisakan debit lingkungan |
Celah kajian.
Buku panduan PLTMH umumnya berisi rumus ringkas dan grafik untuk praktisi, sementara mahasiswa sering kesulitan memahami arti fisik tiap langkah. Laporan ini mengisi celah tersebut dengan menuliskan setiap
perhitungan secara bertahap, menjelaskan makna fisiknya, dan mencatat asumsi secara terbuka.
Batasan jujur.
Tinggi jatuh kotor (80 m), panjang pipa (180 m), dan beban
per KK (300 W) belum diukur di lapangan. Semuanya adalah asumsi yang mewakili desa pegunungan umum dan mudah diganti jika data lapangan tersedia.
Refleksi CCIT.
Sungai yang deras dan tanah yang menurun adalah rezeki
yang Tuhan titipkan kepada desa ini. Penulis mengingat bahwa tugas manusia
adalah mengelola titipan itu dengan adil, bukan menguasainya
G. METODE DAN PROSEDUR
Perancangan dilakukan dengan cara menghitung “dari kebutuhan ke ukuran alat”: dimulai dari berapa listrik yang dibutuhkan desa, lalu mundur ke berapa air yang diperlukan, baru terakhir menentukan ukuran turbin. Semua angka dapat diulang oleh pembaca dengan kalkulator biasa, dan hasilnya diperiksa ulang dengan skrip hitung terpisah. Gambar 1 memperlihatkan letak turbin dalam sistem PLTMH secara keseluruhan; laporan ini berfokus pada turbin Pelton dan komponen yang langsung berhubungan dengannya.

Idealisasi (Asumsi dan Penyederhanaan)
Aliran dianggap tunak (tidak berubah terhadap waktu), air bersih bersuhu
sekitar 20 ยฐC dengan massa jenis 1000 kg/mยณ, dan semburan air dianggap satu
berkas silinder yang menumbuk mangkuk dengan rapi. Penyederhanaan ini wajar
untuk perancangan awal, dan selisihnya terhadap kenyataan ditutup oleh faktor
efisiensi serta cadangan daya. Asumsi lengkap tercantum pada Tabel 2.
Tabel 2. Asumsi dan nilai idealisasi perancangan
| Besaran | Nilai asumsi | Alasan |
| Beban rumah tangga | 300 W per KK | Lampu LED, TV, kipas, pengisi daya, dan peralatan kecil |
| Fasilitas umum | 4 kW | Masjid/musala, balai desa, sekolah, lampu jalan |
| Cadangan pertumbuhan | 20% | Penambahan rumah dan alat dalam beberapa tahun |
| Tinggi jatuh kotor | 80 m | Perbedaan tinggi bak penenang dan nozzle (perlu diukur) |
| Pipa pesat | Baja, 180 m, kekasaran 0,045 mm | Pilihan umum, kuat, mudah dilas |
| Efisiensi turbin | 0,80 | Rentang wajar Pelton kecil 0,78-0,86 |
| Efisiensi generator | 0,92 | Generator sinkron 50 kVA |
| Efisiensi transmisi sabuk | 0,96 | Sabuk-V terawat |
| Koefisien kecepatan nozzle | 0,97 | Nozzle yang halus, gesekan kecil |
| Perbandingan kecepatan roda | 0,45 | Mendekati titik terbaik Pelton (sekitar 0,46-0,48) |
| Sudut balik mangkuk | 165ยฐ (selisih 15ยฐ dari lurus) | Praktik umum mangkuk Pelton |
| Debit sungai tersedia | Minimal 100 L/detik di musim kemarau | Wajib diukur; sisakan debit lingkungan |
Mengapa Pelton? Lokasi bertinggi jatuh besar (sekitar 75 m) dan debit kecil (puluhan liter per detik). Kondisi ini cocok untuk Pelton, sedangkan turbin tinggi debit seperti Francis atau Kaplan lebih cocok untuk tinggi jatuh rendah dan debit besar. Pelton juga sederhana, tahan air yang sedikit berpasir, dan mudah dirawat di desa.
Instruksi (Langkah Kerja)
1. Hitung beban.
Jumlahkan beban seluruh rumah tangga dan fasilitas
umum menjadi beban puncak, lalu kalikan 1,2 sebagai cadangan (subbab
H.1).
2. Tentukan daya air yang dibutuhkan.
Bagi daya listrik dengan efisiensi total turbin, generator, dan sabuk. Artinya, air harus menyediakan lebih banyak daya daripada yang akhirnya dipakai warga, karena sebagian hilang di setiap alat (H.1).
3. Hitung tinggi jatuh bersih.
Kurangi tinggi jatuh kotor dengan kehilangan akibat gesekan pipa serta di belokan dan katup. Kehilangan gesekan dihitung dengan rumus Darcy-Weisbach (White, 2016), dengan faktor gesek dari persamaan Swamee-Jain (1976) (H.2).
5. Hitung debit.
Bagi daya air dengan hasil kali massa jenis air, gravitasi, dan tinggi jatuh bersih. Karena tinggi jatuh bersih bergantung pada debit (debit besar membuat gesekan besar), langkah 3 dan 4 diulang beberapa kali sampai angkanya berhenti berubah (H.2).
6. Tentukan pipa pesat.
Pilih diameter agar kecepatan air sekitar 2-3
m/detik, lalu periksa ketebalan dinding terhadap tekanan dan pukulan air
(H.2 dan H.7).
7. Rancang nozzle.
Hitung kecepatan semburan dari tinggi jatuh bersih, lalu
luas dan diameter nozzle dari debit dan kecepatan semburan (H.3).
Rancang roda (runner). Hitung kecepatan keliling roda dari tinggi jatuh
bersih, lalu diameter roda dari putaran yang dipilih. Periksa perbandingan
diameter roda terhadap diameter semburan (idealnya 10-15), kecepatan
spesifik, dan jumlah mangkuk (H.4).
8. Periksa gaya dan daya.
Hitung gaya semburan pada mangkuk dari
perubahan momentum, lalu bandingkan dayanya dengan daya yang
diharapkan dari efisiensi asumsi (H.5).
9. Rancang poros dan transmisi.
Hitung torsi, ukuran poros, dan rasio
sabuk ke generator 1500 putaran per menit (H.6).
10. Verifikasi dan iterasi.
Seluruh angka dihitung ulang dengan skrip
terpisah; bila data lapangan berbeda (tinggi jatuh, debit), langkah 2-9
diulang dengan angka baru
Refleksi CCIT.
Setiap asumsi ditulis terbuka sebagai bentuk kejujuran di
hadapan Tuhan dan sesama. Rumus hanya alat; yang menentukan baik atau
tidaknya hasil adalah ketelitian dan kejujuran dalam memakainya.
H. HASIL DAN PEMBAHASAN
Satu turbin Pelton berjet tunggal dengan roda berdiameter 0,55 m berputar
600 putaran per menit sudah cukup untuk melayani 100 KK dengan daya listrik 40
kW. Berikut ringkasan hasil pada Tabel 3, lalu uraian tiap langkah beserta arti
fisiknya.
Ringkasan Hasil Rancangan
Tabel 3. Ringkasan hasil rancangan turbin Pelton
| Besaran | Hasil | Arti singkat |
| Beban puncak desa | 34 kW | Listrik terbesar yang dipakai warga bersamaan |
| Daya listrik rancangan | 40 kW | Beban puncak ditambah cadangan sekitar 18% |
| Daya air yang dibutuhkan | 56,6 kW | Air harus memberi lebih besar karena ada rugi di tiap alat |
| Tinggi jatuh bersih | 75,3 m | 80 m dikurangi rugi pipa 4,7 m |
| Debit rancangan | 76,7 L/detik | Air yang masuk turbin tiap detik |
| Pipa pesat | Baja, diameter 200 mm, tebal 4 mm | Air mengalir 2,44 m/detik |
| Diameter nozzle | 51 mm | Lubang semburan air |
| Kecepatan semburan | 37,3 m/detik | Setara sekitar 134 km/jam |
| Diameter roda (lingkaran pusat mangkuk) | 0,55 m | Ukuran roda turbin |
| Putaran roda | 600 putaran per menit | Dipilih agar roda tidak terlalu kecil |
| Jumlah mangkuk | 21 | Cukup agar semburan selalu tertangkap |
| Daya poros turbin | 45,3 kW | Daya mekanis yang keluar dari roda |
| Torsi | 721 Nยทm | Gaya putar pada poros |
| Diameter poros | 60 mm | Sudah dengan margin keamanan |
| Rasio sabuk | 1 : 2,5 | Dari 600 ke 1500 putaran per menit |
| Generator | 50 kVA, 1500 putaran per menit, 50 Hz | Setara 40 kW pada faktor daya 0,8 |
1. Beban Listrik dan Daya yang Dibutuhkan
Beban puncak adalah jumlah beban seluruh rumah tangga ditambah fasilitas umum (arti semua simbol ada pada Lampiran B):

Dengan cadangan 20% diperoleh 1,2 ร 34 = 40,8 kW, lalu dibulatkan ke 40 kW karena generator 50 kVA pada faktor daya 0,8 memang menghasilkan 40 kW. Cadangan efektifnya sekitar 18% (40 รท 34), cukup untuk menambah sekitar 20 rumah. Efisiensi total dari air sampai listrik adalah hasil kali efisiensi tiap alat:


2. Tinggi Jatuh Bersih, Debit, dan Pipa Pesat
Tinggi jatuh kotor 80 m tidak seluruhnya sampai ke turbin, sebab air bergesekan dengan dinding pipa dan membentur belokan. Debit dan rugi saling memengaruhi, sehingga dihitung berulang sampai stabil (angka berikut adalah hasil iterasi, tanpa pembulatan perantara). Kecepatan air dalam pipa berdiameter D = 200
mm:


Arti fisik. Debit 76,7 L/detik setara kira-kira empat ember besar air tiap detik. Rugi pipa di bawah 10% menunjukkan pipa 200 mm cukup lega; pipa lebih kecil akan membuang tinggi jatuh, sedangkan pipa lebih besar menaikkan biaya tanpa banyak manfaat.
3. Nozzle
Nozzle mengubah tinggi jatuh menjadi kecepatan semburan. Dengan
koefisien kecepatan nozzle 0,97:

Arti fisik. Nozzle mengubah tekanan air di pipa (setara 75 m kolom air, sekitar 7,4 kali tekanan atmosfer) menjadi kecepatan. Semua “tinggi” air berubah menjadi “kecepatan” di ujung nozzle; semburan inilah yang akan mendorong roda.
4. Roda Pelton (Runner)

Terlalu sedikit mangkuk membuat air lolos; terlalu banyak membuat mangkuk saling menghalangi. Ukuran mangkuk (pedoman umum): lebar sekitar 3,2 kali diameter semburan (kira-kira 165 mm), panjang 2,8 kali (kira-kira 145 mm), kedalaman sekitar 1 kali (kira-kira 51 mm).
Arti fisik. Roda paling efisien ketika bergerak sekitar setengah kecepatan
semburan: air memberikan hampir seluruh tenaganya lalu keluar dengan kecepatan
rendah. Karena itu kecepatan roda dipilih 0,46 kali kecepatan semburan (17,3 รท
37,3).
5. Pemeriksaan Gaya dan Daya
Gaya semburan pada mangkuk dihitung dari perubahan momentum air. Air datang dengan kecepatan Vโ, dibelokkan hampir 180ยฐ oleh mangkuk (sudut keluar 15ยฐ, koefisien kecepatan mangkuk 0,9), sehingga:

Arti fisik. Daya teoretis 49,5 kW lebih besar daripada daya poros rancangan 45,3 kW. Selisih sekitar 8% wajar karena hilang oleh percikan air, gesekan bantalan, dan hambatan udara. Karena angka rancangan lebih kecil dari angka teoretis, asumsi efisiensi turbin 0,80 bersifat aman, tidak terlalu optimis.
6. Poros dan Sabuk

Karena roda menggantung di ujung poros (menimbulkan lenturan), ada alur
pasak, dan ukuran bantalan standar, poros dipilih 60 mm. Rasio sabuk ke generator:

Putaran generator dipilih 1500 putaran per menit karena generator empat
kutub pada frekuensi 50 Hz berputar tepat pada kecepatan itu.
Arti fisik. Roda Pelton kecil memutar lambat tetapi bertenaga (torsi besar), sedangkan generator butuh putaran cepat. Sabuk berfungsi seperti gigi sepeda:
menukar torsi besar putaran lambat menjadi torsi kecil putaran cepat.
7. Pukulan Air dan Ketebalan Pipa
Jika katup ditutup mendadak, air yang bergerak berhenti dan menimbulkan lonjakan tekanan sangat tinggi (pukulan air; hitungan tutup seketika sekitar 296 m,
sehingga berbahaya). Dengan waktu tutup nozzle 5 detik (rumus penutupan pelan,
Chaudhry, 2014), lonjakan tinggi tekan adalah:

Ini sekitar 22% dari tinggi jatuh. Tekanan maksimum di pipa:

Tebal dinding minimum dengan tegangan izin ฯ = 100 MPa dan efisiensi
sambungan las 0,85

Ditambah 1,5 mm cadangan karat menjadi 2,6 mm. Dipilih 4 mm agar kuat
dilas, tahan benturan saat pengangkutan, dan umur panjang.
Arti fisik. Seperti menutup keran rumah mendadak sehingga pipa berdentum, hanya jauh lebih kuat. Karena itu nozzle atau katup utama wajib ditutup pelan, minimal 5 detik, dan tidak boleh dibanting.
8. Uji Kepekaan: Bagaimana Jika Data Lapangan Berbeda?
Tabel 4 menunjukkan daya listrik (kW) pada kombinasi debit dan tinggi
jatuh bersih, dengan efisiensi total 0,707. Angka 40 kW (sel rancangan) tercapai di
debit 76,7 L/detik dan tinggi jatuh 75,3 m.
Tabel 4. Daya listrik (kW) pada variasi debit dan tinggi jatuh bersih
| Debit (L/detik) | Tinggi jatuh 60 m | 65 m | 70 m | 75,3 m |
| 60 | 25,0 | 27,0 | 29,1 | 31,3 |
| 70 | 29,1 | 31,5 | 34,0 | 36,5 |
| 76,7 | 31,9 | 34,6 | 37,2 | 40,0 |
| 90 | 37,4 | 40,6 | 43,7 | 47,0 |
| 100 | 41,6 | 45,1 | 48,5 | 52,2 |
Gambar 2 menyajikan data yang sama dalam bentuk grafik; garis putus-putus menandai beban puncak 34 kW dan daya rancangan 40 kW.

Contoh penggunaan: jika setelah diukur tinggi jatuh bersih hanya 65 m, maka debit minimal sekitar 77 L/detik hanya menghasilkan 34,6 kW, pas dengan beban puncak 34 kW tanpa cadangan. Maka debit sebaiknya dinaikkan ke sekitar 90 L/detik atau beban dikelola.
Pembahasan
Kesesuaian dengan literatur. Seluruh rumus yang dipakai (daya hidrolik,
kecepatan semburan, perbandingan kecepatan roda, kecepatan spesifik, rumus
jumlah mangkuk) adalah rumus baku turbin Pelton yang dimuat di buku-buku
rujukan (Nechleba, 1957; Harvey dkk., 1993; Penche, 1998; Bansal, 2005; Dixon
& Hall, 2014). Hasilnya konsisten dengan praktik: roda berdiameter sekitar 10-11
kali diameter semburan, kecepatan spesifik di bawah 30, dan efisiensi total sekitar
70%.
Dampak bagi desa.
Daya 40 kW menjamin kebutuhan 100 KK dan fasilitas
umum, ditambah ruang tumbuh. Jika rata-rata pemakaian sekitar 40-50% dari beban
puncak, energi yang terpakai sekitar 140.000-175.000 kWh per tahun (perkiraan
kasar). Daya yang tidak terpakai dibuang ke beban ballast oleh pengatur beban
elektronik (ELC), sehingga putaran dan frekuensi tetap stabil tanpa operator.
Keberlanjutan.
PLTMH tidak membakar bahan bakar dan mengambil air
tanpa menghabiskannya, asalkan debit lingkungan dijaga. Perawatan utama (ganti
bantalan, periksa nozzle dan mangkuk karena pasir) dapat dilatih kepada operator
desa.
Keterbatasan.
(a) Tinggi jatuh, debit, dan panjang pipa adalah asumsi; (b)
efisiensi diambil dari rentang literatur, bukan dari uji alat; (c) poros hanya dihitung
secara ringkas dan perlu pemeriksaan lenturan serta kelelahan sebelum dibuat; (d)
biaya belum dianalisis. Hal-hal ini menjadi bahan rekomendasi.
Refleksi CCIT.
Ketika air 76,7 liter tiap detik berubah menjadi 40 kW listrik,
penulis diingatkan bahwa seluruh tenaga itu tidak diciptakan oleh manusia,
melainkan sudah tersimpan pada ketinggian air oleh Sang Pencipta; manusia
hanya mengubah bentuknya. Hal ini menumbuhkan syukur sekaligus tanggung
jawab agar tidak boros dan tidak merusak sungai.
I. KESIMPULAN, PENUTUP, DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Satu turbin Pelton berjet tunggal sudah memenuhi kebutuhan listrik desa 100 KK. Untuk beban puncak 34 kW dan daya rancangan 40 kW, dibutuhkan debit 76,7 L/detik pada tinggi jatuh bersih 75,3 m. Turbin terdiri atas nozzle berdiameter 51 mm, roda berdiameter 0,55 m dengan 21 mangkuk berputar 600 putaran per menit, dan poros 60 mm yang menyalurkan 45,3 kW (721 Nยทm) lewat sabuk berasio 2,5 ke generator 50 kVA. Pemeriksaan momentum menunjukkan daya rancangan lebih kecil daripada daya teoretis, sehingga asumsi efisiensi aman. Uji kepekaan menunjukkan rancangan masih berfungsi bila data lapangan sedikit berbeda, tetapi cadangan dayanya cepat habis jika tinggi jatuh turun di bawah sekitar 65 m.
Penutup
Angka-angka dalam laporan ini hanyalah cara manusia membaca aturan
yang Tuhan tetapkan pada air, logam, dan gerak. Penulis memohon agar ilmu ini
bermanfaat, dipakai dengan amanah, dan menjadi sebab terangnya rumah-rumah warga. Bila ada kekeliruan, itu berasal dari keterbatasan penulis dan akan diperbaiki dengan senang hati.
Rekomendasi
perancangan PLTMH meliputi pengukuran debit sungai, tinggi jatuh, dan panjang pipa secara nyata, terutama pada musim kemarau, serta survei kebutuhan listrik dan pola pemakaian warga agar kapasitas pembangkit sesuai beban puncak. Selain itu, perlu dilakukan perlindungan sungai dengan memperhatikan kebutuhan debit lingkungan dan irigasi, serta melengkapi sistem pendukung seperti bendung, intake, bak pengendap, bak penenang, dan pengatur beban elektronik (ELC) dengan ballast. Sebelum pembangunan, poros dan runner turbin harus dianalisis terhadap lendutan, kelelahan, putaran kritis, serta pemilihan material bucket yang sesuai kualitas air. Selanjutnya perlu dilakukan analisis biaya investasi, biaya operasi, iuran warga, kelembagaan, dan pelatihan operator. Jika kebutuhan listrik meningkat dan debit mencukupi, pengembangan dapat dilakukan dengan menambahkan nozzle kedua pada runner yang sama, kemudian setelah terpasang dilakukan uji kinerja untuk mengukur daya dan efisiensi aktual sebagai dasar penyesuaian desain dan jadwal pemeliharaan.
J. UCAPAN TERIMA KASIH
Pertama-tama, syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas ilmu, kesehatan,
dan kemudahan dalam menyelesaikan laporan ini. Terima kasih kepada Bapak
Ahmad Indra Siswantara atas ilmu dan diskusinya, kepada keluarga atas doa dan
dukungannya, serta kepada para penulis buku dan jurnal yang karyanya menjadi
rujukan.
K. DAFTAR PUSTAKA
Bansal, R. K. (2005). A Textbook of Fluid Mechanics and Hydraulic Machines.
New Delhi: Laxmi Publications.
Chaudhry, M. H. (2014). Applied Hydraulic Transients (3rd ed.). New York:
Springer.
Dixon, S. L., & Hall, C. A. (2014). Fluid Mechanics and Thermodynamics of
Turbomachinery (7th ed.). Oxford: Butterworth-Heinemann.
Harvey, A., Brown, A., Hettiarachchi, P., & Inversin, A. (1993). Micro-Hydro
Design Manual: A Guide to Small-Scale Water Power Schemes. London: ITDG Publishing.
Nechleba, M. (1957). Hydraulic Turbines: Their Design and Equipment. Prague:
Artia.
Penche, C. (1998). Layman’s Guidebook on How to Develop a Small Hydro Site
(2nd ed.). Brussels: European Small Hydropower Association (ESHA).
Swamee, P. K., & Jain, A. K. (1976). Explicit equations for pipe-flow problems.
Journal of the Hydraulics Division, ASCE, 102(5), 657-664.
White, F. M. (2016). Fluid Mechanics (8th ed.). New York: McGraw-Hill
Education.
L. LAMPIRAN


| No | Kriteria | Dipenuhi pada bagian |
| 1 | Consciousness of Purpose | E.1 dan E.2: air dan hukum alam sebagai ciptaan Tuhan |
| 2 | Self-awareness | E.1: bias, asumsi, dan keterbatasan penulis |
| 3 | Ethical Considerations | E.1 dan rekomendasi 3: debit lingkungan, keselamatan warga |
| 4 | Integrasi CCIT | E, catatan CCIT di F, G, H, dan Penutup I |
| 5 | Critical Reflection | Pembahasan H dan Penutup I |
| 6 | Continuum of Awareness | Refleksi CCIT bersambung dari E sampai I |
| 7 | Clarity of Intent | E.2 |
| 8 | Alignment of Objectives | E.2 selaras dengan Kesimpulan I |
| 9 | Relevance of Intent | F: kebutuhan listrik desa terpencil |
| 10 | Sustainability Focus | E.2, Pembahasan H (keberlanjutan), rekomendasi 3 dan 6 |
| 11 | Focus on Quality | E.2, langkah 10 di G, pemeriksaan gaya di H.5 |
| 12 | Problem Understanding | F: Latar Belakang |
| 13 | Stakeholder Awareness | F: pihak yang terdampak |
| 14 | Contextual Analysis | F: konteks desa terpencil |
| 15 | Root Cause Analysis | F: tabel gejala dan akar masalah |
| 16 | Relevance of Analysis | F dan G: analisis langsung menjadi parameter rancangan |
| 17 | Use of Data and Evidence | G (tabel asumsi), H, K; asumsi lapangan diberi tanda jelas |
| 18 | Assumption Clarity | G: tabel idealisasi beserta alasannya |
| 19 | Creativity and Innovation | Hitung berulang untuk debit dan rugi, uji kepekaan, penjelasan fisik tiap langkah |
| 20 | Physical Realism | G dan H.5: cek momentum dan cek efisiensi |
| 21 | Alignment with Intent | G: idealisasi dibatasi pada tujuan desa dan kemudahan perawatan |
| 22 | Scalability and Adaptability | H.8 dan rekomendasi 7: jet kedua dan perubahan data |
| 23 | Simplicity and Elegance | Pelton jet tunggal, sabuk, ELC: sedikit bagian bergerak |
| 24 | Clarity of Steps | G: sepuluh langkah |
| 25 | Comprehensiveness | H.1 sampai H.8: dari beban sampai pukulan air |
| 26 | Physical Interpretation | Paragraf “Arti fisik” pada setiap langkah H |
| 27 | Error Minimization | Pembulatan, iterasi, margin keamanan, Lampiran D |
| 28 | Verification and Validation | H.5, uji kepekaan H.8, skrip hitung terpisah, rekomendasi 8 |
| 29 | Iterative Approach | G langkah 4 dan 10, Lampiran D |
| No | Kriteria | Dipenuhi pada bagian |
| 30 | Sustainability Integration | H (keberlanjutan), rekomendasi 3, 4, 6 |
| 31 | Communication Effectiveness | Bahasa sederhana, tabel ringkasan, rumus tertulis |
| 32 | Alignment with DAI5 | Urutan E, F, G, H sesuai tahapan DAI5 |
| 33 | Documentation Quality | Struktur A sampai L, daftar pustaka, lampiran |