ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

PERANCANGAN DAN ANALISIS TURBIN PELTON UNTUK PLTMH (PENDEKATAN DAI5) Mariano Joshua Nainggolan(2306265461) SKE-01

Mariano Joshua Nainggolan

NPM: 2306265461

Teknik Mesin | Universitas Indonesia

PERANCANGAN DAN ANALISIS TURBIN PELTON UNTUK PEMBANGKIT LISTRIK TENAGA MIKROHIDRO (PLTMH) 50 L/S, HEAD 100 M

A. ABSTRACT

Turbin Pelton adalah turbin impuls yang paling sesuai untuk head tinggi dengan debit kecil, kondisi yang umum pada PLTMH di daerah pegunungan. Proyek ini merancang turbin Pelton satu nosel secara awal dengan pendekatan satu dimensi berbasis persamaan energi, momentum, dan persamaan Euler, kemudian mengotomatisasinya dengan MATLAB. Input desain berupa head neto 100 m, debit 0,05 mยณ/s, dan putaran sinkron 1000 rpm (generator 6 kutub, 50 Hz). Berbeda dengan pendekatan yang menetapkan efisiensi sebagai asumsi, efisiensi di sini dihitung dari kerugian nosel, gesekan bucket, energi kinetik keluar, percikan, windage, dan bantalan. Hasilnya: daya hidrolik 49,05 kW, kecepatan jet 42,97 m/s, diameter jet 38,5 mm, diameter pitch runner 0,40 m (D/d = 10,39), jumlah bucket 20, efisiensi runner 93,41%, efisiensi total 85,18%, daya poros 41,78 kW, torsi 399 Nยทm, dan daya listrik 38,86 kW. Neraca energi jet tertutup (selisih 0 W), dan rasio kecepatan optimum numerik (u/Vโ‚ โ‰ˆ 0,49โ€“0,50) sesuai dengan teori ideal 0,5. Sensitivitas menunjukkan daya paling dipengaruhi oleh debit dan head. Hasil ini adalah preliminary design: koefisien kerugian masih asumsi dan perlu dikalibrasi dengan data pabrikan, CFD, atau uji model.

B. AUTHOR DECLARATION

1. Deep Awareness (of) I

Perancangan teknik bukan sekadar memasukkan angka ke dalam persamaan. Ada tanggung jawab untuk memastikan hasilnya benar secara matematis, masuk akal secara fisik, dan aman ketika diterapkan. Dalam proyek ini kesadaran tersebut diwujudkan dengan membedakan tegas tiga hal: data asumsi (diberi label asumsi), hasil perhitungan, dan hasil verifikasi. Efisiensi turbin tidak saya tetapkan sebagai angka tebakan, tetapi diturunkan dari kerugian; koefisien yang memang asumsi (C_v, ฯˆ, ฮฒ, rugi percikan, koefisien windage dan bantalan) ditandai dan diuji sensitivitasnya.

Konsep Cara Cerdas Ingat Tuhan (CCIT) saya terapkan sebagai kesadaran bahwa kemampuan berhitung dan merancang adalah amanah. Mengingat Tuhan Yang Maha Esa dalam proses engineering berarti jujur terhadap data, tidak memanipulasi hasil agar tampak lebih baik, dan sadar bahwa keputusan teknis berdampak pada manusia dan lingkungan. Penerapannya:

  1. Ketelitian: satuan SI konsisten dan setiap persamaan dicek ulang, karena kesalahan kecil pada head atau debit berubah menjadi kesalahan besar pada daya.
  2. Kejujuran terhadap asumsi: nilai asumsi tidak disajikan sebagai hasil eksperimen.
  3. Keselamatan: putaran lari bebas (ยฑ1.846 rpm) dan beban bantalan diperhitungkan agar poros dan generator aman.
  4. Keberlanjutan: PLTMH memakai energi terbarukan dengan dampak lingkungan relatif kecil dan dapat melistriki desa terpencil.
  5. Manfaat bagi manusia: tujuan akhir desain adalah listrik yang andal dan terjangkau bagi masyarakat.

2. Intention of the Project Activity

Niat proyek ini adalah merancang turbin Pelton untuk PLTMH dengan alasan teknis yang dapat dipertanggungjawabkan, dari pemilihan dimensi hingga verifikasi. Tujuan khususnya:

  1. Menghitung daya hidrolik, kecepatan jet, dan diameter jet dari head dan debit.
  2. Menentukan putaran sinkron generator dan diameter pitch runner.
  3. Menentukan jumlah dan dimensi bucket.
  4. Menyusun segitiga kecepatan masuk dan keluar bucket.
  5. Menurunkan efisiensi dari neraca daya dan kerugian (nosel, gesek, keluar, percikan, windage, bantalan).
  6. Menentukan daya poros, torsi, daya listrik, kecepatan spesifik, dan putaran lari bebas.
  7. Menentukan diameter poros minimum dan head bruto pada pipa pesat.
  8. Melakukan iterasi diameter, analisis beban sebagian, dan analisis sensitivitas dengan MATLAB.
  9. Memverifikasi neraca energi dan membandingkan hasil dengan teori optimum.
  10. Menyatakan batas model secara jujur.

C. INTRODUCTION

1. Background

Sebagian besar potensi mikrohidro di Indonesia berada di daerah pegunungan dengan sungai berdebit kecil tetapi beda tinggi besar. Pada kondisi ini turbin impuls Pelton unggul: air dipercepat di nosel menjadi jet berkecepatan tinggi pada tekanan atmosfer, lalu jet membentur bucket pada runner dan memberikan momentumnya sebagai torsi. Karena runner bekerja pada tekanan atmosfer, tidak diperlukan rumah turbin bertekanan dan draft tube seperti pada turbin reaksi, sehingga konstruksi sederhana dan perawatannya mudah. Debit diatur dengan jarum nosel, dan efisiensinya relatif datar pada beban sebagian.

Daya hidrolik yang tersedia dihitung dengan:

P_hid = ฯ g Q H

dengan ฯ massa jenis air (kg/mยณ), g percepatan gravitasi (m/sยฒ), Q debit (mยณ/s), dan H head neto di nosel (m). Seluruh energi head pada Pelton diubah menjadi energi kinetik jet di nosel (Vโ‚ = C_v โˆš(2gH)), kemudian sebagian besar dipindahkan ke runner oleh perubahan momentum.

2. Engineering Problem

Bagaimana menentukan:

  1. Daya hidrolik, kecepatan jet, dan diameter jet?
  2. Putaran dan diameter pitch runner yang sesuai dengan generator?
  3. Jumlah dan ukuran bucket?
  4. Segitiga kecepatan dan energi kinetik yang tersisa saat keluar bucket?
  5. Efisiensi turbin dari kerugian, bukan dari asumsi?
  6. Daya poros, torsi, daya listrik, dan kecepatan spesifik?
  7. Putaran lari bebas dan diameter poros minimum?
  8. Pengaruh debit parsial dan ketidakpastian parameter terhadap daya?
  9. Rugi pipa pesat dan head bruto yang dibutuhkan?
  10. Apakah hasil benar secara matematis dan masuk akal secara fisik?

3. Initial Thinking (about the Problem)

a. Systematic Problem Analysis

Rantai energi sistem:

Head โ†’ nosel โ†’ energi kinetik jet โ†’ bucket (runner) โ†’ poros โ†’ generator โ†’ listrik

Setiap tahap memiliki kerugian sehingga: P_hid > P_jet > P_runner > P_poros > P_listrik.

b. Problem Decomposition

Input desain; geometri jet dan runner; segitiga kecepatan; neraca daya dan kerugian; verifikasi; iterasi diameter; beban sebagian; sensitivitas; pipa pesat; validasi.

c. Fundamental Principles

PrinsipPersamaanKeterangan
Daya hidrolikP_hid = ฯ g Q HEnergi tersedia
Kecepatan jetVโ‚ = C_v โˆš(2gH)C_v koefisien kecepatan nosel
Diameter jetd = โˆš(4Q / (ฯ€ Vโ‚))Kontinuitas
Kecepatan bucketu = ฯ€ D N / 60D diameter pitch
Kecepatan relatifwโ‚ = Vโ‚ โˆ’ u; wโ‚‚ = ฯˆ wโ‚ฯˆ koefisien gesek bucket
Komponen keluarVโ‚‚u = u โˆ’ wโ‚‚ cosฮฒ; Vโ‚‚y = wโ‚‚ sinฮฒฮฒ sudut keluar relatif
Daya runner (Euler)P_run = ฯ Q u (Vโ‚ โˆ’ u)(1 + ฯˆ cosฮฒ)Momentum
Rasio optimum idealu/Vโ‚ = 0,5 (ฯˆ = 1)Turunan dari dP/du = 0
Kecepatan spesifikN_s = N โˆšP_kW / H^1,25rpm, kW, m

Efisiensi yang dipakai: ฮท_nosel = P_jet/P_hid; ฮท_runner = P_run/P_jet; ฮท_total = P_poros/P_hid.

d. Root Cause Analysis

Penyebab efisiensi rendah pada Pelton: rasio u/Vโ‚ menyimpang dari optimum, koefisien nosel C_v rendah (jet tidak halus), gesekan dan percikan pada bucket, energi kinetik sisa yang terlalu besar saat keluar, serta gesekan udara (windage) dan bantalan. Akar masalah terpenting pada tahap awal adalah kecocokan antara kecepatan jet, putaran generator, dan diameter runner: jika salah satu tidak sesuai, u/Vโ‚ menyimpang dari 0,5 dan daya turun.

e. State of the Art

Desain Pelton modern memakai CFD (termasuk metode partikel) untuk membentuk profil bucket, serta optimasi jumlah nosel dan sudut jet. Rujukan yang dipakai di sini adalah teori turbin impuls dalam literatur turbomachinery dan panduan mikrohidro (Dixon & Hall, 2014; Zhang, 2016; Thake, 2000).

Research gap proyek ini: banyak latihan perancangan mahasiswa menetapkan efisiensi sebagai asumsi sehingga desain tidak memengaruhi performa. Proyek ini memodelkan efisiensi sebagai hasil kerugian pada alur kerja MATLAB sebelum memasuki tahap CFD.

D. METHODS & PROCEDURES

1. Design Input

ParameterSimbolNilaiSatuanStatus
Head efektif (neto)H100mAssumed
Debit desainQ0,05mยณ/sAssumed
Massa jenis airฯ1000kg/mยณStandar
Gravitasig9,81m/sยฒStandar
Koefisien kecepatan noselC_v0,97โ€“Assumed
Koefisien gesek bucketฯˆ (= wโ‚‚/wโ‚)0,90โ€“Assumed
Sudut keluar relatifฮฒ15degAssumed
Frekuensi jaringanf50HzStandar
Jumlah kutub generatorp6โ€“Design choice
Putaran sinkronN = 120 f / p1000rpmDihitung
Diameter pitch runnerD0,40mDesign choice (hasil iterasi)
Rugi percikanโ€“2% P_runAssumed
Koefisien windageC_w1,0โ€“Assumed
Koefisien gesek bantalan + sealฮผ_b0,003โ€“Assumed
Massa rotor (runner + poros)m_rot250kgAssumed
Diameter poros acuan (bantalan)d_sh,ref0,05mAssumed
Efisiensi generatorฮท_gen0,93โ€“Assumed
Tegangan geser izin porosฯ„_izin40MPaAssumed
Faktor torsi desainโ€“1,5โ€“Design criterion

Catatan: tidak ada data lapangan, sehingga head dan debit adalah assumed design input, bukan hasil pengukuran.

2. IDEALIZATION

AsumsiAlasanPengaruhKeterbatasan
Satu dimensi, satu jetPreliminary designPerhitungan sederhanaTidak menangkap aliran 3D di bucket
Steady, titik desainFokus kondisi nominalMemudahkan sizingTransien dan start-up tidak dimodelkan
Air inkompresibel, ฯ konstanPerubahan densitas kecilKontinuitas sederhanaTemperatur diabaikan
Head neto di noselRugi pipa dihitung terpisah (bagian 9)Memisahkan nosel dan pipaRugi belokan nosel dalam C_v
C_v, ฯˆ, ฮฒ konstanKoefisien rata-rataKerugian terwakiliNilai nyata bergantung geometri dan kekasaran
Jet tunggal membentur bucket pada titik pitchTeori impuls standarSegitiga kecepatan sederhanaInterferensi bucket dan jet tidak dimodelkan
Rugi percikan = fraksi tetap dari P_runData awal belum adaDiuji sensitivitasnyaFraksi nyata bergantung kualitas permukaan
Windage โˆ ฯ‰ยณ RโตKorelasi gesekan diskDihitung eksplisitKoefisien C_w asumsi
Beban bantalan dari berat rotor dan gaya jetPendekatan statikRugi bantalan dihitungTanpa analisis dinamik
Poros rigid, tegangan geser murniEstimasi diameter minimumCepatLentur, fatik, dan getaran belum dianalisis
Tanpa kavitasi dan erosi pasirPreliminary screeningDesain awal mungkinPada PLTMH nyata erosi dapat dominan

Pendekatan satu dimensi ini adalah preliminary engineering method, bukan pengganti CFD maupun uji model.

3. FUNDAMENTAL EQUATIONS (perhitungan terstruktur)

a. Daya hidrolik. P_hid = 1000 ร— 9,81 ร— 0,05 ร— 100 = 49.050 W = 49,05 kW.

b. Jet. Vโ‚ = 0,97 โˆš(2 ร— 9,81 ร— 100) = 0,97 ร— 44,29 = 42,97 m/s. d = โˆš(4 ร— 0,05 / (ฯ€ ร— 42,97)) = 0,03849 m = 38,5 mm.

c. Runner. N = 120 ร— 50 / 6 = 1000 rpm. ฯ‰ = 2ฯ€ ร— 1000 / 60 = 104,72 rad/s. u = ฯ€ ร— 0,40 ร— 1000 / 60 = 20,94 m/s. u/Vโ‚ = 0,4875; ฯ† = u/โˆš(2gH) = 0,4728. D/d = 0,40 / 0,03849 = 10,39.

d. Bucket. Jumlah z = round(0,5 D/d + 15) = round(20,2) = 20. Lebar B = 3,75 d = 144 mm; panjang L = 2,8 d = 108 mm; kedalaman T = 1,0 d = 38,5 mm (korelasi empiris yang dipakai di kode MATLAB).

e. Segitiga kecepatan. wโ‚ = 42,97 โˆ’ 20,94 = 22,02 m/s; wโ‚‚ = 0,90 ร— 22,02 = 19,82 m/s; Vโ‚‚u = 20,94 โˆ’ 19,82 cos15ยฐ = 1,80 m/s; Vโ‚‚y = 19,82 sin15ยฐ = 5,13 m/s; Vโ‚‚ = โˆš(1,80ยฒ + 5,13ยฒ) = 5,44 m/s.

f. Daya runner (Euler). P_run = 1000 ร— 0,05 ร— 20,94 ร— 22,02 ร— (1 + 0,9 cos15ยฐ) = 43,11 kW.

g. Rugi-rugi.

  • Nosel: P_nosel = P_hid โˆ’ P_jet = 49,05 โˆ’ 46,15 = 2,90 kW (P_jet = ยฝฯQVโ‚ยฒ = 46,15 kW)
  • Gesek bucket: ยฝฯQ(wโ‚ยฒ โˆ’ wโ‚‚ยฒ) = 2,30 kW
  • Energi keluar: ยฝฯQVโ‚‚ยฒ = 0,74 kW
  • Percikan: 0,02 ร— 43,11 = 0,86 kW
  • Windage: C_w ฯ_udara ฯ‰ยณ (D/2)โต = 1,0 ร— 1,2 ร— 104,72ยณ ร— 0,2โต = 0,44 kW
  • Bantalan: ฮผ_b F_brg (d_sh/2) ฯ‰ dengan F_jet = ฯQ(Vโ‚ โˆ’ u)(1 + ฯˆ cosฮฒ) = 2.058 N dan F_brg = โˆš((m g)ยฒ + F_jetยฒ) = 3.202 N, sehingga P_brg = 0,003 ร— 3.202 ร— 0,025 ร— 104,72 = 0,025 kW

h. Daya poros, torsi, listrik. P_poros = 43,11 โˆ’ 0,86 โˆ’ 0,44 โˆ’ 0,03 = 41,78 kW; T = 41.780 / 104,72 = 399 Nยทm; P_el = 0,93 ร— 41,78 = 38,86 kW.

i. Kecepatan spesifik dan putaran lari bebas. N_s = 1000 โˆš41,78 / 100^1,25 = 20,44; N_run โ‰ˆ 60 ร— 0,9 ร— Vโ‚ / (ฯ€ D) = 1.846 rpm (ยฑ1,85 N).

j. Poros. T_des = 1,5 ร— 399 = 598 Nยทm; d_min = (16 T_des / (ฯ€ ฯ„_izin))^(1/3) = 42,4 mm, dipilih 50 mm.

4. Instruksi (Set) Algoritma MATLAB

  1. Tetapkan parameter desain (bagian 1) dan hitung N sinkron.
  2. Hitung P_hid, Vโ‚, d, u, D/d, dan geometri bucket.
  3. Susun segitiga kecepatan, hitung Vโ‚‚.
  4. Hitung neraca daya dan seluruh kerugian, lalu daya poros, torsi, listrik, N_s, N_run, diameter poros.
  5. Verifikasi dengan assert: neraca energi jet tertutup, ฮท_total < ฮท_nosel ร— ฮท_runner, 10 < N_s < 35, 10 โ‰ค D/d โ‰ค 24, 0,42 < u/Vโ‚ < 0,52.
  6. Iterasi diameter D = 0,34โ€“0,44 m pada N tetap.
  7. Simulasikan beban sebagian (Q/Q_des = 0,2โ€“1,0), lalu sensitivitas enam parameter.
  8. Hitung pipa pesat (Darcy-Weisbach dan Colebrook, 50 iterasi) dan head bruto.
  9. Hasilkan lima grafik (segitiga kecepatan, ฮท vs u/Vโ‚, beban sebagian, distribusi daya, sensitivitas).

Proses bersifat iteratif: jika salah satu verifikasi gagal, parameter diubah dan seluruh perhitungan diulang.

E. RESULTS AND DISCUSSION

1. Final Design Parameters

ParameterSimbolHasilSatuan
Daya hidrolikP_hid49,05kW
Kecepatan jetVโ‚42,97m/s
Diameter jetd38,5mm
Diameter pitch runnerD0,40m
Rasio D/dm10,39โ€“
PutaranN1000rpm
Kecepatan bucketu20,94m/s
Rasio kecepatanu/Vโ‚0,4875โ€“
Jumlah bucketz20โ€“
Lebar / panjang / dalam bucketB / L / T144 / 108 / 38mm
Efisiensi noselฮท_nosel94,09%
Efisiensi runnerฮท_runner93,41%
Efisiensi totalฮท_total85,18%
Daya porosP_poros41,78kW
Torsi porosT398,97Nยทm
Daya listrikP_el38,86kW
Kecepatan spesifikN_s20,44โ€“
Putaran lari bebasN_runยฑ1.846rpm
Diameter poros minimum / dipilihd_min42,4 / 50mm

2. Velocity Triangle Results

ParameterMasukKeluarSatuan
Kecepatan bucket u20,9420,94m/s
Kecepatan absolut V42,975,44m/s
Kecepatan relatif w22,0219,82m/s
Komponen tangensial V_u42,971,80m/s
Komponen aksial V_y05,13m/s

Secara fisik, air masuk bucket dengan kecepatan relatif 22,02 m/s dan dibelokkan hampir 180ยฐ (sisa sudut ฮฒ = 15ยฐ). Komponen tangensial absolut turun dari 42,97 menjadi hanya 1,80 m/s: hampir seluruh momentum tangensial jet dipindahkan ke runner. Sisa energi kinetik keluar hanya 0,74 kW (1,5% P_hid). Komponen aksial 5,13 m/s berguna agar air keluar menjauhi bucket berikutnya.

3. Neraca Daya dan Kerugian

KomponenDaya (kW)% dari P_hid
Daya hidrolik49,05100,00
Rugi nosel2,905,91
Rugi gesek bucket2,304,70
Energi kinetik keluar0,741,51
Rugi percikan0,861,76
Rugi windage0,440,90
Rugi bantalan0,030,05
Daya poros41,7885,18

Rugi terbesar adalah nosel (5,9%) dan gesekan bucket (4,7%), sehingga C_v dan ฯˆ adalah koefisien yang paling menentukan. Rugi bantalan hampir dapat diabaikan. Dengan generator 93%, efisiensi dari air ke listrik sebesar 79,2%.

4. Iterasi Diameter Runner (N = 1000 rpm)

D (m)u (m/s)u/Vโ‚D/dzฮท_runner (%)ฮท_total (%)P_poros (kW)
0,3417,800,4148,831990,7283,2040,81
0,3618,850,4399,352092,0684,3041,35
0,3819,900,4639,872092,9684,9741,68
0,4020,940,48710,392093,4185,1841,78
0,4221,990,51210,912093,4184,9441,66
0,4423,040,53611,432192,9884,2341,32

D = 0,34โ€“0,36 m menghasilkan D/d di bawah 10 (di luar rekomendasi, dan tidak lolos asersi D/d), sedangkan D โ‰ฅ 0,42 m menurunkan ฮท_total karena windage dan u/Vโ‚ melewati 0,5. D = 0,40 m dipilih karena memberikan daya poros maksimum (41,78 kW) dan memenuhi seluruh batasan. Catatan jujur: D = 0,42 m hampir sama (selisih 0,12 kW), dan D/d = 10,39 hanya sedikit di atas batas bawah 10.

5. Kinerja Beban Sebagian (Part-Load)

Jarum nosel mengatur debit pada N tetap; C_v diasumsikan turun 0,02 ร— (1 โˆ’ Q/Q_des).

Q/Q_des (%)P_poros (kW)ฮท_total (%)
207,7278,66
4016,0381,70
6024,4883,17
8033,0684,25
10041,7885,18

Efisiensi hanya turun sekitar 6,5 poin persen dari beban penuh sampai 20% debit, menunjukkan karakter datar Pelton. Penurunan tersebut berasal dari rugi tetap (windage dan bantalan) dan penurunan C_v yang diasumsikan, bukan dari data uji, sehingga kurva ini perlu dibandingkan dengan pengujian.

6. Sensitivity Analysis (N tetap 1000 rpm)

Parameter (rendah / tinggi)P_poros rendah (kW)P_poros tinggi (kW)ฮ”P rendahฮ”P tinggi
Q = 0,04 / 0,06 mยณ/s33,3350,23โˆ’8,45+8,45
H = 90 / 110 m37,5545,80โˆ’4,23+4,02
C_v = 0,95 / 0,9940,0843,48โˆ’1,70+1,70
ฯˆ = 0,85 / 0,9540,6942,87โˆ’1,09+1,09
Percikan = 4% / 1%40,9242,21โˆ’0,86+0,43
ฮฒ = 20ยฐ / 10ยฐ41,2542,16โˆ’0,53+0,38

Debit dan head paling berpengaruh karena daya hampir sebanding dengan keduanya. Pada head, efek tidak simetris (โˆ’4,23 vs +4,02) karena putaran dikunci: perubahan H menggeser u/Vโ‚ dari titik optimum. Di antara koefisien, C_v paling berpengaruh (ยฑ1,70 kW untuk perubahan 0,02), diikuti ฯˆ, percikan, dan ฮฒ. Ketidakpastian koefisien ini setara dengan 2โ€“4% daya, sehingga kalibrasi tetap diperlukan.

7. Pipa Pesat (Darcy-Weisbach dan Colebrook)

ParameterNilaiSatuan
Diameter pipa D_p0,20m
Panjang L_p200m
Kekasaran ฮต0,045mm
Viskositas kinematik ฮฝ1,31 ร— 10โปโถmยฒ/s
Kecepatan V_p = Q / (ฯ€ D_pยฒ/4)1,59m/s
Bilangan Reynolds2,43 ร— 10โตโ€“
Faktor gesek (Colebrook)0,0168โ€“
Rugi mayor h_f = f (L/D) Vยฒ/2g2,17m
Rugi minor h_m = 1,5 Vยฒ/2g0,19m
Head bruto dibutuhkan102,37m

Rugi pipa total 2,37 m (2,4% dari head neto), sehingga head bruto yang harus tersedia di intake adalah 102,37 m. Kecepatan 1,59 m/s berada dalam rentang aman pipa pesat (hingga sekitar 3 m/s), dan hal ini juga menunjukkan bahwa diameter 0,20 m cukup. Nilai ini belum memperhitungkan pukulan air (water hammer).

8. Grafik MATLAB

Skrip pelton_PLTMH.m menghasilkan lima gambar yang perlu disisipkan pada Appendix A:

  • Gambar 1: Segitiga kecepatan masuk dan keluar bucket.
  • Gambar 2: ฮท_runner dan ฮท_total terhadap u/Vโ‚. Puncak kurva berada di u/Vโ‚ โ‰ˆ 0,49โ€“0,50 dan titik desain (0,4875) berada tepat di dekat puncak.
  • Gambar 3: Part-load, efisiensi dan daya poros terhadap Q/Q_des.
  • Gambar 4: Diagram air terjun daya dari 49,05 kW menjadi 41,78 kW.
  • Gambar 5: Sensitivitas (diagram tornado) enam parameter.

9. Error Checking dan Verification and Validation

Verification (model dan kode sesuai persamaan):

PemeriksaanHasil
Neraca energi jet: P_jet โˆ’ (P_run + P_keluar + P_gesek)0 W (tertutup)
Urutan daya: P_hid > P_jet > P_run > P_poros > P_el49,05 > 46,15 > 43,11 > 41,78 > 38,86 kW, terpenuhi
ฮท_total < ฮท_nosel ร— ฮท_runner0,8518 < 0,8789, terpenuhi
N_s berada pada 10โ€“3520,44, lolos
D/d berada pada 10โ€“2410,39, lolos
u/Vโ‚ berada pada 0,42โ€“0,520,4875, lolos
SatuanSeluruhnya SI

Neraca jet adalah pengecekan bermakna karena daya runner dihitung dari persamaan Euler (momentum), sedangkan rugi gesek dan energi keluar dihitung dari kecepatan; kesamaannya menunjukkan persamaan konsisten.

Validation terhadap teori. Validasi ini bukan validasi eksperimen. Untuk jet yang dibelokkan penuh, daya runner โˆ u(Vโ‚ โˆ’ u) sehingga optimum teoritis berada pada u/Vโ‚ = 0,5. Pada model ini, pemindaian numerik memberi optimum 0,50 untuk daya runner dan 0,49 untuk daya poros (windage dan bantalan menggeser sedikit ke bawah), sangat dekat dengan teori. Rentang u/Vโ‚ praktis Pelton sekitar 0,43โ€“0,48 dan N_s satu nosel berada pada orde 10โ€“30 (rpm, kW, m), sehingga desain ini konsisten dengan literatur. Dengan demikian desain ini dikategorikan reasonable preliminary design, tetapi belum divalidasi terhadap data uji maupun CFD.

10. Physical Interpretation

Dari 49,05 kW daya hidrolik, 41,78 kW (85,2%) menjadi daya poros. Kehilangan terbesar terjadi sebelum runner (nosel, 5,9%), kemudian di dalam bucket akibat gesekan (4,7%). Energi kinetik keluar hanya 1,5% sehingga u/Vโ‚ mendekati optimum. Torsi 399 Nยทm pada 1000 rpm sudah cocok untuk generator 6 kutub tanpa gearbox, dan putaran lari bebas sekitar 1.846 rpm menetapkan batas keselamatan bagi bantalan, poros, dan generator.

11. Limitations

  1. Model satu dimensi dan satu jet pada titik desain; tidak ada distribusi aliran 3D, interferensi jet, atau transien.
  2. C_v, ฯˆ, ฮฒ, rugi percikan, C_w, ฮผ_b, dan ฮท_gen adalah asumsi; hasil absolut bergantung pada nilai-nilai ini.
  3. Kurva part-load memakai penurunan C_v yang diasumsikan, bukan data pengukuran.
  4. Korelasi geometri bucket (z, B, L, T) bersifat empiris dan belum diuji dengan gambar teknik atau CFD.
  5. Diameter poros hanya dari torsi; lentur, fatik, getaran, dan kecepatan kritis belum dianalisis.
  6. Erosi pasir, kavitasi pada bucket, dan water hammer belum dianalisis.
  7. Data head dan debit adalah asumsi; pada proyek nyata harus diukur di lokasi (kurva durasi aliran).

F. CONCLUSION, CLOSING REMARKS, RECOMMENDATIONS

Conclusion

Untuk PLTMH dengan head neto 100 m dan debit 0,05 mยณ/s, turbin Pelton satu nosel dengan diameter jet 38,5 mm, diameter pitch runner 0,40 m, 20 bucket, dan putaran sinkron 1000 rpm (generator 6 kutub, 50 Hz) menghasilkan daya poros 41,78 kW dan daya listrik 38,86 kW dari daya hidrolik 49,05 kW. Efisiensi runner 93,41% dan efisiensi total 85,18% diperoleh dari kerugian, bukan diasumsikan. Rugi terbesar adalah nosel (5,9%) dan gesekan bucket (4,7%). Neraca energi jet tertutup, dan rasio kecepatan desain u/Vโ‚ = 0,4875 dekat dengan optimum numerik dan teoritis 0,5. Sensitivitas menunjukkan debit dan head paling berpengaruh, diikuti C_v. Kehilangan pipa pesat 2,37 m menuntut head bruto 102,37 m. Desain ini reasonable sebagai preliminary design, tetapi belum final karena koefisien belum dikalibrasi dan belum ada CFD, analisis struktur, maupun uji model.

Closing Remarks

Perancangan turbin Pelton menunjukkan bahwa ukuran runner bukan pilihan bebas, melainkan hasil kecocokan antara kecepatan jet, putaran generator, dan batas geometri bucket. Dengan kerangka DAI5, proses desain tidak berhenti pada angka, tetapi juga membedakan asumsi dari hasil dan menyatakan batas model dengan jujur.

Recommendations

  1. Ganti head dan debit asumsi dengan data lokasi (pengukuran dan kurva durasi aliran).
  2. Kalibrasi C_v, ฯˆ, ฮฒ, dan rugi percikan dengan data pabrikan atau uji model.
  3. Evaluasi desain dua nosel atau lebih bila debit meningkat, serta pengaturan jarum dan deflektor.
  4. CFD aliran jet dan bucket untuk profil bucket, serta analisis erosi pasir.
  5. Analisis tegangan poros, bucket, dan sambungan runner, termasuk fatik dan kecepatan kritis.
  6. Analisis water hammer pada pipa pesat dan pemilihan material.
  7. Uji prototipe: ukur debit, head, torsi, dan putaran untuk memvalidasi kurva efisiensi.

G. ACKNOWLEDGMENTS

Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu atas arahan dan kesempatan mengembangkan pemahaman tentang perancangan turbin hidraulik, serta kepada rekan-rekan mahasiswa dan seluruh pihak yang mendukung penyusunan laporan ini.

H. REFERENCES / LITERATURE CITED

Colebrook, C. F. (1939). Turbulent flow in pipes, with particular reference to the transition region between the smooth and rough pipe laws. Journal of the Institution of Civil Engineers, 11(4), 133โ€“156.

ร‡engel, Y. A., & Cimbala, J. M. (2020). Fluid mechanics: Fundamentals and applications (4th ed., SI units). McGraw-Hill Education.

Dixon, S. L., & Hall, C. A. (2014). Fluid mechanics and thermodynamics of turbomachinery (7th ed.). Butterworth-Heinemann.

International Electrotechnical Commission. (2019). IEC 60193:2019: Hydraulic turbines, storage pumps and pump-turbines: Model acceptance tests. IEC.

International Electrotechnical Commission. (2010). IEC 62006:2010: Hydraulic machines: Acceptance tests of small hydroelectric installations. IEC.

Nechleba, M. (1957). Hydraulic turbines: Their design and equipment. Artia.

Thake, J. (2000). The micro-hydro Pelton turbine manual. ITDG Publishing.

U.S. Department of Energy. (2013). Types of hydropower turbines. Office of Energy Efficiency and Renewable Energy.

Warnick, C. C. (1984). Hydropower engineering. Prentice-Hall.

Zhang, Z. (2016). Pelton turbines. Springer.

I. APPENDICES

Appendix A: Complete Graph

Sisipkan Gambar 1 sampai 5 dari hasil menjalankan pelton_PLTMH.m (lihat bagian H.8).

Appendix B: Detailed Manual Calculations

  • P_hid = 1000 ร— 9,81 ร— 0,05 ร— 100 = 49.050 W
  • Vโ‚ = 0,97 ร— โˆš(2 ร— 9,81 ร— 100) = 0,97 ร— 44,294 = 42,966 m/s
  • d = โˆš(4 ร— 0,05 / (ฯ€ ร— 42,966)) = โˆš0,0014815 = 0,03849 m
  • ฯ‰ = 2ฯ€ ร— 1000 / 60 = 104,72 rad/s; u = ฯ€ ร— 0,40 ร— 1000 / 60 = 20,944 m/s
  • wโ‚ = 42,966 โˆ’ 20,944 = 22,022 m/s; wโ‚‚ = 0,90 ร— 22,022 = 19,820 m/s
  • Vโ‚‚u = 20,944 โˆ’ 19,820 ร— 0,96593 = 1,800 m/s; Vโ‚‚y = 19,820 ร— 0,25882 = 5,130 m/s; Vโ‚‚ = 5,436 m/s
  • P_jet = 0,5 ร— 1000 ร— 0,05 ร— 42,966ยฒ = 46.151 W
  • P_run = 1000 ร— 0,05 ร— 20,944 ร— 22,022 ร— (1 + 0,9 ร— 0,96593) = 43.109 W
  • P_gesek = 0,5 ร— 1000 ร— 0,05 ร— (22,022ยฒ โˆ’ 19,820ยฒ) = 2.304 W
  • P_keluar = 0,5 ร— 1000 ร— 0,05 ร— 5,436ยฒ = 739 W
  • Cek neraca: 46.151 โˆ’ (43.109 + 739 + 2.304) = 0 W
  • P_windage = 1,2 ร— 104,72ยณ ร— 0,2โต = 441 W
  • F_jet = 1000 ร— 0,05 ร— 22,022 ร— 1,86934 = 2.058 N; F_brg = โˆš(2.452,5ยฒ + 2.058ยฒ) = 3.202 N; P_brg = 0,003 ร— 3.202 ร— 0,025 ร— 104,72 = 25 W
  • P_poros = 43.109 โˆ’ 862 โˆ’ 441 โˆ’ 25 = 41.780 W
  • T = 41.780 / 104,72 = 399 Nยทm; P_el = 0,93 ร— 41.780 = 38.856 W
  • N_s = 1000 ร— โˆš41,78 / 100^1,25 = 6.463,9 / 316,23 = 20,44
  • d_min = (16 ร— 598,5 / (ฯ€ ร— 40 ร— 10โถ))^(1/3) = 0,0424 m

Appendix C: Design Input

Lihat tabel pada bagian G.1.

Appendix D: Iteration Results

Lihat tabel pada bagian H.4.

Appendix E: Sensitivity Analysis

Lihat tabel pada bagian H.6.

Appendix F: MATLAB Code

Kode lengkap: pelton_PLTMH.m (terlampir).

DAI5 EVALUATION MATRIX

No.KriteriaImplementasi dalam laporan
1โ€“6Deep Awareness of IBagian E.1: CCIT, kejujuran data, keselamatan, keberlanjutan, refleksi (H.10, H.11)
7โ€“11IntentionBagian E.2: tujuan terukur, relevansi PLTMH, fokus kualitas (verifikasi)
12โ€“17Initial ThinkingBagian F: masalah, root cause analysis, data dan referensi
18โ€“23IdealizationBagian G.2: tabel asumsi, alasan, dan keterbatasan
24โ€“29Instruction (Set)Bagian G.3โ€“G.4: langkah, perhitungan manual, asersi, iterasi, sensitivitas
30โ€“33Sustainability dan dokumentasiEnergi terbarukan, appendices, referensi, struktur Aโ€“L

FINAL DESIGN SUMMARY

ParameterNilai akhir
Head neto / debit100 m / 0,05 mยณ/s
TipePelton satu nosel, 20 bucket
Diameter jet / pitch runner38,5 mm / 0,40 m
Putaran1000 rpm (generator 6 kutub, 50 Hz)
Efisiensi runner / total93,41% / 85,18%
Daya poros / listrik41,78 kW / 38,86 kW
Torsi poros399 Nยทm
Diameter poros50 mm
Head bruto dibutuhkan102,37 m
Status desainPreliminary design, layak pada asumsi yang dinyatakan

MATLAB CODE

%% =====================================================================
% PERANCANGAN DAN ANALISIS TURBIN PELTON UNTUK PLTMH (PENDEKATAN DAI5)
% Penulis : Mariano Joshua Nainggolan (2306265461)
% Berkas : pelton_PLTMH.m
% Isi : (1) parameter desain, (2) geometri jet & runner, (3) segitiga
% kecepatan, (4) neraca daya & kerugian, (5) verifikasi,
% (6) iterasi diameter, (7) part-load, (8) sensitivitas,
% (9) pipa pesat, (10) grafik.
% Satuan : SI (m, s, kg, W) kecuali dinyatakan lain.
% =====================================================================
clear; clc; close all;

%% 1. PARAMETER DESAIN (ASUMSI)
g = 9.81; % percepatan gravitasi [m/s^2]
rho = 1000; % massa jenis air [kg/m^3]
rhoAir = 1.2; % massa jenis udara [kg/m^3]
H = 100; % head efektif (neto) di nosel [m]
Q = 0.05; % debit desain [m^3/s]
Cv = 0.97; % koefisien kecepatan nosel [-]
psi = 0.90; % koefisien gesek bucket (w2/w1) [-]
betaDeg= 15; % sudut keluar relatif bucket [derajat]
f_hz = 50; % frekuensi jaringan [Hz]
poles = 6; % jumlah kutub generator
N = 120*f_hz/poles; % putaran sinkron [rpm] -> 1000 rpm
D = 0.40; % diameter pitch runner terpilih [m]
splash = 0.02; % rugi percikan (fraksi daya runner) [-]
Cw = 1.0; % koefisien windage [-]
muB = 0.003; % koefisien gesek bantalan + seal [-]
mRot = 250; % massa rotor (runner + poros) [kg]
dShRef = 0.05; % diameter poros acuan untuk rugi bantalan [m]
etaGen = 0.93; % efisiensi generator [-]

%% 2. DAYA HIDROLIK, JET DAN RUNNER
Phyd = rhogQH; % daya hidrolik [W]
V1 = Cv
sqrt(2gH); % kecepatan jet [m/s]
dJet = sqrt(4Q/(piV1)); % diameter jet [m]
om = 2piN/60; % kecepatan sudut [rad/s]
u = piDN/60; % kecepatan tangensial bucket [m/s]
phi = u/sqrt(2gH); % rasio kecepatan terhadap sqrt(2gH)
m = D/dJet; % rasio diameter runner/jet [-]
z = round(0.5m + 15); % jumlah bucket [-]
Bk = 3.75
dJet; % lebar bucket [m]
Lk = 2.8dJet; % panjang bucket (radial) [m]
Tk = 1.0
dJet; % kedalaman bucket [m]

%% 3. SEGITIGA KECEPATAN
b = deg2rad(betaDeg);
w1 = V1 – u; % kecepatan relatif masuk [m/s]
w2 = psiw1; % kecepatan relatif keluar [m/s]
V2u = u – w2
cos(b); % komponen tangensial V2 [m/s]
V2y = w2*sin(b); % komponen aksial V2 [m/s]
V2 = hypot(V2u, V2y); % kecepatan absolut keluar [m/s]

%% 4. NERACA DAYA DAN KERUGIAN
Pjet = 0.5rhoQV1^2; % daya kinetik jet [W]
Prun = rho
Qu(V1-u)(1+psicos(b)); % daya runner (Euler) [W]
Pfric = 0.5rhoQ*(w1^2 – w2^2); % rugi gesek bucket [W]
Pexit = 0.5rhoQV2^2; % energi kinetik keluar [W]
Pnoz = Phyd – Pjet; % rugi nosel [W]
Psplsh = splash
Prun; % rugi percikan [W]
Pwind = CwrhoAirom^3*(D/2)^5; % rugi windage [W]
Fjet = rhoQ(V1-u)(1+psicos(b)); % gaya jet pada runner [N]
Fbrg = hypot(mRotg, Fjet); % beban bantalan [N]
Pbrg = muB
Fbrg*(dShRef/2)om; % rugi bantalan [W]
Psh = Prun – Psplsh – Pwind – Pbrg; % daya poros [W]
Tq = Psh/om; % torsi poros [N.m]
Pel = etaGen
Psh; % daya listrik [W]
etaN = Pjet/Phyd; etaR = Prun/Pjet; etaTot = Psh/Phyd;
Ns = Nsqrt(Psh/1000)/H^1.25; % kecepatan spesifik (rpm, kW, m)
Nrun = 60
0.9V1/(piD); % putaran lari bebas (pendekatan) [rpm]
Tdes = 1.5Tq; % torsi desain poros (faktor 1,5)
tauAll = 40e6; % tegangan geser izin [Pa]
dShaft = (16
Tdes/(pi*tauAll))^(1/3); % diameter poros minimum [m]

%% 5. VERIFIKASI
balance = Pjet – (Prun + Pexit + Pfric); % harus nol
assert(abs(balance) < 1e-6Phyd, ‘Neraca energi jet tidak tertutup’);
assert(etaTot < etaN
etaR, ‘Efisiensi total harus lebih kecil dari etaN*etaR’);
assert(Ns > 10 && Ns < 35, ‘Ns di luar rentang Pelton 1 nosel’);
assert(m >= 10 && m <= 24, ‘D/d di luar rentang rekomendasi’);
assert(u/V1 > 0.42 && u/V1 < 0.52, ‘u/V1 di luar rentang optimum’);
fprintf(‘Neraca energi jet tertutup (selisih = %.2e W)\n’, balance);

%% 6. ITERASI DIAMETER RUNNER (N tetap 1000 rpm)
Dtry = [0.34 0.36 0.38 0.40 0.42 0.44];
fprintf(‘\n%6s %8s %8s %6s %4s %9s %9s %9s\n’,’D[m]’,’u[m/s]’,’u/V1′,’D/d’,’z’,’eta_r[%]’,’eta[%]’,’Psh[kW]’);
for i = 1:numel(Dtry)
r = peltonModel(H,Q,Cv,psi,betaDeg,Dtry(i),N,splash,Cw,muB,mRot,dShRef);
fprintf(‘%6.2f %8.2f %8.3f %6.2f %4d %9.2f %9.2f %9.2f\n’, Dtry(i), r.u, r.u/r.V1, …
Dtry(i)/dJet, round(0.5Dtry(i)/dJet+15), 100r.etaR, 100*r.eta, r.Psh/1000);
end

%% 7. KINERJA BEBAN SEBAGIAN (PART-LOAD): jarum nosel mengatur debit
x = linspace(0.2, 1.0, 81);
Pp = zeros(size(x)); Ep = zeros(size(x));
for i = 1:numel(x)
Cvx = Cv – 0.02*(1 – x(i)); % asumsi: Cv turun sedikit saat bukaan kecil
r = peltonModel(H,Qx(i),Cvx,psi,betaDeg,D,N,splash,Cw,muB,mRot,dShRef);
Pp(i) = r.Psh/1000; Ep(i) = 100
r.eta;
end

%% 8. ANALISIS SENSITIVITAS (daya poros, N tetap 1000 rpm)
base = Psh/1000;
names = {‘H -10%/+10%’,’Q -20%/+20%’,’Cv 0,95/0,99′,’psi 0,85/0,95′,’beta 20/10 deg’,’Percikan 4%/1%’};
lowP = zeros(1,6); highP = zeros(1,6);
cases = { {90,Q,Cv,psi,betaDeg,splash}, {110,Q,Cv,psi,betaDeg,splash};
{H,0.04,Cv,psi,betaDeg,splash}, {H,0.06,Cv,psi,betaDeg,splash};
{H,Q,0.95,psi,betaDeg,splash}, {H,Q,0.99,psi,betaDeg,splash};
{H,Q,Cv,0.85,betaDeg,splash}, {H,Q,Cv,0.95,betaDeg,splash};
{H,Q,Cv,psi,20,splash}, {H,Q,Cv,psi,10,splash};
{H,Q,Cv,psi,betaDeg,0.04}, {H,Q,Cv,psi,betaDeg,0.01} };
for i = 1:6
a = cases{2i-1}; c = cases{2i};
ra = peltonModel(a{1},a{2},a{3},a{4},a{5},D,N,a{6},Cw,muB,mRot,dShRef);
rc = peltonModel(c{1},c{2},c{3},c{4},c{5},D,N,c{6},Cw,muB,mRot,dShRef);
lowP(i) = ra.Psh/1000 – base;
highP(i) = rc.Psh/1000 – base;
end

%% 9. PIPA PESAT (Darcy-Weisbach, Colebrook)
Dp = 0.20; Lp = 200; eps = 0.045e-3; nu = 1.31e-6; % [m], [m], [m], [m^2/s]
Vp = Q/(piDp^2/4); Re = VpDp/nu;
fD = 0.02;
for k = 1:50
fD = (-2log10(eps/Dp/3.7 + 2.51/(Resqrt(fD))))^-2;
end
hf = fDLp/DpVp^2/(2g); % rugi mayor [m]
hm = 1.5
Vp^2/(2*g); % rugi minor (K = 1,5) [m]
Hgross = H + hf + hm; % head bruto yang dibutuhkan [m]

%% 10. RINGKASAN HASIL
fprintf(‘\n===== RINGKASAN DESAIN TURBIN PELTON =====\n’);
fprintf(‘Daya hidrolik : %8.2f kW\n’, Phyd/1000);
fprintf(‘Kecepatan jet V1 : %8.2f m/s\n’, V1);
fprintf(‘Diameter jet d : %8.1f mm\n’, dJet1000);
fprintf(‘Diameter runner D : %8.2f m (D/d = %.2f)\n’, D, m);
fprintf(‘Kecepatan bucket u : %8.2f m/s (u/V1 = %.3f)\n’, u, u/V1);
fprintf(‘Jumlah bucket z : %8d\n’, z);
fprintf(‘Lebar/panjang/dalam : %.0f / %.0f / %.0f mm\n’, Bk
1e3, Lk1e3, Tk1e3);
fprintf(‘Efisiensi nosel : %8.2f %%\n’, 100etaN);
fprintf(‘Efisiensi runner : %8.2f %%\n’, 100
etaR);
fprintf(‘Efisiensi total : %8.2f %%\n’, 100etaTot);
fprintf(‘Daya poros : %8.2f kW\n’, Psh/1000);
fprintf(‘Torsi poros : %8.1f N.m\n’, Tq);
fprintf(‘Daya listrik : %8.2f kW\n’, Pel/1000);
fprintf(‘Kecepatan spesifik Ns : %8.2f\n’, Ns);
fprintf(‘Putaran lari bebas : %8.0f rpm\n’, Nrun);
fprintf(‘Diameter poros min. : %8.1f mm (pilih 50 mm)\n’, dShaft
1000);
fprintf(‘Head bruto dibutuhkan : %8.2f m (hf = %.2f m, hm = %.2f m)\n’, Hgross, hf, hm);

%% 11. GRAFIK
% (a) Segitiga kecepatan masuk dan keluar
figure(‘Name’,’Segitiga Kecepatan’,’Color’,’w’,’Position’,[100 100 900 380]);
subplot(1,2,1); hold on; axis off;
quiver(0,3,V1,0,0,’b’,’LineWidth’,2,’MaxHeadSize’,0.3);
quiver(0,1.5,u,0,0,’Color’,[0.18 0.55 0.34],’LineWidth’,2,’MaxHeadSize’,0.3);
quiver(u,0,w1,0,0,’r’,’LineWidth’,2,’MaxHeadSize’,0.3);
text(V1/2,3.4,sprintf(‘V_1 = %.2f m/s’,V1),’HorizontalAlignment’,’center’);
text(u/2,1.9,sprintf(‘u = %.2f m/s’,u),’HorizontalAlignment’,’center’);
text((V1+u)/2,-0.5,sprintf(‘w_1 = %.2f m/s’,w1),’HorizontalAlignment’,’center’);
ylim([-1.2 4.2]); title(‘Segitiga kecepatan masuk’);
subplot(1,2,2); hold on; axis off;
quiver(0,0,u,0,0,’Color’,[0.18 0.55 0.34],’LineWidth’,2,’MaxHeadSize’,0.3);
W2 = [-w2cos(b), w2sin(b)];
quiver(u,0,W2(1),W2(2),0,’r’,’LineWidth’,2,’MaxHeadSize’,0.3);
quiver(0,0,u+W2(1),W2(2),0,’Color’,[0.88 0.54 0.12],’LineWidth’,2,’MaxHeadSize’,0.3);
text(u/2,-1.6,sprintf(‘u = %.2f m/s’,u),’HorizontalAlignment’,’center’);
text(u+1,W2(2)/2,sprintf(‘w_2 = %.2f m/s’,w2));
text(-0.5,W2(2)/2,sprintf(‘V_2 = %.2f m/s’,V2),’HorizontalAlignment’,’right’);
axis([-8 u+9 -3 W2(2)+3]); title(‘Segitiga kecepatan keluar’);

% (b) Efisiensi terhadap rasio u/V1
ph = linspace(0.30,0.65,200); er = zeros(size(ph)); et = er;
for i = 1:numel(ph)
Nn = 60ph(i)V1/(piD);
r = peltonModel(H,Q,Cv,psi,betaDeg,D,Nn,splash,Cw,muB,mRot,dShRef);
er(i) = 100
r.etaR; et(i) = 100r.eta;
end
figure(‘Name’,’Efisiensi vs u/V1′,’Color’,’w’);
plot(ph,er,’b-‘,ph,et,’r-‘,’LineWidth’,1.8); hold on; grid on;
plot(u/V1,100
etaTot,’go’,’MarkerFaceColor’,’g’);
xlabel(‘u/V_1’); ylabel(‘Efisiensi (%)’); ylim([40 100]);
legend(‘\eta runner’,’\eta total’,’Titik desain’,’Location’,’south’);

% (c) Part-load
figure(‘Name’,’Part-load’,’Color’,’w’);
yyaxis left; plot(100x,Ep,’LineWidth’,2); ylabel(‘Efisiensi (%)’); ylim([60 90]);
yyaxis right; plot(100
x,Pp,’LineWidth’,2); ylabel(‘Daya poros (kW)’); ylim([0 50]);
xlabel(‘Debit relatif Q/Q_{desain} (%)’); grid on;

% (d) Diagram air terjun daya
figure(‘Name’,’Distribusi daya’,’Color’,’w’);
vals = [Pnoz Pfric Pexit Psplsh Pwind Pbrg]/1000;
cum = Phyd/1000; bar(0,cum,’FaceColor’,[0.12 0.31 0.47]); hold on;
for i = 1:numel(vals)
cum = cum – vals(i); bar(i,vals(i),’BaseValue’,cum,’FaceColor’,[0.75 0.31 0.30]);
end
bar(numel(vals)+1,Psh/1000,’FaceColor’,[0.18 0.55 0.34]);
set(gca,’XTick’,0:7,’XTickLabel’,{‘Hidrolik’,’Nosel’,’Gesek’,’Keluar’,’Percik’,’Windage’,’Bantalan’,’Poros’});
ylabel(‘Daya (kW)’); grid on;

% (e) Sensitivitas
figure(‘Name’,’Sensitivitas’,’Color’,’w’);
barh(1:6,lowP,’FaceColor’,[0.75 0.31 0.30]); hold on;
barh(1:6,highP,’FaceColor’,[0.18 0.55 0.34]);
set(gca,’YTick’,1:6,’YTickLabel’,names); xlabel(‘\DeltaP_{poros} (kW)’); grid on;

%% ===== FUNGSI LOKAL: MODEL PELTON =====
function r = peltonModel(H,Q,Cv,psi,betaDeg,D,N,splash,Cw,muB,mRot,dSh)
g = 9.81; rho = 1000; rhoAir = 1.2;
cb = cosd(betaDeg);
Phyd = rhogQH;
V1 = Cv
sqrt(2gH);
u = piDN/60; om = 2piN/60;
Pjet = 0.5rhoQV1^2;
Prun = rho
Qu(V1-u)(1+psicb);
Fjet = rhoQ(V1-u)(1+psicb);
Pbrg = muBhypot(mRotg,Fjet)(dSh/2)om;
Pwnd = CwrhoAir
om^3*(D/2)^5;
Psh = Prun – splash*Prun – Pwnd – Pbrg;
r = struct(‘Phyd’,Phyd,’V1′,V1,’u’,u,’Pjet’,Pjet,’Prun’,Prun,’Psh’,Psh, …
‘etaN’,Pjet/Phyd,’etaR’,Prun/Pjet,’eta’,Psh/Phyd);
end


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *