Hype cycle for AI umum sekali digambarkan sebagai tren grafik yang menjelaskan fluktuasi ekspektasi manusia terhadap teknologi seiring berjalannya waktu. Sejak pertama kali AI diperkenalkan dan tersebar secara komersil, ekspektasi publik langsung meroket tajam menuju puncaknya. Keterlibatannya memang terbukti memberikan kontribusi langsung yang signifikan terhadap aktivitas manusia. AI kerap menjadi tool otomatisasi yang sangat efisien dan efektif dalam menunjang sekaligus menyelesaikan masalah kompleks yang ada. Namun pada fase tertentu, ekspektasi yang terlalu melambung ini pasti akan berbenturan dengan realitas batasan kemampuan mesin di lapangan.
Saya pribadi mulai sering menggunakan tool AI sejak berstatus sebagai mahasiswa S1 teknik mesin dan ritme kerja ini terus berlanjut hingga studi pascasarjana saat ini. Tak heran, saya pun memiliki ekspektasi tinggi sebagai pengguna aktif. AI sangat membantu saya dalam menyelesaikan berbagai projek riset yang dominan sekali berkecimpung dengan metode komputasi.
Secara teknis, tool AI umumnya saya gunakan pada proses debugging dalam konstruksi setup numerical simulation. Contohnya terlihat saat saya menghadapi kebuntuan dalam melacak kesalahan sintaksis pada skrip pengolahan data Python atau saat butuh mengurai kerumitan parameter simulasi. AI dengan cepat mengidentifikasi celah tersebut sehingga mempercepat proses simulasi dan menyelesaikan persamaan matematis yang rumit. Beban kerja repetitif berhasil dipangkas dan waktu yang tersisa dapat saya alokasikan sepenuhnya untuk memvalidasi hasil kalkulasi.
Memandang tren ekspektasi AI ini, sebagai permulaan AI memang berhasil menciptakan ekspektasi besar dalam keterlibatannya di aktivitas manusia. Namun, perlu dipertimbangkan lagi atas keterbatasan teknologi saat ini yang belum memiliki intuisi keteknikan murni. Pemahaman fisika fundamental tetap menjadi otoritas saya sebagai mahasiswa. Oleh karena itu, kita harus terus adaptif agar sinergi dengan AI dapat terbangun secara rasional. AI tidak hadir untuk menggantikan kapabilitas analitis kita, melainkan beroperasi sebagai partner yang membantu merealisasikan target secara lebih optimal.
Rizki Aldi Anggara
S2 Teknik Mesin
