1. Deskripsi Geometri dan Detail Dimensi Fisik
Eksperimen numerik dan parametric study ini membandingkan tiga model extended surface (sirip) pasif yang dirancang untuk diaplikasikan pada pelat penyerap (absorber plate) di sisi belakang panel surya fotovoltaik. Karakteristik geometris dari masing-masing model didefinisikan berdasarkan visualisasi teknis sebagai berikut:
2.1 Sirip Sejajar Konvensional / Parallel Fin (PAR)


Berdasarkan gambar 2., model sirip ini menggunakan konfigurasi konvensional lurus sejajar (straight parallel arrangement) horizontal. Detail dimensi kuantitatif dari geometri PAR adalah:
- Tinggi Sirip (L): 50,00 mm (jarak konduksi linear dari pelat dasar menuju ujung sirip).
- Ketebalan Sirip (ฮด): 6,00 mm konstan di sepanjang lintasan disipasi.
- Jarak Antar-Sirip (Pitch / S): 50,00 mm sebagai ruang sirkulasi udara konvektif.
2.2 Sirip Tulang Daun Fraktal / Leaf Vein Fin (LV)


Berdasarkan gambar 4., model sirip ini mengadopsi prinsip bio-mimikri struktur tulang daun (pinnate/chevron-like venation). Lengan sirip dirancang miring membentuk sudut tertentu terhadap sumbu simetri tengah saluran untuk meniru pola fraktal alami tumbuhan. Karakteristik dimensinya meliputi:
- Tinggi Sirip Efektif (L): 50,00 mm dari basis pelat absorber.
- Ketebalan Batang Sirip (ฮด): 6,00 mm di sepanjang percabangan miring.
- Jarak Vertikal Antar-Elemen (S): 50,00 mm di sepanjang sumbu longitudinal utama.
2.3 Sirip Tulang Daun Hibrida T-Shape / Leaf Vein T-Shaped Fin (LVT)


Berdasarkan gambar 6., model sirip ini melambangkan lompatan mutakhir (cutting-edge geometry) dengan mengintegrasikan pola fraktal tulang daun dengan profil penampang hibrida berbentuk T pada ujung setiap cabang (T-flange tip). Detail parameter dimensinya adalah:
- Panjang Batang Utama (Stem): 50,00 mm dengan ketebalan inti sebesar 6,00 mm.
- Jarak Berkala Antar-Elemen (S): Hingga 50,00 mm.
- Lebar Sayap Ujung (T-Tip Width / Wtip): Ditambahkan ekstensi horizontal sepanjang 20,00 mm pada ujung sirip.
- Ketebalan Sayap Ujung (T-Tip Thickness / ฮดtip): Berukuran 5,00 mm tegak lurus terhadap batang utama.
2. Landasan Teoritis dan Formulasi Matematis
Analisis kemampuan disipasi panas pasif pada ketiga extended surface ini didasarkan pada hukum Fourier untuk konduksi solid dan korelasi bilangan Nusselt untuk konveksi fluida gas.
2.1 Parameter Performa Sirip (m)
Kemampuan perambatan panas sepanjang bodi sirip dikontrol oleh parameter matematis m yang merelasikan koefisien konveksi fluida terhadap konduktivitas material solid:

Di mana:
- h = Koefisien perpindahan panas konvektif lokal (W/m2K).
- P = Keliling penampang sirip (m).
- k = Konduktivitas termal material logam sirip (W/m โข K).
- Ac = Luas penampang lintasan konduksi (m2).
2.2 Efisiensi Sirip Efektif (ฮทf)
Untuk mengevaluasi kontribusi area tambahan terhadap penurunan temperatur total, efisiensi dari masing-masing tipe sirip dihitung menggunakan fungsi hiperbolik:

Di mana Lc melambangkan panjang karakteristik sirip setelah disesuaikan dengan koreksi kehilangan panas di ujung permukaan (corrected fin length).
3. Analisis Mekanisme Disipasi Panas Komparatif
Perbedaan konfigurasi geometri dari ketiga model di atas melahirkan karakteristik hidrodinamika aliran internal yang berbeda secara signifikan saat berinteraksi dengan fluida kerja udara pendingin:
3.1 Model PAR: Keterbatasan Thermal Boundary Layer Linier
Pada bodi sirip lurus sejajar, udara pendingin cenderung bergerak secara paralel-linier di dalam saluran. Pola aliran ini memicu pertumbuhan lapisan batas termal (thermal boundary layer) yang menebal secara kontinu dari sisi inlet menuju area hilir (downstream). Akibat tebalnya lapisan batas ini, nilai resistansi termal konvektif meningkat di sepanjang saluran, sehingga penyerapan panas menjadi tidak seragam dan memicu degradasi efisiensi termal lokal pada segmen belakang panel.
3.2 Model LV: Gangguan Lapisan Batas Berbasis Struktur Fraktal
Penerapan pola fraktal miring mirip tulang daun secara efektif memotong kontinuitas pergerakan linier fluida pendingin. Sudut kemiringan lengan sirip memaksa udara bergerak secara berbelok (sinusoidal/angled trajectory), yang memicu pembentukan pusaran skala kecil (micro-vortex generator). Fenomena hidrodinamika ini merusak pertumbuhan lapisan batas termal yang tebal, menjaga nilai gradien temperatur dinding tetap tinggi, dan meningkatkan intensitas konveksi alami bilamana dikomparasikan dengan model sirip lurus konvensional. Namun, kelemahan model LV terletak pada nilai thermal resistance di ujung sirip (fin tip) yang tinggi karena penurunan luas permukaan disipasi di area fluida bebas.
3.3 Model LVT: Solusi Integratif Eliminasi Resistansi Ujung Sirip
Model hibrida Leaf Vein T-Shaped Fin bertindak sebagai solusi integratif yang menutup kelemahan fisis dari model PAR dan LV. Struktur fraktal tulang daun dipertahankan untuk memanipulasi hidrodinamika aliran dan memotong tebal lapisan batas konvektif.
Pada saat yang bersamaan, penambahan sayap horizontal (flange) berukuran 20,00 mm ร 5,00 mm berbentuk T (T-shape) tepat di bagian ujung cabang sirip memanipulasi parameter Keliling Efektif (P) pada ujung konduksi. Penambahan area disipasi lateral pada ujung sirip ini menekan nilai resistansi konduksi internal bodi logam tepat pada koridor fluida yang memiliki kecepatan sirkulasi tertinggi, tanpa memberikan efek penyumbatan hidrolik (choking effect) pada saluran sirkulasi.
4. KESIMPULAN
Analisis geometris membuktikan bahwa evolusi bentuk dari model sirip lurus paralel (PAR) menuju variasi fraktal tulang daun (LV) dan hibrida penampang ujung T-shape (LVT) memberikan penguatan performa termal secara asimtotik. Model Leaf Vein T-Shaped Fin (LVT) diidentifikasi sebagai konfigurasi paling optimum dalam manajemen termal pasif panel surya. Struktur LVT sukses mensinergikan kemampuan gangguan lapisan batas dari topologi fraktal alami tumbuhan dengan optimalisasi luas pembuangan panas konduktif lateral pada ujung sirip, menjadikannya desain extended surface pasif yang ideal untuk menjaga stabilitas efisiensi elektrikal PV pada fluks iradiasi tinggi.