ุจูุณูู ู ุงูููููู ุงูุฑููุญูู ููู ุงูุฑููุญููู
ุงูุณูููุงูู ู ุนูููููููู ู ููุฑูุญูู ูุฉู ุงูููู ููุจูุฑูููุงุชููู
Perkenalkan, saya M Gilang Satrio Wijaya (NPM 2406348660), mahasiswa Teknik Mesin. Dalam blog ini, saya mempaparkan laporan Perancangan dan Analisis Turbin Crossflow guna memenuhi Tugas Besar mata kuliah Sistem Konversi Energi sekaligus mengulas penerapannya secara praktis.
A. PROJECT TITLE
Desain Konseptual dan Pemodelan Kinematika Turbin Crossflow Mikrohidro Berlandaskan Kerangka Analisis DAI5
B. AUTHOR COMPLETE NAME
M Gilang Satrio Wijaya (NPM: 2406348660)
C. AFFILIATION
Departemen Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
D. ABSTRACT
Makalah ini menyajikan kajian analitik dan perancangan dimensi fisik turbin impuls aksi ganda (Crossflow) untuk aplikasi Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) di kawasan pedesaan. Berbeda dengan pendekatan trial-and-error konvensional, riset ini mengadopsi metodologi DAI5 secara komprehensif. Basis desain menggunakan parameter hidrologi tipikal sungai lokal, yakni net head 10 m dan debit stabil 0,25 mยณ/s. Konversi energi dievaluasi dari First Principles Termodinamika dan Persamaan Euler. Hasil komputasi numerik mengindikasikan bahwa daya hidraulik 24,52 kW mampu dikonversi menjadi shaft power aktual sebesar 19,41 kW (asumsi efisiensi sistem total 79,13%). Geometri turbin beroperasi optimal pada putaran 300 RPM dengan diameter rotor 41,9 cm dan lebar 43,5 cm. Proporsi (aspect ratio) yang mendekati 1:1 ini terbukti memitigasi risiko defleksi poros dan sangat relevan untuk diproduksi menggunakan fasilitas bengkel fabrikasi menengah di daerah terpencil.
E. AUTHOR DECLARATION
1. Deep Awareness (of) I
Analisis rekayasa (engineering analysis) sejatinya melampaui batas perhitungan matematis semata. Penulis meyakini secara mendalam bahwa keteraturan mekanika fluida, konservasi massa, dan perpindahan momentum merupakan manifestasi mutlak dari hukum alam yang ditetapkan oleh Tuhan Yang Maha Esa. Kesadaran ini (CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan) menjadi fondasi integritas penulis untuk tidak memanipulasi rentang efisiensi desain, menyajikan asumsi operasional secara transparan, dan merancang alat yang menyeimbangkan eksploitasi energi dengan kelestarian ekosistem sungai. Kesadaran tersebut diterapkan dalam beberapa aspek:
- Ketelitian perhitungan, karena kesalahan kecil pada parameter dimensi turbin dapat menghasilkan kesalahan besar pada konversi daya.
- Kejujuran terhadap data, dengan tidak menyatakan nilai efisiensi empiris sebagai efisiensi absolut sistem.
- Tidak memanipulasi hasil untuk membuat performa alat terlihat sempurna di luar nalar mekanika.
- Tanggung jawab terhadap keselamatan operasi.
- Keberlanjutan lingkungan ekosistem sungai pedesaan.
2. Intention of the Project Activity
Tujuan esensial dari tugas besar ini adalah mengaplikasikan teori turbomachinery untuk memecahkan krisis elektrifikasi di wilayah off-grid. Proyek ini diniatkan untuk menghasilkan cetak biru turbin mikrohidro yang tidak hanya akurat secara termodinamika, tetapi juga tangguh secara mekanis, mudah dirawat (low maintenance), dan berorientasi pada kebermanfaatan jangka panjang bagi masyarakat desa. Secara khusus, proyek ini bertujuan untuk:
- Memahami prinsip kerja turbin impuls aksi ganda (Crossflow).
- Menentukan parameter operasional berdasarkan data hidrologi head dan debit pedesaan.
- Menghitung daya hidraulik dan daya mekanik poros.
- Merancang dimensi awal runner (Diameter dan Lebar) yang ideal untuk fabrikasi lokal.
- Menganalisis segitiga kecepatan aliran yang menabrak sudu.
- Mengotomatisasi perhitungan matematis menggunakan MATLAB.
- Melakukan iterasi desain dan analisis sensitivitas kinerja turbin.
- Mengimplementasikan verifikasi berdasarkan metode numerik dan referensi literatur.
- Mengintegrasikan aspek sustainability, kekuatan mekanis, dan etika engineering.
F. INTRODUCTION
1. Background
Infrastruktur energi di pedesaan pegunungan kerap terhambat oleh keterbatasan debit air dan beda elevasi elevasi sungai. Turbin Crossflow, atau turbin Banki-Michell, diakui sebagai mesin fluida yang paling adaptif untuk rentang head rendah-menengah. Mekanisme operasinya terbilang unik: pancaran air menembus sudu-sudu rotor sebanyak dua kali (aliran dari luar ke dalam, lalu melintasi inner cavity, dan keluar dari dalam ke luar). Secara energi, daya hidraulik teoritis yang tersedia dari aliran air dirumuskan sebagai Ph = ฯยทgยทQยทH. Untuk Crossflow, daya ini sangat sensitif terhadap pengaturan nozzle dan kecepatan spesifik mesin.

2. Engineering Problem
Berdasarkan latar belakang tersebut, terdapat parameter kunci yang menentukan keberhasilan konversi energi. Permasalahan engineering yang diselesaikan dalam proyek ini meliputi:
- Bagaimana menentukan efisiensi konversi daya hidraulik dari debit 0,25 mยณ/s dan head 10 m?
- Bagaimana menentukan putaran (RPM) yang paling optimal?
- Bagaimana menghitung rasio diameter luar (D1) dan dalam (D2) rotor?
- Bagaimana menentukan lebar runner (B) agar kecepatan fluida terdistribusi merata?
- Bagaimana menyusun segitiga kecepatan (velocity triangle) pada inlet pertama?
- Bagaimana melakukan iterasi untuk mendapatkan dimensi turbin yang paling tahan terhadap defleksi poros?
- Bagaimana memvalidasi bahwa desain ini fisibel dan masuk akal?
3. Initial Thinking
a. Systematic Problem Analysis
Alur konversi sistem pada Pembangkit Mikrohidro dirumuskan sebagai:
Head Sungai โ Energi Kinetik Nozzle โ Tumbukan Sudu Crossflow โ Shaft Power โ Generator Listrik.
Setiap tahap memiliki kerugian (losses), sehingga Daya Poros < Daya Turbin < Daya Hidraulik.
b. Problem Decomposition
Masalah utama dibagi menjadi elemen analisis berikut:
- Penentuan parameter input lingkungan.
- Analisis konversi daya awal.
- Geometri Nozzle dan ketebalan pancaran air.
- Desain dimensi runner utama.
- Pemodelan analitik MATLAB dan visualisasi fluktuasi debit.
c. Fundamental Principles
Berangkat dari core layer analisis turbomachinery (First Principles), penyelesaian dibangun dari:
- Conservation of Mass (Continuity): Untuk mendapatkan ketebalan aliran jet dan lebar runner.
- Energi Hidraulik: Ph = ฯยทgยทQยทH
- Persamaan Torsi Euler: Energi spesifik yang ditransfer dikendalikan oleh momentum sudut U1ยทVu1 – U2ยทVu2.
d. Root Cause Analysis
Kegagalan pada banyak PLTMH lokal terjadi akibat turbin Crossflow dipaksakan bekerja di luar batas desain kinematikanyaโmisalnya ketiadaan ventilasi udara (air vent) yang membuat rongga dalam kehilangan kondisi tekanan atmosfer (P=1 atm), sehingga turbin “banjir” dan efisiensi jatuh drastis. Faktor penyebab kerugian lain adalah defleksi lentur pada poros jika runner dirancang terlalu lebar dibandingkan diameternya.
e. State of the Art
Desain turbin Crossflow konvensional mengandalkan ukuran coba-coba (trial-and-error). Desain komputasional modern menggunakan simulasi CFD (Computational Fluid Dynamics) untuk melihat fenomena splashing dan hambatan aerodinamis di dalam rongga turbin. Mengingat kompleksitas ini, perancangan analitik 1-Dimensi yang ditunjang optimasi rasio geometri menggunakan komputasi MATLAB menjadi jembatan awal (preliminary design) yang tangguh sebelum pabrikasi.
G. METHODS & PROCEDURES
1. Design Input
Analisis dibangun berdasarkan parameter lingkungan tipikal aliran mikrohidro pedesaan.

| Parameter | Symbol | Nilai | Unit | Status |
| Net head | H | 10 | m | Assumed Design Input |
| Flow rate | Q | 0.25 | mยณ/s | Assumed Design Input |
| Densitas air | ฯ | 1000 | kg/mยณ | Standard assumption |
| Gravitasi | g | 9.81 | m/sยฒ | Standard |
| Rotational speed | N | 300 | rpm | Assumed for iteration |
| Hydraulic efficiency | ฮทh | 0.85 | – | Preliminary assumption |
| Mechanical efficiency | ฮทm | 0.95 | – | Preliminary assumption |
| Volumetric efficiency | ฮทv | 0.98 | – | Preliminary assumption |
| Nozzle coefficient | Cv | 0.98 | – | Crossflow empirical |
| Guide vane angle | ฮฑ1 | 16 | degree | Crossflow empirical |
2. Idealization
Perumusan matematis dibangun di atas asumsi-asumsi ideal berikut:
| Asumsi | Alasan | Pengaruh | Keterbatasan |
| Aliran steady-state inkompresibel | Parameter konstan untuk desain preliminary. | Menyederhanakan kontinuitas debit masuk & keluar. | Tidak menangkap efek transient seperti water hammer. |
| Penurunan tekanan 100% di nozzle | Karakteristik murni dari turbin impuls. | Tidak ada beda tekanan melintasi sudu turbin. | Rongga turbin harus dijaga selalu 1 atm melalui air vent. |
| Kontribusi dominan pada stage 1 | Transfer energi dari tumbukan tahap 1 mencapai 70-80%. | Evaluasi segitiga kecepatan difokuskan pada jet masuk pertama. | Mengabaikan analisis detail interaksi turbulen di dalam rongga. |
| Efisiensi dianggap tetap | Menyederhanakan penentuan dimensi awal poros. | Profil kinerja diukur linier terhadap debit. | Di lapangan, efisiensi menurun tajam di bawah beban 20%. |
3. Fundamental Equations a. Hydraulic Power & Shaft Power
Ph = ฯยทgยทQยทH Ps = ฮทoยทPh (dimana ฮทo = ฮทh ยท ฮทm ยท ฮทv)
b. Dimensi Utama Turbin
Kecepatan jet absolut: V1 = Cvยทโ(2ยทgยทH) Kecepatan keliling ideal: U1 = 0.48ยทV1 Diameter luar runner: D1 = (60ยทU1) / (ฯยทN) Tebal jet masuk: S0 = 0.1ยทD1 Lebar runner: B = Q / (S0ยทV1)
4. Instruction (Set) dan Otomatisasi Perhitungan
Tahapan desain diotomatisasi menggunakan MATLAB untuk menghindari human error. Parameter masuk berupa H = 10 m dan Q = 0.25 m3/s pada putaran 300 RPM.
%% BAGIAN 1: INISIALISASI & PERHITUNGAN DASAR TURBIN CROSSFLOW (PEDESAAN)
% 1. Design Input
H = 10; % Net head (m)
Q = 0.25; % Flow rate (m^3/s)
N = 300; % Rotational speed (rpm)
rho = 1000; % Densitas air (kg/m^3)
g = 9.81; % Gravitasi (m/s^2)
% Asumsi Efisiensi & Koefisien
eta_h = 0.85; % Hydraulic eff
eta_m = 0.95; % Mechanical eff
eta_v = 0.98; % Volumetric eff
Cv = 0.98; % Koefisien Nozzle
alpha1_deg = 16; % Guide vane angle absolut
% 2. Perhitungan Daya
eta_o = eta_h * eta_m * eta_v;
Ph_kW = (rho * g * Q * H) / 1000;
Ps_kW = eta_o * Ph_kW;
omega = (2 * pi * N) / 60;
% 3. Perhitungan Dimensi & Kinematika Awal
V1 = Cv * sqrt(2 * g * H); % Kecepatan jet (m/s)
U1 = 0.48 * V1; % Kecepatan keliling ideal
D1 = (60 * U1) / (pi * N); % Diameter luar (m)
D2 = 0.66 * D1; % Diameter dalam (m)
S0 = 0.1 * D1; % Tebal pancaran (m)
B = Q / (S0 * V1); % Lebar runner (m)
5. Design Iteration
%% BAGIAN 5: DESIGN ITERATION (ITERASI DESAIN)
% Tujuan: Mencari nilai putaran (RPM) yang menghasilkan dimensi D1 dan B
% dengan rasio (B/D1) yang proporsional (mendekati 1) agar poros tidak rentan defleksi.
% Parameter tetap dari Design Input
H_iter = 10;
Q_iter = 0.25;
g_iter = 9.81;
Cv_iter = 0.98;
% Kecepatan pancaran absolut & keliling ideal (tetap karena Head tetap)
V1_iter = Cv_iter * sqrt(2 * g_iter * H_iter);
U1_iter = 0.48 * V1_iter;
% Rentang iterasi putaran (N) dari 150 RPM hingga 500 RPM (kelipatan 50)
N_iter = 150:50:500;
% Alokasi array untuk plotting
D1_iter = zeros(1, length(N_iter));
B_iter = zeros(1, length(N_iter));
Ratio_iter = zeros(1, length(N_iter));
Status = strings(1, length(N_iter));
% Cetak Header Tabel Iterasi
fprintf(‘\n————————————————————————-\n’);
fprintf(‘ Iterasi | N (RPM) | D1 (m) | Lebar B (m) | Rasio (B/D1) | Status\n’);
fprintf(‘————————————————————————-\n’);
% Loop Iterasi
for i = 1:length(N_iter)
N_val = N_iter(i);
% Hitung Dimensi
D1_val = (60 * U1_iter) / (pi * N_val);
S0_val = 0.1 * D1_val;
B_val = Q_iter / (S0_val * V1_iter);
% Hitung Rasio B / D1
ratio_val = B_val / D1_val;
% Simpan ke array untuk plotting grafik
D1_iter(i) = D1_val;
B_iter(i) = B_val;
Ratio_iter(i) = ratio_val;
% Tentukan kelayakan (Constraint: Rasio B/D1 antara 0.8 hingga 1.5)
if ratio_val >= 0.8 && ratio_val <= 1.5
Status(i) = "Lolos";
else
Status(i) = "Tidak Lolos";
end
% Cetak baris tabel
fprintf(' %7d | %7d | %6.3f | %11.3f | %12.2f | %s\n', ...
i, N_val, D1_val, B_val, ratio_val, Status(i));
end
fprintf(‘————————————————————————-\n\n’);
% Plotting hasil iterasi
figure(6);
plot(N_iter, D1_iter, ‘b-o’, N_iter, B_iter, ‘r-s’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Iterasi Desain: Pengaruh RPM terhadap Diameter (D1) dan Lebar (B)’);
xlabel(‘Kecepatan Putar, N (RPM)’);
ylabel(‘Dimensi (meter)’);
legend(‘Diameter Luar (D1)’, ‘Lebar Runner (B)’, ‘Location’, ‘northeast’);
grid on;

Proses penentuan dimensi memerlukan pemilihan N (RPM) yang tepat. RPM yang terlalu tinggi memperkecil diameter (D1) dan memperlebar turbin (B), yang berisiko pada kegagalan defleksi poros tengah. Target iterasi adalah mendekati aspek rasio D1 : B sekitar 1:1. Hasil komputasi manual/MATLAB menunjukkan bahwa 300 RPM adalah rentang paling optimal untuk profil mesin yang kuat.
6. Error Checking and Validation
Proses validasi dilakukan dengan mengecek kesesuaian satuan metrik (SI), verifikasi konservasi massa (dimana nilai Q dari nozzle sesuai dengan kapasitas tangkapan rongga runner), serta pengujian termodinamika dasar (Pshaft < Phydraulic). Keseluruhan angka di dalam script sudah diverifikasi melalui perhitungan aljabar konvensional.
H. RESULTS AND DISCUSSION
1. Sizing dan Kinematika Desain Final
Eksekusi dari perhitungan analitis menghasilkan geometri turbin yang sangat optimal untuk fabrikasi lokal. Dengan dimensi D1=0,419m dan lebar B=0,435m, rasio profil runner mendekati 1:1. Profil ini secara mekanika struktur sangat kokoh dan efektif mendistribusikan beban torsi merata di sepanjang poros, mencegah defleksi yang kerap mematahkan bantalan (bearing) pada turbin yang terlalu lebar. Kecepatan jet absolut masuk (V1) tercatat 13,73 m/s. Dengan memasukkan sudut katup pengarah (ฮฑ1 = 16ยฐ), penguraian Euler Triangle membuktikan bahwa vektor aliran menabrak kelengkungan sudu secara tangent.

2. Velocity Triangle Results
Tabel Parameter Segitiga Kecepatan (Velocity Triangle)
| Parameter | Simbol | Inlet Tahap 1 (Masuk) | Outlet Tahap 2 (Keluar) | Unit | Keterangan |
| Kecepatan Absolut | V | 13.73 | 3.78 | m/s | V1 berasal dari nozzle, V2 idealnya sisa energi vertikal terendah. |
| Kecepatan Keliling | U | 6.59 | 6.59 | m/s | Kecepatan tangensial di diameter luar (D1). |
| Kecepatan Pendorong | Vu | 13.19 | ~ 0.00 | m/s | Vu1 memutar poros, Vu2 diasumsikan nol (0) untuk efisiensi maksimum. |
| Kecepatan Meridional | Vr / Vf | 3.78 | 3.78 | m/s | Kecepatan aliran tembus melintasi sudu. |
| Kecepatan Relatif | W | 7.60 | 7.60 | m/s | Kecepatan air relatif terhadap sudu yang berputar. |
| Sudut Pancar/Aliran | ฮฑ (Alpha) | 16ยฐ | 90ยฐ | degree | Air masuk 16ยฐ, air keluar diasumsikan tegak lurus (jatuh). |
| Sudut Sudu | ฮฒ (Beta) | 30ยฐ | 30ยฐ | degree | Sudut geometri sudu yang difabrikasi. |


Komponen pendorong turbin (Vu1) yang sangat tinggi (13.19 m/s dari 13.73 m/s) mengonfirmasi sifat turbin ini sebagai mesin impuls sejati.
3. Visualisasi Kurva Kinerja
Karakteristik kinerja diuji secara komputasional terhadap fluktuasi debit air (fenomena umum sungai saat kemarau/hujan) dan variasi RPM.
%% BAGIAN 2: PLOTTING GRAFIK KINERJA
Q_range = 0.1:0.05:0.4; % Fluktuasi debit m^3/s
Ph_range = (rho .* g .* Q_range .* H) ./ 1000;
Ps_range = eta_o .* Ph_range;
figure(1);
plot(Q_range, Ph_range, ‘b-o’, Q_range, Ps_range, ‘r-s’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Grafik Performa: Daya vs Debit Air (Head = 10m)’);
xlabel(‘Debit Air (m^3/s)’); ylabel(‘Daya (kW)’);
legend(‘Daya Hidraulik (P_h)’, ‘Daya Poros (P_s)’, ‘Location’, ‘northwest’);
grid on;

Interpretasi Fisik: Kurva Daya vs Debit menunjukkan linearitas positif. Karena menggunakan katup pengarah yang adjustable, turbin Crossflow dapat menahan efisiensi tetap tinggi meski debit turun hingga 0,1 mยณ/s (daya menyesuaikan menjadi 7,8 kW). Hal ini membuktikan keandalan sistem saat beroperasi di musim kemarau.
%% BAGIAN 3: PLOTTING GRAFIK TORSI VS DEBIT
% Omega sudah dihitung sebelumnya: omega = (2 * pi * N) / 60;
% Ps_range dalam kW, sehingga dikalikan 1000 untuk menjadi Watt
T_range = (Ps_range .* 1000) ./ omega; % Torsi (N.m)
figure(2);
plot(Q_range, T_range, ‘m-^’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Grafik Performa: Torsi vs Debit Air (Head = 10m, N = 300 RPM)’);
xlabel(‘Debit Air (m^3/s)’);
ylabel(‘Torsi Poros (N.m)’);
grid on;

Hubungan Torsi vs Debit Air: Torsi poros (Ts = Ps / ฯ) menunjukkan hubungan yang linier positif terhadap fluktuasi debit air. Pada putaran konstan 300 RPM, peningkatan debit air yang menabrak sudu akan secara langsung memperbesar gaya dorong (F) pada radius turbin, sehingga menghasilkan torsi mekanik yang lebih besar untuk memutar beban generator.
4. Performance Analysis
- Hydraulic Power: 24.52 kW merupakan batas potensial maksimal alam dari aliran 0,25 mยณ/s pada beda ketinggian 10 m.
- Overall Efficiency: Evaluasi efisiensi total alat (hidraulik, volumetrik, dan mekanis) bernilai 79,13%. Ini realistis untuk kelas Crossflow lokal yang rentang normalnya berkisar 75-82%.
- Shaft Power (Actual): Terkalkulasi sebesar 19.41 kW. Nilai ini menjadi energi mekanis final yang akan memutar generator, sudah memperhitungkan energi yang terbuang akibat percikan, gesekan bantalan, dan kebocoran sisi (side clearance leakage).
5. Sensitivity Analysis
%% BAGIAN 4: ANALISIS SENSITIVITAS (SENSITIVITY ANALYSIS)
% Pastikan variabel dasar dari Bagian 1 sudah dijalankan sebelumnya.
% Simpan nilai desain dasar (Design Point)
H_base = 10; % Head nominal (m)
Q_base = 0.25; % Debit nominal (m^3/s)
eta_h_base = 0.85; % Asumsi efisiensi hidraulik nominal (85%)
% ———————————————————
% 1. SENSITIVITAS TERHADAP HYDRAULIC EFFICIENCY (eta_h)
% ———————————————————
eta_h_range = 0.70:0.02:0.95; % Variasi efisiensi hidraulik dari 70% hingga 95%
Ps_eta_h = (eta_h_range .* eta_m .* eta_v) .* (rho * g * Q_base * H_base) / 1000;
figure(3);
plot(eta_h_range * 100, Ps_eta_h, ‘g-o’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Sensitivitas Daya Poros terhadap Efisiensi Hidraulik (Head 10m, Q 0.25 m^3/s)’);
xlabel(‘Efisiensi Hidraulik (%)’);
ylabel(‘Daya Poros (kW)’);
grid on;
% ———————————————————
% 2. SENSITIVITAS TERHADAP NET HEAD (H)
% ———————————————————
H_range = 5:1:15; % Variasi head dari 5 m hingga 15 m
Ps_H = (eta_h_base * eta_m * eta_v) .* (rho * g * Q_base .* H_range) / 1000;
figure(4);
plot(H_range, Ps_H, ‘b-s’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Sensitivitas Daya Poros terhadap Net Head (Q 0.25 m^3/s, \eta_h 85%)’);
xlabel(‘Net Head (m)’);
ylabel(‘Daya Poros (kW)’);
grid on;
% ———————————————————
% 3. SENSITIVITAS TERHADAP FLOW RATE (Q)
% ———————————————————
Q_sens_range = 0.1:0.05:0.4; % Variasi debit dari 0.1 hingga 0.4 m^3/s
Ps_Q = (eta_h_base * eta_m * eta_v) .* (rho * g .* Q_sens_range * H_base) / 1000;
figure(5);
plot(Q_sens_range, Ps_Q, ‘r-^’, ‘LineWidth’, 2);
title(‘Sensitivitas Daya Poros terhadap Debit Air (Head 10m, \eta_h 85%)’);
xlabel(‘Debit Air (m^3/s)’);
ylabel(‘Daya Poros (kW)’);
grid on;

Analisis ini menggunakan asumsi Head = 10 m dan Q = 0,25 mยณ/s secara konstan.
| Efisiensi Hidraulik (ฮทh) | Daya Poros (Ps) |
| 75% | 17.12 kW |
| 80% | 18.27 kW |
| 85% (Design Point) | 19.41 kW |
| 90% | 20.55 kW |
| 95% | 21.69 kW |

Analisis ini menggunakan asumsi Debit Q = 0,25 mยณ/s dan Efisiensi Hidraulik = 85% secara konstan.
| Net Head (H) | Daya Poros (Ps) |
| 6 m | 11.64 kW |
| 8 m | 15.53 kW |
| 10 m (Design Point) | 19.41 kW |
| 12 m | 23.29 kW |
| 14 m | 27.17 kW |

Turbin beroperasi dalam fluktuasi lingkungan. Berikut merupakan analisis sensitivitas Daya Poros (Ps) terhadap variasi debit masuk (saat efisiensi konstan).
| Debit Air (Q) | Shaft Power (Ps) | Status Lingkungan |
| 0.10 mยณ/s | 7.76 kW | Kemarau ekstrem |
| 0.15 mยณ/s | 11.64 kW | Kemarau biasa |
| 0.25 mยณ/s | 19.41 kW | Design Point |
| 0.35 mยณ/s | 27.17 kW | Musim hujan |
6. Limitations
Dalam spirit perancangan yang transparan, limitasi permodelan ini antara lain:
- Analisis 1-Dimensi: Formulasi masih mengasumsikan aliran stasioner, belum mampu menangkap distribusi medan tekanan 3-Dimensi secara spesifik.
- Ketiadaan CFD: Simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) belum disertakan, sehingga visualisasi percikan silang dan efek air sisa (residual water) di dalam rongga turbin belum terefleksi dalam analisis losses.
- Stress Analysis: Evaluasi ketahanan poros utama dan las-lasan sudu (fatigue analysis) terhadap tumbukan impuls jet belum disimulasikan. Makalah ini merupakan fase preliminary kinematic design.
I. CONCLUSION, CLOSING REMARKS, RECOMMENDATIONS
Conclusion
Berdasarkan pendekatan idealisasi metodologi DAI5, desain turbin impuls Crossflow untuk aplikasi mikrohidro pedesaan (H=10m, Q=0,25m3/s) terbukti sangat feasible. Desain berputar pada 300 RPM menghasilkan shaft power aktual sebesar 19,41 kW. Dimensi luar 41,9 cm dan lebar 43,5 cm memastikan kemudahan fabrikasi lokal dengan kekuatan struktur yang tinggi, membebaskan masyarakat desa dari keharusan merawat sudu asimetris kompleks. Pembangkit ini diperkirakan mampu melistriki kurang lebih 40 rumah warga dengan daya standar.
Recommendations Diperlukan validasi komputasi dinamika fluida (CFD) untuk menganalisis efek tumbukan air kotor pada sudu, serta investigasi pemilihan material plat baja (stainless SUS304 vs Carbon Steel) terhadap laju abrasi sedimentasi sungai.
Closing Remarks Turbomachinery adalah bukti nyata bahwa keteraturan hukum fisika (First Principles) dapat diekstraksi demi kebermanfaatan umat manusia. Perancangan turbin ini merepresentasikan keseimbangan antara ketajaman analisis engineering murni dan kesadaran holistik atas tanggung jawab insinyur terhadap kemandirian energi masyarakat terpencil.
J. ACKNOWLEDGMENTS
Rasa syukur diucapkan kepada Tuhan Yang Maha Esa atas anugerah rasio logis dalam merampungkan perancangan turbin ini. Terima kasih kepada dosen pembimbing SKE serta seluruh literatur terbuka yang mendorong lahirnya solusi desain pro-keberlanjutan sosial.
K. REFERENCES / LITERATURE CITED
รengel, Y. A., & Cimbala, J. M. (2020). Fluid mechanics: Fundamentals and applications (4th ed., SI units). McGraw-Hill Education.
Dixon, S. L., & Hall, C. A. (2014). Fluid mechanics and thermodynamics of turbomachinery (7th ed.). Butterworth-Heinemann.
Dwiyanto, V., Kusumastuti, D. I., & Tugiono, S. (2016). Analisis Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) Studi Kasus: Sungai Air Anak (Hulu Sungai Way Besai). Jurnal Rekayasa Sipil dan Desain (JRSDD), 4(3), 407-422.
Khosrowpanah, S., Fiuzat, A. A., & Albertson, M. L. (1988). Experimental study of cross-flow turbine. Journal of Hydraulic Engineering, 114(3), 299-314.
Putra, I. G. W., Weking, A. I., & Jasa, L. (2018). Analisa Pengaruh Tekanan Air Terhadap Kinerja PLTMH dengan Menggunakan Turbin Archimedes Screw. Majalah Ilmiah Teknologi Elektro, 17(3), 385-392.
Sinagra, M., Sammartano, V., Aricรฒ, C., Collura, A., & Tucciarelli, T. (2014). Cross-Flow turbine design for variable operating conditions. Procedia Engineering, 70, 1539-1548.
Sofyan, M., & Sudana, I. M. (2022). Analisis potensi pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) berdasarkan debit air dan kebutuhan energi listrik. Jurnal Listrik, Instrumentasi, dan Elektronika Terapan (JuLIET), 3(2), 31-38.
Sukamta, S., & Kusmantoro, A. (2013). Perencanaan pembangkit listrik tenaga mikro hidro (PLTMH) Jantur Tabalas Kalimantan Timur. Jurnal Teknik Elektro Unnes, 5(2), 133843.
L. APPENDICES Appendix A โ Detailed Manual Calculations
- Hydraulic Power: Ph = ฯยทgยทQยทH = 1000ยท9.81ยท0.25ยท10 = 24,525 W = 24.52 kW
- Overall Efficiency: ฮทo = 0.85ยท0.95ยท0.98 = 0.79135 (79.135%)
- Shaft Power: Ps = Phยทฮทo = 24.525ยท0.79135 = 19.41 kW
- Kinematics & Dimension (at N = 300 rpm): V1 = 0.98ยทโ(2ยท9.81ยท10) = 13.73 m/s U1 = 0.48ยท13.73 = 6.59 m/s D1 = (60ยท6.59) / (ฯยท300) = 0.419 m (41.9 cm) D2 = 0.66ยท0.419 = 0.277 m (27.7 cm) S0 = 0.1ยท0.419 = 0.0419 m B = 0.25 / (0.0419ยท13.73) = 0.435 m (43.5 cm)
- Kecepatan Sudut (Angular Velocity): ฯ = (2ยทฯยทN) / 60 = (2 ยท 3.1416 ยท 300) / 60 = 31.42 rad/s
- Torsi Poros (Shaft Torque): Ts = (Ps ยท 1000) / ฯ = (19.41 ยท 1000) / 31.42 = 617.76 Nยทm
- Segitiga Kecepatan Inlet (Tahap 1): Berdasarkan parameter empiris ฮฑ1 = 16ยฐ dan perhitungan V1 = 13.73 m/s serta U1 = 6.59 m/s. Kecepatan Pendorong (Tangensial): Vu1 = V1 ยท cos(ฮฑ1) = 13.73 ยท cos(16ยฐ) = 13.19 m/s Kecepatan Meridional (Radial): Vr1 = V1 ยท sin(ฮฑ1) = 13.73 ยท sin(16ยฐ) = 3.78 m/s Kecepatan Relatif (W1): W1 = โ((Vu1 – U1)ยฒ + Vr1ยฒ) = โ((13.19 – 6.59)ยฒ + 3.78ยฒ) = 7.60 m/s Sudut Sudu Masuk (ฮฒ1): ฮฒ1 = atan(Vr1 / (Vu1 – U1)) = atan(3.78 / 6.60) = 29.7ยฐ โ 30ยฐ
- Segitiga Kecepatan Outlet (Tahap 2 – Asumsi Ideal): Dengan asumsi aliran keluar tegak lurus untuk meminimalkan sisa energi kinetik (Vu2 = 0) dan kesinambungan aliran (Vr2 = Vr1). Kecepatan Pendorong Keluar: Vu2 = 0 m/s Kecepatan Absolut Keluar: V2 = Vr2 = 3.78 m/s Sudut Aliran Keluar (ฮฑ2): 90ยฐ (karena jatuh tegak lurus) Kecepatan Relatif Keluar (W2): W2 = โ(U2ยฒ + Vr2ยฒ) = โ(6.59ยฒ + 3.78ยฒ) = 7.60 m/s Sudut Sudu Keluar (ฮฒ2): ฮฒ2 = atan(Vr2 / U2) = atan(3.78 / 6.59) = 29.8ยฐ โ 30ยฐ
Appendix B โ DAI5 Evaluation Matrix
| No. | Kriteria DAI5 | Implementasi dalam Laporan Turbin Crossflow |
| 1 | Consciousness of Purpose | Bagian E.1 (Deep Awareness) – Kesadaran akan hukum fisika sebagai ketetapan Tuhan |
| 2 | Self-awareness | Bagian E.1 – Refleksi tanggung jawab insinyur terhadap kelestarian ekosistem sungai |
| 3 | Ethical Considerations | Bagian E.1 – Kejujuran menyajikan asumsi dan tidak memanipulasi rentang efisiensi desain |
| 4 | Integration of CCIT | Bagian E.1 – Implementasi Cara Cerdas Ingat Tuhan dalam niat kebermanfaatan jangka panjang |
| 5 | Critical Reflection | Bagian H.6 (Limitations) – Pengakuan batas model 1D, asumsi tunak, dan ketiadaan CFD |
| 6 | Continuum of Awareness | Bagian I (Closing Remarks) – Keseimbangan analisis teknis murni & kesadaran sosial energi |
| 7 | Clarity of Intent | Bagian E.2 (Intention) – Poin-poin spesifik tujuan perancangan dan solusi elektrifikasi off-grid |
| 8 | Alignment of Objectives | Keselarasan antara Abstract, Intention (E.2), dan penyelesaian menggunakan MATLAB (G.4) |
| 9 | Relevance of Intent | Bagian H.1 – Geometri turbin dirancang khusus untuk kemudahan fasilitas bengkel lokal |
| 10 | Sustainability Focus | Aplikasi untuk Pembangkit Listrik Tenaga Mikrohidro (PLTMH) yang renewable dan ramah lingkungan |
| 11 | Focus on Quality | Bagian G.6 (Error Checking) – Pengecekan konsistensi daya teoritis vs aktual |
| 12 | Problem Understanding | Bagian F.2 (Engineering Problem) – Pemecahan masalah spesifik debit rendah & head 10 m |
| 13 | Stakeholder Awareness | Berorientasi pada masyarakat desa (skala mikrohidro ยฑ40 rumah) dan kemudahan maintenance |
| 14 | Contextual Analysis | Bagian F.3 (Systematic Problem Analysis) – Mempertimbangkan ketiadaan ventilasi udara (air vent) |
| 15 | Root Cause Analysis | Bagian F.3.d (Root Cause Analysis) – Analisis penyebab efisiensi anjlok akibat sudu “banjir” |
| 16 | Relevance of Analysis | Bagian H.3 & H.5 – Evaluasi parameter kinerja aktual vs fluktuasi debit musim kemarau |
| 17 | Use of Data and Evidence | Penggunaan parameter ฮฑ1 = 16ยฐ dari studi empiris Banki-Michell klasik |
| 18 | Assumption Clarity | Bagian G.1 (Design Input) & G.2 (Idealization) – Tabel asumsi operasional & idealisasi gas/fluida |
| 19 | Creativity and Innovation | Bagian G.4 – Otomatisasi perhitungan numerik matriks kinerja menggunakan skrip MATLAB |
| 20 | Physical Realism | Bagian H.1 – Proporsi rasio D/B mendekati 1:1 untuk mencegah defleksi poros dan menjaga kekakuan statis |
| 21 | Alignment with Intent | Dimensi akhir yang dihasilkan sangat aplikatif untuk teknik manufaktur menengah (D=41,9 cm) |
| 22 | Scalability and Adaptability | Bagian G.5 (Design Iteration) – Penyesuaian nilai parameter kecepatan RPM mencari rasio dimensi solid |
| 23 | Simplicity and Elegance | Reduksi dinamika fluida kompleks ke kerangka 1D termodinamika First Principles |
| 24 | Clarity of Steps | Susunan runut metode mulai dari perumusan awal, idealisasi, matematika dasar hingga implementasi komputasi |
| 25 | Comprehensiveness | Penggabungan narasi rekayasa (A-I), kode perhitungan komputasi, dan rekap manual numerik |
| 26 | Physical Interpretation | Bagian H.3 (Interpretasi Fisik) – Pemaknaan realitas fisik dari tren grafik daya hidraulik dan poros |
| 27 | Error Minimization | Inspeksi ulang (validasi) terhadap unit metrik perhitungan manual (Lampiran A) vs algoritma di MATLAB |
| 28 | Verification and Validation | Komparasi perhitungan limit daya fisika bahwa energi tidak diciptakan (Ph > Ps) |
| 29 | Iterative Approach | Mencari rasio geometri aman dan efisiensi melalui uji putaran 300 RPM |
| 30 | Sustainability Integration | Rekomendasi tambahan kajian tingkat korosi dan sifat mekanik pelat SUS304 di Bagian Recommendations |
| 31 | Communication Effectiveness | Optimalisasi format tabel dan penjelasan terstruktur parameter analisis velocity triangle |
| 32 | Alignment with DAI5 | Kesesuaian menyeluruh dengan struktur baku laporan 15 bab (A-L) kerangka evaluasi Sistem Konversi Energi |
| 33 | Documentation Quality | Pelengkapan bab Daftar Pustaka dan Lampiran secara komprehensif |
Appendix C โ Final Design Summary
| Parameter | Final Value | Unit |
| Head | 10 | m |
| Flow rate | 0.25 | mยณ/s |
| Rotational speed | 300 | rpm |
| Hydraulic power | 24.52 | kW |
| Overall efficiency | 79.13 | % |
| Shaft power | 19.41 | kW |
| Runner outer diameter (D1) | 0.419 | m |
| Runner inner diameter (D2) | 0.277 | m |
| Runner width (B) | 0.435 | m |
| Inlet jet absolute velocity | 13.73 | m/s |
| Design status | Preliminary design โ feasible under stated assumptions |
Sekian Laporan saya mengenai turbin crossflow yang Insya Allah berguna dalam mempelajari sistem konversi energi. Mohon maaf apabila ada kesalahan penulisan maupun perhitungan.
ููุงูุณููููุงู ู ุนูููููููู ู ููุฑูุญูู ูุฉู ุงูููููู ููุจูุฑูููุงุชููู