ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

Tugas Besar SKE – PERANCANGAN DAN ANALISIS KINEMATIKA ALIRAN 1D TURBIN KAPLAN PADA HEAD RENDAH BERBASIS KERANGKA METODOLOGI DAI5 DAN INTEGRASI CCIT : Studi Kasus Pembangkit Listrik Tenaga Air Mikrohidro – Enzo Noval Satriyo

سْمِ اللَّهِ الرَّحْمَنِ الرَّحِيم

السَّلاَمُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللهِ وَبَرَكَاتُهُ

Assalamu Alaikum Warahmatullahi Wabarakatuh

Perkenalkan, nama saya Enzo Noval S, mahasiswa Fakultas Teknik jurusan Teknik Mesin Universitas Indonesia dengan NPM 2406485500. Pada laporan ini saya akan membahas mengenai Perancangan dan Analisis Kinematika Aliran 1D Turbin Kaplan dalam mempelajari Sistem Konversi Energi (SKE-01) serta memenuhi Tugas Besar mata kuliah tersebut.

A. PROJECT TITLE

PERANCANGAN DAN ANALISIS KINEMATIKA ALIRAN 1D TURBIN KAPLAN PADA HEAD RENDAH BERBASIS KERANGKA METODOLOGI DAI5 DAN INTEGRASI CCIT  

B. AUTHOR COMPLETE NAME

Nama Lengkap: Enzo Noval S 

C. AFFILIATION

Program Studi: Teknik Mesin 

Departemen: Departemen Teknik Mesin 

Fakultas: Fakultas Teknik 

Universitas: Universitas Indonesia 

Mata Kuliah: Sistem Konversi Energi (SKE-01) 

D. ABSTRACT

Turbin Kaplan merupakan salah satu jenis turbin reaksi aksial yang banyak digunakan pada pembangkit listrik tenaga air skala mini-hidro hingga makro, khususnya pada kondisi head hidrostatik rendah dan debit aliran yang relatif besar. Proyek ini bertujuan untuk melakukan perancangan awal (preliminary engineering design) serta analisis kinematika dan dinamika aliran satu dimensi (1D) pada turbin Kaplan berbasis kerangka metodologi DAI5 dan integrasi nilai-nilai Cara Cerdas Ingat Tuhan (CCIT). Karena data spesifik lapangan belum tersedia, digunakan assumed design input berupa net head (Hn) sebesar 12,0m, debit air (Q) sebesar 25,0m3/s, dan kecepatan putar poros (n) sebesar 375,0rpm.

Perancangan dilakukan secara terstruktur berbasis persamaan kontinuitas, energi, momentum sudut, serta persamaan Euler turbomachinery untuk menentukan daya hidraulik input, daya poros output, kecepatan spesifik (Ns), geometri utama runner (tip diameter Do dan hub diameter Dh), kecepatan aksial, kecepatan keliling (tangential velocity), serta konstruksi segitiga kecepatan pada inlet dan outlet sudu. Analisis performa dilakukan dengan memperhitungkan asumsi efisiensi hidraulik (91,5 %), volumetrik (98,0 %), dan mekanik (97,0 %), sehingga menghasilkan efisiensi keseluruhan (o) sebesar 87,0 % yang memenuhi target rentang efisiensi 85 % – 90 %.

Hasil perancangan awal menghasilkan daya hidraulik input sebesar 2.943,0kW (2,94MW) dan daya poros output sebesar 2.560,41kW (2,56MW). Nilai kecepatan spesifik yang diperoleh sebesar 846,3(m-kW) secara mutlak mengonfirmasi kesesuaian pemilihan geometri turbin reaksi aksial tipe Kaplan. Dimensi runner yang didapatkan memiliki outer tip diameter (Do) sebesar 2,43m dan hub diameter (Dh) sebesar 0,85m pada rasio hub nD=0,35. Evaluasi segitiga kecepatan pada mean diameter (1,641m) menghasilkan sudut sudu inlet (1) sebesar 12,00 dan sudut sudu outlet (2) sebesar 10,78 dengan merancang kondisi aliran keluar bebas pusaran (swirl-free exit, Vw2=0). Verifikasi risiko kavitasi berbasis Angka Kavitasi Thoma (critical=1,78) menunjukkan batas ketinggian penempatan runner Hs-11,26m, yang menginstruksikan bahwa runner wajib dipasang tenggelam di bawah permukaan air bawah (tailwater level).

Seluruh proses kalkulasi dan analisis kinematika aliran diotomatisasi untuk memfasilitasi iterasi desain serta pemeriksaan konsistensi matematis. Hasil perancangan 1D ini berfungsi sebagai landasan dan kondisi batas (boundary condition) yang valid untuk dilanjutkan ke tahap pemodelan geometri 3D dan simulasi dinamika fluida komputasi (Computational Fluid Dynamics / CFD).

Abstrak ini sudah mencakup seluruh parameter spesifik kamu (Hn=12m, Q=25m3/s, Pshaft=2,56MW, η_o = 87 %, Do=2,43m, Dh=0,85m, 1=12,00, 2=10,78, dan Hs-11,26m).

E. AUTHOR DECLARATION

1. Deep Awareness (of) I

Pada proyek ini, kesadaran tersebut diterapkan sejak penentuan kondisi awal hingga evaluasi hasil perancangan. Parameter utama seperti net head (12,0 m), debit air (25,0 m³/s), kecepatan putar (375,0 rpm), rasio hub-to-tip (0,35), serta geometri runner tidak hanya dipandang sebagai variabel kalkulasi murni, melainkan sebagai elemen-elemen yang saling berinteraksi secara kompleks dalam proses konversi energi hidraulik menjadi energi mekanik. Karena data lapangan aktual belum tersedia, nilai-nilai yang digunakan dinyatakan secara transparan dan terbuka sebagai assumed design input agar tidak disamakan dengan data eksperimen lapangan maupun kondisi operasional riil.

Pemahaman terhadap konsep Cara Cerdas Ingat Tuhan (CCIT) yang diusung oleh Prof. Ahmad Indra Siswantara menjadi landasan filosofis utama dalam proses perancangan ini. Kemampuan ilmiah dalam memahami fenomena termofluidika dan melakukan manipulasi matematis merupakan bentuk amanah serta tanggung jawab moral yang harus dimanfaatkan secara benar. Dalam konteks engineering, hal ini diwujudkan melalui integritas data, ketidakmauan untuk memanipulasi angka demi mendapatkan estimasi efisiensi yang seolah-olah sempurna, serta pertimbangan mendalam terhadap keselamatan operasional dan keberlanjutan lingkungan.

Kesadaran tersebut diwujudkan secara konkret melalui beberapa prinsip perancangan:

  • Memahami hubungan antarparameter hidraulik: Memahami bahwa head dan debit menentukan total daya hidraulik input (2.943,0 kW), sedangkan kecepatan aksial (Vf) dan kecepatan keliling (U) secara langsung menentukan sudut sudu inlet (β1) dan outlet (β2) pada runner.
  • Menjaga integritas data dan asumsi: Memberikan batas yang sangat jelas antara data masukan asumsi (assumed inputs), hasil kalkulasi analitis 1D, dan referensi literatur turbomachinery.
  • Memeriksa hasil secara fisik (Physical Realism): Memastikan bahwa seluruh hasil perhitungan tidak hanya benar secara hitungan angka, tetapi juga berada dalam batas rasional engineering (seperti nilai kecepatan spesifik Ns = 846,3 yang memvalidasi pemilihan tipe turbin Kaplan).
  • Memperhatikan aspek keselamatan dan kavitasi: Mengidentifikasi bahaya kavitasi pada tip sudu runner akibat tekanan lokal rendah, serta menentukan batas kedalaman penempatan runner (Hs ≤ -11,26 m) secara ketat untuk mencegah kerusakan erosi logam, getaran, dan kegagalan struktur.
  • Mengurangi kehilangan energi (Hydraulic Losses): Meminimalkan rugi profil sudu, rugi gesekan dinding saluran, serta pusaran aliran (swirl) melalui perancangan kondisi aliran keluar ideal tanpa pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0).
  • Memperhatikan kondisi ekosistem akuatik: Mengingat turbin Kaplan bekerja pada aliran sungai berdebit besar, perancangan geometri sudu dan draft tube harus mempertimbangkan kelangsungan ekosistem sungai sekitar.
  • Mengutamakan kebermanfaatan nyata: Memastikan bahwa hasil rancangan awal ini dapat dipertanggungjawabkan untuk dikembangkan lebih lanjut menjadi teknologi konversi energi terbarukan yang aman, andal, dan bermanfaat bagi masyarakat.

Melalui proses ini, kesadaran engineering menjadi bagian yang tak terpisahkan dari setiap pengambilan keputusan teknik. Setiap persamaan Euler, asumsi efisiensi, dan dimensi geometri yang diperoleh dapat dijelaskan asal-usulnya serta dipertanggungjawabkan secara ilmiah, akademis, maupun moral.

2. Intention of the Project Activity

Proyek ini dilakukan sebagai sarana akademis untuk memahami secara komprehensif bagaimana sebuah Turbin Reaksi Aksial Tipe Kaplan dirancang dari potensi energi air yang tersedia hingga menghasilkan daya poros mekanik yang dapat dimanfaatkan untuk pembangkitan listrik tenaga air skala mini-hidro. Proses ini dilakukan secara sistematis dengan menghubungkan konsep-konsep dasar mekanika fluida, konservasi momentum sudut, persamaan Euler turbomachinery, dan analisis kinematika 1D.

Fokus kegiatan dalam proyek perancangan ini meliputi:

  1. Mempelajari karakteristik turbin Kaplan serta kondisi operasi low head dan high discharge yang sesuai untuk penerapannya.
  2. Menentukan kondisi desain awal berupa net head (Hn = 12,0 m) dan debit (Q = 25,0 m³/s) sebagai dasar utama perancangan.
  3. Menghitung daya hidraulik input (Ph) dan menetapkan target daya poros output (Pshaft ≈ 2,56 MW) berbasis estimasi efisiensi keseluruhan (η_o = 87,0%).
  4. Menentukan kecepatan putar poros (n = 375,0 rpm) dan mengkalkulasi kecepatan spesifik (Ns) untuk memvalidasi pemilihan tipe geometri turbin.
  5. Menentukan kecepatan aliran aksial (Vf) menggunakan koefisien kecepatan aliran (Kf = 0,40).
  6. Merancang dimensi geometri utama runner, meliputi penentuan outer tip diameter (Do = 2,43 m) dan hub diameter (Dh = 0,85 m) berdasarkan rasio hub n_D = 0,35.
  7. Kalkulasi kecepatan keliling tangensial (U) pada posisi tip, hub, dan mean diameter (Dmean = 1,641 m).
  8. Membentuk dan menganalisis segitiga kecepatan 1D pada inlet dan outlet sudu runner berbasis kerja spesifik Euler (WEuler).
  9. Determinasi sudut sudu inlet (β1 = 12,00°) dan outlet (β2 = 10,78°) pada radius rata-rata dengan merancang kondisi aliran keluar bebas pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0).
  10. Melakukan verifikasi batas kavitasi Thoma (sigma_critical = 1,78) untuk menentukan tinggi elevasi penempatan runner maksimum (Hs ≤ -11,26 m) terhadap permukaan air bawah (tailwater).
  11. Mengembangkan otomatisasi perhitungan berbasis skrip komputasi (Python/MATLAB) agar proses iterasi perancangan dan validasi matematis dapat dilakukan secara presisi dan sistematis.
  12. Mengevaluasi sensitivitas performa akibat fluktuasi parameter operasi seperti debit musiman dan perubahan net head.
  13. Menyusun dokumentasi perancangan awal (preliminary design) yang transparan, konsisten, dan memenuhi 33 Kriteria Evaluasi Metodologi DAI5.
  14. Memahami batas dan keterbatasan pendekatan satu dimensi (1D) sebagai pijakan dasar sebelum dilanjutkan ke tahap pemodelan 3D geometri hidrofoil dan simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD).

Pada akhirnya, proyek ini diarahkan untuk membangun pemahaman yang utuh mengenai proses perancangan Turbin Kaplan—mulai dari potensi hidrostatik air, konversi momentum sudut pada sudu aksial, kontrol kinematika aliran, pencegahan kavitasi, hingga terbentuknya daya mekanik pada poros generator. Dengan pendekatan ini, rancangan yang dihasilkan tidak hanya memenuhi aspek perhitungan teoritis, tetapi juga memiliki landasan engineering yang kokoh.

F. INTRODUCTION

Air memiliki potensi energi yang sangat besar untuk dimanfaatkan sebagai sumber energi terbarukan melalui sistem pembangkit listrik tenaga air. Pada sistem tersebut, energi potensial dan tekanan yang dimiliki oleh air akibat perbedaan elevasi dikonversikan menjadi energi mekanik melalui turbin. Putaran yang dihasilkan turbin kemudian diteruskan melalui poros menuju generator untuk menghasilkan energi listrik.

Berdasarkan mekanisme konversinya, turbin air dibedakan menjadi turbin impuls dan turbin reaksi. Turbin Kaplan termasuk dalam kelompok turbin reaksi aksial, di mana energi potensial dan energi tekanan air dikonversikan secara simultan menjadi energi kinetik dan kerja poros di dalam runner yang beroperasi penuh dalam kondisi terendam air. Berbeda dengan turbin impuls seperti Pelton, aliran air pada turbin Kaplan mengalir secara aksial (sejajar dengan poros turbin) saat melewati sudu runner.

Turbin Kaplan sangat ideal digunakan pada kondisi net head rendah (Hn < 15 m) namun memiliki ketersediaan debit air (Q) yang melimpah. Ciri khas utama turbin Kaplan adalah fitur sudu runner yang sudutnya dapat diatur (adjustable blades) dan bekerja berpasangan dengan sudu pengarah (wicket gates). Fitur pengaturan ganda ini (double regulation) membuat turbin Kaplan mampu mempertahankan efisiensi yang sangat tinggi meskipun terjadi fluktuasi debit air secara musiman. Komponen utamanya meliputi rumah siput (scroll casing), sudu pengarah (wicket gates), hub, sudu runner, poros, serta pipa isap (draft tube) yang berfungsi mengembalikan sisa energi tekanan di bagian keluaran runner.

Secara sederhana, proses konversi energi pada turbin Kaplan dapat dijelaskan melalui rangkaian: energi potensial dan tekanan air -> energi kinetik dan perubahan momentum sudut pada sudu pengarah -> gaya dorong dinamis pada sudu runner -> torsi poros -> energi mekanik generator.

Selain kondisi hidraulik, beberapa parameter geometris dan kinematik perlu ditentukan secara bersamaan. Diameter tip runner (Do), diameter hub (Dh), kecepatan aksial (Vf), kecepatan keliling (U), serta sudut sudu inlet (β1) dan outlet (β2) akan memengaruhi perubahan momentum sudut air dan menentukan torsi serta daya yang dihasilkan. Hubungan antara kecepatan absolut air, kecepatan keliling runner, dan kecepatan relatif terhadap sudu dianalisis menggunakan segitiga kecepatan (velocity triangle) sebagai dasar evaluasi performa.

Dalam proses desain, kehilangan energi (hydraulic losses) perlu diperhitungkan secara cermat. Kerugian dapat muncul akibat gesekan aliran pada permukaan sudu (profile loss), rugi kebocoran celah (volumetric loss), rugi pembentukan pusaran (secondary flow/swirl), serta rugi mekanis pada bearing dan seal. Selain itu, aspek krusial pada turbin aksial adalah pencegahan kavitasi pada tip sudu akibat penurunan tekanan lokal yang terlalu rendah.

Perkembangan teknologi perancangan turbin memungkinkan analisis yang lebih detail melalui computational fluid dynamics (CFD) dan computational design untuk mempelajari distribusi tekanan 3D di sekitar sudu. Meskipun demikian, analisis 3D membutuhkan kondisi batas yang kompleks. Oleh karena itu, pendekatan satu dimensi (1D) berbasis persamaan Euler turbomachinery digunakan pada proyek ini sebagai tahap awal dalam mempelajari sistem konversi energi pada turbin Kaplan secara terstruktur dan transparan sebelum dikembangkan ke tahap yang lebih detail.

2. Engineering Problem

Berdasarkan karakteristik turbin Kaplan sebagai turbin reaksi aksial, proses perancangannya perlu memperhatikan hubungan antara kondisi hidraulik low head, debit melimpah, rasio geometri runner, kinematics segitiga kecepatan, dan batas keamanan kavitasi.

Beberapa permasalahan engineering yang perlu diselesaikan dalam proyek ini adalah:

  1. Bagaimana menentukan net head yang tersedia serta menghitung daya hidraulik berdasarkan head dan debit yang ditentukan?
  2. Bagaimana menentukan daya poros target berdasarkan estimasi efisiensi hidraulik, volumetrik, dan mekanik?
  3. Bagaimana menentukan kecepatan putar poros dan mengkalkulasi kecepatan spesifik (Ns) untuk memvalidasi pemilihan jenis turbin Kaplan?
  4. Bagaimana menentukan kecepatan aliran aksial (Vf) berdasarkan koefisien kecepatan aliran (Kf)?
  5. Bagaimana menentukan luas penampang efektif dan menghitung dimensi utama runner, meliputi outer tip diameter (Do) dan hub diameter (Dh) berdasarkan rasio hub (n_D)?
  6. Bagaimana menentukan kecepatan keliling tangensial (U) pada posisi tip, hub, dan mean diameter?
  7. Bagaimana menentukan kerja spesifik Euler (WEuler) dan komponen kecepatan swirl masuk (Vw1) dengan merancang kondisi keluaran bebas pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0)?
  8. Bagaimana menyusun velocity triangle serta menentukan sudut sudu inlet (β1) dan outlet (β2) pada diameter rata-rata?
  9. Bagaimana mengevaluasi risiko kavitasi berbasis Angka Kavitasi Thoma (σ)?
  10. Bagaimana menentukan batas ketinggian elevasi penempatan runner (Hs) relatif terhadap permukaan air bawah (tailwater) untuk mencegah kavitasi?
  11. Bagaimana memperkirakan hydraulic efficiency, volumetric efficiency, mechanical efficiency, dan overall efficiency secara sistematis?
  12. Bagaimana mengidentifikasi berbagai losses yang terjadi pada sudu, hub, casing, dan komponen mekanis lainnya?
  13. Bagaimana melakukan verification dan validation sehingga hasil perhitungan 1D tidak hanya konsisten secara matematis, tetapi juga memiliki makna fisik (physical realism) yang sesuai?
  14. Bagaimana mengotomatisasi perhitungan berbasis skrip komputasi untuk memfasilitasi iterasi desain dan sensitivity analysis terhadap fluktuasi debit musiman?

Permasalahan tersebut memiliki hubungan yang berurutan. Perubahan pada head dan debit akan memengaruhi daya hidraulik serta kecepatan spesifik. Selanjutnya, dimensi runner (Do dan Dh) serta segitiga kecepatan akan menentukan proses transfer energi Euler, torsi, daya poros, efisiensi total, dan kedalaman elevasi aman dari kavitasi.

Ini draf 3. Initial Thinking (meliputi a. Systematic Problem Analysis, b. Problem Decomposition, dan c. Fundamental Principles) yang sudah disesuaikan secara utuh untuk Turbin Kaplan milik kamu.

3. Initial Thinking

a. Systematic Problem Analysis

Hubungan sistem pada turbin Kaplan dapat dirumuskan sebagai:

Gross Head -> Net Head -> Scroll Casing -> Wicket Gates (Sudu Pengarah) -> Runner (Sudu Aksial) -> Draft Tube -> Shaft Power -> Generator

Head air dan debit yang melimpah menjadi sumber energi awal yang kemudian dialirkan melalui scroll casing dan sudu pengarah (wicket gates). Sudu pengarah mengatur besar debit serta memberikan komponen momen puntir awal (swirl) pada aliran. Air kemudian mengalir secara aksial melewati sudu runner Kaplan yang dapat diatur sudutnya (adjustable blades), di mana terjadi konversi energi tekanan dan kinetik menjadi energi mekanik poros. Aliran air dari runner selanjutnya masuk ke draft tube untuk memulihkan sisa energi tekanan sebelum dibuang ke tailwater.

Secara konseptual, proses konversi energi dapat dituliskan sebagai:

Phydraulic -> Pswirl_gates -> Prunner -> Pshaft -> Pgenerator

Pada setiap tahap konversi terdapat kehilangan energi (losses) akibat gesekan, pusaran, kebocoran celah, dan kavitasi, sehingga daya yang dihasilkan bertahap semakin kecil dibandingkan energi hidraulik awal. Secara umum:

Pgenerator < Pshaft < Prunner < Phydraulic

Analisis sistem dilakukan dengan menghubungkan parameter hidraulik, geometri aksial, kinematika kecepatan, dan batas kavitasi secara berurutan. Net head (12,0 m) dan debit (25,0 m³/s) menentukan daya hidraulik awal, sedangkan koefisien kecepatan aliran (Kf) menentukan kecepatan aksial (Vf). Selanjutnya, rasio hub-to-tip (n_D = 0,35), diameter tip (Do), diameter hub (Dh), kecepatan putar (375,0 rpm), dan konstruksi segitiga kecepatan menentukan seberapa efektif momentum sudut air dikonversikan menjadi torsi dan daya poros (2,56 MW).

b. Problem Decomposition

Permasalahan perancangan turbin Kaplan dibagi menjadi beberapa bagian agar setiap fenomena dapat dianalisis secara sistematis, yaitu:

  1. Design Input: Meliputi net head (Hn = 12,0 m), debit (Q = 25,0 m³/s), kecepatan putar (n = 375,0 rpm), serta asumsi efisiensi hidraulik, volumetrik, dan mekanik.
  2. Analisis Daya Hidraulik & Kecepatan Spesifik: Untuk menentukan daya input (Phydraulic), daya poros target (Pshaft), serta menguji nilai kecepatan spesifik (Ns) guna memvalidasi geometri turbin aksial.
  3. Analisis Geometri Utama Runner: Untuk menentukan kecepatan aksial (Vf), luas penampang efektif aliran (A), outer tip diameter (Do = 2,43 m), dan hub diameter (Dh = 0,85 m) berdasarkan rasio hub n_D = 0,35.
  4. Analisis Kecepatan Keliling (Tangential Velocity): Untuk menentukan kecepatan keliling runner (U) pada posisi tip, hub, dan mean diameter (Dmean = 1,641 m).
  5. Konstruksi Segitiga Kecepatan (Velocity Triangle): Untuk menganalisis hubungan kecepatan absolut, kecepatan aksial, kecepatan keliling, dan kecepatan relatif di sisi inlet dan outlet sudu.
  6. Determinasi Sudut Sudu Runner: Untuk menentukan sudut sudu inlet (β1 = 12,00°) dan outlet (β2 = 10,78°) pada radius rata-rata berdasarkan kondisi aliran keluar bebas pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0).
  7. Verifikasi & Analisis Kavitasi Thoma: Untuk menghitung Angka Kavitasi Thoma (sigma_critical = 1,78) dan menentukan batas kedalaman penempatan runner (Hs ≤ -11,26 m) di bawah tailwater.
  8. Analisis Efisiensi & Losses: Meliputi hydraulic efficiency, volumetric efficiency, mechanical efficiency, overall efficiency, serta identifikasi profil rugi-rugi hidraulik.
  9. Otomatisasi Komputasi & Iterasi: Untuk menyusun skrip perhitungan berbasis kode (Python/MATLAB) guna memudahkan evaluasi dan sensitivity analysis terhadap fluktuasi debit musiman.
  10. Verification & Physical Realism Check: Untuk memastikan konsistensi matematis, kewajaran dimensi engineering, dan kepatuhan terhadap 33 Kriteria Evaluasi DAI5.

c. Fundamental Principles

Conservation of Mass (Persamaan Kontinuitas Aksial)

Pada kondisi steady-state dan aliran inkompresibel, hubungan antara debit aliran (Q), luas penampang efektif aksial (A), dan kecepatan aliran aksial (Vf) dinyatakan sebagai:

Q = A * Vf

Untuk aliran aksial pada runner turbin Kaplan yang memiliki hub di bagian tengahnya, luas penampang efektif aliran berbentuk anular (cincin) antara diameter tip (Do) dan diameter hub (Dh):

A = (π / 4) * (Do^2 – Dh^2)

Dengan memasukkan rasio hub-to-tip n_D = Dh / Do, persamaan kontinuitas dapat dituliskan sebagai:

A = (π / 4) * Do^2 * (1 – n_D^2)

Sehingga hubungan debit dan kecepatan aksial menjadi:

Q = (π / 4) * Do^2 * (1 – n_D^2) * Vf

dengan:

  • Q = debit air (25,0 m³/s),
  • A = luas penampang efektif aliran anular (m²),
  • Do = diameter luar/tip runner (m),
  • Dh = diameter dalam/hub runner (m),
  • n_D = rasio hub-to-tip (0,35),
  • Vf = kecepatan aliran aksial (m/s).

Persamaan ini digunakan sebagai dasar utama untuk menentukan dimensi fisik runner (Do dan Dh) dari debit desain dan kecepatan aksial yang ditentukan.

Conservation of Energy

Energi hidraulik total yang tersedia pada aliran air sebelum masuk ke turbin ditentukan berdasarkan net head dan debit aliran:

Ph = ρ * g * Q * Hn

dengan:

  • Ph = daya hidraulik input (W),
  • ρ = densitas air murni (1000 kg/m³),
  • g = percepatan gravitasi (9,81 m/s²),
  • Q = debit air (25,0 m³/s),
  • Hn = net head (12,0 m).

Pada turbin Kaplan, daya hidraulik ini dikonversikan secara bertahap menjadi kerja poros mekanik melalui sudu pengarah (wicket gates) dan sudu runner aksial dengan memperhitungkan total efisiensi keseluruhan.

Bernoulli Equation

Persamaan Bernoulli digunakan untuk menggambarkan garis energi total yang terdiri dari energi tekanan, energi kinetik, dan energi potensial elevasi di sepanjang sistem hidro:

p1 / (ρ * g) + V1^2 / (2 * g) + z1 = p2 / (ρ * g) + V2^2 / (2 * g) + z2 + hL

dengan hL merupakan total head loss akibat gesekan dinding saluran dan kerugian pembelokan. Net head (Hn) yang tersedia secara efektif untuk dimanfaatkan oleh runner turbin ditentukan dari:

Hn = Hg – hL

dengan:

  • Hg = gross head (m),
  • hL = total head loss pada sistem penstock/saluran (m),
  • Hn = net head efektif (12,0 m).

Pada turbin reaksi Kaplan, sebagian net head diubah menjadi energi kinetik oleh sudu pengarah dan sebagian lagi tetap berupa energi tekanan yang menggerakkan sudu runner terendam.

Axial Velocity and Runner Dimensions

Kecepatan aliran aksial (Vf) yang melintasi runner turbin Kaplan ditentukan melalui koefisien kecepatan aliran (Kf):

Vf = Kf * √(2 * g * Hn)

dengan:

  • Vf = kecepatan aliran aksial (m/s),
  • Kf = koefisien kecepatan aliran (0,40),
  • g = percepatan gravitasi (9,81 m/s²),
  • Hn = net head (12,0 m).

Setelah kecepatan aksial diketahui, luas penampang efektif anular aliran (A) dihitung dari persamaan kontinuitas:

A = Q / Vf

Berdasarkan hubungan geometri anular runner dengan rasio hub-to-tip (n_D = Dh / Do = 0,35), diameter luar/tip runner (Do) dan diameter hub (Dh) ditentukan melalui:

A = (π / 4) * Do^2 * (1 – n_D^2)

Do = √(A / (0,6892))

Dh = n_D * Do

dengan:

  • Do = outer tip diameter runner (2,43 m),
  • Dh = hub diameter runner (0,85 m),
  • n_D = rasio hub-to-tip (0,35).

Peripheral Velocity and Specific Speed

Kecepatan keliling tangensial runner (U) bervariasi sepanjang radius dari hub hingga tip, dan dihitung berdasarkan diameter serta kecepatan putar poros (n = 375,0 rpm):

U = (π * D * n) / 60

Pada diameter rata-rata (Dmean = (Do + Dh) / 2 = 1,641 m), kecepatan keliling rata-rata dihitung melalui:

Umean = (π * Dmean * n) / 60

Kesesuaian geometri turbin diverifikasi menggunakan parameter kecepatan spesifik (Ns):

Ns = (n * √(Pshaft)) / (Hn^(5/4))

dengan Pshaft merupakan daya poros output (kW). Nilai Ns > 500 mengonfirmasi secara mutlak penggunaan turbin reaksi aksial tipe Kaplan.

Euler Turbine Equation and Velocity Triangle

Transfer energi spesifik antara aliran air dan sudu runner Kaplan dijelaskan secara presisi oleh persamaan Euler turbomachinery:

WEuler = η_h * g * Hn = U1 * Vw1 – U2 * Vw2

dengan:

  • WEuler = kerja spesifik Euler (J/kg),
  • η_h = efisiensi hidraulik (91,5%),
  • U = kecepatan keliling tangensial runner (m/s),
  • Vw = kecepatan pusaran/tangensial aliran (swirl velocity) (m/s).

Dengan merancang kondisi aliran keluar ideal tanpa pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0) pada outlet runner, komponen kecepatan swirl masuk (Vw1) pada radius rata-rata dihitung dari:

Vw1 = WEuler / Umean

Konstruksi segitiga kecepatan menghasilkan sudut sudu inlet (β1) dan outlet (β2) pada diameter rata-rata:

tan(β1) = Vf / (Umean – Vw1) ===> β1 = arctan(Vf / (Umean – Vw1))

tan(β2) = Vf / Umean ===> β2 = arctan(Vf / Umean)

dengan:

  • β1 = sudut sudu inlet (12,00°),
  • β2 = sudut sudu outlet (10,78°),
  • Vf = kecepatan aliran aksial (6,138 m/s).

Thoma Cavitation Parameter and Runner Elevation

Untuk menjamin keamanan operasional dari bahaya kavitasi pada tip sudu runner, dilakukan evaluasi Angka Kavitasi Kritis Thoma (sigma_critical):

sigma_critical = 0,103 * (Ns / 100)^(4/3)

Batas ketinggian penempatan runner (Hs) relatif terhadap permukaan air bawah (tailwater) ditentukan dari persamaan kavitasi:

Hs = (Patm – Pv) / (ρ * g) – sigma_critical * Hn

dengan:

  • Patm – Pv / (ρ * g) = head tekanan atmosfer bersih (10,1 m),
  • Hs = batas elevasi penempatan runner (-11,26 m).

Nilai Hs negatif menginstruksikan bahwa runner wajib dipasang tenggelam sekurang-kurangnya 11,26 m di bawah permukaan tailwater untuk mencegah pembentukan gelembung kavitasi.

Torque, Shaft Power, and Efficiencies

Daya poros output (Pshaft) dan torsi mekanik (T) yang dihasilkan oleh runner dihitung dengan memperhitungkan efisiensi keseluruhan (η_o):

Pshaft = Ph * η_o

T = Pshaft / ω = Pshaft / ((2 * π * n) / 60)

Efisiensi keseluruhan (η_o) merupakan perkalian dari tiga komponen efisiensi utama sistem:

η_o = η_h * η_v * η_m

dengan:

  • η_h = efisiensi hidraulik (91,5%), memperhitungkan rugi profil sudu dan gesekan,
  • η_v = efisiensi volumetrik (98,0%), memperhitungkan rugi kebocoran celah (gland/tip leakage),
  • η_m = efisiensi mekanik (97,0%), memperhitungkan rugi gesekan bearing dan seal poros,
  • η_o = efisiensi keseluruhan (87,0%), memenuhi target perancangan 85% – 90%.

Mechanical Efficiency

Mechanical efficiency (η_m) digunakan untuk memperhitungkan kehilangan daya mekanik antara runner dan poros keluaran akibat gesekan bearing, seal, gland packing, serta komponen mekanis lainnya:

η_m = Pshaft / Prunner

atau:

Pshaft = η_m * Prunner

pada perancangan ini, efisiensi mekanik diasumsikan sebesar 97,0% (0,970).

Overall Efficiency

Untuk model perancangan awal turbin Kaplan ini, efisiensi keseluruhan sistem (η_o) diperoleh dari perkalian tiga komponen efisiensi utama pada setiap tahap konversi hidraulik, volumetrik, dan mekanis:

η_o = η_h * η_v * η_m

dengan:

  • η_o = overall efficiency (87,0%),
  • η_h = hydraulic efficiency (91,5%),
  • η_v = volumetric efficiency (98,0%),
  • η_m = mechanical efficiency (97,0%).

Nilai efisiensi keseluruhan sebesar 87,0% berhasil memenuhi target efisiensi perancangan di rentang 85% – 90%. Jika efisiensi generator (η_g) dimasukkan pada analisis sistem pembangkit secara utuh, maka efisiensi total pembangkit menjadi eta_total = η_o * η_g.

Specific Speed

Specific speed digunakan sebagai parameter kriteria pembanding utama untuk menentukan tipe geometri turbin yang paling tepat. Untuk konsistensi dengan bentuk dimensional yang digunakan dalam laporan, power-based specific speed dituliskan sebagai:

Ns = (n * √(Pshaft_kW)) / (Hn^(5/4))

dengan:

  • Ns = specific speed (m-kW),
  • n = kecepatan putar poros (375,0 rpm),
  • Pshaft_kW = daya poros output dalam kW (2.560,41 kW),
  • Hn = net head (12,0 m).

Melalui kalkulasi perancangan, diperoleh nilai Ns = 846,3 (m-kW). Nilai Ns > 500 ini mengonfirmasi secara mutlak bahwa turbin aksial tipe Kaplan adalah pilihan geometri paling tepat untuk kondisi kerja low head dan high discharge ini.

Selain bentuk dimensional, parameter tak berdimensi (dimensionless specific speed) dapat digunakan untuk membandingkan karakteristik turbin secara general dalam literatur internasional:

Omega_s = (ω * √(Q)) / ((g * Hn)^(3/4))

dengan:

  • Omega_s = dimensionless specific speed,
  • ω = kecepatan sudut poros (rad/s) = (2 * π * n) / 60,
  • Q = debit air (25,0 m³/s),
  • g = percepatan gravitasi (9,81 m/s²),
  • Hn = net head (12,0 m).

Kumpulan prinsip ini menjadi dasar matematis untuk menghubungkan kondisi hidraulik dengan parameter geometris runner, kinematika segitiga kecepatan, dan estimasi performa turbin Kaplan.

D. Root Cause Analysis

Performa turbin Kaplan yang rendah atau gagal memenuhi target dapat disebabkan oleh ketidaksesuaian antara kondisi hidraulik low head, rasio geometri runner, kinematics aliran aksial, serta penempatan elevasi turbin. Beberapa faktor utama yang menjadi akar masalah (root causes) penurunan performa antara lain:

  1. Hydraulic losses pada casing dan draft tube, akibat gesekan dinding serta pembentukan pusaran liar (secondary flow) jika saluran pembelokan tidak dirancang aerodinamis.
  2. Volumetric losses (leakage loss), akibat adanya celah (clearance) antara tip sudu runner dengan casing yang menyebabkan kebocoran air tanpa melakukan kerja pada runner.
  3. Mechanical losses pada bearing dan seal, akibat gesekan mekanis poros yang berputar pada kecepatan 375,0 rpm.
  4. Sudut sudu (blade angle) inlet dan outlet yang tidak presisi, sehingga aliran masuk dengan sudut tumbukan (shock loss) dan menyebabkan separasi aliran (flow separation) di permukaan sudu.
  5. Kesalahan penentuan rasio hub-to-tip (n_D), yang menyebabkan luas penampang anular aliran tidak seimbang terhadap debit desain.
  6. Keberadaan sisa pusaran keluar (outlet swirl, Vw2 != 0), yang menyebabkan energi kinetik air dibuang secara percuma menuju draft tube tanpa dikonversi menjadi torsi poros.
  7. Ketidaktepatan elevasi penempatan runner (Hs), yang memicu timbulnya fenomena kavitasi parah pada tip sudu runner.
  8. Surface roughness pada sudu dan hub, yang meningkatkan kerugian gesekan hidrofoil.
  9. Getaran dan instabilitas hydroelastic, akibat fluktuasi gaya hidraulik pada sudu aksial.

Khusus pada turbin reaksi Kaplan, kavitasi merupakan faktor kritis yang paling dominan. Tekanan lokal di sekitar tip sudu runner sangat mudah jatuh di bawah tekanan uap air akibat kecepatan keliling tip (Utip = 47,73 m/s) yang tinggi. Jika elevasi penempatan runner terhadap tailwater tidak memenuhi syarat kavitasi Thoma (Hs ≤ -11,26 m), pembentukan gelembung uap air akan terjadi dan menyebabkan erosi pitted pada logam sudu, penurunan efisiensi secara drastis, serta getaran hebat.

Secara keseluruhan, root cause yang paling krusial pada preliminary design ini adalah ketidaksesuaian kombinasi head – debit – kecepatan putar – geometri runner – elevasi kavitasi. Ketidaktepatan pada salah satu parameter akan menggeser titik operasi jauh dari efisiensi optimum (87,0%) serta berisiko merusak struktur turbin secara permanen.

E. Gap Analysis

Perancangan turbin Kaplan modern telah berkembang pesat dari pendekatan empiris 1D menuju computational design yang menggabungkan teori turbomachinery, simulasi numerik 3D, serta optimasi kontur hidrofoil. Computational Fluid Dynamics (CFD) menggunakan perangkat lunak seperti OpenFOAM atau ANSYS Fluent memungkinkan analisis detail terhadap fenomena 3D di sekitar sudu runner, seperti distribusi tekanan, batas lapisan batas (boundary layer), flow separation, tip clearance vortex, serta prediksi kavitasi multiphase. Selain CFD, perkembangan desain juga mencakup optimasi sudut sudu dinamis (double regulation mechanism), analisis kavitasi transient, serta pemodelan beban hidroelastisitas. Dalam pengujian turbin air hidraulik, standar IEC 60193 memberikan panduan acceptance testing untuk model turbin reaksi, sedangkan IEC 62097 mengatur transposisi performa dan efek skala (scale effect) dari model laboratorium menuju prototipe aktual di lapangan.

Meskipun simulasi CFD 3D mampu memberikan visualisasi medan aliran yang sangat mendalam, penerapannya membutuhkan model geometri 3D hidrofoil yang matang, pembuatan mesh/grid yang kompleks, penetapan kondisi batas (boundary conditions) yang akurat, serta sumber daya komputasi yang besar. Oleh karena itu, pemrograman komputasi 1D berbasis Python atau MATLAB menjadi langkah jembatan (preliminary computational design) yang sangat krusial sebelum memasuki tahap simulasi CFD 3D.

Research gap dan fokus pada proyek ini adalah menghubungkan filosofi integratif DAI5 & CCIT dengan preliminary computational design turbin Kaplan 1D melalui workflow yang terstruktur dan transparan. Workflow ini dimulai dari penetapan head dan debit, penentuan daya dan kecepatan spesifik (Ns), pembentukan geometri runner (Do dan Dh), analisis segitiga kecepatan, penentuan sudut sudu (β1 dan β2), evaluasi kavitasi Thoma (Hs), hingga otomasi perhitungan berbasis kode. Pendekatan ini menghasilkan kondisi batas (boundary condition) dan parameter dasar geometri yang konsisten, valid, serta siap digunakan sebagai masukan awal sebelum dilanjutkan ke pemodelan CAD 3D, simulasi CFD, maupun pengujian prototipe fisik.

G. METHODS & PROCEDURES

1. Design Input

Pada perancangan ini digunakan turbin Kaplan sebagai turbin reaksi aksial untuk aplikasi pembangkit listrik tenaga air skala mini-hidro. Karena data lapangan spesifik belum tersedia, parameter awal ditetapkan sebagai assumed design input yang digunakan sebagai dasar preliminary engineering design. Kondisi desain dipilih berdasarkan karakteristik turbin Kaplan yang sesuai untuk net head hidrostatik rendah dan debit air yang melimpah.

Parameter utama yang digunakan meliputi net head, debit air, kecepatan putar poros, efisiensi hidraulik, efisiensi volumetrik, dan efisiensi mekanik. Berdasarkan parameter tersebut, selanjutnya ditentukan daya hidraulik input, daya poros output, kecepatan spesifik (Ns), kecepatan aliran aksial (Vf), outer tip diameter runner (Do), hub diameter (Dh), serta konstruksi segitiga kecepatan (velocity triangle) pada inlet dan outlet sudu. Parameter seperti koefisien kecepatan aliran (Kf) dan rasio hub-to-tip (n_D) digunakan sebagai asumsi awal perancangan 1D dan dievaluasi batas keamanannya terhadap risiko kavitasi Thoma.

ParameterSymbolNilaiUnitStatus
Net HeadHn12,0mAssumed design input (Low head)
Debit Aliran (Flow Rate)Q25,0m³/sAssumed design input (High discharge)
Kecepatan Putar Porosn375,0rpmAssumed synchronous speed
Massa Jenis Airrho1000kg/m³Standard fluid property assumption
Percepatan Gravitasig9,81m/s²Standard physical constant
Rasio Hub-to-Tipn_D0,35–Preliminary design assumption (Dh/Do)
Koefisien Kecepatan AksialKf0,40–Flow velocity coefficient assumption
Efisiensi Hidrauliketa_h91,5%Assumed hydraulic losses factor
Efisiensi Volumetriketa_v98,0%Assumed leakage bypass factor
Efisiensi Mekaniketa_m97,0%Assumed bearing & gland friction factor
Efisiensi Keseluruhan Targeteta_o87,0%Calculated target (eta_h * eta_v * eta_m)
Sisi Keluar Bebas PusaranVw20,0m/sSwirl-free exit design condition

2. Design Step-by-Step Calculation

1. Net Head and Operational Condition

Net head (Hn) merupakan total beda elevasi efektif yang tersedia bagi turbin setelah dikurangi kerugian gesekan pada saluran penyaluran air. Berdasarkan asumsi perancangan awal:

Hn = 12,0 m

Debit aliran desain yang dialirkan menuju turbin Kaplan adalah:

Q = 25,0 m³/s

2. Hydraulic Power

Daya hidraulik total (Ph) yang dibawa oleh aliran air dihitung berbasis persamaan konservasi energi:

Ph = ρ * g * Q * Hn

Substitusi: Ph = 1000 * 9,81 * 25,0 * 12,0 Ph = 2.943.000 W Ph = 2.943,0 kW

Dengan demikian, daya hidraulik input yang tersedia pada kondisi desain adalah 2.943,0 kW (2,94 MW).

3. Target Shaft Power

Daya poros output (Pshaft) dihitung dengan memperhitungkan efisiensi keseluruhan target (η_o = 87,0%):

Pshaft = Ph * η_o

Substitusi: Pshaft = 2.943,0 kW * 0,870 Pshaft = 2.560,41 kW

Sehingga daya poros output yang dihasilkan adalah sekitar 2,56 MW.

4. Specific Speed (Ns) Verification

Kecepatan spesifik berbasis daya dihitung untuk memvalidasi pemilihan tipe turbin:

Ns = (n * √(Pshaft)) / (Hn^(1,25))

Substitusi (dengan n = 375,0 rpm dan Pshaft = 2.560,41 kW): Ns = (375 * √(2560,41)) / (12,0^1,25) Ns = (375 * 50,60) / 22,42 Ns = 18.975 / 22,42 Ns = 846,3 (m-kW)

Interpretasi Fisik: Nilai Ns = 846,3 mengonfirmasi secara mutlak bahwa turbin reaksi aksial tipe Kaplan adalah pilihan geometri yang tepat untuk kondisi kerja ini (Ns > 500).

5. Axial Flow Velocity (Vf)

Kecepatan aliran air yang melintasi runner secara aksial dihitung menggunakan koefisien kecepatan aliran (Kf = 0,40):

Vf = Kf * √(2 * g * Hn)

Substitusi: Vf = 0,40 * √(2 * 9,81 * 12,0) Vf = 0,40 * √(235,44) Vf = 0,40 * 15,344 Vf = 6,138 m/s

Sehingga kecepatan aksial aliran air melintasi runner adalah 6,138 m/s.

6. Effective Flow Area

Berdasarkan persamaan kontinuitas (Q = A * Vf), luas penampang efektif anular aliran (A) dihitung melalui:

A = Q / Vf

Substitusi: A = 25,0 / 6,138 A = 4,073 m²

Luas penampang efektif aliran anular yang dibutuhkan adalah 4,073 m².

7. Runner Outer Tip Diameter (Do) and Hub Diameter (Dh)

Luas penampang anular runner Kaplan dihubungkan dengan rasio hub-to-tip (n_D = Dh / Do = 0,35):

A = (π / 4) * (Do^2 – Dh^2) A = (π / 4) * Do^2 * (1 – n_D^2) A = (π / 4) * Do^2 * (1 – 0,35^2) A = 0,6892 * Do^2

Menghitung Outer Tip Diameter (Do): Do = √(A / 0,6892) Do = √(4,073 / 0,6892) Do = √(5,910) Do = 2,431 m ≈ 2,43 m

Menghitung Hub Diameter (Dh): Dh = n_D * Do Dh = 0,35 * 2,431 Dh = 0,851 m ≈ 0,85 m

Dengan demikian, dimensi geometri utama runner yang diperoleh adalah tip diameter Do = 2,43 m dan hub diameter Dh = 0,85 m.

8. Peripheral Velocities (Utip and Umean)

Kecepatan keliling runner pada bagian outer tip (Utip) dihitung dari:

Utip = (π * Do * n) / 60 Utip = (π * 2,431 * 375) / 60 Utip = 47,73 m/s

Diameter rata-rata runner (Dmean) adalah: Dmean = (Do + Dh) / 2 Dmean = (2,431 + 0,851) / 2 Dmean = 1,641 m

Kecepatan keliling rata-rata runner (Umean) pada Dmean dihitung dari: Umean = (π * Dmean * n) / 60 Umean = (π * 1,641 * 375) / 60 Umean = 32,22 m/s

Kecepatan keliling rata-rata runner yang digunakan untuk analisis kinematika segitiga kecepatan adalah 32,22 m/s.

9. Specific Euler Work and Swirl Velocity

Kerja spesifik Euler (WEuler) dihitung berdasarkan efisiensi hidraulik (η_h = 91,5%):

WEuler = η_h * g * Hn WEuler = 0,915 * 9,81 * 12,0 WEuler = 107,72 J/kg

Dengan merancang kondisi aliran keluar bebas pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0), komponen kecepatan swirl masuk (Vw1) pada diameter rata-rata dihitung dari:

Vw1 = WEuler / Umean Vw1 = 107,72 / 32,22 Vw1 = 3,343 m/s

Komponen kecepatan pusaran masuk pada radius rata-rata adalah 3,343 m/s.

10. Velocity Triangle and Blade Angles (β1 and β2)

Sudut sudu inlet (β1) pada radius rata-rata dihitung dari persamaan segitiga kecepatan:

tan(β1) = Vf / (Umean – Vw1) tan(β1) = 6,138 / (32,22 – 3,343) tan(β1) = 6,138 / 28,877 tan(β1) = 0,2126 β1 = arctan(0,2126) = 12,00°

Sudut sudu outlet (β2) pada radius rata-rata dihitung dari:

tan(β2) = Vf / Umean tan(β2) = 6,138 / 32,22 tan(β2) = 0,1905 β2 = arctan(0,1905) = 10,78°

Konstruksi geometri menghasilkan sudut sudu inlet β1 = 12,00° dan sudut sudu outlet β2 = 10,78°.

10. Preliminary Design Output

Berdasarkan design input dan rangkaian kalkulasi analitis 1D yang telah dilakukan, parameter awal Turbin Kaplan yang diperoleh adalah sebagai berikut:

ParameterSymbolHasil
Net HeadHn12,0 m
Debit Aliran (Flow Rate)Q25,0 m³/s
Daya Hidraulik InputPh2.943,0 kW (2,94 MW)
Daya Poros Output TargetPshaft2.560,41 kW (2,56 MW)
Kecepatan Putar Porosn375,0 rpm
Kecepatan SpesifikNs846,3 (m-kW)
Kecepatan Aliran AksialVf6,138 m/s
Luas Penampang Efektif AliranA4,073 m²
Runner Outer Tip DiameterDo2,43 m
Runner Hub DiameterDh0,85 m
Rasio Hub-to-Tipn_D0,35
Kecepatan Keliling Outer TipUtip47,73 m/s
Kecepatan Keliling Rata-rataUmean32,22 m/s
Komponen Kecepatan Swirl MasukVw13,343 m/s
Sudut Sudu Inlet Rata-ratabeta_112,00°
Sudut Sudu Outlet Rata-ratabeta_210,78°
Angka Kavitasi Kritis Thomasigma_critical1,78
Batas Elevasi Pemasangan RunnerHs-11,26 m (Tenggelam)
Efisiensi Keseluruhaneta_o87,0%

Parameter tersebut menjadi baseline design awal yang valid dan presisi untuk tahap perancangan selanjutnya, yaitu pemodelan kontur 3D hidrofoil, analisis batas kavitasi lokal, serta simulasi komputasi dinamika fluida (Computational Fluid Dynamics / CFD).

2. IDEALIZATION

Pada tahap preliminary design, turbin Kaplan direpresentasikan menggunakan model satu dimensi (one-dimensional analysis) dengan beberapa penyederhanaan untuk menghubungkan kondisi hidraulik low head, debit melimpah, karakteristik aliran aksial anular, runner, dan transfer momentum sudut Euler. Asumsi idealisasi digunakan agar proses perhitungan dapat dilakukan secara terstruktur dan transparan menggunakan persamaan kontinuitas, energi, dan momentum sudut sebelum dilanjutkan ke analisis yang lebih kompleks seperti simulasi 3D CFD atau pengujian eksperimental model.

Asumsi IdealizationAlasan EngineeringPengaruh Terhadap ModelKeterbatasan Model 1D
Air inkompresibelPerubahan densitas air pada kondisi operasi hidrostatik 12,0 m relatif sangat kecilMenyederhanakan persamaan kontinuitas aksial dan konservasi energiTidak mempertimbangkan perubahan densitas fluida akibat temperatur lokal secara detail
Kondisi stasioner (Steady-state)Fokus perancangan berada pada titik operasi nominal debit desain (25,0 m³/s)Menghilangkan suku turunan waktu (transient) terhadap kalkulasi gaya dan dayaTidak memodelkan dinamika transient saat startup, shutdown, dan perubahan beban mendadak
Model Aliran Satu Dimensi (1D)Standar awal yang terbukti efektif untuk preliminary turbomachinery sizingMenyederhanakan analisis segitiga kecepatan di diameter rata-rata (Dmean)Tidak menggambarkan distribusi vektor aliran 3D dari hub hingga tip sudu
Properti air standar (rho = 1000 kg/m³, g = 9,81 m/s²)Nilai acuan standar internasional untuk preliminary engineering designMenjamin konsistensi kalkulasi massa, gaya Euler, dan daya hidraulikVariasi percepatan gravitasi lokal dan salinitas air diabaikan
Net head konstan (Hn = 12,0 m)Net head merupakan head efektif yang benar-benar dimanfaatkan oleh runnerMempermudah analisis konversi energi spesifik Euler pada runnerDistribusi head loss lokal sepanjang penstock/casing belum dimodelkan terpisah
Kecepatan aksial seragam (Vf = 6,138 m/s)Asumsi aliran terdistribusi merata pada penampang anular antara hub dan tipMenyederhanakan penentuan dimensi Do (2,43 m) dan Dh (0,85 m) via persamaan kontinuitasProfil lapisan batas (boundary layer) di sekitar casing dan hub belum dimodelkan
Aliran keluar bebas pusaran (Swirl-free exit, Vw2 = 0)Kondisi batas rancangan ideal untuk memaksimalkan transfer kerja spesifik EulerMemungkinkan penentuan langsung komponen Vw1 (3,343 m/s) dan sudut sudu outlet (beta_2 = 10,78°)Sisa pusaran minor pada kondisi off-design tidak terhitung dalam model 1D
Rasio hub-to-tip konstan (n_D = 0,35)Nilai rasio empiris optimum untuk turbin Kaplan head rendahMengunci hubungan proporsional antara diameter hub (0,85 m) dan diameter tip (2,43 m)Pengaruh variasi rasio hub terhadap efisiensi volumetrik belum diiterasi terpisah
Komponen efisiensi konstan (eta_h=91.5%, eta_v=98%, eta_m=97%)Merepresentasikan estimasi rugi-rugi hidraulik, kebocoran celah, dan gesekan mekanisMenghasilkan efisiensi keseluruhan target eta_o = 87,0% (Pshaft = 2,56 MW)Fluktuasi efisiensi akibat perubahan sudut pitch sudu secara aktual tidak terpetakan
Evaluasi kavitasi berbasis Thoma 1DMetode empiris teruji untuk penapisan awal batas elevasi penempatan runnerMenentukan batas kedalaman pemasangan runner Hs <= -11,26 m di bawah tailwaterDistribusi penurunan tekanan lokal kavitasi pada permukaan hydrofoil 3D belum divisualisasikan
Poros dianggap kaku (Rigid shaft)Fokus perancangan pada perhitungan mekanika konversi torsi dan dayaMempermudah kalkulasi torsi mekanik tanpa gangguan model gelombang puntirTorsional stress, defleksi poros, dan analisis getaran belum dihitung
Simulasi CFD belum digunakanBatasan lingkup perancangan berada pada preliminary computational design berbasis kodeSeluruh kalkulasi dan validasi matematis diotomatisasi menggunakan skrip komputasiFenomena turbulensi 3D, separasi aliran pada hydrofoil, dan tip clearance vortex belum dianalisis terpisah

Simplification of the Kaplan Turbine Model

Model idealisasi 1D yang digunakan dalam perancangan turbin Kaplan dapat direpresentasikan sebagai alur sistem konversi energi yang berurutan:

Net Head (Hn) -> Scroll Casing & Wicket Gates -> Axial Anular Flow (Vf) -> Runner Blades -> Angular Momentum Transfer (Euler) -> Shaft Power (Pshaft) -> Draft Tube

Energi hidraulik input total yang tersedia dihitung berbasis debit dan net head:

Ph = ρ * g * Q * Hn

Energi hidraulik tersebut dialirkan secara aksial melintasi penampang anular runner (antara Do dan Dh) dengan kecepatan aliran aksial:

Vf = Kf * √(2 * g * Hn)

Aliran fluida kemudian berinteraksi dengan sudu runner Kaplan yang dapat diatur sudutnya. Berdasarkan persamaan Euler turbomachinery, perubahan momentum sudut fluida antara sisi inlet dan outlet sudu menghasilkan kerja spesifik Euler:

WEuler = U1 * Vw1 – U2 * Vw2

Dengan merancang kondisi keluaran bebas pusaran (swirl-free exit, Vw2 = 0), kerja spesifik dikonversikan menjadi torsi poros mekanik pada kecepatan putar 375,0 rpm:

T = Pshaft / ω

dan daya poros mekanik output dihitung dengan memperhitungkan total efisiensi keseluruhan:

Pshaft = Ph * η_o

Batas keamanan operasional dari bahaya erosi kavitasi dievaluasi menggunakan Parameter Kavitasi Thoma untuk menentukan kedalaman penempatan runner aman di bawah tailwater:

Hs ≤ (Patm – Pv) / (ρ * g) – sigma_critical * Hn

Dengan pendekatan ini, seluruh rantai proses konversi energi hidraulik dapat dianalisis secara terstruktur dan transparan: dari net head -> kecepatan aksial -> dimensi runner (Do & Dh) -> segitiga kecepatan & sudut sudu (β1 & β2) -> transfer momentum Euler -> torsi & daya poros -> batas kavitasi Thoma (Hs).

Pendekatan satu dimensi (1D) yang digunakan dalam proyek ini merupakan preliminary engineering method, bukan pengganti analisis tiga dimensi (3D). Model 1D ini digunakan untuk memperoleh estimasi awal dimensi geometri, segitiga kecepatan, dan estimasi performa turbin yang konsisten secara matematis sebelum dilanjutkan ke tahap analisis yang lebih kompleks. Pada tahap lanjutan, simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) 3D dapat digunakan untuk mengevaluasi distribusi kecepatan dan tekanan pada permukaan hydrofoil, fenomena flow separation, tip clearance vortex, turbulence losses, serta pemodelan kavitasi multiphase tiga dimensi secara terperinci.

Dengan demikian, hasil dari model idealisasi ini digunakan sebagai baseline design yang selanjutnya dapat diperbaiki melalui proses iteration, sensitivity analysis, simulasi 3D CFD, maupun pengujian eksperimental model.

3. Fundamental Equations and Preliminary Calculation

Perhitungan pada tahap ini difokuskan pada analisis kinematika aliran fluida dan konversi momentum sudut Euler pada sudu runner Turbin Kaplan. Parameter dasar seperti net head (12,0 m), debit air (25,0 m³/s), kecepatan putar (375,0 rpm), outer tip diameter (2,43 m), hub diameter (0,85 m), dan rasio hub-to-tip (0,35) telah ditentukan pada bagian Design Input dan Preliminary Design, sehingga tidak dihitung kembali secara mendasar pada bagian ini.

Analisis selanjutnya menggunakan pendekatan satu dimensi (1D) berbasis kerangka kerja spesifik Euler dan persamaan kontinuitas aksial. Dari interaksi antara aliran aksial dan sudu runner akan diperoleh komponen kecepatan swirl masuk (Vw1), kecepatan keliling (Umean), kecepatan relatif (W1 dan W2), konstruksi segitiga kecepatan, sudut sudu inlet (β1) dan outlet (β2), gaya tangensial, torsi poros, daya mekanik, hingga evaluasi batas kavitasi Thoma (Hs).

Number of Runner Blades (Z)

Jumlah sudu runner (Z) merupakan salah satu parameter geometris yang sangat krusial pada turbin aksi-reaksi aksial Kaplan. Jumlah sudu harus cukup untuk menjamin pengarahan aliran yang optimal serta transfer momentum sudut Euler secara sempurna, tetapi tidak boleh terlalu banyak agar tidak meningkatkan rugi-rugi gesekan profil hidrofoil (profile loss) dan beban berat mekanis pada mekanisme pengatur sudu (blade pitch mechanism).

Untuk turbin Kaplan yang bekerja pada kondisi head rendah (Hn = 12,0 m) dan kecepatan spesifik tinggi (Ns = 846,3), jumlah sudu runner ditentukan berbasis data empiris turbomachinery:

Z = 4 hingga 6 sudu

Untuk preliminary design turbin Kaplan ini, ditetapkan jumlah sudu runner awal sebesar:

Z = 4 sudu

Nilai Z = 4 ini merupakan standar optimum untuk turbin Kaplan skala mini-hidro head rendah, yang berfungsi meminimalkan rugi gesekan hidrofoil serta menyederhanakan ruang hub internal untuk mekanisme adjustable blade.

Inlet Velocity Triangle Analysis

Analisis segitiga kecepatan pada inlet sudu digunakan untuk menentukan hubungan antara kecepatan absolut air (V1), kecepatan keliling runner (U), kecepatan aliran aksial (Vf), dan kecepatan relatif (W1) di radius rata-rata (Dmean = 1,641 m).

Berdasarkan hasil kalkulasi preliminary design sebelumnya:

  • Kecepatan aliran aksial: Vf = 6,138 m/s
  • Kecepatan keliling pada diameter rata-rata: Umean = 32,22 m/s
  • Komponen kecepatan swirl masuk (diarahkan oleh wicket gates): Vw1 = 3,343 m/s

Komponen kecepatan tangensial relatif pada inlet dihitung dari:

Wu1 = Umean – Vw1 Wu1 = 32,22 – 3,343 Wu1 = 28,877 m/s

Kecepatan relatif absolut air terhadap sudu pada inlet (W1) dihitung menggunakan Teorema Pythagoras dari komponen aksial (Vf) dan komponen tangensial relatif (Wu1):

W1 = √(Vf^2 + Wu1^2) W1 = √(6,138^2 + 28,877^2) W1 = √(37,675 + 833,881) W1 = √(871,556) W1 = 29,522 m/s

Sudut sudu inlet (β1) pada diameter rata-rata dihitung dari:

tan(β1) = Vf / Wu1 tan(β1) = 6,138 / 28,877 tan(β1) = 0,2126 β1 = arctan(0,2126) = 12,00°

Secara fisik, nilai W1 = 29,52 m/s dan β1 = 12,00° menunjukkan sudut orientasi relatif aliran air saat pertama kali menyentuh tepi depan (leading edge) sudu runner agar tidak terjadi kerugian akibat pembentukan pusaran atau tumbukan (shock loss).

Outlet Velocity Triangle Analysis

Pada sisi keluar sudu runner (outlet), perancangan dilakukan dengan menerapkan kondisi batas keluaran ideal tanpa pusaran (swirl-free exit), yaitu Vw2 = 0. Kondisi ini dirancang agar seluruh sisa energi rotasi fluida telah terekstraksi menjadi kerja poros dan tidak ada energi kinetik pusaran yang terbuang percuma ke draft tube.

Dengan Vw2 = 0, maka komponen kecepatan tangensial relatif pada outlet sama dengan kecepatan keliling runner:

Wu2 = Umean = 32,22 m/s

Kecepatan relatif absolut air ketika meninggalkan sudu runner (W2) dihitung dari:

W2 = √(Vf^2 + Umean^2) W2 = √(6,138^2 + 32,22^2) W2 = √(37,675 + 1038,128) W2 = √(1075,803) W2 = 32,799 m/s

Sudut sudu outlet (β2) pada diameter rata-rata dihitung dari:

tan(β2) = Vf / Umean tan(β2) = 6,138 / 32,22 tan(β2) = 0,1905 β2 = arctan(0,1905) = 10,78°

Dengan demikian, kecepatan relatif air saat keluar dari sudu runner adalah sekitar W2 = 32,80 m/s dengan sudut sudu outlet β2 = 10,78°. Konstruksi segitiga kecepatan ini memastikan konversi kerja spesifik Euler (WEuler = 107,72 J/kg) berlangsung secara sempurna dan efisien.na dan efisien.

Mass Flow Rate

Laju aliran massa air digunakan dalam analisis momentum sudut Euler untuk menentukan gaya tangensial yang bekerja pada sudu runner. Hubungan antara laju aliran massa dan debit adalah: m_dot = ρ * Q

Dengan: m_dot = (1000)(25,0) m_dot = 25.000 kg/s

Maka laju aliran massa air yang melewati runner turbin Kaplan adalah: m_dot = 25.000 kg/s

Tangential Force

Gaya tangensial pada runner diperoleh dari perubahan momentum sudut aliran fluida pada arah tangensial. Persamaannya adalah: F_t = m_dot * (V_w1 – V_w2)

Dengan rancangan keluar bebas pusaran (swirl-free exit, V_w2 = 0): F_t = 25.000 * (3,343 – 0) F_t = 83.575 N

Sehingga: F_t ≈ 83,58 kN

Gaya tersebut merupakan gaya tangensial utama yang menyebabkan runner aksial Kaplan berputar. Semakin besar perubahan kecepatan swirl air yang diarahkan oleh wicket gates, semakin besar gaya tangensial yang ditransfer kepada sudu runner.

Torque

Torsi yang dihasilkan runner diperoleh dari perkalian gaya tangensial dengan radius rata-rata runner (D_mean / 2): T = F_t * (D_mean / 2)

Dengan diameter rata-rata runner (D_mean = 1,641 m) yang telah diperoleh sebelumnya: T = 83.575 * (1,641 / 2) T = 83.575 * 0,8205 T ≈ 68.573,3 N·m

Sehingga torsi runner adalah: T ≈ 68,57 kNm

Torsi ini merupakan hasil interaksi antara perubahan momentum sudut air dengan sudu runner pada jarak radius rata-rata dari pusat aksis rotasi.

Angular Velocity

Kecepatan sudut runner diperoleh dari kecepatan putar poros (n = 375,0 rpm): ω = 2 * π * n / 60

Dengan: ω = 2 * π * (375) / 60 ω = 39,27 rad/s

Sehingga: ω ≈ 39,27 rad/s

Kecepatan sudut ini digunakan untuk menentukan daya mekanik yang dihasilkan oleh runner.

Runner Power

Daya mekanik yang dihasilkan oleh runner dihitung menggunakan hubungan antara torsi dan kecepatan sudut: P_runner = T * ω

Substitusi: P_runner = (68.573,3)(39,27) P_runner ≈ 2.692.873 W

atau: P_runner ≈ 2.692,87 kW

Daya tersebut merupakan daya mekanik total yang diperoleh dari transfer energi spesifik Euler antara aliran air dan sudu runner sebelum memperhitungkan losses mekanik pada bearing, seal, dan gland packing.

Hydraulic Efficiency

Efisiensi hidraulik menunjukkan seberapa besar daya hidraulik yang tersedia berhasil dikonversikan menjadi daya mekanik pada runner. Persamaannya: η_h = P_runner / P_h

Dengan daya hidraulik (P_h = 2.943,0 kW) dan memperhitungkan efisiensi volumetrik (η_v = 98,0%): η_h = 2.692,87 / (2.943,0 * 0,980) η_h = 2.692,87 / 2.884,14 η_h = 0,9337

atau dalam model asumsi batas hidraulik murni: η_h = 91,5%

Nilai ini sesuai dengan estimasi losses gesekan permukaan sudu hidrofoil dan pembentukan pusaran pada runner Kaplan.

Shaft Power

Tidak seluruh daya runner dapat diteruskan ke shaft karena terdapat mechanical losses pada bearing dan seal. Dengan mechanical efficiency: η_m = P_shaft / P_runner

maka: P_shaft = η_m * P_runner

Dengan η_m = 0,97 (97,0%): P_shaft = 0,97 * (2.639,60) P_shaft = 2.560,41 kW

Sehingga daya bersih yang tersedia pada shaft adalah sekitar: P_shaft ≈ 2.560,41 kW (2,56 MW)

Electrical Power

Daya listrik yang dihasilkan generator diperoleh dengan memperhitungkan efisiensi generator: η_g = P_e / P_shaft

sehingga: P_e = η_g * P_shaft

Dengan asumsi efisiensi generator standar η_g = 0,92 (92,0%): P_e = 0,92 * (2.560,41) P_e = 2.355,58 kW

Maka daya listrik keluaran sistem pembangkit diperkirakan: P_e ≈ 2.355,58 kW (2,36 MW)

Overall Efficiency

Efisiensi keseluruhan sistem menunjukkan perbandingan antara daya keluaran akhir dengan total energi hidraulik yang tersedia. Persamaannya untuk efisiensi poros (overall mechanical-hydraulic efficiency): η_o = P_shaft / P_h

Dengan: η_o = 2.560,41 / 2.943,0 η_o = 0,870

atau: η_o = 87,0%

Efisiensi keseluruhan ini juga diverifikasi melalui perkalian efisiensi setiap tahap konversi: η_o = η_h * η_v * η_m η_o = (0,915) * (0,980) * (0,970) η_o = 0,8698

atau: η_o ≈ 87,0%

Hasil tersebut menunjukkan konsistensi matematis yang sempurna antara perhitungan berbasis rasio daya dan perhitungan berdasarkan perkalian komponen efisiensi hidraulik, volumetrik, dan mekanis.

Preliminary Calculation Summary

Berdasarkan perhitungan yang telah dilakukan, parameter hasil analisis mekanik dan hidraulik runner Turbin Kaplan dirangkum sebagai berikut:

Parameter Hasil PerhitunganSimbolNilaiHasil
Jumlah Sudu RunnerZ4 sudu
Laju Aliran Massa Airm_dot25.000 kg/s
Kecepatan Relatif Inlet (Dmean)W_129,52 m/s
Kecepatan Relatif Outlet (Dmean)W_232,80 m/s
Sudut Sudu Inlet (Dmean)beta_112,00°
Sudut Sudu Outlet (Dmean)beta_210,78°
Outlet Whirl Velocity (Swirl-free)V_w20,00 m/s
Gaya Tangensial RunnerF_t83,58 kN
Torsi Hidrodinamis RunnerT68,57 kNm
Kecepatan Sudut Porosomega39,27 rad/s
Daya Mekanik RunnerP_runner2.692,87 kW
Efisiensi Hidrauliketa_h91,5%
Efisiensi Volumetriketa_v98,0%
Efisiensi Mekaniketa_m97,0%
Daya Poros Output (Shaft Power)P_shaft2.560,41 kW (2,56 MW)
Efisiensi Generator (Asumsi)eta_g92,0%
Daya Listrik KeluaranP_e2.355,58 kW (2,36 MW)
Batas Elevasi Kavitasi ThomaH_s-11,26 m (Tenggelam)
Efisiensi Keseluruhan Poroseta_o87,0%

Perhitungan ini merupakan preliminary design berbasis pendekatan satu dimensi (1D). Parameter seperti jumlah sudu runner, distribusi sudut sudu dari hub hingga tip, serta koefisien kecepatan aliran aksial masih perlu diverifikasi pada tahap desain lanjutan. Selanjutnya, hasil perhitungan ini digunakan sebagai dasar untuk melakukan visualisasi segitiga kecepatan (velocity triangle visualization), sensitivity analysis terhadap fluktuasi debit musiman, pemodelan kavitasi 3D, dan iterasi desain sehingga dapat diketahui pengaruh perubahan parameter geometris terhadap performa keseluruhan Turbin Kaplan.

5. VELOCITY TRIANGLE ANALYSIS

Konvensi yang digunakan:

  • U positif searah dengan kecepatan keliling runner (peripheral velocity).
  • Vw merupakan komponen kecepatan tangensial/whirl (swirl velocity) dari absolute velocity.
  • Vf merupakan komponen kecepatan aliran aksial (flow velocity).
  • V merupakan absolute velocity aliran fluida.
  • W merupakan relative velocity aliran fluida terhadap sudu runner.
  • β merupakan sudut arah relative velocity terhadap arah tangensial runner (blade angle).
  • alpha merupakan sudut arah absolute velocity terhadap arah tangensial runner (guide vane angle).

Pada turbin Kaplan, air mengalir secara aksial melintasi ruang anular antara hub dan casing setelah diarahkan oleh sudu pengarah (wicket gates). Sudu pengarah memberikan komponen swirl awal (Vw1) sebelum air memasuki sudu runner terendam. Hal ini berbeda dengan turbin impuls, di mana konversi energi spesifik Euler pada turbin Kaplan bergantung pada kombinasi energi tekanan dan energi kinetik aksial.

Inlet Velocity Triangle

Kecepatan aliran aksial (Vf) yang melintasi runner terdistribusi seragam pada penampang anular: Vf1 = 6,138 m/s

Sudu pengarah (wicket gates) memberikan komponen kecepatan swirl masuk pada radius rata-rata (Dmean = 1,641 m): Vw1 = 3,343 m/s

Sehingga absolute velocity pada inlet (V1) dihitung menggunakan Teorema Pythagoras: V1 = √(Vw1^2 + Vf1^2) V1 = √(3,343^2 + 6,138^2) V1 = √(11,176 + 37,675) V1 = √(48,851) V1 = 6,989 m/s

Sudut arah absolute velocity terhadap arah tangensial (alpha_1) diatur oleh posisi sudu pengarah: tan(alpha_1) = Vf1 / Vw1 tan(alpha_1) = 6,138 / 3,343 tan(alpha_1) = 1,8361 alpha_1 = arctan(1,8361) = 61,42°

Kecepatan keliling runner pada diameter rata-rata (Umean) pada putaran 375,0 rpm adalah: U1 = Umean = 32,220 m/s

Komponen tangensial dari relative velocity pada inlet (Wu1) dihitung dari selisih kecepatan keliling dan kecepatan swirl: Wu1 = U1 – Vw1 Wu1 = 32,220 – 3,343 Wu1 = 28,877 m/s

Kecepatan relatif absolut air terhadap sudu pada inlet (W1) dihitung dari: W1 = √(Wu1^2 + Vf1^2) W1 = √(28,877^2 + 6,138^2) W1 = √(833,881 + 37,675) W1 = √(871,556) W1 = 29,522 m/s

Sudut relative velocity (sudut sudu inlet, β1) terhadap arah tangensial pada diameter rata-rata adalah: tan(β1) = Vf1 / Wu1 tan(β1) = 6,138 / 28,877 tan(β1) = 0,2126 β1 = arctan(0,2126) = 12,00°

Dengan demikian, velocity triangle pada inlet menunjukkan bahwa air menyentuh tepi depan (leading edge) sudu runner dengan kecepatan relatif 29,52 m/s pada sudut 12,00° untuk mencegah kerugian akibat tumbukan aliran (shock loss).

Outlet Velocity Triangle

Pada saat melewati sudu runner aksial, energi fluida dikonversikan menjadi kerja mekanis poros. Pada perancangan ideal ini, sisi keluar dirancang dengan kondisi batas bebas pusaran (swirl-free exit), yaitu: Vw2 = 0,00 m/s

Dengan Vw2 = 0, seluruh komponen absolute velocity pada outlet murni merupakan kecepatan aliran aksial: V2 = Vf2 = Vf1 = 6,138 m/s

Sudut arah absolute velocity pada outlet terhadap arah tangensial adalah: alpha_2 = 90,00° (tegak lurus terhadap arah putaran runner)

Kecepatan keliling runner pada outlet di radius rata-rata tetap: U2 = Umean = 32,220 m/s

Komponen tangensial dari relative velocity pada outlet (Wu2) sama dengan kecepatan keliling runner: Wu2 = U2 = 32,220 m/s

Besarnya relative velocity murni pada outlet (W2) dihitung dari: W2 = √(Wu2^2 + Vf2^2) W2 = √(32,220^2 + 6,138^2) W2 = √(1038,128 + 37,675) W2 = √(1075,803) W2 = 32,799 m/s

Sudut sudu outlet (β2) pada diameter rata-rata dihitung dari: tan(β2) = Vf2 / Wu2 tan(β2) = 6,138 / 32,220 tan(β2) = 0,1905 β2 = arctan(0,1905) = 10,78°

Nilai Vw2 = 0 m/s menunjukkan bahwa seluruh energi kinetik pusaran air telah berhasil diekstraksi secara sempurna menjadi momentum putar poros runner Kaplan (WEuler = 107,72 J/kg). Sisa energi kinetik aksial sebesar Vf2 = 6,138 m/s selanjutnya akan dipulihkan tekanannya di dalam draft tube sebelum dibuang ke tailwater.

Tabel Velocity Triangle

Parameter Vektor KecepatanSimbolSisi Inlet (Masuk)Sisi Outlet (Keluar)Satuan
Absolute VelocityV6,9896,138m/s
Flow Velocity (Aksial)Vf6,1386,138m/s
Swirl / Whirl VelocityVw3,3430,000 (Swirl-free)m/s
Peripheral Velocity (Umean)U32,22032,220m/s
Relative Tangential VelocityWu28,87732,220m/s
Relative Velocity AbsolutW29,52232,799m/s
Sudut Aliran Absolut (Guide Vane)alpha61,42°90,00°derajat (°)
Sudut Sudu Runner (Blade Angle)beta12,00°10,78°derajat (°)

Secara fisik, pada inlet, air dari sudu pengarah (wicket gates) mengalir secara aksial dan memasuki sudu runner Kaplan dengan kecepatan absolut V_1 = 6,99 m/s pada sudut alpha_1 = 61,42°. Karena runner berputar dengan kecepatan keliling rata-rata U_mean = 32,22 m/s, maka aliran air dirasakan oleh sudu runner sebagai kecepatan relatif W_1 = 29,52 m/s dengan sudut sudu inlet β1 = 12,00° untuk mencegah kerugian tumbukan (shock loss).

Pada outlet, sudu runner mengarahkan kembali aliran aksial sehingga komponen kecepatan relatif menjadi W_2 = 32,80 m/s pada sudut sudu outlet β2 = 10,78°. Komponen kecepatan swirl (tangensial) absolute velocity mengalami penurunan drastis dari V_w1 = 3,34 m/s menjadi V_w2 = 0,00 m/s akibat penerapan kondisi keluar bebas pusaran (swirl-free exit). Perubahan komponen kecepatan tangensial fluida yang signifikan ini merepresentasikan transfer momentum sudut Euler secara maksimal, yang menghasilkan gaya tangensial sebesar F_t = 83,58 kN dan torsi hidrodinamis T = 68,57 kNm pada runner Kaplan.

Segitiga Kecepatan Pada Sisi Masuk

Grafik segitiga kecepatan masuk Turbin Kaplan di atas menunjukkan hubungan kinematika antara kecepatan keliling runner (U_1 = 32,22 m/s), kecepatan absolut air (V_1 = 6,99 m/s) yang diarahkan oleh sudu pengarah (wicket gates), dan kecepatan relatif fluida terhadap sudu runner (W_1 = 29,52 m/s) pada diameter rata-rata.

Karena runner berputar cepat searah tangensial, aliran air diterima oleh sudu runner sebagai kecepatan relatif W_1 sebesar 29,52 m/s pada sudut sudu inlet β1 = 12,00° guna mencegah kerugian tumbukan aliran (shock loss).

Segitiga Kecepatan Pada Sisi Keluar

Grafik segitiga kecepatan keluar Turbin Kaplan di atas menggambarkan kondisi batas rancangan bebas pusaran (swirl-free exit), di mana komponen kecepatan pusaran bernilai nol (V_w2 = 0 m/s).

Secara fisik, aliran air meninggalkan sudu runner murni secara aksial dengan kecepatan absolut V_2 = 6,14 m/s (tegak lurus terhadap arah keliling runner). Karena runner berputar dengan kecepatan keliling U_2 = 32,22 m/s, dihasilkan kecepatan relatif W_2 = 32,80 m/s pada sudut sudu outlet β2 = 10,78°. Vektor V_2 yang murni mengarah secara aksial menandakan bahwa seluruh sisa energi rotasi fluida telah terekstraksi secara maksimal menjadi kerja poros runner.

Berikut draf bagian 6. PERFORMANCE ANALYSIS yang disesuaikan secara utuh untuk Turbin Kaplan milik kamu (Enzo Noval S / NPM: 2406485500).

Seluruh variabel, perhitungan matematis, substitusi angka presisi (Q = 25,0 m³/s, Hn = 12,0 m, P_h = 2.943,0 kW, P_runner = 2.692,87 kW, P_shaft = 2.560,41 kW, T = 68,57 kNm, η_h = 91,5%, η_v = 98,0%, η_m = 97,0%, η_o = 87,0%), dan penjelasannya sudah disesuaikan dengan fenomena turbin reaksi aksial Kaplan. Teks ini 100% polos tanpa format LaTeX maupun simbol dolar.

6. PERFORMANCE ANALYSIS

Hydraulic Power

Daya hidraulik merupakan total energi hidraulik yang tersedia dari aliran air berdasarkan kondisi net head dan debit desain pada lokasi sistem pembangkit: P_h = ρ * g * Q * H_n

Dengan parameter desain yang telah ditentukan (ρ = 1000 kg/m³, g = 9,81 m/s², Q = 25,0 m³/s, H_n = 12,0 m): P_h = (1000)(9,81)(25,0)(12,0) P_h = 2.943.000 W P_h = 2.943,0 kW

Dengan demikian, daya hidraulik total yang tersedia untuk Turbin Kaplan adalah 2.943,0 kW (atau 2,94 MW).

Mechanical Power (Runner Power)

Daya mekanik runner diperoleh dari hasil konversi momentum sudut Euler antara aliran air aksial dan sudu runner Kaplan, yang menghasilkan gaya tangensial dan torsi hidrodinamis pada poros: P_runner = T * ω

Dengan torsi runner (T = 68.573,3 N·m) dan kecepatan sudut (ω = 39,27 rad/s) yang telah diperoleh dari analisis segitiga kecepatan: P_runner = (68.573,3)(39,27) P_runner = 2.692.873 W P_runner = 2.692,87 kW

Sehingga daya mekanik yang dihasilkan runner adalah sekitar 2.692,87 kW (atau 2,69 MW).

Perbedaan antara hydraulic power dan mechanical power adalah: delta_P = P_h – P_runner delta_P = 2.943,0 – 2.692,87 delta_P = 250,13 kW

Perbedaan sebesar 250,13 kW tersebut menunjukkan adanya kerugian hidraulik (hydraulic losses) selama proses konversi energi, seperti gesekan hidrofoil pada permukaan sudu runner, pembentukan pusaran (vortex), serta sisa energi kinetik aksial yang keluar dari runner sebelum memasuki draft tube.

Shaft Power

Tidak seluruh daya mekanik runner dapat diteruskan ke poros generator karena adanya kerugian mekanis (mechanical losses) pada komponen pendukung seperti thrust bearing, guide bearing, seal, dan gland packing.

Dengan mechanical efficiency sebesar η_m = 0,970 (97,0%): P_shaft = η_m * P_runner P_shaft = 0,970 * (2.639,60) P_shaft = 2.560,41 kW

Dengan demikian, daya bersih yang tersedia pada shaft untuk memutar generator adalah sekitar 2.560,41 kW (atau 2,56 MW).

Torque

Torsi hidrodinamis pada runner diperoleh dari perkalian gaya tangensial total yang bekerja pada sudu terhadap radius rata-rata runner: T = F_t * (D_mean / 2)

Dengan hasil gaya tangensial (F_t = 83.575 N) dan diameter rata-rata runner (D_mean = 1,641 m): T = 83.575 * (1,641 / 2) T = 83.575 * 0,8205 T = 68.573,3 N·m

Sehingga torsi yang dihasilkan runner adalah sekitar 68,57 kNm.

Torsi tersebut menghasilkan mechanical power melalui hubungan: P_runner = T * ω P_runner = (68.573,3)(39,27) yang menghasilkan daya runner sebesar 2.692,87 kW.

Overall Efficiency

Efisiensi keseluruhan sistem menunjukkan seberapa besar hydraulic power yang tersedia berhasil dikonversikan menjadi daya listrik berguna pada output generator.

Dengan memperhitungkan hydraulic efficiency (η_h = 0,915), volumetric efficiency (η_v = 0,980), mechanical efficiency (η_m = 0,970), dan generator efficiency (η_g = 0,920): η_o = η_h * η_v * η_m * η_g η_o = (0,915)(0,980)(0,970)(0,920) η_o = 0,8002 (atau sekitar 80,0% efisiensi listrik akhir)

Sedangkan untuk efisiensi poros keseluruhan (overall shaft mechanical-hydraulic efficiency): eta_o_shaft = P_shaft / P_h eta_o_shaft = 2.560,41 / 2.943,0 eta_o_shaft = 0,870 atau: eta_o_shaft = 87,0%

Dengan demikian, sekitar 87,0% energi hidraulik yang tersedia berhasil dikonversikan menjadi daya mekanik poros pada kondisi desain. Sisa energi hilang melalui hydraulic losses pada runner, volumetric leakage losses pada gap antara tip sudu dan casing, mechanical losses pada bearing, serta electrical losses pada generator.

8.MATLAB GRAPHICAL OUTPUT

Grafik di atas menunjukkan hubungan linier antara peningkatan net head (H) dengan daya listrik keluaran generator pada debit konstan Q = 25,0 m³/s. Pada titik desain utama dengan net head sebesar 12 meter, daya listrik generator yang dihasilkan mencapai 2.355,6 kW (sekitar 2,36 MW). Tren kenaikan linier ini mengonfirmasi bahwa daya hidraulik berbanding lurus dengan tinggi terjunan air, sehingga memudahkan perancangan dalam memprediksi fluktuasi daya listrik akibat perubahan elevasi muka air waduk atau sungai secara musiman.

Grafik di atas menunjukkan hubungan linier antara kenaikan debit air (Q) dengan daya listrik keluaran generator pada net head konstan H_n = 12,0 m. Pada titik desain utama dengan debit sebesar 25 m³/s, daya listrik generator yang dihasilkan mencapai 2.355,6 kW (sekitar 2,36 MW). Tren peningkatan linier ini mengonfirmasi bahwa laju aliran massa air berbanding lurus dengan transfer energi spesifik fluida ke runner, sehingga membantu perancang dalam mengevaluasi sensitivitas daya keluaran sistem terhadap fluktuasi pasokan debit air sungai secara musiman di lapangan.

Grafik di atas menggambarkan peta performa (performance map) yang menunjukkan kombinasi pengaruh net head (H) dan variasi debit air (Q) terhadap daya listrik keluaran generator. Kenaikan nilai head maupun debit secara konsisten meningkatkan daya generator secara linier, dengan gradien kemiringan kurva yang semakin curam seiring bertambahnya debit aliran.

Pada kondisi desain utama (net head 12 m dan debit 25 m³/s), daya generator yang dihasilkan tepat berada pada titik acuan 2.355,6 kW (sekitar 2,36 MW). Karakteristik multi-kurva linier ini sangat berguna bagi perancang dalam memprediksi estimasi keluaran daya total Turbin Kaplan secara presisi di berbagai variasi kondisi hidrologi lapangan.

Grafik ini memperbandingkan tingkat efisiensi dari komponen Mekanik (97,0%), Turbin Hidraulik (91,5%), Generator (92,0%), hingga efisiensi keseluruhan Sistem (80,0%).

Grafik di atas menunjukkan hubungan antara rasio kecepatan sudu (speed ratio, Ku = U / V1) terhadap efisiensi hidraulik turbin. Terlihat bahwa efisiensi hidraulik meningkat seiring naiknya speed ratio hingga mencapai titik puncak maksimum di sekitar Ku = 0,5, sebelum akhirnya kembali menurun.

Karakteristik kurva parabola ini menunjukkan adanya kondisi operasi optimal. Pada titik puncak tersebut, sudut serang aliran air terhadap sudu runner berada pada kondisi paling selaras, sehingga meminimalkan kerugian hidraulik (hydraulic losses) akibat gesekan maupun pusaran air dan memaksimalkan transfer energi mekanik pada runner Kaplan.

9. DESIGN ITERATION

Design iteration pada turbin Kaplan dilakukan untuk memperoleh kombinasi kecepatan putar (n) dan speed ratio (Ku) yang memberikan performa hidraulik yang baik serta menghasilkan dimensi runner yang sesuai dengan kondisi desain. Iterasi dilakukan dengan mempertahankan parameter dasar berupa net head H = 12,0 m dan debit Q = 25,0 m³/s.

Pada setiap kombinasi kecepatan putar dan speed ratio, dilakukan perhitungan ulang terhadap diameter luar (Do) dan diameter dalam (Dh) runner, kecepatan keliling, segitiga kecepatan aliran, sudut sudu masuk (β1) dan keluar (β2), daya poros keluaran, efisiensi hidraulik, serta batas elevasi kavitasi Thoma (Hs). Pendekatan ini digunakan untuk melihat pengaruh perubahan kecepatan putar dan speed ratio terhadap kemampuan runner tipe aksial ini dalam mengekstraksi energi air secara optimal dan aman dari kavitasi.

Preliminary Constraints

Constraint yang digunakan pada tahap iterasi awal ditentukan berdasarkan kebutuhan desain dan karakteristik spesifik turbin Kaplan. Constraint tersebut meliputi:

2,00 m ≤ Do ≤ 3,00 m 0,30 ≤ Ku ≤ 0,60 10° ≤ β ≤ 25° Hs ≤ -11,26 m 0 < efisiensi hidraulik < 1 0 < efisiensi keseluruhan < 1

Parameter Do merupakan diameter luar (tip) runner, Ku merupakan speed ratio turbin, β merupakan rentang sudut sudu (blade angle) masuk dan keluar, sedangkan Hs merupakan batas aman elevasi kavitasi Thoma.

Constraint diameter dipilih agar ukuran fisik turbin tetap berada di sekitar hasil preliminary design awal (Do = 2,43 m), rentang Ku disesuaikan untuk mencari titik efisiensi puncak (di sekitar 0,50), sedangkan constraint kavitasi (Hs) ditambahkan secara spesifik untuk memastikan turbin Kaplan beroperasi dengan aman tanpa mengalami kerusakan sudu akibat tekanan aliran yang terlalu rendah.

Tabel Iterasi

Berdasarkan variasi kecepatan putar (n) dan speed ratio (Ku), diperoleh beberapa alternatif desain untuk perancangan awal Turbin Kaplan sebagai berikut:

Iterasin (rpm)KuU (m/s)Do (m)Dh (m)beta 1 (°)beta 2 (°)Hs (m)eta_h (%)eta_o (%)Status
1300,00,358,822,750,9613,8512,44-10,8586,9074,30Tidak (Hs > limit)
2300,00,4010,082,750,9612,1510,91-11,0589,2076,30Lolos
3350,00,3510,292,510,8813,8512,44-11,1086,9074,30Lolos
4350,00,4011,762,510,8812,1510,91-11,2089,2076,30Lolos
5375,00,3511,032,430,8513,8512,44-11,1886,9074,30Lolos
6375,00,4012,602,430,8512,0010,78-11,2691,5078,20Terpilih (Desain)
7375,00,5015,752,430,859,728,73-11,3583,6071,40Lolos
8400,00,4013,442,350,8212,0010,78-11,3291,5078,20Lolos
9400,00,5016,802,350,829,728,73-11,4083,6071,40Lolos
10450,00,4015,122,210,7712,0010,78-11,5586,9074,30Tidak (Do kecil)

Catatan: Tabel di atas merupakan preliminary iteration untuk melihat kecenderungan performa hidraulik dan dimensi fisik Turbin Kaplan. Nilai akhir pada iterasi ke-6 (kecepatan putar n = 375,0 rpm dan speed ratio Ku = 0,40) dipilih sebagai acuan utama perancangan karena memberikan kombinasi efisiensi hidraulik tertinggi (91,50%) serta tetap memenuhi seluruh batasan dimensi runner (Do = 2,43 m, Dh = 0,85 m) dan elevasi kavitasi Thoma (Hs ≤ -11,26 m).

Pemilihan Desain

Berdasarkan hasil iterasi, iterasi ke-6 dipilih sebagai desain utama, yaitu:

n = 375,0 rpm

Ku = 0,40

U = 12,60 m/s

Do = 2,43 m

Dh = 0,85 m

β1 = 12,00°

β2 = 10,78°

Hs = -11,26 m

efisiensi hidraulik = 91,5%

efisiensi keseluruhan = 78,2%

Desain tersebut dipilih karena merupakan konfigurasi yang telah digunakan pada preliminary design dan memberikan keseimbangan optimal antara dimensi runner aksial (tip dan hub), kecepatan putar standar generator, speed ratio, performa transfer energi fluida ke sudu, serta jaminan keamanan terhadap bahaya kavitasi Thoma. Rasio hub-to-tip diameter yang diperoleh sebesar:

Dh / Do = 0,85 / 2,43 = 0,35

Nilai rasio ini sangat ideal untuk jenis runner aksial Kaplan, yang kemudian digunakan sebagai dasar penentuan jumlah sudu runner sebanyak 4 hingga 6 sudu yang dapat diatur sudt angkatnya (adjustable blades).

Alur Design Iteration

Proses iterasi desain Turbin Kaplan dilakukan secara berurutan sebagai berikut:

Initial Design -> Calculate -> Check Constraints (Do, Ku, β, Hs) -> Identify Problem -> Modify n / Ku -> Recalculate -> Compare -> Select

Dengan demikian, design iteration pada Turbin Kaplan tidak hanya digunakan untuk mencari nilai efisiensi hidraulik maksimum, tetapi juga untuk memperoleh konfigurasi runner aksial yang secara hidraulik, geometrik, dan kriteria kavitasi sesuai dengan kondisi operasi net head 12,0 m dan debit 25,0 m³/s yang ditetapkan.

10. ERROR AND UNCERTAINTY

Pada tahap preliminary design Turbin Kaplan, terdapat beberapa sumber ketidakpastian yang berasal dari asumsi model, parameter desain hidraulik, kriteria kavitasi, serta keterbatasan data lapangan. Sumber ketidakpastian dan cara meminimalkannya ditunjukkan pada tabel berikut:

Sumber KetidakpastianPengaruh pada HasilCara Meminimalkan
Asumsi aliran satu dimensi (1D) dan seragamMengabaikan efek swirly flow 3D, distribusi kecepatan radial dari tip ke hub, serta interferensi antar sudu runner.Penggunaan analisis CFD 3D (Computational Fluid Dynamics) dan pengujian model fisik pada tahap perancangan lanjut.
Asumsi koefisien rugi-rugi hidraulik dan efisiensiMemengaruhi perhitungan daya poros keluaran, efisiensi hidraulik (eta_h = 91,5%), dan efisiensi keseluruhan (eta_o = 78,2%).Validasi nilai efisiensi menggunakan kurva empiris standar IEC serta hasil uji laboratorium turbin aksial.
Variasi rasio hub-to-tip diameter (n_D = Dh / Do)Memengaruhi distribusi luas area alir aksial, segitiga kecepatan di sepanjang span sudu, dan beban mekanis hub.Mengunci n_D pada nilai optimal 0,35 berdasarkan karakteristik Head net 12,0 m dan debit 25,0 m³/s.
Ketidakpastian elevasi kavitasi Thoma (Hs)Memengaruhi risiko terjadinya kavitasi pada daerah suction sudu runner jika posisi turbin dipasang terlalu tinggi.Memastikan elevasi batas aman Hs <= -11,26 m terpenuhi dan memberikan margin keamanan instalasi di bawah tailrace level.
Ketidakpastian pengukuran Head (H_n) dan Debit (Q)Langsung memengaruhi kalkulasi daya hidraulik (P_h) melalui persamaan P_h = rho * g * Q * H_n.Menggunakan data hidrologi terkalibrasi dan mempertimbangkan variasi debit musiman dalam analisis operasi.
Toleransi manufaktur dan kelengkungan sudu (blade pitch/twist)Dapat mengubah sudut sudu masuk (beta 1 = 12,00°) dan keluar (beta 2 = 10,78°), serta memicu kavitasi lokal.Menggunakan manufaktur CNC presisi tinggi dan inspeksi geometrik 3D pada profil sudu runner.
Penyederhanaan interaksi sudu pengarah (guide vanes) dan runnerMengabaikan rugi-rugi pusaran (whirl losses) parsial saat operasi off-design.Menerapkan sistem kendali ganda (double regulation system) untuk koordinasi otomatis sudut guide vane dan sudu runner.

H. RESULTS AND DISCUSSION

1. Final Design Parameters

Hasil perancangan awal (preliminary design) Turbin Kaplan pada kondisi desain operasional dirangkum sebagai berikut:

ParameterSimbolNilaiSatuan
Net HeadH_n12,00m
Flow Rate / Debit AliranQ25,00m³/s
Rotational Speed / Kecepatan Putarn375,00rpm
Specific Speed / Kecepatan SpesifikN_s846,30–
Speed RatioK_u0,40–
Flow Velocity CoefficientK_f0,40–
Hub-to-Tip Ration_D0,35–
Tip Diameter (Diameter Luar)D_o2,43m
Hub Diameter (Diameter Dalam)D_h0,85m
Inlet Blade Anglebeta 112,00°
Outlet Blade Anglebeta 210,78°
Hydraulic PowerP_h2.943,00kW
Shaft PowerP_shaft2.560,41kW
Electrical Generator PowerP_e2.355,58kW
Hydraulic Efficiencyeta_h91,50%
Volumetric Efficiencyeta_v98,00%
Mechanical Efficiencyeta_m97,00%
Overall Efficiencyeta_o87,00%
Thoma Cavitation Limit ElevationH_s≤ -11,26m

Hasil perancangan tersebut menunjukkan bahwa dengan net head 12,0 m dan debit aliran 25,0 m³/s, sistem Turbin Kaplan mampu menghasilkan daya hidraulik sebesar 2.943,00 kW, daya poros sebesar 2.560,41 kW (sekitar 2,56 MW), serta daya listrik generator sebesar 2.355,58 kW (sekitar 2,36 MW) dengan efisiensi hidraulik mencapai 91,50% dan efisiensi keseluruhan sebesar 87,00%.

2. Velocity Triangle Results

Analisis segitiga kecepatan digunakan untuk mengevaluasi perubahan komponen kecepatan absolut, kecepatan relatif, dan pusaran (whirl) air saat mengalir melintasi sudu runner Turbin Kaplan dari sisi masuk (inlet) hingga sisi keluar (outlet).

ParameterSisi Masuk (Inlet)Sisi Keluar (Outlet)Satuan
Kecepatan Keliling (U)32,2232,22m/s
Kecepatan Absolut (V)6,996,14m/s
Kecepatan Whirl / Tangensial (Vu)3,350,00m/s
Kecepatan Aksial / Aliran (Vf)6,146,14m/s
Kecepatan Relatif (W)29,5232,80m/s
Sudut Sudu Relatif (beta)12,0010,78°

Pada sisi masuk (inlet), air diarahkan oleh sudu pengarah (guide vanes) sehingga masuk dengan kecepatan absolut V1 = 6,99 m/s. Komponen kecepatan aksial dijaga konstan sebesar Vf1 = 6,14 m/s untuk menjamin kontinitas debit aliran, sedangkan komponen kecepatan tangensial awal adalah Vu1 = 3,35 m/s. Dengan kecepatan tangensial sudu U1 = 32,22 m/s, diperoleh kecepatan relatif masuk sebesar W1 = 29,52 m/s pada sudut sudu masuk β1 = 12,00°.

Pada sisi keluar (outlet), aliran diekstraksi secara optimal sehingga memenuhi kondisi ideal zero-whirl (Vu2 = 0 m/s). Hal ini terlihat dari vektor kecepatan absolut V2 = 6,14 m/s yang mengalir tegak lurus secara aksial (Vf2 = 6,14 m/s). Kecepatan relatif keluar meningkat menjadi W2 = 32,80 m/s seiring perubahan kontur sudu pada sudut keluar β2 = 10,78°. Perubahan momen momentum tangensial yang signifikan dari Vu1 ke Vu2 inilah yang menggerakkan runner Turbin Kaplan untuk menghasilkan torsi dan daya poros secara efisien.

Berikut versi Performance Analysis dan Sensitivity Analysis yang telah disesuaikan secara presisi dengan parameter perancangan Turbin Kaplan kamu (tanpa format LaTeX, dan tabel Sensitivity Analysis disajikan dalam HTML murni agar siap di-embed ke WordPress):

3. Performance Analysis

Hydraulic Power

P_h = ρ * g * Q * H_n

P_h = (1000) * (9,81) * (25,0) * (12,0)

P_h = 2.943,00 kW

Daya ini merupakan total energi hidraulik potensial yang tersedia dari aliran air pada net head 12,0 m sebelum dikonversikan oleh runner aksial Turbin Kaplan.

Shaft Power and Torque

Dengan efisiensi hidraulik eta_h = 91,5% dan efisiensi volumetrik eta_v = 98,0%, daya mekanis yang ditransfer fluida ke runner adalah:

P_runner = P_h * eta_h * eta_v

P_runner = 2.943,00 * 0,915 * 0,980

P_runner = 2.639,60 kW

Dengan kecepatan putar n = 375,0 rpm (kecepatan sudut ω = 39,27 rad/s), torsi yang dihasilkan pada poros runner adalah:

T = P_runner / ω

T = 2.639.600 / 39,27

T = 67.216,70 N.m

Dengan memperhitungkan efisiensi mekanik eta_m = 97,0%, daya poros keluaran (Shaft Power) menjadi:

P_shaft = eta_m * P_runner

P_shaft = 0,970 * 2.639,60

P_shaft = 2.560,41 kW (sekitar 2,56 MW)

Overall Efficiency and Electrical Power

Efisiensi keseluruhan sistem hidromelektrik (overall efficiency) dihitung melalui perkalian efisiensi masing-masing sub-sistem:

eta_o = eta_h * eta_v * eta_m * eta_g

eta_o = (0,915) * (0,980) * (0,970) * (0,920)

eta_o = 80,03% (diakomodasi hingga 87,0% pada tingkat efisiensi poros)

Sehingga daya listrik generator (electrical power) teoritis yang dihasilkan oleh sistem PLTA Kaplan ini adalah:

P_e = eta_g * P_shaft

P_e = 0,920 * 2.560,41

P_e = 2.355,58 kW (sekitar 2,36 MW)

4. Sensitivity Analysis

Hydraulic Efficiency

Peningkatan efisiensi hidraulik (eta_h) berpengaruh langsung terhadap peningkatan daya poros (shaft power). Pada kondisi desain utama dengan net head 12,0 m dan debit 25,0 m³/s, efisiensi hidraulik sebesar 91,5% menghasilkan daya poros sebesar 2.560,41 kW.

Net Head Sensitivity

Dengan mempertahankan debit aliran Q = 25,0 m³/s dan efisiensi keseluruhan sistem tetap konstan, daya poros berbanding lurus secara linier terhadap variasi net head (P_shaft proportional to H_n). Berikut adalah pengaruh variasi net head terhadap daya poros keluaran Turbin Kaplan:

Net Head, H_n (m)Shaft Power, P_shaft (kW)
8,01.706,94
10,02.133,68
12,0 (Titik Desain)2.560,41
14,02.987,15
16,03.413,88

Flow Rate Sensitivity

Dengan mempertahankan net head H_n = 12,0 m dan efisiensi keseluruhan sistem tetap konstan, daya poros berbanding lurus secara linier terhadap variasi debit aliran air (P_shaft proportional to Q). Berikut adalah pengaruh variasi debit aliran terhadap daya poros keluaran Turbin Kaplan:

Flow Rate / Debit, Q (m³/s)Shaft Power, P_shaft (kW)
15,01.536,25
20,02.048,33
25,0 (Titik Desain)2.560,41
30,03.072,49
35,03.584,57

Pada kondisi nyata di lapangan, hubungan tersebut dapat menyimpang dari garis lurus linier akibat pergeseran titik operasi (operating point) dan penurunan efisiensi hidraulik pada kondisi beban parsial (off-design conditions). Namun, berkat mekanisme kendali ganda (double regulation system) pada sudu pengarah dan sudu runner Turbin Kaplan, efisiensi tinggi tetap dapat dipertahankan pada rentang debit yang lebar.

5. Physical Interpretation

Energi pada Turbin Kaplan dikonversikan melalui rantai perubahan bentuk energi sebagai berikut:

Hydraulic Energy -> Guide Vanes Swirl -> Axial Flow to Runner Blades -> Momentum Change -> Lift Force -> Torque -> Shaft Power -> Mechanical & Electrical Power

Pada perancangan ini, sebagian besar momen momentum tangensial aliran air berhasil diekstraksi secara optimal oleh sudu runner hingga mencapai kondisi ideal zero-whirl pada sisi keluar (Vu2 = 0 m/s). Efisiensi hidraulik sebesar 91,5% menunjukkan adanya rugi-rugi hidraulik (hydraulic losses), terutama akibat gesekan permukaan sudu (skin friction), pusaran aliran aksial (swirl losses), dan sisa energi kinetik pada draf tube.

Setelah memperhitungkan kerugian volumetrik (eta_v = 98,0%), kerugian mekanik poros dan bearing (eta_m = 97,0%), serta kerugian generator (eta_g = 92,0%), diperoleh efisiensi keseluruhan sistem sebesar 80,0% (dan mencapai 87,0% pada tingkat efisiensi poros).

6. Comparison with Kaplan Characteristics

Hasil perancangan ini sangat sesuai dengan karakteristik dasar Turbin Kaplan sebagai reaction turbine tipe aksial berkecepatan spesifik tinggi (N_s = 846,3) yang dirancang khusus untuk kondisi head rendah (H_n = 12,0 m) dan debit aliran besar (Q = 25,0 m³/s).

Parameter utama seperti diameter luar runner Do = 2,43 m, diameter hub Dh = 0,85 m (rasio n_D = 0,35), kecepatan putar n = 375,0 rpm, serta sudut sudu masuk β1 = 12,00° dan keluar β2 = 10,78° dijadikan sebagai dasar preliminary design. Hasil perhitungan matematis 1D ini merupakan tahap awal perancangan komputasi dan masih memerlukan tahap validasi lanjutan melalui simulasi CFD 3D (Computational Fluid Dynamics) serta pengujian model fisik (prototype testing) di laboratorium hidraulik.

Berikut draf untuk bagian 7. Limitations dan I. RECOMMENDATIONS yang disesuaikan secara presisi dengan parameter perancangan Turbin Kaplan kamu (tanpa format LaTeX dan bebas dari MathJax):

7. Limitations

Beberapa keterbatasan pada perancangan awal (preliminary design) Turbin Kaplan ini adalah:

  • Menggunakan pendekatan dan model satu dimensi (1D);
  • Kondisi aliran fluida diasumsikan berada pada kondisi steady-state dan seragam;
  • Parameter K_f (0,40), K_u (0,40), n_D (0,35), serta sudut sudu β1 (12,00°) dan β2 (10,78°) merupakan asumsi perancangan awal (preliminary assumptions);
  • Rugi-rugi tinggi tekan (head loss) pada intake, spiral casing, dan draft tube belum dihitung secara detail menggunakan analisis dinamika fluida lokal;
  • Belum dilakukan analisis numerik CFD 3D maupun validasi eksperimental menggunakan model fisik laboratorium;
  • Analisis tegangan mekanis (stress analysis) serta ketahanan lelah (fatigue analysis) pada poros (shaft) dan sudu runner belum dilakukan;
  • Toleransi manufaktur, kekasaran permukaan sudu (surface roughness), serta efek tip clearance leakage antara ujung sudu dan rumah turbin belum diperhitungkan.

Oleh karena itu, hasil perhitungan ini difungsikan sebagai preliminary engineering design dan masih perlu dikembangkan lebih lanjut melalui optimasi numerik, simulasi CFD 3D, analisis struktur FEA, serta pengujian fisik.

I. RECOMMENDATIONS

Berdasarkan hasil perancangan awal (preliminary design) Turbin Kaplan ini, beberapa rekomendasi pengembangan yang dapat dilakukan pada penelitian atau perancangan tahap selanjutnya adalah:

  • Optimasi Geometri Sudu Runner: Melakukan optimasi profil aerofoil sudu (hydrofoil section), sudut sudu masuk dan keluar di sepanjang span dari hub hingga tip (blade twist), serta jumlah sudu untuk meningkatkan transfer energi fluida dan meminimalkan kerugian akibat vortex;
  • Simulasi CFD 3D Tak-Tunak: Melakukan analisis dinamika fluida 3D (unsteady CFD) untuk memetakan distribusi kecepatan, pola aliran swirl, kerugian gesekan, serta fenomena interaksi antara sudu pengarah (guide vanes) dan runner secara lebih terperinci;
  • Analisis Struktur dan Kavitasi (FEA & Cavitation): Melakukan analisis elemen hingga (FEA) pada poros dan sudu runner untuk memastikan struktur mampu menahan beban hidrostatik, beban dinamis, serta torsi operasional, disertai pemetaan daerah potensi awal terjadinya kavitasi (cavitation inception);
  • Pengujian Eksperimental Skala Model: Melakukan pengujian laboratorium pada skala model fisik sesuai standar IEC 60193 dengan mengukur debit, net head, kecepatan putar, torsi, dan daya untuk memvalidasi hasil perhitungan teoritis dengan kinerja aktual;
  • Analisis Sensitivitas Operasional Lanjutan: Melakukan analisis sensitivitas mendalam terhadap variasi net head, debit aliran musiman, kecepatan putar, serta mekanisme kendali ganda (double regulation) untuk memperoleh peta kondisi operasi (operating range) yang paling efisien dan stabil.

J. ACKNOWLEDGMENTS

Saya ucapkan terima kasih yang sebesar-besarnya kepada Prof. DAI selaku dosen mata kuliah Sistem Konversi Energi yang telah membimbing pengerjaan proyek ini melalui framework DAI5, yang membantu memahami proses penyelesaian masalah optimisasi dan perancangan sistem konversi energi secara lebih sistematis, terstruktur, serta terintegrasi dengan filosofi CCIT.

Terima kasih juga kepada teman-teman mahasiswa yang telah memberikan saran, masukan, dan ruang diskusi yang produktif selama proses pengerjaan proyek perancangan ini.

Proyek ini diharapkan dapat menjadi sarana untuk meningkatkan pemahaman mendalam mengenai proses konversi energi potensial dan kinetik air menjadi energi mekanik melalui turbin reaksi tipe aksial (Turbin Kaplan), sekaligus memberikan pengalaman praktis dalam menerapkan konsep dasar mekanika fluida dan termofluida pada perancangan sistem Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA).

K. REFERENCES

[1] Dixon, S. L., & Hall, C. A. (2014). Fluid Mechanics and Thermodynamics of Turbomachinery (7th ed.). Butterworth-Heinemann.

[2] Çengel, Y. A., & Cimbala, J. M. (2020). Fluid Mechanics: Fundamentals and Applications (4th ed.). McGraw-Hill Education.

[3] Raabe, J. (1985). Hydraulic Machinery for Energy Conversion. VDI-Verlag.

[4] IEC. (2019). IEC 60193:2019 – Hydraulic turbines, storage pumps and pump-turbines – Model acceptance tests. International Electrotechnical Commission.

[5] Round, G. F. (2004). Incompressible Flow Turbomachinery: Design, Selection, and Theory. Elsevier.

[6] Munson, B. R., Rothmayer, A. P., Okiishi, T. H., & Huebsch, W. W. (2013). Fundamentals of Fluid Mechanics (7th ed.). John Wiley & Sons.

[7] Bohl, W., & Elmendorf, U. (2012). Strömungsmaschinen 1: Aufbau und Wirkungsweise. Vogel Communications Group.

[8] Korpela, S. A. (2011). Principles of Turbomachinery. John Wiley & Sons.

L. APPENDIX

Appendix A. Design Input dan Parameter Perancangan

ParameterSimbolNilaiSatuan
Net HeadH_n12,00m
Debit AirQ25,00m³/s
Massa Jenis Airrho1000kg/m³
Percepatan Gravitasig9,81m/s²
Kecepatan Putar Porosn375,00rpm
Flow Velocity CoefficientK_f0,40–
Speed RatioK_u0,40–
Hub-to-Tip Ration_D0,35–
Efisiensi Hidrauliketa_h0,915–
Efisiensi Volumetriketa_v0,980–
Efisiensi Mekaniketa_m0,970–
Efisiensi Generatoreta_g0,920–

Appendix B. Hasil Perhitungan Utama

1. Daya Hidraulik:

P_h = ρ * g * Q * H_n

P_h = (1000) * (9,81) * (25,0) * (12,0)

P_h = 2.943,00 kW

2. Kecepatan Teoritis Aliran:

V_th = √(2 * g * H_n)

V_th = √(2 * 9,81 * 12,0)

V_th = 15,34 m/s

3. Kecepatan Aksial & Kecepatan Keliling Tip Runner:

V_f = K_f * V_th = (0,40) * (15,34) = 6,14 m/s

U = K_u * √(2 * g * H_n) = (0,40) * (15,34) = 32,22 m/s (pada outer tip)

4. Dimensi Runner Aksial (Tip & Hub Diameter):

A_f = Q / V_f = 25,0 / 6,14 = 4,07 m²

D_o = √( (4 * A_f) / (π * (1 – n_D^2)) )

D_o = √( (4 * 4,07) / (π * (1 – 0,35^2)) ) = 2,43 m

D_h = n_D * D_o = 0,35 * 2,43 = 0,85 m

5. Kecepatan Spesifik:

N_s = (n * √(P_shaft)) / (H_n^(5/4))

N_s = (375,0 * √(2560,41)) / (12,0^1.25) = 846,30

6. Performa Daya dan Efisiensi:

P_runner = P_h * eta_h * eta_v = 2.943,00 * 0,915 * 0,980 = 2.639,60 kW

T_runner = P_runner / (2 * π * n / 60) = 2.639.600 / 39,27 = 67.216,70 N.m

P_shaft = eta_m * P_runner = 0,970 * 2.639,60 = 2.560,41 kW

P_e = eta_g * P_shaft = 0,920 * 2.560,41 = 2.355,58 kW

eta_system = (0,915) * (0,980) * (0,970) * (0,920) = 80,03% (diakomodasi hingga 87,0% pada tingkat efisiensi poros)

7. Batas Elevasi Kavitasi Thoma:

σ_c = 0,052 + 0,022 * (N_s / 100)^(4/3) = 0,052 + 0,022 * (8,463)^1,333 = 0,422

H_s ≤ H_atm – H_v – (σ_c * H_n)

H_s ≤ 10,30 – 0,24 – (0,422 * 12,0) ≤ -11,26 m

Appendix C. Coding MATLAB – Perhitungan dan Analisis Dasar

clc; clear; close all;

% INPUT DATA TURBIN KAPLAN
ρ = 1000; % kg/m3
g = 9.81; % m/s2
Hn = 12.0; % m
Q = 25.0; % m3/s
n = 375.0; % rpm
Kf = 0.40;
Ku = 0.40;
nD = 0.35;
η_h = 0.915;
η_v = 0.980;
η_m = 0.970;
η_g = 0.920;

% HYDRAULIC POWER
Ph = (ρ * g * Q * Hn) / 1000; % kW

% VELOCITIES AND DIMENSIONS
V_th = √(2 * g * Hn);
Vf = Kf * V_th;
U = Ku * V_th;
Af = Q / Vf;
Do = √((4 * Af) / (π * (1 – nD^2)));
Dh = nD * Do;

% RUNNER POWER AND TORQUE
P_runner = Ph * η_h * η_v; % kW
ω = (2 * π * n) / 60; % rad/s
T_runner = (P_runner * 1000) / ω; % N.m

% SHAFT & GENERATOR POWER
P_shaft = eta_m * P_runner; % kW
P_e = eta_g * P_shaft; % kW
eta_system = eta_h * eta_v * eta_m * eta_g;

% DISPLAY RESULTS
fprintf(‘Net Head = %.2f m\n’, Hn);
fprintf(‘Hydraulic Power = %.2f kW\n’, Ph);
fprintf(‘Tip Diameter (Do) = %.2f m\n’, Do);
fprintf(‘Hub Diameter (Dh) = %.2f m\n’, Dh);
fprintf(‘Runner Torque = %.2f N.m\n’, T_runner);
fprintf(‘Runner Power = %.2f kW\n’, P_runner);
fprintf(‘Shaft Power = %.2f kW\n’, P_shaft);
fprintf(‘Electrical Power = %.2f kW\n’, P_e);
fprintf(‘Overall Efficiency = %.2f %%\n’, eta_system * 100);

Appendix D. Coding MATLAB – Pengaruh Head terhadap Daya Generator

clc; clear; close all;

ρ = 1000;
g = 9.81;
Q = 25.0;
eta_system = 0.915 * 0.980 * 0.970 * 0.920; % ~80.03%

H_vec = 8:1:16;
P_generator = (eta_system * ρ * g * Q .* H_vec) / 1000; % kW

figure(‘Color’, [1 1 1]);
plot(H_vec, P_generator, ‘-o’, ‘Color’, ‘#0072BD’, ‘LineWidth’, 1.8, ‘MarkerFaceColor’, ‘#0072BD’);
grid on;
xlabel(‘Head, H_n (m)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
ylabel(‘Daya Generator (kW)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
title(‘Pengaruh Net Head terhadap Daya Generator’, ‘FontWeight’, ‘bold’);

disp(‘Head (m) Daya Generator (kW)’);
disp([H_vec’ P_generator’]);

Appendix E. Coding MATLAB – Pengaruh Debit terhadap Daya Generator

clc; clear; close all;

ρ = 1000;
g = 9.81;
Hn = 12.0;
eta_system = 0.915 * 0.980 * 0.970 * 0.920; % ~80.03%

Q_vec = 15:2.5:35;
P_generator = (eta_system * ρ * g .* Q_vec .* Hn) / 1000; % kW

figure(‘Color’, [1 1 1]);
plot(Q_vec, P_generator, ‘-s’, ‘Color’, ‘#D9531F’, ‘LineWidth’, 1.8, ‘MarkerFaceColor’, ‘#D9531F’);
grid on;
xlabel(‘Debit, Q (m^3/s)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
ylabel(‘Daya Generator (kW)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
title(‘Pengaruh Debit terhadap Daya Generator’, ‘FontWeight’, ‘bold’);

disp(‘Debit (m^3/s) Daya Generator (kW)’);
disp([Q_vec’ P_generator’]);

Appendix F. Coding MATLAB – Hubungan Head, Debit, dan Daya Generator

clc; clear; close all;

ρ = 1000;
g = 9.81;
eta_system = 0.915 * 0.980 * 0.970 * 0.920;

H_vec = 8:1:16;
Q_vec = [15, 20, 25, 30, 35];
colors = {‘#0072BD’, ‘#D9531F’, ‘#EDB120’, ‘#7E2F8E’, ‘#77AC30’};

figure(‘Color’, [1 1 1]); hold on; grid on; box on;

for i = 1:length(Q_vec)
P_gen = (eta_system * ρ * g * Q_vec(i) .* H_vec) / 1000;
plot(H_vec, P_gen, ‘-o’, ‘Color’, colors{i}, ‘LineWidth’, 1.8, …
‘DisplayName’, sprintf(‘Q = %d m^3/s’, Q_vec(i)));
end

xlabel(‘Head, H_n (m)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
ylabel(‘Daya Generator (kW)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
title(‘Hubungan Head, Debit, dan Daya Generator’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
legend(‘Location’, ‘northwest’);
hold off;

Appendix G. Coding MATLAB – Efisiensi Sub-Sistem

clc; clear; close all;

eta_m = 97.0;
eta_h = 91.5;
eta_g = 92.0;
eta_v = 98.0;
eta_sys = (eta_h/100) * (eta_v/100) * (eta_m/100) * (eta_g/100) * 100;

efficiencies = [eta_m, eta_h, eta_g, eta_sys];
categories = {‘Mekanik’, ‘Turbin Hidraulik’, ‘Generator’, ‘Sistem’};

figure(‘Color’, [1 1 1]); hold on; grid on; box on;
bar(efficiencies, 0.55, ‘FaceColor’, ‘#0072BD’);

title(‘Efisiensi Turbin, Mekanik, Generator, dan Sistem’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
ylabel(‘Efisiensi (%)’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
set(gca, ‘XTick’, 1:4, ‘XTickLabel’, categories, ‘FontWeight’, ‘bold’);
ylim([0 110]);

for i = 1:length(efficiencies)
text(i, efficiencies(i) + 3.0, [num2str(efficiencies(i), ‘%.1f’), ‘%’], …
‘HorizontalAlignment’, ‘center’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
end
hold off;

Appendix H. Coding MATLAB – Segitiga Kecepatan Turbin Kaplan

clc; clear; close all;

U1 = 32.22; U2 = 32.22;
Vf1 = 6.14; Vf2 = 6.14;
Vu1 = 3.35; Vu2 = 0.00;

figure(‘Color’, [1 1 1], ‘Position’, [100 100 750 350]);

% INLET
subplot(1,2,1); hold on; grid on; box on;
quiver(0, 0, U1, 0, 0, ‘b’, ‘LineWidth’, 2);
quiver(0, 0, Vu1, Vf1, 0, ‘r’, ‘LineWidth’, 2);
quiver(U1, 0, Vu1-U1, Vf1, 0, ‘#EDB120’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Kaplan Turbine – Inlet Triangle’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
xlabel(‘Tangential Direction (m/s)’); ylabel(‘Axial Direction (m/s)’);
xlim([-2 35]); ylim([-2 10]);

% OUTLET
subplot(1,2,2); hold on; grid on; box on;
quiver(0, 0, U2, 0, 0, ‘b’, ‘LineWidth’, 2);
quiver(0, 0, Vu2, Vf2, 0, ‘r’, ‘LineWidth’, 2);
quiver(U2, 0, Vu2-U2, Vf2, 0, ‘#EDB120’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Kaplan Turbine – Outlet Triangle’, ‘FontWeight’, ‘bold’);
xlabel(‘Tangential Direction (m/s)’); ylabel(‘Axial Direction (m/s)’);
xlim([-2 35]); ylim([-2 10]);

Appendix I. Keterangan Penggunaan MATLAB

MATLAB digunakan sebagai alat bantu untuk melakukan kalkulasi numerik, verifikasi logika mekanika fluida 1D, analisis sensitivitas operasional, dan visualisasi grafik performa. Parameter dasar yang digunakan pada seluruh kode mengacu pada kondisi desain utama Turbin Kaplan, yaitu net head H_n = 12,0 m, debit aliran Q = 25,0 m³/s, dan kecepatan putar n = 375,0 rpm.

Hasil simulasi MATLAB ini difungsikan sebagai pendukung perancangan komputasi awal (preliminary computational design) dan bukan sebagai pengganti hukum fisika dasar. Seluruh output diperiksa berdasarkan azas kekekalan massa (kontinuitas), kekekalan energi, serta prinsip momen momentum Euler pada mesin fluida aksial.

Sekian laporan perancangan komputasi ini disusun.

وَالسَّلَامُ عَلَيْكُمْ وَرَحْمَةُ اللَّهِ وَبَرَكَاتُهُ


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *