Simulasi yang Anda lakukan merupakan simulasi numerik kebakaran ruang tertutup (compartment fire simulation) yang bertujuan untuk menganalisis perkembangan distribusi temperatur, plume panas, serta pembentukan upper hot layer menggunakan dua pendekatan numerik berbeda, yaitu pendekatan Computational Fluid Dynamics (CFD) menggunakan OpenFOAM dengan solver fireFoam dan pendekatan two-zone model menggunakan CFAST.
1. Konsep Umum Simulasi
Kebakaran dalam ruang tertutup merupakan fenomena termofluida kompleks yang melibatkan interaksi simultan antara:
- pembakaran,
- perpindahan panas,
- aliran fluida panas,
- turbulensi,
- pembentukan asap,
- serta distribusi temperatur terhadap waktu.
Pada kondisi enclosure tertutup, panas hasil pembakaran tidak dapat langsung terdisipasi ke lingkungan luar sehingga terjadi:
akumulasi energi termal
di dalam ruangan.
Akumulasi panas tersebut menyebabkan terbentuknya:
- thermal plume,
- upper hot layer,
- thermal stratification,
- dan peningkatan temperatur enclosure.
2. Fenomena Yang Diamati Pada Simulasi
Penelitian ini secara khusus mengamati:
| Fenomena | Fungsi Analisis |
|---|---|
| Distribusi temperatur | penyebaran temperatur dalam enclosure |
| Thermal plume | pergerakan gas panas |
| Upper hot layer | akumulasi gas panas di atas |
| Thermal stratification | pelapisan temperatur |
| Heat transfer | perpindahan panas |
| Buoyancy flow | aliran akibat beda densitas |
| Fire growth | perkembangan kebakaran |
3. Proses Fisik Kebakaran Dalam Simulasi
Tahap 1 โ Ignition
Simulasi dimulai dari penyalaan bahan bakar methane (CHโ).
Reaksi pembakaran methane:
CH4โ+2O2โโCO2โ+2H2โO+Heat
Reaksi ini menghasilkan:
- energi panas,
- gas hasil pembakaran,
- dan plume panas.
4. Heat Release Rate (HRR)
Panas yang dihasilkan api direpresentasikan sebagai:
Heat Release Rate
atau HRR.
Secara termodinamika:
Qหโ=mหฮHcโ
Keterangan:
- Qหโ = heat release rate
- mห = laju pembakaran bahan bakar
- ฮHcโ = heat of combustion methane
Pada simulasi ini methane memiliki:
ฮHc โ 50000 kJ/kg
Energi panas inilah yang menyebabkan temperatur enclosure meningkat terhadap waktu.
5. Pembentukan Thermal Plume
Gas hasil pembakaran memiliki temperatur lebih tinggi dibanding udara sekitar.
Akibat temperatur tinggi:
- densitas gas menurun,
- gas menjadi lebih ringan,
- lalu bergerak naik akibat buoyancy.
Hubungan buoyancy terhadap temperatur:
Fbโโgฮฒ(TโTโโ)
Keterangan:
- Fbโ = gaya buoyancy
- g = gravitasi
- ฮฒ = koefisien ekspansi termal
- T = temperatur gas panas
- Tโโ = temperatur lingkungan
Fenomena ini menyebabkan terbentuknya:
thermal plume
yang bergerak vertikal menuju bagian atas enclosure.
6. Distribusi Temperatur
Distribusi temperatur menunjukkan bagaimana temperatur menyebar di seluruh enclosure selama simulasi berlangsung.
Pada awal simulasi:
- temperatur tinggi hanya berada di sekitar sumber api.
Seiring bertambahnya waktu:
- plume berkembang,
- temperatur upper enclosure meningkat,
- terbentuk thermal stratification.
Distribusi temperatur dipengaruhi oleh:

| Mekanisme | Pengaruh |
|---|---|
| Konveksi | membawa panas bersama plume |
| Radiasi | memanaskan enclosure |
| Konduksi | perpindahan panas ke boundary |