ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | CFDSOF | VisualFOAM | 8N8 | DAI5 eBook Free Download |

C2_2406486806_Briyan Hadi Wiryawan_Metode Numerik-04_Laporan Hasil Belajar

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ูย 
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat Pagi, Siang dan Sore Prof. Dai dan teman-teman sekalian.
Selama saya belajar menggunakan AI DAI5 ini, banyak yang saya dapat pelajari, terutama menggunakan framework dari DAI5 itu sendiri. Contohnya seperti berikut:

  1. Deep Awareness of I

Pada tahap ini, saya belajar untuk mengenali motivasi batin sebelum memulai proyek. Saya tidak hanya bertanya “apa yang ingin saya buat?”, tetapi lebih dalam lagi, “mengapa saya membuat ini?” dan “untuk siapa?”. Dalam proyek filtrasi oli bekas kapal ini, saya menulis jurnal refleksi tentang hubungan saya dengan laut dan perasaan saya ketika melihat nelayan membuang oli ke laut. Saya juga berdiskusi dengan teman-teman mengenai tanggung jawab moral dan spiritual dalam menjaga lingkungan laut, serta menonton video dokumenter tentang pencemaran laut. Hasilnya, saya memiliki kesadaran emosional dan spiritual yang kuat sebagai fondasi proyek. Saya tidak merasa terpaksa mengerjakan proyek ini, tetapi benar-benar terpanggil.

  1. Intention

Pada tahap intention, saya belajar merumuskan niat secara sadar, spesifik, dan terukur. Niat ini menjadi kompas yang mengarahkan setiap keputusan teknis saya selama proyek berlangsung. Saya berlatih menulis intention statement dengan format: “Saya berniat untuk [tujuan] karena [alasan moral/spiritual] dengan batasan [parameter keberhasilan]”. Sebagai contoh, saya tidak hanya berkata “saya ingin membuat alat filtrasi”, tetapi saya rumuskan secara sadar: “Saya berniat merancang alat filtrasi oli bekas yang murah, yaitu di bawah Rp500.000, dan tanpa listrik, agar nelayan miskin dapat menggunakannya sendiri”. Saya pun mempresentasikan niat ini di depan teman dan dosen untuk mendapatkan umpan balik. Hasilnya, saya memiliki tujuan yang jelas sejak awal, dan setiap keputusan teknis selalu saya uji dengan pertanyaan: “Apakah ini sesuai dengan niat saya?”.

  1. Initial Thinking about the Problem

Pada tahap ini, saya belajar menganalisis masalah secara utuh, tidak hanya dari sisi teknis tetapi juga sosial, ekonomi, dan lingkungan. Saya juga belajar mengidentifikasi semua pihak yang terdampak. Dalam proyek ini, saya melakukan wawancara sederhana dengan dua hingga tiga nelayan di Tempat Pelelangan Ikan untuk menggali seberapa sering mereka mengganti oli, apa yang biasa mereka lakukan dengan oli bekas, berapa harga oli baru, dan apakah mereka bersedia mencoba alat filtrasi. Saya juga membuat peta masalah atau problem tree, yang menunjukkan bahwa biaya oli baru yang mahal menyebabkan nelayan menggunakan oli bekas tanpa filtrasi, sehingga mesin cepat rusak dan oli dibuang ke laut, yang berdampak pada polusi laut, kematian biota, dan penurunan pendapatan nelayan. Hasil dari tahap ini adalah saya memahami bahwa masalah teknik tidak pernah berdiri sendiri, dan saya memiliki data lapangan yang nyata, bukan sekadar asumsi.

  1. Idealization

Pada tahap idealization, saya belajar untuk membayangkan solusi ideal terlebih dahulu sebelum dibatasi oleh realitas. Tujuannya adalah menemukan prinsip dasar solusi yang paling efektif, lalu menyederhanakannya menjadi model yang realistis. Saya melakukan brainstorming solusi ideal tanpa batasan, misalnya jika saya memiliki uang tak terbatas dan teknologi tercanggih. Dari sana saya memilih prinsip utama, yaitu filtrasi bertingkat tanpa listrik dengan memanfaatkan gravitasi. Kemudian saya sederhanakan menjadi model realistis menggunakan bahan lokal seperti ember, pasir, arang batok kelapa, dan kain katun. Saya menggambar sketsa desain di kertas dan menghitung estimasi biaya berdasarkan bahan yang tersedia di pasar tradisional. Hasilnya, saya tidak terjebak pada solusi “asal jadi”, dan saya memiliki desain yang sederhana namun efektif serta tetap setia pada niat awal.

  1. Implementation

Pada tahap terakhir ini, saya belajar mengeksekusi rencana secara sistematis, melakukan uji coba, mengevaluasi kegagalan, dan melibatkan pengguna akhir yaitu nelayan dalam prosesnya. Saya membuat rencana kerja selama enam hingga delapan minggu. Saya melakukan uji coba laboratorium meliputi uji warna, viskositas, bau, dan uji bakar, lalu mencatat hasil serta mengidentifikasi kelemahan. Setelah itu saya melakukan perbaikan desain, misalnya mengganti arang, memperbesar lubang, atau menambah lapisan filter. Kemudian saya melakukan uji coba lapangan langsung di kapal nelayan dengan izin dan pendampingan. Saya juga membuat panduan penggunaan dalam bentuk gambar sederhana atau infografis, lalu melatih nelayan cara membuat, menggunakan, dan membersihkan alat sendiri. Hasil dari tahap ini adalah saya mengalami langsung siklus desain, uji, gagal, perbaiki, hingga berhasil. Saya belajar bahwa implementasi tidak selesai di laboratorium, tetapi harus di lapangan bersama pengguna. Proyek ini membuktikan bahwa pendekatan DAI5 menghasilkan solusi yang lebih manusiawi dan berkelanjutan.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *