ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

D3_2406486806_Briyan Hadi Wiryawan_Metode Numerik-04_Laporan Progress Project

ุจูุณู’ู…ู ุงู„ู„ู‘ูฐู‡ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญู’ู…ูฐู†ู ุงู„ุฑูŽู‘ุญููŠู’ู…ู 
Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Selamat Pagi, Siang dan Sore Prof. Dai dan teman-teman sekalian.
Izinkan saya untuk menjelaskan laporan terkait project yang suah saya rancang pada tugas D1 dan D2.
Berikut laporan project saya.

Pada minggu kelima, saya memasuki tahap Implementation sesuai dengan rencana. Saya membeli semua material yang telah saya daftar pada akhir minggu keempat, yaitu dua buah ember plastik ukuran 10 liter, pipa paralon satu inci, kran plastik, pasir kasar, arang batok kelapa, dan kain katun tebal. Total biaya yang saya keluarkan adalah Rp178.000, masih sesuai dengan batas anggaran Rp500.000. Saya kemudian merakit prototipe pertama alat filtrasi. Proses perakitan meliputi pembuatan lubang pada ember bagian bawah, pemasangan pipa dan kran, serta penyusunan ketiga lapisan filter secara berurutan dari pasir, arang, hingga kain. Pada akhir minggu kelima, prototipe sudah siap untuk diuji.

Memasuki minggu keenam, saya melakukan uji coba laboratorium di bengkel kampus. Saya menggunakan satu liter oli bekas yang saya peroleh dari salah satu nelayan yang saya wawancarai sebelumnya. Oli tersebut berwarna hitam pekat dan berbau sangat menyengat. Saya menuangkan oli ke dalam ember bagian atas dan mengamati proses filtrasi yang berlangsung secara gravitasi. Waktu yang dibutuhkan untuk menyaring satu liter oli adalah sekitar 35 menit. Hasil filtrasi menunjukkan perubahan yang signifikan: warna oli menjadi coklat kehitaman (tidak lagi pekat), bau menyengat berkurang, dan tidak terlihat partikel kasar. Saya melakukan uji bakar sederhana dengan mencelupkan kain kecil ke dalam oli hasil filtrasi lalu membakarnya. Api menyala stabil selama kurang lebih 15 detik. Namun, saya juga mencatat beberapa kelemahan, yaitu aliran oli masih terasa lambat dan masih ada sedikit endapan halus pada hasil filtrasi.

Pada minggu ketujuh, saya melakukan perbaikan desain berdasarkan hasil uji coba minggu keenam. Untuk mengatasi aliran yang lambat, saya memperbesar lubang pipa dari satu inci menjadi satu setengah inci. Untuk mengurangi endapan halus, saya menambahkan satu lapisan kain flanel di antara lapisan arang dan kain katun. Setelah perbaikan, saya melakukan uji coba laboratorium ulang dengan satu liter oli bekas yang sama. Hasilnya, waktu filtrasi turun menjadi 22 menit dan hasil oli terlihat lebih jernih tanpa endapan. Setelah uji laboratorium selesai, saya melanjutkan ke uji coba lapangan. Dengan bantuan ketua kelompok nelayan setempat, saya mendapatkan izin untuk menguji alat di atas kapal salah satu nelayan yang bersedia, yaitu Pak Slamet. Kami menggunakan dua liter oli bekas dari kapalnya sendiri. Proses filtrasi berjalan lancar dan Pak Slamet terlihat antusias. Hasil oli filtrasi kemudian dicampur dengan oli baru dengan perbandingan 1:1 dan digunakan pada mesin tempel kapal. Mesin dapat hidup dan berjalan stabil selama 20 menit tanpa kendala berarti. Pak Slamet menyatakan bahwa ia bersedia menggunakan alat ini secara rutin jika tersedia panduan yang mudah dipahami.

Pada minggu kedelapan, saya fokus pada penyelesaian administrasi dan diseminasi. Saya membuat panduan penggunaan dalam bentuk infografis sederhana berisi gambar skema alat, daftar bahan, langkah perakitan, cara penggunaan, dan cara membersihkan filter. Panduan ini saya buat dalam ukuran A3 dan saya laminasi agar tahan air. Saya kemudian mengadakan pelatihan singkat di balai pertemuan nelayan setempat yang dihadiri oleh Pak Slamet dan dua nelayan lainnya. Saya menjelaskan cara membuat, menggunakan, dan membersihkan alat filtrasi. Kedua nelayan yang semula ragu, setelah melihat demonstrasi langsung, menyatakan tertarik untuk mencoba membuat alat sendiri. Saya menyerahkan satu unit prototipe beserta panduan kepada kelompok nelayan tersebut sebagai contoh. Terakhir, saya menyusun laporan akhir proyek yang mencakup seluruh proses dari minggu pertama hingga kedelapan, termasuk refleksi pribadi dan dokumentasi foto setiap tahap.

Kendala utama yang saya hadapi selama tahap Implementation adalah keterbatasan waktu untuk uji coba lapangan karena cuaca laut yang tidak menentu. Namun, berkoordinasi secara intensif dengan ketua kelompok nelayan membantu saya menemukan celah waktu yang tepat. Kendala lainnya adalah pada awal uji coba laboratorium, hasil filtrasi belum optimal sehingga saya harus melakukan perbaikan desain hingga dua kali. Namun, proses kegagalan dan perbaikan ini justru menjadi pelajaran berharga bagi saya.

Secara keseluruhan, proyek filtrasi oli bekas kapal ini telah berhasil menyelesaikan kelima tahapan framework DAI5. Mulai dari Deep Awareness of I yang memberikan fondasi spiritual dan moral, Intention yang mengarahkan setiap keputusan teknis, Initial Thinking yang memberikan pemahaman utuh tentang masalah dan batasan, Idealization yang menghasilkan desain sederhana namun efektif, hingga Implementation yang melibatkan uji coba laboratorium, perbaikan, uji lapangan, dan pelatihan nelayan. Proyek ini membuktikan bahwa pendekatan DAI5 tidak hanya menghasilkan solusi teknis yang fungsional, tetapi juga solusi yang manusiawi, berkelanjutan, dan selaras dengan nilai-nilai kebaikan bagi sesama dan lingkungan.

Demikian laporan progres lanjutan ini saya sampaikan. Terima kasih kepada Prof. Dai dan teman-teman atas bimbingan dan dukungannya selama proses pengerjaan proyek ini.

Terima kasih, Prof. Dai, atas DAI5. Saya tidak hanya pulang dengan sebuah alat, tetapi dengan kesadaran baru, kesabaran yang terasah, dan kepedulian yang tumbuh. Semoga proyek kecil ini bermanfaat untuk nelayan dan menjadi langkah nyata menjaga laut kita.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *