Assalamualaikum warrahmatulahi wabarakatuh, puja dan puji syukur atas kehadiran yang maha kuasa diatas sehingga kita dapat diberikan kesempatan untuk hadir dan juga belajar bersama kembali. sebelumnya izin memperkenalkan diri kembali semuanya, perkenalkan aku MALIQ FARRAZ ALVARO dari program studi teknik perkapalan angkatan 2024. bagaimana kabar kalian semua? semoga kita dapat selalu diberikan rahmat dari tuhan YME AAMIIN aamiin yra. pada kesempatan hari ini saya akan memberikan kisah hidup saya bagaimana saya dari seorang yang tidak memiliki ilmu dan tidak ada apa apa menjadi seseorang yang selalu bersyukur selalu di kampus universitas indonesia ini.
Setiap manusia dilahirkan dengan garis start yang berbeda, namun kota Jakarta mengajarkan saya satu hal sejak kecil, untuk bertahan dan berkembang, kita harus berani bermimpi besar. Nama saya Maliq Farraz Alvaro. Perjalanan hidup saya dimulai dari sudut padat Jakarta Pusat, sebuah lingkungan yang membentuk karakter saya menjadi pribadi yang tangguh, adaptif, dan selalu penasaran dengan cara kerja dunia di sekitar saya.
Langkah awal pendidikan formal saya dimulai di SDN 01 Johar Baru Pagi. Di sekolah dasar inilah benih-benih kecintaan saya terhadap ilmu pengetahuan, khususnya matematika dan sains, mulai tumbuh. Saya ingat betul bagaimana saya selalu antusias setiap kali guru menjelaskan tentang alam, ruang angkasa, atau ketika kami diminta menyusun balok-balok mainan menjadi sebuah struktur bangunan. Sekolah dasar bukan sekadar tempat membaca dan menulis bagi saya, melainkan sebuah laboratorium awal di mana imajinasi seorang anak kecil bernama Maliq mulai distimulasi. Di sini pula saya belajar nilai-nilai kepedulian, komunikasi, dan pertemanan yang jujur.
Lulus dari sekolah dasar, saya melanjutkan perjalanan ke SMPN 77 Jakarta. Masa-masa SMP adalah fase transisi yang sangat krusial. Dari seorang anak kecil yang hanya tahu bermain dan belajar dasar-dasar ilmu, saya mulai dihadapkan pada dinamika sosial yang lebih luas. Di SMPN 77 Jakarta, ego saya mulai diuji, dan di saat yang sama, potensi diri saya mulai terpetakan.
Saya mulai menyadari bahwa saya memiliki ketertarikan kuat pada bidang visual dan organisasi. Saya sering terlibat dalam tugas-tugas kelompok yang membutuhkan presentasi visual yang menarik. Ketertarikan pada dunia teknologi dan estetika ini secara perlahan mengasah kemampuan saya dalam desain grafissebuah keterampilan tersembunyi yang di kemudian hari menjadi aset penting dalam perjalanan organisasi saya. Namun, fokus utama saya tetap pada bidang eksakta. Pelajaran fisika, khususnya yang membahas tentang mekanika, gaya, dan tekanan, selalu berhasil menyita perhatian saya berjam-jam di kamar.
Setelah menyelesaikan pendidikan di sekolah menengah pertama dengan hasil yang memuaskan, langkah kaki membawa saya ke SMAN 27 Jakarta. Di bangku SMA inilah, visi hidup saya menjadi semakin konkret. Sebagai siswa jurusan MIPA (Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam), saya digembleng dengan logika berpikir yang runtut dan analitis. SMAN 27 Jakarta memberikan lingkungan kompetitif yang sehat, yang memaksa saya untuk keluar dari zona nyaman.
Di SMA, tantangan akademis menjadi berkali-kali lipat lebih berat. Saya tidak lagi bisa mengandalkan intuisi semata saya harus belajar secara terstruktur. Di sinilah saya mulai mengenal kalkulus dasar, hukum-hukum termodinamika yang lebih kompleks, dan prinsip mekanika fluida statis. Di luar kelas, saya memanfaatkan waktu untuk mengasah kemampuan kepemimpinan dan manajemen waktu melalui berbagai kepanitiaan dan organisasi. Saya menyadari bahwa menjadi seorang teknokrat tidak hanya butuh otak yang cerdas, tetapi juga kemampuan berkomunikasi, berkolaborasi, dan memimpin orang lain dengan integritas.
Menjelang akhir masa SMA, sebuah pertanyaan besar menghadang di depan mata: Ke mana Maliq Farraz Alvaro akan melangkah setelah ini?
Bagi seorang anak Jakarta yang tumbuh dengan melihat dinamika kota, saya selalu terpikat oleh infrastruktur besar. Namun, pandangan saya beralih dari daratan ke lautan. Indonesia adalah negara kepulauan terbesar di dunia. Dua pertiga wilayah negara ini adalah air. Ironisnya, potensi maritim kita seringkali terlupakan. Dari kegelisahan itulah, ketertarikan saya pada dunia maritim mengkristal menjadi sebuah ambisi: saya ingin menjadi seorang Perancang Kapal. Dan tidak ada tempat yang lebih tepat untuk menempa impian itu selain di Universitas Indonesia (UI), kampus perjuangan dengan jaket kuningnya yang legendaris, khususnya pada program studi Teknik Perkapalan.
Namun, jalan menuju UI tidak pernah dihamparkan karpet merah. Jalur utama yang harus saya tempuh adalah Ujian Tulis Berbasis Komputer (UTBK). Masa-masa persiapan UTBK adalah salah satu periode paling menguras energi, emosi, dan mental dalam hidup saya. Kamar tidur saya berubah menjadi ruang perang yang dipenuhi tumpukan latihan soal latihan skolastik, penalaran matematika, dan literasi.
Setiap hari adalah siklus yang sama: bangun subuh, belajar, sekolah, membahas soal try-out, mengevaluasi kesalahan, dan tidur larut malam. Tidak jarang keraguan menyelinap di pikiran saya. Apakah kapasitas seorang Maliq dari SMAN 27 Jakarta mampu bersaing dengan puluhan ribu siswa hebat dari seluruh penjuru negeri untuk memperebutkan kursi Teknik Perkapalan UI yang sangat terbatas? Ada momen di mana skor try-out saya mandek, bahkan turun, memicu kecemasan yang luar biasa. Namun, setiap kali saya merasa ingin menyerah, saya mengingat kembali mimpi besar saya: melihat kapal-kapal hasil rancangan saya membelah ombak samudra Nusantara, membawa kemajuan bagi bangsa ini.
Hari ujian pun tiba. Di bawah lampu ruang ujian UTBK yang dingin, saya meyakinkan diri bahwa semua peluh, air mata, dan waktu yang saya korbankan selama berbulan-bulan harus dibayar tuntas. Saya mengerjakan baris demi baris soal dengan ketenangan yang dipaksakan dan fokus yang penuh. Ketika menekan tombol submit di akhir ujian, saya memasrahkan seluruh hasilnya kepada Tuhan Yang Maha Esa.
Pengumuman resmi UTBK sore itu menjadi salah satu momen yang mengubah garis hidup saya selamanya. Kata “SELAMAT” berwarna hijau di layar komputer dan ada nya QR CODE menyatakan bahwa saya diterima di Teknik Perkapalan Universitas Indonesia. Rasa haru, sujud syukur, dan bangga bercampur menjadi satu. Perjuangan dari SDN 01 Johar Baru Pagi, SMPN 77, hingga SMAN 27 akhirnya bermuara di kampus paling bergengsi di Indonesia.
Memasuki Departemen Teknik Mesin FTUI, khususnya program studi Teknik Perkapalan, membuka mata saya pada realitas dunia teknik yang sesungguhnya. Di sinilah saya benar-benar ditempa menjadi seorang calon insinyur maritim. Saya tidak lagi sekadar menghitung rumus fisika di atas kertas, melainkan menerapkannya pada objek raksasa yang nyata.
Saya belajar tentang scantling (penentuan ukuran struktural komponen kapal), bagaimana menghitung kekuatan pelat agar kapal mampu menahan beban kargo dan hantaman ombak ekstrem. Saya mendalami Metode Holtrop-Mennen untuk menganalisis hambatan (resistance) hidrodinamika kapal, sebuah elemen krusial untuk menentukan efisiensi bahan bakar dan performa mesin propulsi. Tidak hanya itu, saya juga dituntut adaptif secara teknologi dengan menguasai bahasa pemrograman Python di Google Colab untuk memproses data simulasi teknik, menganalisis sinyal getaran kapal, hingga menyelesaikan siklus termodinamika secara digital.
Di sisi lain, kehidupan kampus tidak saya habiskan di dalam laboratorium saja. Saya sadar, esensi mahasiswa adalah menjadi agen perubahan sosial. Keterampilan desain grafis yang saya pupuk sejak remaja membawa saya dipercaya menjadi bagian dari divisi Media Kreatif di organisasi mahasiswa. Saya belajar menyinkronkan visual dengan narasi pergerakan, mengelola komunikasi publik, dan merancang konsep branding organisasi agar lebih dekat dengan mahasiswa. Lebih jauh lagi, saya juga aktif dalam lembaga perwakilan mahasiswa di tingkat fakultas, mewakili aspirasi mahasiswa teknik dalam merumuskan solusi atas tantangan internal kampus melalui prinsip integritas dan sinergi.