ุงููุณููููุงู
ู ุนูููููููู
ู ููุฑูุญูู
ูุฉู ุงูููู ููุจูุฑูููุงุชููู
ุงูููุญูู
ูุฏู ููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู
ููููุ ููุงูุตููููุงุฉู ููุงูุณููููุงู
ู ุนูููู ุฃูุดูุฑููู ุงููุฃูููุจูููุงุกู ููุงููู
ูุฑูุณููููููุ ููุนูููู ุขูููู ููุตูุญูุจููู ุฃูุฌูู
ูุนูููู. ุฃูู
ููุง ุจูุนูุฏ
Simulasi dinamika fluida komputasional (Computational Fluid Dynamics) pada studi ini menggunakan diskritisasi domain ruang beresolusi 15×15 grid. Pendefinisian kondisi sempadan (boundary condition) diterapkan secara spesifik pada batas-batas domain untuk merepresentasikan kasus lid-driven cavity flow. Dinding batas atas, yang direpresentasikan sebagai area W2, dikondisikan bergerak secara mendatar dengan profil kecepatan konstan sebesar 0,2 m/s. Sebaliknya, ketiga sisi batas domain lainnyaโyakni dinding bawah, dinding kiri, dan dinding kanan yang terintegrasi dalam area W1โditetapkan sebagai dinding stasioner dengan nilai kecepatan 0 m/s. Ketetapan pada area W1 ini secara fisis mengasumsikan pemberlakuan kondisi tanpa selip (no-slip boundary condition), di mana partikel fluida yang bersentuhan langsung dengan dinding diasumsikan memiliki kecepatan yang sama dengan dinding tersebut.
Kestabilan perhitungan matematis dalam proses simulasi ini dievaluasi melalui grafik residu yang memonitor tingkat konvergensi numerik. Hasil pemantauan menunjukkan bahwa kurva residu termormalisasi untuk variabel tekanan, kecepatan searah sumbu-X (kecepatan U), dan kecepatan searah sumbu-Y (kecepatan V) mengalami penurunan eksponensial yang tajam dan stabil. Meskipun batas maksimum komputasi ditetapkan pada angka 1000 iterasi, perangkat lunak secara otomatis menghentikan proses iterasi pada siklus ke-352. Penghentian dini ini merupakan indikator performa komputasi yang sangat baik, karena mengonfirmasi bahwa seluruh parameter persamaan diferensial telah mencapai batas toleransi galat (error tolerance) minimum yang disyaratkan oleh sistem. Dengan kata lain, solusi numerik pada iterasi ke-352 telah mencapai kondisi konvergen dan stabil secara absolut (steady-state).
Lebih lanjut, analisis terhadap medan vektor kecepatan (velocity vector field) memperlihatkan visualisasi kinematika fluida yang terbangun di dalam domain. Pergerakan konstan pada dinding batas atas (W2) memicu terjadinya transfer momentum pada lapisan fluida tepat di bawahnya akibat adanya tegangan geser viskos (viscous shear stress). Interaksi hidrodinamika ini menyebabkan massa fluida terseret secara paksa ke arah kanan hingga membentur dinding stasioner vertikal. Benturan ini secara mekanis memaksa aliran fluida untuk terdefleksi ke arah bawah, menyusuri dinding dasar menuju ke kiri, dan kemudian terdorong kembali ke atas. Siklus pergerakan berkelanjutan ini menginisiasi pembentukan pusaran utama (primary vortex) berskala besar yang berotasi searah jarum jam tepat di pusat komputasi. Fenomena ini tervalidasi oleh gradien warna magnitudo, di mana spektrum warna merah hingga kuning di area atas mengindikasikan zona kecepatan tertinggi. Nilai kecepatan ini berangsur-angsur melambat, ditandai dengan transisi spektrum menuju warna biru tua di dekat dinding stasioner, sebagai akibat langsung dari disipasi energi oleh lapisan batas viskos (viscous boundary layer).
Dinamika perpindahan fluida tersebut menghasilkan dampak yang sangat signifikan terhadap distribusi tekanan statik relatif di dalam domain tertutup. Tinjauan pada plot kontur tekanan menunjukkan adanya anomali berupa lonjakan tekanan statik secara ekstrem di sudut kanan atas domain, yang direpresentasikan oleh gradien warna merah. Peningkatan tekanan ini merupakan manifestasi fisis dari area stagnasi (stagnation point), di mana aliran fluida yang berkecepatan tinggi secara terus-menerus menabrak sudut dinding yang diam, sehingga terjadi akumulasi massa fluida dan konversi energi kinetik menjadi energi tekanan secara masif. Berbanding terbalik dengan kondisi tersebut, sudut kiri atas domain memperlihatkan area dengan tekanan negatif atau terendah yang divisualisasikan oleh zona berwarna biru tua. Penurunan tekanan yang drastis pada region ini diakibatkan oleh efek isapan (suction effect) yang timbul karena massa fluida secara konstan ditarik menjauh oleh pergerakan dinding atas, yang pada akhirnya memicu terjadinya kondisi kekosongan relatif (relative vacuum) secara lokal di sudut tersebut.