ANALISIS DAN PERANCANGAN TURBIN ANGIN SUMBU VERTIKAL (SAVONIUS DAN DARRIEUS) UNTUK WILAYAH PESISIR INDONESIA
ุจูุณูู ู ูฑูููููู ูฑูุฑููุญูู ูููฐูู ูฑูุฑููุญููู ู
ูฑูุณููููุงู ู ุนูููููููู ู ููุฑูุญูู ูุฉู ูฑูููููฐูู ููุจูุฑูููุงุชููู
A. JUDUL PROYEK
Analisis dan Perancangan Turbin Angin Sumbu Vertikal (Savonius dan Darrieus) untuk Wilayah Pesisir Indonesia
B. NAMA LENGKAP PENULIS
Nama : Didan Geraldi Purnomo
NPM : 2406419575
C. AFILIASI
Program Studi Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Indonesia
D. ABSTRAK
Laporan ini membahas analisis dan perancangan awal turbin angin sumbu vertikal (VAWT) jenis Savonius dan Darrieus tipe-H untuk pembangkit listrik skala desa di wilayah pesisir Indonesia. Perancangan menggunakan data studi berupa kecepatan angin rata-rata 5 m/s (variasi 4 sampai 6 m/s), kerapatan udara 1,17 kg/mยณ, serta rotor berdiameter 1,5 m dan tinggi 2 m dengan luas sapuan 3 mยฒ. Proses analisis meliputi daya angin, batas Betz dan faktor induksi, TSR, putaran, torsi, geometri rotor, segitiga kecepatan dan sudut serang, torsi awal, rugi sistem, estimasi energi tahunan, serta pemeriksaan awal poros dan struktur.
Hasil perhitungan menunjukkan daya angin 219,4 W. Daya poros Savonius (Cp 0,20) sebesar 43,9 W pada 57 rpm dan Darrieus (Cp 0,33) sebesar 72,4 W pada 191 rpm. Setelah rugi transmisi, generator, dan elektronika daya, daya listrik masing-masing 30,9 W dan 53,2 W. Darrieus unggul dalam efisiensi, tetapi sudut serang maksimum 19,5ยฐ pada TSR 3 dan torsi awal yang lemah membuatnya sulit start sendiri, sedangkan Savonius memiliki torsi awal sekitar 9,9 Nยทm. Poros dipilih berdiameter 45 mm berdasarkan beban lentur angin badai. Seluruh angka merupakan hasil analitis awal; simulasi CFD, analisis struktur, dan pengujian tetap diperlukan sebelum implementasi nyata.
E. DEKLARASI PENULIS
1. Kesadaran Diri yang Mendalam (Deep Awareness of I)
Dalam melakukan analisis dan perancangan turbin angin ini, penulis menyadari bahwa engineering bukan sekadar proses memasukkan angka ke dalam persamaan. Setiap keputusan desain dapat memberikan dampak terhadap manusia, keselamatan, pemanfaatan sumber daya, dan lingkungan. Energi yang terkandung di dalam angin merupakan fenomena alam yang bekerja mengikuti hukum-hukum fisika (Sunnatullah), sedangkan manusia berusaha mempelajari dan memanfaatkannya melalui ilmu pengetahuan.
Kesadaran tersebut mendorong penulis untuk menerapkan prinsip Cara Cerdas Ingat Tuhan (CCIT) melalui ketelitian, kejujuran terhadap data, konsistensi perhitungan, dan keterbukaan terhadap keterbatasan hasil. Parameter seperti kecepatan angin, koefisien daya, dan efisiensi komponen dalam laporan ini masih merupakan data studi dan asumsi, belum merupakan hasil survei atau pengukuran suatu lokasi tertentu.
Dalam konteks wilayah pesisir, penerapan turbin angin tidak hanya perlu menghasilkan energi secara efisien, tetapi juga mempertimbangkan kebisingan, burung dan biota sekitar, keselamatan masyarakat, serta ketahanan material terhadap udara bergaram demi keberlanjutan.
2. Niat Kegiatan Proyek (Intention)
Perancangan ini dilakukan untuk memahami secara sistematis proses perubahan energi kinetik angin menjadi gaya aerodinamika pada bilah, energi mekanik pada rotor dan poros, lalu energi listrik melalui generator.
Tujuan teknis proyek adalah membandingkan rotor Savonius dan Darrieus tipe-H berdasarkan kondisi angin yang diberikan, memperoleh dimensi dan parameter operasi rotor secara rasional, serta mengevaluasi torsi, daya, dan efisiensi sistem.
Perancangan juga ditujukan untuk membangun proses engineering yang dapat ditelusuri dari data awal hingga keputusan desain akhir. Dengan demikian, setiap angka yang digunakan dapat dibedakan sebagai data, asumsi, hasil perhitungan, atau keputusan desain.
F. PENDAHULUAN
Latar Belakang
Energi angin merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan listrik, termasuk di wilayah pesisir Indonesia yang memiliki angin laut dan angin darat yang relatif konsisten. Kecepatan rata-rata angin pesisir umumnya rendah hingga sedang, sementara banyak desa nelayan dan pulau kecil masih bergantung pada genset diesel yang mahal, bising, dan menghasilkan emisi, atau belum memiliki listrik yang andal.
Pada turbin angin, energi kinetik udara yang bergerak diubah menjadi gaya aerodinamika pada bilah, lalu menjadi torsi dan putaran rotor. Poros kemudian memutar generator melalui transmisi sehingga menghasilkan listrik. Karena hanya sebagian daya angin yang dapat diekstraksi, analisis perlu melacak daya dari angin hingga listrik:

rantai konversi daya ยท 5 tahap, V = 5 m/s
Turbin angin sumbu vertikal (VAWT) menarik untuk kondisi pesisir karena dapat menerima angin dari segala arah tanpa mekanisme yaw, generator dan transmisi dapat diletakkan dekat tanah, dan putarannya relatif tenang. Dua jenis utama adalah Savonius yang digerakkan gaya hambat, dan Darrieus yang digerakkan gaya angkat. Savonius berefisiensi rendah tetapi mudah start, sedangkan Darrieus lebih efisien tetapi sulit start sendiri.
Metodologi perancangan pada laporan ini mengikuti pola dari kondisi angin dan daya yang tersedia menuju rotor, putaran, torsi, geometri, segitiga kecepatan, rugi sistem, poros, kemudian verifikasi dan iterasi desain.
Pemikiran Awal tentang Masalah (Initial Thinking)
Perancangan turbin angin tidak dapat dilakukan hanya dengan menentukan diameter rotor. Daya angin berbanding lurus dengan pangkat tiga kecepatan sehingga selisih kecil kecepatan angin berdampak besar pada daya. Selain itu, tidak seluruh daya angin dapat diambil: teori momentum membatasi ekstraksi maksimum sebesar 59,3% (batas Betz), dan rotor nyata mencapai nilai yang lebih rendah.
Jenis rotor memengaruhi karakter operasi. Savonius berputar lambat dengan torsi besar, sedangkan Darrieus berputar cepat dengan torsi kecil dan bergantung pada sudut serang bilah yang berubah sepanjang putaran. Karena itu kecepatan putar, torsi, dan kebutuhan transmisi perlu ditentukan untuk masing-masing rotor.

mekanisme Savonius dan Darrieus ยท tampak atas
Setelah daya poros diketahui, rugi pada transmisi, generator, dan elektronika daya perlu diperhitungkan untuk memperoleh daya listrik. Poros dan struktur juga perlu diperiksa terhadap beban angin badai dan gaya sentrifugal, serta bahan harus tahan korosi akibat udara laut.
Pemangku kepentingan yang terdampak adalah warga dan nelayan sebagai pengguna listrik, bengkel lokal sebagai pembuat dan perawat turbin, pengelola desa atau koperasi, serta lingkungan pesisir.
Tabel 1. Permasalahan dan respons perancangan
| Permasalahan | Dampak | Respons Perancangan |
|---|---|---|
| Angin pesisir rendah, daya sebanding Vยณ | Daya keluaran kecil | Hitung daya pada V = 4, 5, 6 m/s |
| Daya poros tidak boleh melebihi batas Betz | Klaim kinerja tidak realistis | Periksa Cp dan faktor induksi |
| Savonius berefisiensi rendah | Daya listrik kecil | Evaluasi Cp, TSR, dan geometri |
| Darrieus sulit start sendiri | Rotor tidak berputar pada angin rendah | Analisis sudut serang dan torsi awal |
| Putaran rotor tidak sesuai generator | Perlu transmisi | Tentukan rasio penguat putaran |
| Rugi transmisi, generator, elektronika | Daya listrik berkurang | Hitung efisiensi tiap tahap |
| Beban badai dan korosi | Kegagalan struktur | Periksa poros, gaya sentrifugal, material |
| Data masih asumsi | Belum siap dibangun | Survei angin, CFD, dan pengujian |
Refleksi CCIT
Ketelitian terhadap data merupakan bagian dari tanggung jawab seorang engineer. Karena nilai Cp dan kondisi angin pada laporan ini masih berupa data studi dan asumsi, hal tersebut dinyatakan secara eksplisit agar hasil perancangan tidak diperlakukan sebagai hasil survei atau pengukuran lapangan.
G. METODE DAN PROSEDUR
Perancangan dimulai dari kondisi angin menuju parameter aerodinamika dan mekanik turbin angin sumbu vertikal. Karena kecepatan angin dan geometri rotor telah ditentukan, besarnya daya menjadi hasil dari proses perhitungan.
Idealisasi, Asumsi, dan Penyederhanaan
Udara dianggap inkompresibel dan angin dianggap seragam dan tunak (steady) pada kecepatan rata-rata 5 m/s, dengan 4 dan 6 m/s sebagai analisis sensitivitas. Turbulensi, wind shear, dan efek tiga dimensi di ujung bilah diabaikan pada tahap awal. Kerapatan udara pesisir diambil 1,17 kg/mยณ dan viskositas kinematik 1,6 ร 10โปโต mยฒ/s.
Kedua rotor memakai geometri luar yang sama (D = 1,5 m, H = 2 m) agar perbandingan adil. Koefisien daya tiap rotor diambil dari rentang representatif literatur pada TSR optimum (Savonius 0,20 pada TSR 0,9; Darrieus 0,33 pada TSR 3) dan dianggap konstan. Darrieus tipe-H menggunakan tiga bilah berprofil NACA 0018 dengan kord 0,15 m, sedangkan Savonius menggunakan dua bilah semi-silinder dengan overlap e/d = 0,15 dan end plate 1,1 D.
Untuk transmisi dan generator digunakan asumsi desain berupa efisiensi transmisi 0,92 (Savonius) dan 0,96 (Darrieus), efisiensi generator magnet permanen 0,85, dan efisiensi elektronika daya 0,90. Untuk torsi awal Savonius digunakan asumsi koefisien torsi statis 0,3.
Tabel 2. Data dan asumsi perancangan
| Parameter | Simbol | Nilai | Satuan |
|---|---|---|---|
| Kecepatan angin rata-rata | V | 5 (variasi 4โ6) | m/s |
| Kerapatan udara | ฯ | 1,17 | kg/mยณ |
| Viskositas kinematik | ฮฝ | 1,6 ร 10โปโต | mยฒ/s |
| Diameter rotor | D | 1,5 | m |
| Tinggi rotor | H | 2 | m |
| Luas sapuan | A | 3 | mยฒ |
| Cp Savonius | Cp | 0,20 | โ |
| TSR optimum Savonius | ฮป | 0,9 | โ |
| Cp Darrieus-H | Cp | 0,33 | โ |
| TSR optimum Darrieus-H | ฮป | 3,0 | โ |
| Jumlah bilah Darrieus | N | 3 | โ |
| Kord bilah Darrieus | c | 0,15 | m |
| Overlap Savonius | e/d | 0,15 | โ |
| Efisiensi transmisi Savonius / Darrieus | ฮทt | 0,92 / 0,96 | โ |
| Efisiensi generator | ฮทg | 0,85 | โ |
| Efisiensi elektronika daya | ฮทe | 0,90 | โ |
| Koefisien torsi statis Savonius | Cts | 0,3 | โ |
| Kecepatan angin badai | Vs | 25 | m/s |
| Koefisien hambat Savonius (badai) | Cd | 1,2 | โ |
| Jarak bantalan | L | 2,5 | m |
| Tegangan geser izin / lentur izin | ฯ, ฯ | 40 / 120 | MPa |
Instruksi (Instruction Set)
Urutan perancangan terdiri atas daya angin, daya poros dan pemeriksaan batas Betz, putaran dan torsi, geometri rotor Savonius, parameter rotor Darrieus, segitiga kecepatan dan sudut serang, torsi awal, rugi sistem dan daya listrik, estimasi energi tahunan, analisis awal poros dan struktur, pemilihan transmisi dan generator, studi parametrik, serta validasi. Perhitungan diotomatisasi dengan MATLAB (Lampiran D).
Refleksi CCIT
Data, asumsi, hasil perhitungan, dan keputusan desain dipisahkan secara jelas agar seluruh proses dapat diperiksa kembali dan tidak menampilkan asumsi sebagai fakta.
H. HASIL DAN PEMBAHASAN
Ringkasan Hasil Rancangan
Tabel 3. Ringkasan hasil perancangan (V = 5 m/s)
| Parameter | Savonius | Darrieus-H |
|---|---|---|
| Daya angin | 219,4 W | 219,4 W |
| Koefisien daya (Cp) | 0,20 | 0,33 |
| Cp / batas Betz | 33,7% | 55,7% |
| Faktor induksi aksial | 0,056 | 0,102 |
| TSR optimum | 0,9 | 3,0 |
| Kecepatan sudut | 6,0 rad/s | 20,0 rad/s |
| Putaran rotor | 57 rpm | 191 rpm |
| Daya poros | 43,9 W | 72,4 W |
| Torsi operasi | 7,3 Nยทm | 3,6 Nยทm |
| Torsi awal | 9,9 Nยทm | mendekati nol |
| Daya listrik | 30,9 W | 53,2 W |
| Efisiensi total (listrik / angin) | 14,1% | 24,2% |
| Rasio transmisi | sekitar 1:8 | sekitar 1:2,5 |
| Energi tahunan (batas atas kasar) | sekitar 517 kWh | sekitar 889 kWh |
| Diameter poros awal | 45 mm | 45 mm |
1. Daya Angin yang Tersedia
Luas sapuan dan daya angin:

Pada V = 4 m/s dan V = 6 m/s, daya angin masing-masing 112,3 W dan 379,1 W. Kenaikan kecepatan 50% menaikkan daya sekitar 3,4 kali.
2. Daya Poros, Batas Betz, dan Faktor Induksi

Rasio terhadap batas Betz (0,593): Savonius 0,20 / 0,593 = 33,7% dan Darrieus 0,33 / 0,593 = 55,7%. Dari Cp = 4a(1 โ a)ยฒ diperoleh faktor induksi a = 0,056 (Savonius) dan a = 0,102 (Darrieus), sehingga kecepatan di bidang rotor V(1 โ a) masing-masing 4,72 m/s dan 4,49 m/s. Seluruh Cp berada di bawah batas Betz dan a < 1/3, sehingga konsisten secara fisik.

dihitung dari parameter Tabel 2 ยท V = 4โ6 m/s, Cp tetap
Kedua rotor berada di bawah batas Betz; selisihnya adalah rugi aerodinamika yang tidak dapat dihindari pada rotor nyata.
3. Putaran, TSR, dan Torsi

Kecepatan ujung bilah pada V = 5 m/s adalah 4,5 m/s (Savonius) dan 15 m/s (Darrieus). Putaran dan torsi pada beberapa kecepatan angin:
| V (m/s) | Savonius: rpm | Savonius: torsi (Nยทm) | Darrieus-H: rpm | Darrieus-H: torsi (Nยทm) |
|---|---|---|---|---|
| 4 | 45,8 | 4,7 | 152,8 | 2,3 |
| 5 | 57,3 | 7,3 | 191,0 | 3,6 |
| 6 | 68,8 | 10,5 | 229,2 | 5,2 |
4. Geometri Rotor Savonius
Dari D = 2d โ e dengan e = 0,15d:

Diameter end plate ditetapkan 1,1 D = 1,65 m untuk mengurangi kebocoran aliran di ujung bilah. Aspek rasio 1,33 berada pada rentang praktis rotor Savonius.
5. Parameter Rotor Darrieus Tipe-H

Bilangan Reynolds berkisar sekitar 0,9 ร 10โต sampai 1,9 ร 10โต, yaitu rentang rendah di mana data airfoil harus dipilih hati-hati (Sheldahl dan Klimas, 1981).
6. Analisis Segitiga Kecepatan dan Sudut Serang
Kondisi Azimut 90ยฐ
Pada azimut 90ยฐ angin tegak lurus gerak bilah. Kecepatan bilah ฯR = ฮปV = 15 m/s dan kecepatan angin V = 5 m/s sehingga:


segitiga kecepatan bilah Darrieus ยท TSR 3, azimut 90ยฐ
Kondisi Sudut Serang Maksimum
Sudut serang maksimum terjadi saat cos ฮธ = โ1/ฮป:

| TSR (ฮป) | Sudut serang maksimum | Interpretasi |
|---|---|---|
| 1,5 | 41,8ยฐ | stall dalam, sulit start |
| 2,0 | 30,0ยฐ | stall dinamis dominan |
| 3,0 | 19,5ยฐ | stall dinamis sebagian siklus |
| 4,0 | 14,5ยฐ | aliran lebih melekat pada bilah |
Hasil ini menjelaskan secara fisik mengapa Darrieus efisien pada TSR 3 sampai 4 tetapi tidak mampu start dari keadaan diam: pada TSR rendah sudut serang jauh melampaui sudut stall airfoil sehingga gaya angkat kecil dan torsi tangensial lemah atau negatif.
7. Torsi Awal (Self-Starting)
Dengan asumsi koefisien torsi statis Cts = 0,3, torsi awal Savonius pada V = 5 m/s:

Nilai ini lebih besar dari torsi operasi 7,3 Nยทm sehingga Savonius mampu start sendiri pada angin rendah. Untuk Darrieus, torsi awal mendekati nol atau negatif pada sebagian posisi azimut, sehingga diperlukan starter, misalnya motor kecil, bilah Savonius pada poros dalam (rancangan hibrida), atau pengaturan pitch.
8. Rugi Sistem dan Daya Listrik
Daya poros dikurangi rugi transmisi, generator, dan elektronika daya:

| Tahap (V = 5 m/s) | Savonius (W) | Darrieus-H (W) |
|---|---|---|
| Daya angin | 219,4 | 219,4 |
| Daya poros rotor | 43,9 | 72,4 |
| Setelah transmisi (0,92 / 0,96) | 40,4 | 69,5 |
| Setelah generator (0,85) | 34,3 | 59,1 |
| Daya listrik (setelah 0,90) | 30,9 | 53,2 |
| Efisiensi total | 14,1% | 24,2% |
Hubungan daya memenuhi P_listrik < P_poros < P_angin, yaitu 30,9 < 43,9 < 219,4 W (Savonius) dan 53,2 < 72,4 < 219,4 W (Darrieus), sehingga konsisten terhadap prinsip konservasi energi.
9. Estimasi Energi Tahunan
Dengan distribusi Rayleigh untuk kecepatan rata-rata 5 m/s, rata-rata kubik kecepatan adalah (6/ฯ) ร 125 = 238,7 mยณ/sยณ sehingga daya angin rata-rata 418,9 W. Estimasi ini adalah batas atas kasar karena Cp dan efisiensi dianggap tetap dan cut-in speed belum dimasukkan.
| Parameter | Savonius | Darrieus-H |
|---|---|---|
| Daya poros rata-rata | 83,8 W | 138,2 W |
| Faktor rugi total (ฮทt ร ฮทg ร ฮทe) | 0,704 | 0,734 |
| Daya listrik rata-rata | 59,0 W | 101,5 W |
| Energi per tahun | sekitar 517 kWh | sekitar 889 kWh |
| Energi per hari | sekitar 1,4 kWh | sekitar 2,4 kWh |
10. Perancangan Awal Poros dan Struktur
Torsi desain ditetapkan dua kali torsi maksimum Savonius pada 6 m/s (2 ร 10,5 = 21,1 Nยทm). Dengan asumsi material tegangan geser izin 40 MPa (baja tahan karat, memperhitungkan alur pasak dan fatigue):

Beban angin badai untuk V = 25 m/s dan Cd = 1,2 (kasus terburuk Savonius), jarak bantalan L = 2,5 m, tegangan lentur izin 120 MPa:

Beban lentur menentukan, bukan puntir. Dipilih diameter awal:
d_poros = 45 mm
Gaya sentrifugal pada bilah Darrieus aluminium padat NACA 0018 (sekitar 15 kg per bilah, 2 m) pada 20 rad/s:

Nilai tersebut belum final karena desain aktual perlu mempertimbangkan fatigue, keyway, bantalan, sambungan bilah-lengan, dan kecepatan kritis.
11. Generator dan Sistem Transmisi
Untuk generator magnet permanen berkecepatan rendah dengan putaran nominal sekitar 460 sampai 480 rpm, rasio transmisi:

Savonius memerlukan penguat putaran sekitar 1:8 (misalnya dua tahap sabuk atau roda gigi), sedangkan Darrieus cukup sekitar 1:2,5 (belt-pulley). Rasio yang besar pada Savonius menambah rugi transmisi (0,92 dibanding 0,96). Generator dengan kapasitas nominal sedikit di atas daya listrik desain (53,2 W, misalnya kelas 100 W) dapat dipertimbangkan. Pemilihan aktual memerlukan karakteristik generator yang nyata.
12. Parametric Study
Pengaruh kecepatan angin pada daya, dengan Cp dan efisiensi dianggap tetap pada TSR optimum:

dihitung dari parameter Tabel 2 ยท V = 4โ6 m/s, Cp dan efisiensi tetap
Darrieus menghasilkan sekitar 1,7 kali daya listrik Savonius pada setiap kecepatan angin, sehingga lebih dulu melewati beban minimum 50 W.
Perubahan kecepatan 10% (4,5 dan 5,5 m/s) mengubah daya โ27% dan +33%. Karena itu ketelitian data angin lokasi lebih berpengaruh daripada selisih kecil geometri rotor. Pada praktiknya Cp tidak konstan di seluruh kecepatan, sehingga kurva daya aktual perlu diperoleh dari CFD atau pengujian.
13. Engineering Design Validation
| Pemeriksaan | Hasil | Status |
|---|---|---|
| Cp di bawah batas Betz | 0,20 dan 0,33 < 0,593 | Memenuhi |
| Faktor induksi | 0,056 dan 0,102 < 1/3 | Memenuhi |
| P_listrik < P_poros < P_angin | 30,9 < 43,9 < 219,4 W; 53,2 < 72,4 < 219,4 W | Memenuhi |
| TSR dihitung balik (ฯR/V) | 0,9 dan 3,0 | Konsisten |
| Daya dari torsi (T ร ฯ) | 7,3 ร 6,0 โ 43,9 W; 3,6 ร 20 โ 72,4 W | Konsisten |
| Torsi awal Savonius > torsi operasi | 9,9 > 7,3 Nยทm | Memenuhi |
| Sudut serang maksimum Darrieus | 19,5ยฐ pada TSR 3 | Stall dinamis sebagian siklus |
| Diameter poros | 45 mm > 41,2 mm | Memenuhi |
| Energi tahunan | 517 dan 889 kWh | Batas atas kasar |
Pembahasan
Hasil perancangan menunjukkan keterkaitan yang konsisten antara kecepatan angin, kecepatan putar, torsi, dan daya keluaran. Pada angin 5 m/s, daya angin 219,4 W menghasilkan daya poros 43,9 W pada Savonius dan 72,4 W pada Darrieus, atau 33,7% dan 55,7% dari batas Betz. Selisih ini berasal dari mekanisme gaya: gaya hambat membatasi Cp Savonius karena bilah tidak dapat bergerak jauh lebih cepat dari angin, sedangkan gaya angkat memungkinkan bilah Darrieus bergerak tiga kali lebih cepat dari angin.
Analisis segitiga kecepatan menunjukkan sudut serang maksimum Darrieus 19,5ยฐ pada TSR 3 dan meningkat tajam pada TSR rendah. Hal ini menjelaskan mengapa Darrieus berputar cepat dengan torsi kecil tetapi sulit start sendiri, sedangkan Savonius berputar lambat dengan torsi besar dan mampu start (torsi awal 9,9 Nยทm).
Setelah rugi transmisi, generator, dan elektronika daya, daya listrik menjadi 30,9 W (Savonius) dan 53,2 W (Darrieus). Efisiensi total Darrieus (24,2%) hampir dua kali Savonius (14,1%), terutama karena Cp lebih tinggi dan rasio transmisi lebih kecil. Untuk beban 50 sampai 100 W di lokasi dengan angin rata-rata 5 m/s, Darrieus lebih baik secara energi, sedangkan Savonius lebih sederhana dan andal untuk start.
Rancangan hibrida (Savonius sebagai starter pada poros dalam dan Darrieus di luar) menjadi opsi iterasi berikutnya. Di pesisir, korosi dan beban siklik lebih menentukan umur pakai daripada selisih Cp beberapa persen, sehingga pemilihan material dan perawatan harus masuk kriteria keputusan. Nilai Cp dan Cts berasal dari literatur atau asumsi, rugi bantalan, efek tiga dimensi, dan cut-in speed belum dimasukkan, serta estimasi energi tahunan adalah batas atas kasar. Karena itu CFD, analisis struktur (FEA), dan pengujian prototipe menjadi langkah lanjutan.
Refleksi CCIT
Analisis menunjukkan bahwa model ideal selalu memiliki keterbatasan. Kesesuaian hasil dengan batas fisika (misalnya batas Betz) tidak berarti sistem telah terbukti bekerja dengan efisiensi yang sama di lapangan. Hasil perhitungan tetap perlu diverifikasi melalui pengukuran dan eksperimen.
I. KESIMPULAN, PENUTUP, DAN REKOMENDASI
Kesimpulan
Berdasarkan kecepatan angin rata-rata 5 m/s, kerapatan udara 1,17 kg/mยณ, dan luas sapuan 3 mยฒ, daya angin yang tersedia sebesar 219,4 W.
Rotor Savonius (Cp 0,20) menghasilkan daya poros 43,9 W pada 57 rpm dengan torsi 7,3 Nยทm dan torsi awal sekitar 9,9 Nยทm. Rotor Darrieus tipe-H (Cp 0,33) menghasilkan daya poros 72,4 W pada 191 rpm dengan torsi 3,6 Nยทm, tetapi sulit start sendiri karena sudut serang maksimum 19,5ยฐ pada TSR 3 dan lebih besar pada TSR rendah.
Setelah rugi sistem, daya listrik sebesar 30,9 W (Savonius) dan 53,2 W (Darrieus), dengan efisiensi total 14,1% dan 24,2%. Estimasi energi tahunan batas atas kasar sekitar 517 kWh dan 889 kWh. Diameter poros awal dipilih 45 mm berdasarkan beban lentur angin badai 25 m/s.
Secara konseptual, Darrieus tipe-H dengan starter atau rancangan hibrida sesuai untuk beban 50 sampai 100 W di wilayah pesisir, sedangkan Savonius sesuai untuk kebutuhan yang mengutamakan kesederhanaan dan keandalan start. Namun survei angin lokasi, CFD, analisis struktur, dan pengujian eksperimen tetap diperlukan sebelum konstruksi.
Penutup
Perancangan menunjukkan bahwa performa turbin angin sumbu vertikal tidak ditentukan oleh satu parameter, melainkan hasil hubungan antara kecepatan angin, jenis rotor, TSR, sudut serang, torsi, transmisi, generator, dan efisiensi sistem.
Rekomendasi
Survei angin lokasi minimal beberapa bulan perlu dilakukan untuk memperoleh distribusi kecepatan angin. Setelah itu desain perlu dihitung ulang dengan data aktual, dilanjutkan dengan CFD (2D lalu 3D) untuk kurva Cp terhadap TSR, pengujian rancangan hibrida dan rotor heliks, analisis struktur dan kelelahan, pemilihan material tahan korosi, pemilihan generator, pembuatan prototipe, dan pengujian efisiensi.
J. UCAPAN TERIMA KASIH
Puji syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas kesempatan dan ilmu yang memungkinkan penyusunan perancangan ini. Penulis juga mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Sistem Konversi Energi, keluarga, rekan mahasiswa, dan seluruh pihak yang mendukung proses pembelajaran.
K. DAFTAR PUSTAKA
Akwa, J. V., Vielmo, H. A., & Petry, A. P. (2012). A review on the performance of Savonius wind turbines. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 16(5), 3054โ3064.
Betz, A. (1920). Das Maximum der theoretisch mรถglichen Ausnรผtzung des Windes durch Windmotoren. Zeitschrift fรผr das gesamte Turbinenwesen, 26, 307โ309.
Islam, M., Ting, D. S.-K., & Fartaj, A. (2008). Aerodynamic models for Darrieus-type straight-bladed vertical axis wind turbines. Renewable and Sustainable Energy Reviews, 12(4), 1087โ1109.
Manwell, J. F., McGowan, J. G., & Rogers, A. L. (2009). Wind energy explained: Theory, design and application (2nd ed.). Chichester: Wiley.
Menter, F. R. (1994). Two-equation eddy-viscosity turbulence models for engineering applications. AIAA Journal, 32(8), 1598โ1605.
Paraschivoiu, I. (2002). Wind turbine design: With emphasis on Darrieus concept. Montreal: Polytechnic International Press.
Sheldahl, R. E., & Klimas, P. C. (1981). Aerodynamic characteristics of seven symmetrical airfoil sections through 180-degree angle of attack for use in aerodynamic analysis of vertical axis wind turbines (SAND80-2114). Albuquerque: Sandia National Laboratories.
Catatan: periksa kembali detail referensi (tahun, volume, halaman) di perpustakaan atau database kampus sebelum dikumpulkan, dan tambahkan sumber dari materi kuliah.
L. LAMPIRAN
Lampiran A. Daftar Rumus
- A = D ร H
- P_angin = ยฝ ฯ A Vยณ
- P = Cp ร P_angin
- Cp = 4a(1 โ a)ยฒ; Cp,maks = 16/27 โ 0,593
- ฮป = ฯR / V
- n = 60ฯ / (2ฯ)
- T = P / ฯ
- Savonius: D = 2d โ e; H/D
- Darrieus: ฯ = N c / D
- W = V โ(1 + 2ฮป cos ฮธ + ฮปยฒ); W maks = V(1 + ฮป); W min = V(ฮป โ 1)
- ฮฑ = arctan[sin ฮธ / (ฮป + cos ฮธ)]; ฮฑ maks = arcsin(1/ฮป)
- Re = W c / ฮฝ
- T_start = Cts ร ยฝ ฯ A Vยฒ R
- P_listrik = P ร ฮทt ร ฮทg ร ฮทe
- Rayleigh: rata-rata Vยณ = (6/ฯ) ร (V rata-rata)ยณ; E = P_listrik rata-rata ร 8760 jam
- d_puntir = (16T / ฯฯ)^(1/3); d_lentur = (32M / ฯฯ)^(1/3); M = F L / 4
- F_sentrifugal = m ฯยฒ R
Lampiran B. Rekapitulasi Parameter Final
| Parameter | Simbol | Savonius | Darrieus-H | Satuan |
|---|---|---|---|---|
| Kecepatan angin | V | 5 | 5 | m/s |
| Kerapatan udara | ฯ | 1,17 | 1,17 | kg/mยณ |
| Luas sapuan | A | 3 | 3 | mยฒ |
| Daya angin | P_angin | 219,4 | 219,4 | W |
| Koefisien daya | Cp | 0,20 | 0,33 | โ |
| Faktor induksi | a | 0,056 | 0,102 | โ |
| TSR | ฮป | 0,9 | 3,0 | โ |
| Kecepatan sudut | ฯ | 6,0 | 20,0 | rad/s |
| Putaran | n | 57,3 | 191,0 | rpm |
| Daya poros | P | 43,9 | 72,4 | W |
| Torsi | T | 7,3 | 3,6 | Nยทm |
| Torsi awal | T_start | 9,9 | mendekati nol | Nยทm |
| Diameter bilah Savonius | d | 0,81 | โ | m |
| Solidity Darrieus | ฯ | โ | 0,30 | โ |
| Sudut serang maksimum | ฮฑ maks | โ | 19,5 | derajat |
| Bilangan Reynolds | Re | โ | 1,4 ร 10โต | โ |
| Daya listrik | P_listrik | 30,9 | 53,2 | W |
| Efisiensi total | ฮท | 14,1 | 24,2 | % |
| Energi tahunan (batas atas) | E | 517 | 889 | kWh |
| Diameter poros | d_s | 45 | 45 | mm |
Lampiran C. The 33 DAI5 Implementation Evaluation Criteria
| No. | Kriteria DAI5 | Implementasi dalam Laporan |
|---|---|---|
| 1 | Consciousness of Purpose | Perancangan dilakukan dengan kesadaran bahwa ilmu engineering digunakan untuk memanfaatkan energi angin secara bertanggung jawab dan bermanfaat bagi masyarakat pesisir. |
| 2 | Self-awareness | Penulis menyadari bahwa desain masih memakai data studi dan asumsi, bukan survei lapangan atau pengujian fisik. |
| 3 | Ethical Considerations | Perancangan mempertimbangkan keselamatan, kebutuhan masyarakat, kebisingan, burung dan biota, serta dampak lingkungan pesisir. |
| 4 | Integration of CCIT | Ketelitian, kejujuran terhadap data, dan keterbukaan menyatakan asumsi dijadikan bagian dari tanggung jawab engineering. |
| 5 | Critical Reflection | Hasil dievaluasi kembali berdasarkan keterbatasan model, asumsi Cp, dan kebutuhan validasi lanjutan. |
| 6 | Continuum of Awareness | Kesadaran terhadap akurasi, keterbatasan, keselamatan, dan tanggung jawab dipertahankan sepanjang proses melalui Refleksi CCIT. |
| 7 | Clarity of Intent | Proyek bertujuan jelas: menganalisis dan membandingkan turbin Savonius dan Darrieus untuk wilayah pesisir. |
| 8 | Alignment of Objectives | Perhitungan daya, TSR, torsi, geometri, rugi, dan poros diarahkan pada tujuan utama perancangan. |
| 9 | Relevance of Intent | Perancangan difokuskan pada kebutuhan listrik skala desa pesisir dengan angin rendah hingga sedang. |
| 10 | Sustainability Focus | Desain mempertimbangkan energi terbarukan, ketahanan korosi, kemudahan perawatan lokal, dan umur pakai. |
| 11 | Focus on Quality | Kualitas dijaga melalui konsistensi satuan, pemeriksaan batas Betz, neraca daya, dan angka yang sama di laporan maupun MATLAB. |
| 12 | Problem Understanding | Masalah dijelaskan melalui hubungan angin, rotor, TSR, torsi, rugi sistem, dan beban struktur. |
| 13 | Stakeholder Awareness | Pemangku kepentingan: warga, nelayan, bengkel lokal, pengelola desa, dan lingkungan pesisir. |
| 14 | Contextual Analysis | Analisis ditempatkan dalam konteks pesisir tropis: angin rendah, udara bergaram, dan kapabilitas produksi lokal. |
| 15 | Root Cause Analysis | Penyebab dianalisis: daya sebanding Vยณ, karakter rotor (hambat atau angkat), sudut serang, dan korosi. |
| 16 | Relevance of Analysis | Setiap analisis berkaitan langsung dengan keputusan desain pemilihan rotor, transmisi, dan poros. |
| 17 | Use of Data and Evidence | Data studi, asumsi desain, hasil perhitungan, dan keputusan desain dibedakan jelas; referensi dari literatur. |
| 18 | Assumption Clarity | Asumsi Cp, efisiensi, Cts, kecepatan badai, dan tegangan izin dinyatakan eksplisit pada Tabel 2. |
| 19 | Creativity and Innovation | Analisis menggabungkan teori momentum, segitiga kecepatan, sudut serang, estimasi energi, dan opsi rancangan hibrida. |
| 20 | Physical Realism | Hasil diperiksa terhadap batas Betz, faktor induksi, konservasi energi, dan hubungan P = T ฯ. |
| 21 | Alignment with Intent | Rotor, transmisi, dan material dipilih agar sederhana, realistis, dan sesuai kebutuhan desa pesisir. |
| 22 | Scalability and Adaptability | Desain dapat dihitung ulang bila kecepatan angin, ukuran rotor, atau generator berubah (parametric study). |
| 23 | Simplicity and Elegance | Model 1-D dan dua rotor dengan geometri luar sama memudahkan analisis dan perbandingan. |
| 24 | Clarity of Steps | Perhitungan disusun berurutan dari daya angin sampai validasi (langkah 1 sampai 13). |
| 25 | Comprehensiveness | Analisis mencakup aerodinamika, kinematika, rugi sistem, energi tahunan, poros, struktur, transmisi, dan validasi. |
| 26 | Physical Interpretation | Hasil dijelaskan maknanya, misalnya torsi besar dan putaran lambat Savonius serta sudut serang pada Darrieus. |
| 27 | Error Minimization | Pembulatan dilakukan di akhir, satuan dijaga konsisten, dan hasil diperiksa balik (TSR dan daya dari torsi). |
| 28 | Verification and Validation | Verifikasi melalui bagian 13 (Engineering Design Validation); validasi lanjutan melalui CFD, FEA, dan prototipe direkomendasikan. |
| 29 | Iterative Approach | Parameter (jumlah bilah, kord, rasio aspek, hibrida) dapat diubah dan dihitung ulang. |
| 30 | Sustainability Integration | Rekomendasi mencakup survei angin, material tahan korosi, perawatan lokal, dan sistem hibrida bersama surya. |
| 31 | Communication Effectiveness | Hasil disajikan dengan paragraf, tabel, persamaan, gambar mekanisme, segitiga kecepatan, dan kode MATLAB. |
| 32 | Alignment with the DAI5 Framework | Alur mengikuti kesadaran, niat, pemikiran awal, idealisasi, instruksi, evaluasi, dan perbaikan. |
| 33 | Documentation Quality | Laporan sistematis dengan perhitungan, tabel, gambar, referensi, validasi, MATLAB, dan lampiran. |
Demikian laporan tugas besar saya, saya ucapkan terima kasih.
ููุงูุณูููุงูู ู ุนูููููููู ู ููุฑูุญูู ูุฉู ุงูููู ููุจูุฑูููุงุชููู