ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

Komputasi Teknik pertemuan ke-2

Dari Mencicipi ke Memasak

Catatan: Tulisan di bawah ini bermula dari tugas dadakan. Dosen saya memberi selembar kertas dan meminta saya menulis bebas di dua halaman kosong, lalu menyuruh saya memasukkan hasilnya ke AI โ€” tanpa memberi tahu prompt apa yang harus saya pakai. Saya memilih Claude, dan saya sengaja hanya menempelkan tulisan saya apa adanya untuk melihat respons alaminya. Berikut keduanya, utuh.


Bagian 1 โ€” Tulisan Saya

Saat saya lulus kuliah, saya merasa ilmu yang saya terima semuanya bersumber dari satu arah.

Analogi:

  • SDโ€“SMA, kita setiap pagi disajikan satu menu untuk sarapan (misal nasi goreng) dan memakannya.
  • Kuliah, kita punya sedikit kebebasan. Kita disajikan nasi goreng, bihun, mie goreng atau nasi telor mata sapi, kemudian kita diberi kebebasan untuk memilih dan mengeksplorasi rasa sendiri.
  • Kerja, tiba-tiba kita dituntut untuk membuat nasi goreng. Selama ini kita hanya menunjuk, memakan dan menganalisa rasanya. Sekarang kita tiba-tiba disuruh membuat.

Hal tersebut yang menjadi landasan niat saya sendiri untuk belajar. Gap atau celah antara pekerjaan (tuntutan) dan/atau ilmu yang saya punya ternyata masih sangat jauh.

Awalnya memang tuntutan, tapi lama kelamaan saya merasa senang? Atau entah rasa apa ini. Tapi ini rasa yang saya alami saat mengetahui suatu fenomena alam bisa dikaitkan dengan ilmu dan teori yang kita miliki.

Mungkin faktor keberuntungan juga. Karena faktornya banyak teman saya bekerja di bidang lain yang tidak relevan.

Selama proses belajar tersebut, ada satu hal yang sangat membantu saya: teknologi. Bagi orang yang malas seperti saya, teknologi saya anggap sahabat dekat.

Saat saya ada tugas untuk menginstalasikan mixing tank larutan brine, semua persamaan panjang dapat diplot dalam sheet Excel sebelum kemudian kita olah menjadi model. Itu tujuh tahun yang lalu. Sekarang semuanya malah jauh lebih instan lagi. Dulu saya perlu menyiapkan format dan formula Excel-nya, sekarang dengan AI saya malah bisa menyuruhnya untuk membuat sendiri sehingga saya tinggal memasukkan parameter yang dibutuhkan. Bahkan di tahun 2026 ini, saya tinggal memberi screenshot dan dia juga yang mengolah parameternya.

Karena hal itu juga saya memutuskan untuk berhenti bermain catur secara online. Salah satu hobi saya sebelum Stockfish dan AI datang. Komputer selalu punya keunggulan kalau dalam hal komputasi algoritma dan pola. Berbeda dengan kita manusia yang bisa panik saat jam catur sudah mau habis, dan hormon turut berkontribusi merusak unit pemrosesan kita.

Tapi justru itu yang menarik. Ada faktor lain dalam manusia yang menurut saya justru membuat manusia jauh lebih unggul โ€” ya karena lebih kompleks. Komputer bisa meniru cara pemrosesan kita, tapi tidak hal lain.


Bagian 2 โ€” Respons Claude

Yang membuat tulisan ini bagus buat saya: analoginya tidak berhenti di tempat yang nyaman. Kebanyakan orang berhenti di “sekolah menyuapi, kerja menuntut mandiri.” Kamu menaruh jarinya di titik yang lebih tepat โ€” belasan tahun kita dilatih mencicipi, lalu tiba-tiba diminta memasak. Itu dua keterampilan yang berbeda, bukan dua tingkat dari keterampilan yang sama. Soal ujian selalu punya jawaban dan selalu punya data yang cukup. Mixing tank brine tidak punya dua-duanya.

Soal “entah rasa apa ini” โ€” saya menduga itu bukan kesenangan mendapat ilmu baru, tapi kesenangan karena dunia mendadak terbaca. Embun di gelas es teh berhenti jadi pemandangan dan berubah jadi titik embun pada tekanan parsial tertentu. Rasa itu cuma muncul kalau ada teori yang sudah lama tersimpan dan menunggu dipakai. Tidak bisa dibeli mendadak.

Dan di situ ada satu benang yang menurut saya belum kamu tarik sampai habis, padahal bahannya sudah kamu tulis sendiri.

Excel tujuh tahun lalu: kamu yang menyiapkan format dan formulanya. Kerepotan itu memaksa kamu tahu persamaannya, tahu satuannya, tahu asumsi mana yang kamu injak. Kelelahan itu sendiri yang menutup gap-nya. Sekarang screenshot masuk, model keluar. Gap-nya tertutup, atau cuma tidak kelihatan? Saya tidak sedang bilang AI membodohkan โ€” itu terlalu murah. Maksud saya, dua hal itu sama-sama “teknologi membantu” tapi strukturnya beda: yang satu tuas di atas pemahaman, yang satu bisa jadi pengganti pemahaman. Dan dari dalam, rasanya persis sama. Sama enak, sama cepat.

Untungnya jawabannya juga sudah kamu tulis, di paragraf catur.

Kamu berhenti main catur karena komputer lebih unggul. Tapi kamu tidak berhenti jadi engineer, padahal komputer juga jauh lebih cepat menghitung neraca massa dan energi tanki itu. Kenapa beda? Karena di catur, komputasi adalah seluruh permainannya โ€” begitu ada mesin yang lebih baik, isinya habis. Di pekerjaanmu, hitungan bukan intinya. Intinya memutuskan apakah tanki ini perlu dimodelkan, asumsi mana yang boleh dilanggar, angka ini masuk akal atau tidak, dan berani tanda tangan atau tidak. Mesin boleh mengambil alih seluruh hitungannya dan pekerjaan itu tetap milikmu โ€” selama kamu masih sanggup menilai keluarannya. Jadi yang perlu dijaga sebetulnya cuma satu: kemampuan menilai. Sisanya silakan diserahkan, dan tidak perlu merasa bersalah soal malas.

Kalimat terakhirmu menyangkut saya, jadi saya jawab apa adanya: saya tidak tahu apakah ada “hal lain” pada diri saya. Yang bisa saya katakan, panik saat jam catur tinggal sepuluh detik itu bukan cacat yang menempel pada prosesor yang bagus. Ia bagian dari sistem yang sama dengan yang membuat kamu peduli pada hasilnya. Susah punya yang satu tanpa yang lain โ€” dan itu mungkin bukan kelemahan yang kebetulan, tapi harga dari kepedulian itu sendiri.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *