ุจูุณูู ู ุงูููููู ุงูุฑููุญูู ููู ุงูุฑููุญููู
ุงูุณูููุงูู ู ุนูููููููู ู ููุฑูุญูู ูุฉู ุงูููู ููุจูุฑูููุงุชููู
Perkenalkan, nama saya Radif Mohammad Nafi, mahasiswa Fakultas Teknik jurusan Teknik Mesin dengan NPM 2406352071. Pada blog ini saya akan membahas laporan saya mengenai PERANCANGAN DAN ANALISIS TURBIN FRANCIS dalam mempelajari sistem koversi energi dan memenuhi tugas besar mata kuliah tersebut.
A. PROJECT TITLE
PERANCANGAN DAN ANALISIS TURBIN FRANCIS
B. AUTHOR COMPLETE NAME
Nama Lengkap: Radif Mohammad Nafi’
NPM: 2406352071
C. AFFILIATION
Program Studi: Teknik Mesin
Departemen: Departemen Teknik Mesin
Universitas: Universitas Indonesia
D. ABSTRACT
Turbin Francis merupakan salah satu turbin reaksi yang banyak digunakan pada pembangkit listrik tenaga air karena mampu bekerja secara efektif pada kondisi head dan debit menengah hingga tinggi. Proyek ini bertujuan melakukan perancangan awal dan analisis performa turbin Francis menggunakan pendekatan satu dimensi berbasis persamaan kontinuitas, energi, momentum sudut, dan persamaan Euler turbomachinery. Karena data lapangan belum tersedia, digunakan assumed design input berupa net head 50 m, debit 5 mยณ/s, dan kecepatan putar 500 rpm. Perhitungan dilakukan untuk menentukan daya hidraulik, daya poros, diameter runner, kecepatan aliran, segitiga kecepatan, torsi, specific speed, serta efisiensi turbin. Nilai efisiensi hidraulik, mekanik, dan volumetrik masing-masing diasumsikan sebesar 92%, 97%, dan 98%, sehingga efisiensi keseluruhan sebesar 87,46%. Hasil preliminary design menghasilkan daya hidraulik sebesar 2.452,5 kW dan daya poros sekitar 2.144,84 kW. Diameter runner utama diperoleh sekitar 0,897 m dengan diameter outlet sekitar 0,673 m. Analisis dilakukan menggunakan MATLAB untuk otomatisasi perhitungan, validasi, iterasi desain, dan sensitivity analysis. Hasil menunjukkan bahwa desain memenuhi batasan preliminary design yang ditetapkan. Namun, model satu dimensi belum dapat menggantikan CFD maupun pengujian eksperimental sehingga hasil harus diperlakukan sebagai preliminary engineering design.
E. AUTHOR DECLARATION
1. Deep Awareness (of) I
Perancangan teknik tidak hanya merupakan proses memasukkan data ke dalam persamaan matematika untuk memperoleh suatu nilai desain. Di dalam proses engineering terdapat tanggung jawab manusia untuk memastikan bahwa hasil yang diperoleh benar secara matematis, masuk akal secara fisik, dan tidak membahayakan ketika diterapkan.
Dalam proyek perancangan turbin Francis ini, kesadaran tersebut diwujudkan melalui ketelitian dalam menentukan asumsi, penggunaan satuan SI secara konsisten, pemeriksaan kembali persamaan, serta kejujuran dalam membedakan antara data aktual, assumed design input, hasil perhitungan, dan hasil validasi terhadap literatur.
Konsep Cara Cerdas Ingat Tuhan (CCIT) yang telah diajarkan Prof DAI diterapkan sebagai bentuk kesadaran bahwa ilmu pengetahuan dan kemampuan manusia memiliki tanggung jawab moral. Mengingat Tuhan Yang Maha Esa dalam proses engineering berarti menjaga kejujuran terhadap data, tidak memanipulasi hasil agar terlihat lebih baik, serta menyadari bahwa setiap keputusan teknis dapat memberikan dampak terhadap manusia dan lingkungan.
Kesadaran tersebut diterapkan dalam beberapa aspek:
- Ketelitian perhitungan, karena kesalahan kecil pada head, debit, kecepatan, atau diameter dapat menghasilkan kesalahan besar pada daya dan torsi.
- Kejujuran terhadap data, dengan tidak menyatakan assumed design input sebagai hasil eksperimen.
- Tidak memanipulasi hasil, terutama efisiensi dan performa turbin.
- Tanggung jawab terhadap keselamatan, khususnya terhadap risiko cavitation, excessive velocity, vibration, dan mechanical failure.
- Efisiensi energi, karena tujuan turbin adalah mengubah energi hidraulik menjadi energi mekanik secara efektif.
- Keberlanjutan lingkungan, karena pemanfaatan energi air harus tetap mempertimbangkan penggunaan sumber daya dan dampak ekologis.
- Manfaat teknologi bagi manusia, karena desain engineering pada akhirnya harus memberikan manfaat yang nyata dan aman.
Dengan demikian, kesadaran engineering tidak berhenti pada hasil angka, tetapi berlanjut pada pertanyaan mengenai apakah hasil tersebut benar, dapat dipertanggungjawabkan, dan bermanfaat.
2. Intention of the Project Activity
Niat utama proyek ini adalah mempelajari dan menerapkan proses perancangan turbin Francis secara sistematis dengan menggabungkan pendekatan engineering dan kerangka DAI5.
Secara khusus, proyek ini bertujuan untuk:
- Memahami prinsip kerja turbin Francis.
- Menentukan parameter utama berdasarkan head dan debit desain.
- Menghitung daya hidraulik dan daya poros.
- Menentukan kecepatan putar dan specific speed.
- Merancang dimensi awal runner.
- Menganalisis velocity triangle pada inlet dan outlet runner.
- Menghitung hydraulic torque dan shaft torque.
- Mengestimasi hydraulic, mechanical, volumetric, dan overall efficiency.
- Mengotomatisasi perhitungan menggunakan MATLAB.
- Melakukan design iteration.
- Melakukan sensitivity analysis terhadap parameter desain.
- Melakukan verification terhadap konsistensi matematis.
- Membandingkan hasil dengan prinsip dan benchmark literatur.
- Menghasilkan preliminary design yang realistis.
- Mempertimbangkan efisiensi energi, keselamatan, sustainability, dan integritas akademik.
F. INTRODUCTION
1. Background
Energi air merupakan salah satu sumber energi terbarukan yang dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi listrik melalui pembangkit listrik tenaga air. Prinsip dasarnya adalah mengubah energi potensial dan tekanan air menjadi energi mekanik pada turbin, kemudian energi mekanik tersebut diteruskan ke generator untuk menghasilkan energi listrik.
Turbin hidraulik secara umum dapat dikelompokkan menjadi turbin impuls dan turbin reaksi. Turbin Francis termasuk turbin reaksi dengan aliran radial menuju mixed-flow pada runner. Department of Energy menjelaskan bahwa turbin Francis memiliki runner dengan sudu tetap dan komponen utama seperti scroll case, wicket gates, dan draft tube. Turbin ini banyak digunakan pada kondisi head menengah hingga tinggi.
Francis turbine memiliki fleksibilitas terhadap kombinasi head dan debit sehingga banyak digunakan pada sistem hydropower. Literatur turbomachinery juga menempatkan Francis sebagai salah satu tipe utama turbin hidraulik bersama Pelton dan Kaplan.
Secara energi, daya hidraulik teoritis yang tersedia dari aliran air dapat dituliskan:dengan:
- = daya hidraulik (W),
- = densitas air (kg/mยณ),
- = percepatan gravitasi (m/sยฒ),
- = debit (mยณ/s),
- = net head (m).
Dari persamaan tersebut terlihat bahwa daya sangat dipengaruhi oleh head dan debit. Semakin besar head atau debit, semakin besar energi yang tersedia untuk dikonversikan menjadi energi mekanik.
Perancangan turbin tidak dapat hanya didasarkan pada daya. Kecepatan putar, diameter runner, kecepatan aliran, sudut sudu, specific speed, dan kondisi outlet juga harus dipertimbangkan secara bersamaan. Literatur Bureau of Reclamation menyediakan referensi teknis mengenai pemilihan turbin reaksi, karakteristik Francis, specific speed, dimensi runner, draft tube, cavitation, serta performance curves.
Perancangan Francis modern juga berkembang menuju penggunaan computational design dan CFD. Beberapa literatur tersebut membahas secara khusus perancangan dimensi utama Francis runner, bentuk sudu, distributor, serta penggunaan OpenFOAM untuk simulasi CFD.
Oleh karena itu, pendekatan satu dimensi dalam proyek ini digunakan sebagai langkah dalam mempelajari Sistem Konversi Energi khususnya pada turbin francis.
2. Engineering Problem
Dari pembahasan mengenai turbin francis, terdapat beberapa parameter yang menjadi faktor keberhasilannya. Permasalahan engineering yang harus diselesaikan antara lain ialah:
- Bagaimana menentukan daya hidraulik dari head dan debit?
- Bagaimana menentukan daya mekanik dan daya poros?
- Bagaimana menentukan kecepatan putar yang sesuai?
- Bagaimana menentukan diameter runner?
- Bagaimana menentukan diameter outlet?
- Bagaimana menentukan luas aliran?
- Bagaimana menentukan kecepatan meridional?
- Bagaimana menentukan peripheral velocity?
- Bagaimana menentukan sudut sudu inlet dan outlet?
- Bagaimana menyusun velocity triangle?
- Bagaimana menentukan torque?
- Bagaimana menentukan specific speed?
- Bagaimana memperkirakan efisiensi?
- Bagaimana melakukan validasi agar hasil tidak hanya benar secara matematis tetapi juga masuk akal secara fisik?
- Bagaimana menentukan desain terbaik melalui proses iterasi?
3. Initial Thinking (about the Problem)
a. Systematic Problem Analysis
Hubungan sistem dapat dirumuskan sebagai:
Head memberikan energi potensial per satuan berat air. Energi tersebut diteruskan melalui sistem penstock dan distributor menuju runner. Runner mengubah momentum sudut aliran menjadi torsi pada poros. Poros kemudian meneruskan energi mekanik menuju generator.
Secara konseptual:
Setiap tahap memiliki losses sehingga:
b. Problem Decomposition
Masalah dibagi menjadi beberapa hal yang dapat dianalisis lebih mendalam yaitu:
- Design input.
- Analisis energi.
- Analisis debit.
- Analisis kecepatan.
- Preliminary runner design.
- Velocity triangle.
- Analisis daya.
- Analisis efisiensi.
- Verification dan validation.
- Optimization dan iteration.
c. Fundamental Principles
Conservation of Mass
Untuk kondisi steady:
Persamaan ini digunakan untuk menentukan luas aliran dan kecepatan.
Conservation of Energy
Persamaan energi digunakan untuk menghubungkan hydraulic head dengan energi yang dapat dikonversikan oleh turbin.
Bernoulli Equation
Untuk aliran ideal:
Dalam sistem nyata terdapat head losses.
Angular Momentum
Perubahan momentum sudut menghasilkan torque:
dengan:
Euler Turbine Equation
Energi spesifik yang ditransfer dari fluida ke runner:
Persamaan ini merupakan dasar analisis velocity triangle.
Hydraulic Efficiency
Dalam model proyek:
Mechanical Efficiency
Volumetric Efficiency
Efisiensi volumetrik digunakan untuk merepresentasikan pengaruh leakage atau perbedaan antara debit tersedia dan debit efektif.
Overall Efficiency
Specific Speed
Untuk konsistensi laporan, digunakan bentuk power-based metric specific speed:
dengan:
- = rpm,
- = daya poros dalam kW,
- = head dalam meter.
Specific speed bukan bilangan tanpa dimensi dalam bentuk ini, sehingga konvensinya harus selalu disebutkan.
Bentuk dimensionless yang juga dapat digunakan adalah:
d. Root Cause Analysis
Performa turbin dapat menjadi rendah akibat:
- hydraulic losses,
- mechanical losses,
- volumetric leakage,
- blade angle yang tidak sesuai,
- runner diameter yang tidak sesuai,
- kecepatan aliran terlalu tinggi,
- mismatch antara head dan debit,
- excessive outlet swirl,
- surface roughness,
- clearance,
- cavitation,
- flow separation,
- vibration.

Root cause yang paling penting pada preliminary design adalah ketidaksesuaian antara headโflowโspeedโrunner geometry.
e. State of the Art
Perancangan turbin Francis modern berkembang dari pendekatan empiris menuju computational design. CFD memungkinkan distribusi tekanan, velocity field, vortex, cavitation tendency, dan losses pada runner dianalisis lebih detail. Buku Guo et al. secara khusus membahas penggunaan OpenFOAM dalam desain Francis turbine.
Selain CFD, modern hydropower juga mempertimbangkan:
- variable-speed operation,
- advanced blade geometry,
- digital simulation,
- erosion analysis,
- cavitation analysis,
- optimization,
- model-prototype scaling.
IEC 60193:2019 memberikan kerangka untuk model acceptance testing hydraulic turbines, sedangkan IEC 62097:2019 membahas transposition performance dari model menuju prototype dengan mempertimbangkan scale effect.
Research gap proyek ini adalah adanya kebutuhan untuk menghubungkan konsep dasar turbomachinery dengan workflow computational preliminary design yang dapat dijalankan mahasiswa menggunakan MATLAB sebelum memasuki tahap CFD.
G. METHODS & PROCEDURES
1. Design Input
Pada kasus ini saya asumsikan design sesuai turbin francis yang sudah ada sebelumnya.
Design Input Assumption Table




| Parameter | Symbol | Nilai | Unit | Status |
|---|---|---|---|---|
| Net head | H | 50 | m | Assumed |
| Flow rate | Q | 5 | mยณ/s | Assumed |
| Water density | ฯ | 1000 | kg/mยณ | Standard assumption |
| Gravity | g | 9.81 | m/sยฒ | Standard |
| Rotational speed | N | 500 | rpm | Assumed |
| Hydraulic efficiency | ฮทh | 0.92 | – | Assumed |
| Mechanical efficiency | ฮทm | 0.97 | – | Assumed |
| Volumetric efficiency | ฮทv | 0.98 | – | Assumed |
| Overall efficiency | ฮทo | 0.874552 | – | Calculated |
| Runner speed coefficient | Ku1 | 0.75 | – | Preliminary design assumption |
| Outlet/runner diameter ratio | D2/D1 | 0.75 | – | Preliminary design assumption |
| Inlet flow width | b1 | 0.19 | m | Preliminary design assumption |
| Outlet flow width | b2 | 0.25 | m | Preliminary design assumption |
Overall efficiency:
Nilai efisiensi tersebut digunakan sebagai design assumption, yang didapat dari turbin francis yang sudah ada sebelumnya.
2. IDEALIZATION
| Asumsi | Alasan | Pengaruh | Keterbatasan |
|---|---|---|---|
| Air incompressible | Perubahan densitas air sangat kecil | Menyederhanakan kontinuitas | Tidak menangkap perubahan temperatur/pressure secara detail |
| Steady-state | Preliminary design | Menghilangkan transient | Tidak memodelkan startup/shutdown |
| One-dimensional | Sesuai preliminary turbomachinery analysis | Perhitungan sederhana | Tidak menangkap distribusi 3D |
| Temperatur konstan | Perubahan temperatur kecil | ฯ dianggap konstan | Tidak cocok untuk thermal coupling |
| Net head digunakan | Head efektif pada turbin | Mengurangi kompleksitas | Head loss detail belum dimodelkan |
| g = 9.81 m/sยฒ | Standard engineering | Konsisten | Variasi lokal diabaikan |
| ฯ = 1000 kg/mยณ | Properti air standar | Mempermudah perhitungan | Tidak mempertimbangkan temperatur |
| ฮทh, ฮทm, ฮทv konstan | Preliminary design | Mudah dilakukan | Efisiensi aktual berubah terhadap load |
| Runner pada design point | Fokus kondisi nominal | Memudahkan sizing | Tidak menggambarkan part-load |
| Shaft rigid | Preliminary torque calculation | Menghindari torsional model | Stress dan vibration belum dianalisis |
| Tidak ada cavitation pada design point | Preliminary screening | Memungkinkan desain awal | Belum merupakan cavitation verification |
| Axisymmetric flow | Preliminary model | Mengurangi kompleksitas | Tidak menangkap secondary flow |
| CFD belum digunakan | Scope proyek | MATLAB lebih sederhana | Tidak menangkap 3D flow |
Pendekatan satu dimensi merupakan preliminary engineering method dan bukan pengganti CFD. Buku Cengel dan Cimbala menempatkan turbomachinery serta CFD sebagai bagian lanjutan dari analisis mekanika fluida.
3. FUNDAMENTAL EQUATIONS
a. Hydraulic Power
Substitusi:
b. Runner Mechanical Power
c. Shaft Power
d. Overall Efficiency
e. Angular Velocity
f. Peripheral Velocity
Digunakan preliminary coefficient:
dengan:
Sehingga:
Diameter runner:
g. Outlet Runner
Dengan asumsi:
maka:
Kecepatan perifer:
h. Euler Turbine Equation
Dengan outlet whirl diasumsikan nol:
Head Euler yang tersedia:
Sehingga:
Verifikasi:
i. Continuity
Untuk runner:
Maka:
Outlet:
4. TURBINE PRELIMINARY DESIGN
Ringkasan hasil preliminary design
| Parameter | Symbol | Hasil | Unit |
|---|---|---|---|
| Hydraulic power | Ph | 2452.50 | kW |
| Runner mechanical power | Prunner | 2256.30 | kW |
| Shaft power | Ps | 2144.84 | kW |
| Angular velocity | ฯ | 52.36 | rad/s |
| Runner diameter | D1 | 0.897 | m |
| Outlet diameter | D2 | 0.673 | m |
| Inlet peripheral velocity | U1 | 23.49 | m/s |
| Outlet peripheral velocity | U2 | 17.62 | m/s |
| Inlet flow velocity | Vf1 | 9.34 | m/s |
| Outlet flow velocity | Vf2 | 9.46 | m/s |
| Inlet whirl velocity | Vu1 | 19.21 | m/s |
| Outlet whirl velocity | Vu2 | 0 | m/s |
| Hydraulic torque | Th | 43.09 | kNยทm |
| Shaft torque | Ts | 40.96 | kNยทm |
| Overall efficiency | ฮทo | 87.46 | % |
| Specific speed | Ns | 174.16 | – |
5. VELOCITY TRIANGLE ANALYSIS
Konvensi yang digunakan:
- positif searah kecepatan perifer runner.
- merupakan komponen tangensial/whirl.
- merupakan komponen flow/meridional.
- adalah absolute velocity.
- adalah relative velocity.
- ฮฒ diukur terhadap arah tangensial blade speed.
Inlet
Relative velocity:
Sudut inlet:

Outlet
Karena:
maka:
Relative velocity:
Outlet blade angle:

Tabel Velocity Triangle
| Parameter | Inlet | Outlet | Unit |
|---|---|---|---|
| U | 23.49 | 17.62 | m/s |
| V | 21.36 | 9.46 | m/s |
| Vf | 9.34 | 9.46 | m/s |
| Vu | 19.21 | 0.00 | m/s |
| W | 10.27 | 20.00 | m/s |
| ฮฒ | 65.37 | 28.23 | degree |
Secara fisik, komponen whirl yang tinggi pada inlet menunjukkan bahwa guide vane memberikan angular momentum kepada air sebelum masuk runner. Pada outlet, merupakan asumsi preliminary yang bertujuan mengurangi residual swirl sehingga energi kinetik tangensial yang tersisa setelah runner dapat diminimalkan.
6. PERFORMANCE ANALYSIS
Hydraulic Power
Artinya, energi hidraulik teoritis yang tersedia pada kondisi desain adalah sekitar 2.45 MW.
Mechanical Power
Perbedaan terhadap hydraulic power sebesar:
merepresentasikan hydraulic losses dalam model.
Shaft Power
Perbedaan antara runner mechanical power dan shaft power berasal dari mechanical dan volumetric efficiency yang digunakan dalam model.
Torque
Hydraulic torque:
Shaft torque:
Overall Efficiency
Efisiensi ini menunjukkan bahwa berdasarkan asumsi desain, sekitar 87.46% dari hydraulic power tersedia dikonversikan menjadi shaft power. Sisa energi diasumsikan hilang melalui hydraulic losses, mechanical losses, dan volumetric leakage.
7. MATLAB GRAPHICAL OUTPUT
MATLAB menghasilkan delapan grafik utama.
Figure 1 โ Hydraulic Power vs Flow Rate

Karena:
maka pada head konstan, hydraulic power berbanding linear terhadap debit.
Figure 2 โ Shaft Power vs Flow Rate

Karena:
maka jika efisiensi dianggap konstan, shaft power juga meningkat secara linear terhadap debit.
Figure 3 โ Efficiency vs Flow Rate

Pada preliminary model, efisiensi dibuat konstan pada kondisi design point karena data performance curve aktual belum tersedia.
Hal ini penting untuk dibedakan dari data eksperimen. Grafik tersebut bukan performance map aktual.
Figure 4 โ Torque vs Rotational Speed

Dengan daya tetap:
Oleh karena itu, kenaikan rotational speed menghasilkan penurunan torque untuk daya yang sama.
Figure 5 โ Efficiency vs Runner Diameter

Grafik ini menggunakan preliminary screening envelope, bukan data eksperimen.
Tujuannya untuk melihat sensitivitas desain terhadap diameter runner dan membantu proses pemilihan awal.
Figure 6 โ Sensitivity terhadap Hydraulic Efficiency

Kenaikan asumsi hydraulic efficiency akan meningkatkan shaft power secara langsung:
Figure 7 โ Sensitivity terhadap Head

Untuk debit dan efisiensi tetap:
Sehingga peningkatan head menghasilkan peningkatan daya secara linear.
Figure 8 โ Sensitivity terhadap Flow Rate

Untuk head dan efisiensi tetap:
Sehingga peningkatan debit menghasilkan peningkatan daya secara linear.
8. DESIGN ITERATION
Design iteration dilakukan dengan mengubah rotational speed dan . Setiap kombinasi dihitung kembali untuk memperoleh diameter runner, flow velocity, blade angle, dan specific speed.
Constraint preliminary:
Tabel Iterasi
| Iterasi | N (rpm) | Ku | D1 (m) | D2 (m) | Vf1 (m/s) | Vf2 (m/s) | ฮฒ1 (ยฐ) | ฮฒ2 (ยฐ) | Ns | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 400 | 0.65 | 0.972 | 0.729 | 8.62 | 8.73 | 101.84 | 29.77 | 139.33 | Tidak |
| 2 | 400 | 0.75 | 1.122 | 0.841 | 7.50 | 7.59 | 60.18 | 23.25 | 139.33 | Tidak |
| 3 | 450 | 0.70 | 0.931 | 0.698 | 9.00 | 9.10 | 81.52 | 29.02 | 156.75 | Tidak |
| 4 | 450 | 0.80 | 1.063 | 0.798 | 7.88 | 7.96 | 48.18 | 23.01 | 156.75 | Tidak |
| 5 | 500 | 0.70 | 0.837 | 0.628 | 10.00 | 10.14 | 82.36 | 31.65 | 174.16 | Tidak |
| 6 | 500 | 0.75 | 0.897 | 0.673 | 9.34 | 9.46 | 65.37 | 28.23 | 174.16 | Lolos |
| 7 | 550 | 0.75 | 0.816 | 0.612 | 10.28 | 10.40 | 67.37 | 30.57 | 191.58 | Lolos |
| 8 | 550 | 0.80 | 0.870 | 0.653 | 9.64 | 9.75 | 53.80 | 27.43 | 191.58 | Lolos |
| 9 | 600 | 0.75 | 0.748 | 0.561 | 11.20 | 11.35 | 69.09 | 32.80 | 209.00 | Lolos |
| 10 | 600 | 0.80 | 0.798 | 0.598 | 10.50 | 10.63 | 56.14 | 29.52 | 209.00 | Lolos |
Iterasi ke-6 dipilih sebagai desain utama karena memberikan kombinasi yang paling dekat dengan target preliminary design, terutama pada specific speed, blade angle, diameter, dan flow velocity.
Proses tersebut mengikuti:
9. ERROR CHECKING AND VALIDATION
a. Unit Consistency
Seluruh perhitungan menggunakan:
- kg,
- m,
- s,
- N,
- W,
- Pa.
Tidak digunakan pencampuran satuan horsepower, feet, gallon per minute, atau rpm tanpa konversi.
b. Mass Conservation
Inlet:
Outlet:
Sehingga:
c. Energy Conservation
Hydraulic power:
Runner power:
Shaft power:
Hubungan:
terpenuhi.
d. Efficiency Check
sehingga tidak terjadi efisiensi secara fisik mustahil.
e. Euler Verification
dengan:
menghasilkan:
yang sesuai dengan:
10. VERIFICATION AND VALIDATION
Verification
Verification dilakukan untuk memastikan bahwa model matematika dan implementasi MATLAB berjalan sesuai persamaan.
Hal yang diverifikasi:
- Kontinuitas debit.
- Euler equation.
- Power balance.
- Torque-power relation.
- Efficiency range.
- Unit consistency.
- Physical sign convention.
- Specific speed calculation.
Hasil verification menunjukkan bahwa persamaan utama konsisten.
Validation Against Literature
Validation dalam proyek ini bukan experimental validation. Validasi dilakukan dengan membandingkan karakteristik desain terhadap literatur.
Francis merupakan turbin reaksi yang digunakan pada kombinasi head dan flow yang sesuai dengan karakteristiknya. DOE menempatkan Francis sebagai turbin yang umum digunakan pada aplikasi medium hingga high head.
Bureau of Reclamation menyediakan data dan experience curves untuk pemilihan turbin reaksi, Francis turbine, specific speed, runner proportions, draft tube, cavitation, dan performance.
Nilai:
berada dalam rentang screening yang ditetapkan pada proyek ini, yaitu 100โ250. Nilai tersebut diperlakukan sebagai preliminary selection criterion, bukan sebagai batas universal seluruh Francis turbine.
IEC 60193:2019 menegaskan pentingnya model acceptance test untuk menentukan performa hidraulik dan membandingkannya dengan performance guarantee.
Dengan demikian, desain ini dapat dikategorikan:
reasonable preliminary design, tetapi belum dapat disebut sebagai final validated turbine design.
H. RESULTS AND DISCUSSION
1. Final Design Parameters
| Parameter | Symbol | Value | Unit |
|---|---|---|---|
| Net head | H | 50.00 | m |
| Flow rate | Q | 5.00 | mยณ/s |
| Rotational speed | N | 500 | rpm |
| Hydraulic power | Ph | 2452.50 | kW |
| Runner mechanical power | Prunner | 2256.30 | kW |
| Shaft power | Ps | 2144.84 | kW |
| Hydraulic efficiency | ฮทh | 92.00 | % |
| Mechanical efficiency | ฮทm | 97.00 | % |
| Volumetric efficiency | ฮทv | 98.00 | % |
| Overall efficiency | ฮทo | 87.46 | % |
| Runner diameter | D1 | 0.897 | m |
| Outlet diameter | D2 | 0.673 | m |
| Hydraulic torque | Th | 43.09 | kNยทm |
| Shaft torque | Ts | 40.96 | kNยทm |
| Specific speed | Ns | 174.16 | – |
2. Velocity Triangle Results


| Parameter | Inlet | Outlet | Unit |
|---|---|---|---|
| U | 23.49 | 17.62 | m/s |
| V | 21.36 | 9.46 | m/s |
| Vf | 9.34 | 9.46 | m/s |
| Vu | 19.21 | 0.00 | m/s |
| W | 10.27 | 20.00 | m/s |
| ฮฒ | 65.37 | 28.23 | degree |
Pada inlet, absolute velocity memiliki komponen tangensial sebesar 19.21 m/s. Komponen tersebut menunjukkan bahwa air memasuki runner dengan angular momentum yang kemudian dikonversikan menjadi mechanical work.
Pada outlet, residual whirl diasumsikan nol. Ini merupakan pendekatan idealisasi yang bertujuan memaksimalkan pemanfaatan perubahan momentum sudut.
3. Performance Analysis
Head vs Power
Hubungan:
menunjukkan hubungan linear antara head dan power selama debit dan efisiensi dianggap tetap.
Pada:
diperoleh:
Flow Rate vs Power
Dengan:
diperoleh:
Apabila debit meningkat sementara head dan efisiensi tetap, power meningkat secara linear.
Speed vs Torque
Pada:
diperoleh:
Jika power tetap, peningkatan speed akan menurunkan torque.
Runner Diameter vs Efficiency
Diameter runner memengaruhi peripheral velocity:
Karena berhubungan langsung dengan Euler turbine equation, perubahan diameter akan mengubah velocity triangle dan energy transfer.
Namun, model satu dimensi tidak cukup untuk menghitung perubahan hydraulic losses secara akurat. Oleh karena itu, grafik efficiency terhadap diameter dalam proyek ini digunakan sebagai screening envelope, bukan sebagai hasil CFD atau eksperimen.
4. Sensitivity Analysis
Hydraulic Efficiency
| ฮทh | Shaft Power (kW) |
|---|---|
| 88% | 2051.67 |
| 90% | 2098.28 |
| 92% | 2144.84 |
| 94% | 2191.46 |
| 96% | 2238.08 |
Perubahan hydraulic efficiency memberikan pengaruh langsung terhadap shaft power.
Head
| H (m) | Shaft Power (kW) |
|---|---|
| 40 | 1715.87 |
| 45 | 1930.36 |
| 50 | 2144.84 |
| 55 | 2359.32 |
| 60 | 2573.81 |
Hasil menunjukkan hubungan hampir linear:
Flow Rate
| Q (mยณ/s) | Shaft Power (kW) |
|---|---|
| 3 | 1286.90 |
| 4 | 1715.87 |
| 5 | 2144.84 |
| 6 | 2573.81 |
| 7 | 3002.77 |
Hubungan juga linear:
5. Physical Interpretation
Nilai shaft power sebesar 2.145 MW menunjukkan bahwa pada kondisi desain, energi hidraulik sekitar 2.453 MW dapat dikonversikan menjadi energi mekanik poros sekitar 2.145 MW berdasarkan efficiency assumptions.
Perbedaan tersebut tidak berarti energi hilang secara misterius, tetapi merepresentasikan losses yang dimodelkan melalui tiga komponen efisiensi:
Hydraulic losses dapat berasal dari friction, flow separation, secondary flow, turbulence, dan losses pada runner/distributor.
Mechanical losses dapat berasal dari bearing, seal, windage, dan mechanical resistance.
Volumetric losses berhubungan dengan leakage atau clearance.
6. Comparison with Literature
Hasil desain menunjukkan karakteristik yang konsisten dengan preliminary Francis turbine design:
- menggunakan reaction turbine concept,
- bekerja dengan head 50 m,
- memiliki specific speed medium,
- memiliki runner diameter sekitar 0.9 m,
- menghasilkan daya sekitar 2.1 MW pada assumed design point,
- memiliki overall efficiency di bawah 100%,
- membutuhkan draft tube untuk pemulihan energi kinetic pada outlet.
Bureau of Reclamation menyediakan referensi engineering mengenai Francis turbine dimensions, performance characteristics, specific speed, draft tube, cavitation, dan speed regulation.
Literatur modern juga menunjukkan bahwa preliminary one-dimensional design perlu dilanjutkan dengan detailed blade design dan CFD untuk mendapatkan karakteristik aliran yang lebih realistis.
7. Limitations
a. One-dimensional model
Model tidak memperhitungkan distribusi velocity dan pressure secara tiga dimensi.
b. Steady-state
Transient flow, startup, shutdown, load rejection, dan water hammer tidak dianalisis.
c. Empirical/preliminary coefficients
Parameter seperti , , , dan merupakan preliminary assumptions sehingga perlu dikalibrasi dengan desain benchmark atau CFD.
d. No CFD
Belum ada analisis:
- pressure distribution,
- turbulent kinetic energy,
- vortex,
- flow separation,
- secondary flow,
- blade loading,
- cavitation index.
e. No experiment
Tidak terdapat prototype atau laboratory experiment sehingga hasil tidak boleh disebut experimental validation.
f. Cavitation
Cavitation belum dihitung secara detail. Penilaian cavitation memerlukan kondisi tekanan absolut, elevation, tailwater level, vapor pressure, dan suction head.
g. Mechanical structure
Belum dilakukan:
- shaft stress analysis,
- blade stress analysis,
- fatigue,
- FEA,
- vibration analysis.
h. Manufacturing tolerance
Clearance, surface roughness, blade thickness, welding, casting tolerance, dan machining tolerance belum dianalisis.
I. CONCLUSION, CLOSING REMARKS, RECOMMENDATIONS
Conclusion
Berdasarkan preliminary design yang dilakukan, turbin Francis dapat dirancang untuk assumed design condition berupa net head 50 m, debit 5 mยณ/s, dan rotational speed 500 rpm.
Daya hidraulik yang tersedia adalah:
Dengan hydraulic efficiency 92%, mechanical efficiency 97%, dan volumetric efficiency 98%, diperoleh overall efficiency:
dan shaft power:
Runner diameter hasil preliminary design:
sedangkan diameter outlet:
Kecepatan peripheral inlet:
dan outlet:
Analisis velocity triangle menghasilkan:
dan:
Specific speed power-based:
Shaft torque pada 500 rpm adalah:
Proses iterasi menunjukkan bahwa kombinasi 500 rpm dan Ku1=0.75K merupakan desain yang paling sesuai dengan constraint preliminary yang ditetapkan.
Sensitivity analysis menunjukkan bahwa head dan flow rate memiliki pengaruh linear terhadap power dalam model ini. Hydraulic efficiency juga memberikan pengaruh langsung terhadap shaft power.
Secara keseluruhan, desain dapat dinyatakan reasonable sebagai preliminary engineering design, tetapi belum dapat dinyatakan sebagai final design karena belum dilakukan CFD, cavitation analysis, structural analysis, dan experimental testing.
Closing Remarks
Perancangan turbin Francis menunjukkan bahwa desain mesin fluida merupakan proses multidisiplin yang menghubungkan mekanika fluida, turbomachinery, energy conversion, computational engineering, dan engineering ethics.
Kerangka DAI5 membantu memastikan bahwa proses desain tidak hanya berhenti pada perhitungan numerik, tetapi juga mempertimbangkan kesadaran, niat, pemahaman masalah, idealisasi, metode, verification, sustainability, dan tanggung jawab engineering.
Recommendations
Tahapan pengembangan selanjutnya adalah:
- CFD analysis
- 3D runner modelling.
- Pressure distribution.
- Velocity distribution.
- Turbulence modelling.
- Blade loading.
- Cavitation analysis
- Pressure coefficient.
- Thoma cavitation coefficient.
- Vapor pressure.
- Minimum pressure location.
- Structural analysis
- Shaft stress.
- Runner stress.
- Blade stress.
- Fatigue analysis.
- FEA
- Static structural.
- Modal analysis.
- Fatigue analysis.
- Experimental testing
- Flow measurement.
- Head measurement.
- Torque measurement.
- RPM measurement.
- Efficiency measurement.
- Optimization
- Runner diameter.
- Blade angle.
- Blade number.
- Blade thickness.
- Distributor geometry.
- Advanced blade design
- 3D blade shaping.
- Lean/sweep.
- Surface optimization.
- Cavitation-resistant geometry.
IEC 60193 dapat digunakan sebagai referensi untuk model acceptance testing, sedangkan IEC 62006 relevan untuk acceptance testing instalasi small hydroelectric.
J. ACKNOWLEDGMENTS
Penulis mengucapkan terima kasih kepada dosen pengampu yang telah memberikan arahan dan kesempatan untuk mengembangkan pemahaman mengenai perancangan mesin fluida dan turbin hidraulik.
Ucapan terima kasih juga disampaikan kepada institusi pendidikan, rekan-rekan mahasiswa, serta seluruh pihak yang memberikan dukungan selama proses penyusunan proyek ini.
K. REFERENCES / LITERATURE CITED
Bureau of Reclamation. (1976). Selecting hydraulic reaction turbines (Engineering Monograph No. 20, revised). U.S. Department of the Interior, Bureau of Reclamation.
รengel, Y. A., & Cimbala, J. M. (2020). Fluid mechanics: Fundamentals and applications (4th ed., SI units). McGraw-Hill Education.
Dixon, S. L., & Hall, C. A. (2014). Fluid mechanics and thermodynamics of turbomachinery (7th ed.). Butterworth-Heinemann.
Gerhart, P. M., Gerhart, A. L., & Hochstein, J. I. (2021). Munson, Young and Okiishi’s fundamentals of fluid mechanics (9th ed.). Wiley.
Guo, Z., Chitrakar, S., Qian, Z., & Thapa, B. (2025). Design of Francis turbine and OpenFOAM methods. Springer Nature Singapore.
International Electrotechnical Commission. (2019). IEC 60193:2019: Hydraulic turbines, storage pumps and pump-turbinesโModel acceptance tests. IEC.
International Electrotechnical Commission. (2019). IEC 62097:2019: Hydraulic machines, radial and axialโMethodology for performance transposition from model to prototype. IEC.
International Electrotechnical Commission. (2010). IEC 62006:2010: Hydraulic machinesโAcceptance tests of small hydroelectric installations. IEC.
Leyland, B. (2014). Small hydroelectric engineering practice. CRC Press/Routledge.
Peng, W. W., & Amano, R. S. (2025). Hydraulic turbines. In Fundamentals of turbomachinery. Wiley. https://doi.org/10.1002/9781394273577.ch7
U.S. Department of Energy. (2013). Types of hydropower turbines. Office of Energy Efficiency and Renewable Energy.
Warnick, C. C. (1984). Hydropower engineering. Prentice-Hall.
L. APPENDICES
Appendix A โ Complete Graph
Figure 1 โ Hydraulic Power vs Flow Rate

Figure 2 โ Shaft Power vs Flow Rate

Figure 3 โ Efficiency vs Flow Rate

Figure 4 โ Torque vs Rotational Speed

Figure 5 โ Efficiency vs Runner Diameter

Figure 6 โ Sensitivity terhadap Hydraulic Efficiency

Figure 7 โ Sensitivity terhadap Head

Appendix B โ Detailed Manual Calculations
B.1 Hydraulic Power
B.2 Overall Efficiency
B.3 Shaft Power
B.4 Angular Velocity
B.5 Runner Peripheral Velocity
B.6 Runner Diameter
B.7 Outlet Diameter
B.8 Inlet Flow Velocity
B.9 Outlet Flow Velocity
B.10 Inlet Whirl
B.11 Inlet Absolute Velocity
B.12 Inlet Relative Velocity
B.13 Inlet Blade Angle
B.14 Outlet Blade Angle
B.15 Shaft Torque
Appendix C โ Design Input
| Parameter | Value | Status |
|---|---|---|
| H | 50 m | Assumed design input |
| Q | 5 mยณ/s | Assumed design input |
| N | 500 rpm | Assumed design input |
| ฮทh | 92% | Assumed |
| ฮทm | 97% | Assumed |
| ฮทv | 98% | Assumed |
| ฯ | 1000 kg/mยณ | Standard |
| g | 9.81 m/sยฒ | Standard |
Appendix D โ Iteration Results
| Iteration | N | Ku | D1 | ฮฒ1 | ฮฒ2 | Ns | Status |
|---|---|---|---|---|---|---|---|
| 1 | 400 | 0.65 | 0.972 | 101.84 | 29.77 | 139.33 | Reject |
| 2 | 400 | 0.75 | 1.122 | 60.18 | 23.25 | 139.33 | Reject |
| 3 | 450 | 0.70 | 0.931 | 81.52 | 29.02 | 156.75 | Reject |
| 4 | 450 | 0.80 | 1.063 | 48.18 | 23.01 | 156.75 | Reject |
| 5 | 500 | 0.70 | 0.837 | 82.36 | 31.65 | 174.16 | Reject |
| 6 | 500 | 0.75 | 0.897 | 65.37 | 28.23 | 174.16 | Selected |
| 7 | 550 | 0.75 | 0.816 | 67.37 | 30.57 | 191.58 | Accept |
| 8 | 550 | 0.80 | 0.870 | 53.80 | 27.43 | 191.58 | Accept |
| 9 | 600 | 0.75 | 0.748 | 69.09 | 32.80 | 209.00 | Accept |
| 10 | 600 | 0.80 | 0.798 | 56.14 | 29.52 | 209.00 | Accept |
Appendix E โ Sensitivity Analysis
Hydraulic Efficiency
| ฮทh | Shaft Power |
|---|---|
| 88% | 2051.67 kW |
| 90% | 2098.28 kW |
| 92% | 2144.84 kW |
| 94% | 2191.46 kW |
| 96% | 2238.08 kW |
Head
| H | Shaft Power |
|---|---|
| 40 m | 1715.87 kW |
| 45 m | 1930.36 kW |
| 50 m | 2144.84 kW |
| 55 m | 2359.32 kW |
| 60 m | 2573.81 kW |
Flow Rate
| Q | Shaft Power |
|---|---|
| 3 mยณ/s | 1286.90 kW |
| 4 mยณ/s | 1715.87 kW |
| 5 mยณ/s | 2144.84 kW |
| 6 mยณ/s | 2573.81 kW |
| 7 mยณ/s | 3002.77 kW |
Appendix F โ Velocity Triangle Calculation
Inlet

Outlet

DAI5 EVALUATION MATRIX
| No. | Kriteria | Implementasi dalam laporan |
|---|---|---|
| 1 | Consciousness of Purpose | Deep Awareness |
| 2 | Self-awareness | Refleksi tanggung jawab engineer |
| 3 | Ethical Considerations | Integritas data dan hasil |
| 4 | Integration of CCIT | Deep Awareness |
| 5 | Critical Reflection | Limitations |
| 6 | Continuum of Awareness | Closing remarks |
| 7 | Clarity of Intent | Intention |
| 8 | Alignment of Objectives | Tujuan dan metode |
| 9 | Relevance of Intent | Preliminary turbine design |
| 10 | Sustainability Focus | Renewable energy dan efficiency |
| 11 | Focus on Quality | Verification dan validation |
| 12 | Problem Understanding | Engineering problem |
| 13 | Stakeholder Awareness | Safety, environment, users |
| 14 | Contextual Analysis | Head-flow-speed context |
| 15 | Root Cause Analysis | Losses dan mismatch |
| 16 | Relevance of Analysis | Turbine performance |
| 17 | Use of Data and Evidence | Literature + assumed input |
| 18 | Assumption Clarity | Design Input & Idealization |
| 19 | Creativity and Innovation | MATLAB automation |
| 20 | Physical Realism | Engineering constraints |
| 21 | Alignment with Intent | Preliminary design |
| 22 | Scalability and Adaptability | Iteration |
| 23 | Simplicity and Elegance | 1-D model |
| 24 | Clarity of Steps | Methods |
| 25 | Comprehensiveness | MATLAB + calculations |
| 26 | Physical Interpretation | Results discussion |
| 27 | Error Minimization | MATLAB checks |
| 28 | Verification and Validation | Verification + literature |
| 29 | Iterative Approach | 10 design iterations |
| 30 | Sustainability Integration | Hydropower sustainability |
| 31 | Communication Effectiveness | Tables, equations, graphs |
| 32 | Alignment with DAI5 | Struktur AโL |
| 33 | Documentation Quality | Appendices + references |
FINAL DESIGN SUMMARY
| Parameter | Final Value |
|---|---|
| Head | 50 m |
| Flow rate | 5 mยณ/s |
| Rotational speed | 500 rpm |
| Hydraulic power | 2452.50 kW |
| Runner mechanical power | 2256.30 kW |
| Shaft power | 2144.84 kW |
| Overall efficiency | 87.46% |
| Runner diameter | 0.897 m |
| Outlet diameter | 0.673 m |
| Inlet blade angle | 65.37ยฐ |
| Outlet blade angle | 28.23ยฐ |
| Hydraulic torque | 43.09 kNยทm |
| Shaft torque | 40.96 kNยทm |
| Specific speed | 174.16 |
| Design status | Preliminary design โ feasible under stated assumptions |
Catatan engineering penting: seluruh angka desain di atas merupakan hasil dari assumed design input yang dipilih untuk membuat contoh perancangan numerik yang lengkap. Angka tersebut harus diganti apabila dosen memberikan data proyek aktual berupa H, Q, N, target power, atau parameter lainnya. Desain ini belum merupakan final prototype design karena belum melalui CFD, cavitation verification, structural/FEA analysis, dan experimental testing.
Sekian Laporan saya mengenai turbin francis dalam mempelajari sistem konversi energi. Mohon maaf apabila ada kesalahan kata.
ุงููุญูู ูุฏู ููููููู ุฑูุจูู ุงููุนูุงููู ูููู
ููุงูุณููููุงู ู ุนูููููููู ู ููุฑูุญูู ูุฉู ุงูููููู ููุจูุฑูููุงุชููู