ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | CFDSOF | VisualFOAM | 8N8 | DAI5 eBook Free Download |

D2_2406486806_Briyan Hadi Wiryawan_Metode Numerik-04_Laporan Progress Project

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ู 
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat Pagi, Siang dan Sore Prof. Dai dan teman-teman sekalian.
Izinkan saya untuk menjelaskan laporan terkait project yang suah saya rancang pada tugas D1.
Berikut laporan project saya.

Pada minggu pertama proyek, saya memasuki tahap Deep Awareness of I. Saya melakukan refleksi diri secara mendalam dengan menulis jurnal pribadi tentang hubungan saya dengan laut dan keprihatinan saya melihat nelayan membuang oli bekas ke laut. Saya juga berdiskusi dengan dua orang teman sekelas mengenai tanggung jawab moral dan spiritual seorang insinyur perkapalan terhadap lingkungan, serta menonton video dokumenter tentang pencemaran laut akibat limbah kapal. Hasil dari tahap ini adalah saya memperoleh kesadaran bahwa proyek filtrasi oli bekas ini bukan sekadar tugas akademik, melainkan panggilan hati untuk membantu nelayan dan menjaga kelestarian laut.

Memasuki minggu kedua, saya melakukan tahap Intention. Saya merumuskan niat proyek secara sadar dan terukur, yaitu merancang alat filtrasi oli bekas kapal yang sederhana, tanpa listrik, dengan total biaya material di bawah Rp500.000, agar nelayan tradisional dapat mengubah limbah oli mereka menjadi bahan bakar alternatif yang layak pakai untuk mesin kapal. Saya mempresentasikan niat ini di depan dosen pembimbing dan beberapa teman untuk mendapatkan umpan balik, sehingga niat saya menjadi lebih tajam. Saya juga membuat papan pengingat kecil di meja kerja yang bertuliskan “Apakah keputusan ini sesuai dengan niat saya?” untuk memandu setiap langkah teknis selanjutnya.

Pada minggu ketiga, saya melakukan tahap Initial Thinking about the Problem dengan turun ke lapangan. Saya mewawancarai tiga orang nelayan di Tempat Pelelangan Ikan setempat untuk menggali seberapa sering mereka mengganti oli, apa yang biasa mereka lakukan dengan oli bekas, berapa harga oli baru, dan apakah mereka bersedia mencoba alat filtrasi. Dari wawancara tersebut, saya menemukan bahwa rata-rata nelayan mengganti oli setiap dua hingga tiga bulan sekali, mereka biasa membuang oli bekas ke laut atau menampungnya dalam jeriken, harga oli baru berkisar antara Rp120.000 hingga Rp180.000 per liter, dan dua dari tiga nelayan menyatakan bersedia mencoba alat filtrasi sementara satu orang ragu karena takut merusak mesin. Saya juga membuat peta masalah yang menunjukkan bahwa mahalnya harga oli baru menyebabkan nelayan menggunakan oli bekas tanpa filtrasi, sehingga mesin cepat rusak dan oli dibuang ke laut, yang berdampak pada polusi laut, kematian biota, dan penurunan pendapatan nelayan. Hasil dari tahap ini, saya memiliki data lapangan yang nyata serta daftar batasan proyek, yaitu alat tidak boleh menggunakan listrik, bahan harus mudah ditemukan di pasar tradisional, biaya tidak melebihi Rp500.000, dan alat harus mudah dioperasikan tanpa pelatihan panjang.

Pada minggu keempat ini, saya sedang berada di tahap Idealization. Saya melakukan brainstorming solusi ideal tanpa batasan, misalnya membayangkan alat filtrasi otomatis berteknologi canggih. Dari sana saya mengambil prinsip utama, yaitu filtrasi bertingkat tanpa listrik dengan memanfaatkan gravitasi. Saya kemudian menyederhanakan menjadi model realistis berupa tiga lapis filter dalam wadah ember plastik: lapisan pertama dari pasir kasar untuk menyaring serpihan logam, lapisan kedua dari arang batok kelapa untuk menyerap air dan kontaminan kimia, serta lapisan ketiga dari kain katun tebal untuk menyaring partikel mikro. Saat ini saya sedang menggambar sketsa teknis di kertas dan menghitung estimasi biaya. Berdasarkan survei harga di pasar tradisional, estimasi sementara untuk dua buah ember, pipa paralon, kran, pasir, arang, dan kain adalah sekitar Rp175.000, yang masih jauh di bawah batas Rp500.000. Sketsa desain final dan daftar material akan saya selesaikan pada akhir minggu keempat ini.

Setelah tahap Idealization selesai, saya akan melanjutkan ke tahap Implementation pada minggu kelima hingga kedelapan. Rencananya, pada minggu kelima saya akan membeli material dan merakit prototipe pertama. Minggu keenam saya melakukan uji coba laboratorium meliputi uji warna, viskositas, bau, dan uji bakar, serta mencatat hasil dan mengidentifikasi kelemahan. Minggu ketujuh saya melakukan perbaikan desain berdasarkan hasil uji laboratorium, kemudian dilanjutkan dengan uji coba lapangan langsung di kapal nelayan dengan izin dan pendampingan. Minggu kedelapan saya akan membuat panduan penggunaan dalam bentuk infografis sederhana, melatih nelayan cara membuat, menggunakan, dan membersihkan alat, serta menyusun laporan akhir proyek. Kendala yang saya hadapi sejauh ini adalah menjadwalkan waktu uji coba lapangan karena cuaca laut yang tidak menentu dan kesibukan nelayan melaut, namun saya sedang berkoordinasi dengan ketua kelompok nelayan setempat untuk mencari waktu yang tepat.

Demikian laporan progres proyek ini saya sampaikan. Semoga langkah-langkah yang telah dan akan saya lakukan sesuai dengan semangat framework DAI5, yaitu memecahkan masalah teknik dengan kesadaran diri, niat yang lurus, analisis utuh, idealisasi yang realistis, serta implementasi yang sistematis dan berorientasi pada kemaslahatan nelayan dan lingkungan laut.

Terima kasih, Prof. Dai, karena telah mengenalkan framework DAI5. Saya merasakan sendiri bahwa pendekatan ini membuat proses belajar menjadi lebih bermakna. Saya tidak hanya menghasilkan alat, tetapi juga berubah menjadi pribadi yang lebih sadar, lebih sabar, dan lebih peduli. Semoga proyek kecil ini dapat bermanfaat bagi nelayan dan menjadi satu langkah kecil untuk menjaga laut yang lebih bersih.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *