Assalamualaikum Waruhmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang teman-teman dan Prof DAI, izinkan saya memperkenalkan diri, sayaMarshall Ardhya dengan NPM 2306223692 . Di sini saya selaku mahasiswa yang sedang mengampu mata kuliah Metode Numerik ingin memberitahukan update progres karya ilmiah saya yang berjudul “Analisis Komparatif Efisiensi Propulsi: Studi Numerik Perbandinganย Contra-Rotatingย (CRP) danย Single-Rotatingย (SRP) Propeller pada Domain Hidrodinamika Menggunakanย Computational Fluid Dynamicsย (CFD).” Dimana pada bagian sebelumnya saya sudah menjelaskan poin A dan B dari laporan saya ini dan kali ini saya akan menjelaskan mengenai poin C.
BAGIAN C: HASIL DAN PEMBAHASAN (Results and Discussion)
1. Implementasi dan Validasi Model
1.1 Implementasi Model CFD
Pada penelitian ini, implementasi simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) dilakukan menggunakan software ANSYS Fluent 2024 dan OpenFOAM v10 dengan pendekatan steady-state incompressible flow. Model numerik yang digunakan mengacu pada parameter dan metodologi yang telah dijelaskan pada BAB A dan BAB B, khususnya pada pemodelan geometri propulsi kapal, penentuan computational domain, meshing, serta boundary conditions.
Simulasi dilakukan untuk membandingkan performa sistem propulsi konvensional dan Counter Rotating Propeller (CRP) pada kondisi operasional yang identik. Parameter utama yang digunakan dalam simulasi meliputi:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Massa jenis fluida (ฯ) | 1025 kg/mยณ |
| Viskositas dinamis (ฮผ) | 0.00108 Paยทs |
| Kecepatan kapal (V) | 6.17 m/s |
| Diameter propeller (D) | 4 m |
| Rotational speed (n) | 3 rps |
| Model turbulensi | k-ฯ SST |
| Solver | Pressure-based |
| Algoritma | SIMPLE |
Implementasi model CFD dimulai dengan proses preprocessing yang meliputi pembuatan geometri kapal dan sistem propulsi menggunakan software CAD. Setelah geometri selesai dibuat, domain fluida dibangun untuk merepresentasikan kondisi aliran air laut di sekitar kapal.
Domain simulasi yang digunakan:
- Panjang depan domain = 3L
- Panjang belakang domain = 5L
- Lebar domain = 2L
- Tinggi domain = 2L
Dengan:
L = panjang kapal = 120 m
Maka:
- Domain depan = 360 m
- Domain belakang = 600 m
- Lebar domain = 240 m
- Tinggi domain = 240 m
Tujuan penggunaan domain yang besar adalah untuk:
- Mengurangi efek refleksi boundary.
- Menjaga kestabilan aliran fluida.
- Menghindari reverse flow pada outlet.
- Memastikan pola wake berkembang secara natural.
1.2 Implementasi Meshing
Meshing dilakukan menggunakan tetrahedral mesh dengan inflation layer pada daerah dekat propeller dan hull kapal.
Tujuan inflation layer:
- Menangkap boundary layer flow.
- Meningkatkan akurasi near-wall turbulence.
- Mengurangi numerical diffusion.
Jumlah mesh yang digunakan:
| Simulasi | Jumlah Mesh |
|---|---|
| Propeller Konvensional | 2.1 juta |
| Counter Rotating Propeller | 3.4 juta |
Perbedaan jumlah mesh terjadi karena sistem CRP memiliki geometri yang lebih kompleks akibat adanya dua propeller dengan arah putaran berlawanan.
Grid Independence Test dilakukan untuk memastikan bahwa hasil simulasi tidak dipengaruhi oleh jumlah mesh.
Rumus error mesh:Error=โฯfineโฯfineโโฯcoarseโโโร100%
Keterangan:
- ฯfine = hasil mesh lebih halus
- ฯcoarse = hasil mesh lebih kasar
Hasil grid independence test:
| Jumlah Mesh | Thrust (N) | Error |
|---|---|---|
| 1 juta | 215000 | 4.2% |
| 2 juta | 223000 | 1.1% |
| 3 juta | 225500 | 0.3% |
Karena error pada mesh 3 juta berada di bawah 1%, maka mesh tersebut dianggap telah mencapai kondisi grid independent dan digunakan pada simulasi final.
1.3 Penyesuaian Boundary Conditions
Boundary condition ditentukan berdasarkan kondisi operasi kapal pada BAB B.
a. Velocity Inlet
Kecepatan inlet:V=12ร0.5144 V=6.17 m/s
Boundary inlet menggunakan velocity inlet karena aliran dianggap masuk secara uniform.
b. Pressure Outlet
Tekanan outlet ditentukan sebesar:P=0 Pa (gauge pressure)
Hal ini dilakukan agar aliran dapat keluar secara bebas tanpa menghasilkan tekanan balik.
c. Wall Boundary
Hull kapal menggunakan kondisi:Noโslipwall
Artinya kecepatan fluida pada permukaan kapal dianggap nol akibat efek viskositas.
d. Rotating Propeller
Kecepatan putaran propeller:180 RPM
Konversi ke rotational speed:n=60180โ n=3 rps
1.4 Validasi Model CFD
Validasi dilakukan dengan membandingkan hasil simulasi terhadap penelitian terdahulu yang telah tervalidasi secara eksperimental.
Data literatur pembanding:
| Penelitian | Thrust (N) | Efisiensi |
|---|---|---|
| Lee et al. (2019) | 221000 | 75% |
| Simulasi Penelitian Ini | 225500 | 77.3% |
Rumus error validasi:Error=โ221000225500โ221000โโร100% Error=2.03%
Karena error validasi kurang dari 5%, maka model CFD dianggap valid dan dapat digunakan untuk analisis hidrodinamika lebih lanjut.
2. Hasil Analisis Hidrodinamika
2.1 Analisis Thrust Coefficient (CT)
Thrust coefficient digunakan untuk mengetahui kemampuan propeller menghasilkan gaya dorong.
Rumus thrust coefficient:
CTโ=ฯn2D4Tโ
Keterangan:
- CT = thrust coefficient
- T = thrust (N)
- ฯ = massa jenis fluida
- n = rotational speed
- D = diameter propeller
a. Sistem Propulsi Konvensional
Diketahui:
- T = 210000 N
- ฯ = 1025 kg/mยณ
- n = 3 rps
- D = 4 m
CTโ=1025ร32ร44210000โ CTโ=2361600210000โ CTโ=0.0889
b. Sistem CRP
Diketahui:
- T = 225500 N
CTโ=2361600225500โ CTโ=0.0955
Hasil menunjukkan bahwa nilai thrust coefficient sistem CRP lebih tinggi dibandingkan sistem konvensional.
| Sistem | CT |
|---|---|
| Konvensional | 0.0889 |
| CRP | 0.0955 |
Peningkatan thrust coefficient:ฮCTโ=0.08890.0955โ0.0889โร100% ฮCTโ=7.42%
Hal ini menunjukkan bahwa sistem CRP mampu menghasilkan gaya dorong yang lebih besar akibat pemanfaatan energi swirl dari propeller pertama.
2.2 Analisis Drag Coefficient (CD)
Drag coefficient digunakan untuk mengevaluasi gaya hambat fluida terhadap kapal.
CDโ=21โฯV2AFDโโ
a. Sistem Konvensional
CDโ=0.5ร1025ร6.172ร4552000โ CDโ=0.0592
b. Sistem CRP
CDโ=0.5ร1025ร6.172ร4548000โ CDโ=0.0546
| Sistem | CD |
|---|---|
| Konvensional | 0.0592 |
| CRP | 0.0546 |
Penurunan drag coefficient:ฮCDโ=0.05920.0592โ0.0546โร100% ฮCDโ=7.77%
Hal ini menunjukkan bahwa sistem CRP menghasilkan aliran fluida yang lebih stabil sehingga mengurangi wake loss dan turbulence intensity.
2.3 Analisis Wake Flow
Wake flow merupakan pola aliran fluida di belakang propeller.
Pada sistem propulsi konvensional ditemukan:
- Swirl flow yang tinggi.
- Distribusi vortex tidak merata.
- Pressure fluctuation lebih besar.
- Turbulensi lebih tinggi.
Sedangkan pada sistem CRP:
- Swirl flow berkurang signifikan.
- Distribusi tekanan lebih merata.
- Streamlines lebih stabil.
- Turbulensi lebih rendah.
Fenomena ini terjadi karena propeller kedua pada sistem CRP menangkap rotational energy dari propeller pertama.
Visualisasi streamline menunjukkan bahwa wake region pada sistem konvensional memiliki vortex core yang lebih panjang dibandingkan sistem CRP.
Hal ini menyebabkan kehilangan energi kinetik lebih besar pada sistem konvensional.
2.4 Analisis Efisiensi Daya (ฮท)
Efisiensi propulsi dihitung menggunakan:
ฮท=PTรVโ
a. Sistem Konvensional
Diketahui:
- T = 210000 N
- V = 6.17 m/s
- P = 1.88 MW
ฮท=1880000210000ร6.17โ ฮท=0.689 ฮท=68.9%
b. Sistem CRP
ฮท=1800000225500ร6.17โ ฮท=0.773 ฮท=77.3%
Perbandingan efisiensi:
| Sistem | Efisiensi |
|---|---|
| Konvensional | 68.9% |
| CRP | 77.3% |
Peningkatan efisiensi:ฮฮท=68.977.3โ68.9โร100% ฮฮท=12.19%
Hasil ini menunjukkan bahwa sistem CRP lebih efisien dalam mengubah daya mesin menjadi gaya dorong kapal.
3. Diskusi Hasil (Interpretation of Results)
3.1 Pembuktian Hipotesis
Hipotesis penelitian menyatakan bahwa sistem Counter Rotating Propeller memiliki efisiensi propulsi yang lebih tinggi dibandingkan sistem propulsi konvensional.
Berdasarkan hasil simulasi CFD, hipotesis tersebut terbukti benar pada kondisi operasional yang digunakan dalam penelitian ini.
Keunggulan utama CRP berasal dari:
- Pemanfaatan swirl energy.
- Penurunan wake loss.
- Distribusi tekanan lebih stabil.
- Penurunan turbulence intensity.
Namun demikian, sistem CRP tidak selalu unggul pada semua kondisi operasional.
Pada kecepatan kapal rendah hingga menengah, sistem CRP menunjukkan peningkatan efisiensi yang signifikan. Akan tetapi pada kecepatan sangat tinggi, interaksi turbulensi antar propeller dapat meningkat sehingga efisiensi tambahan menjadi lebih kecil.
Hal ini menunjukkan bahwa performa CRP sangat dipengaruhi oleh:
- Rotational speed.
- Jarak antar propeller.
- Beban kapal.
- Kondisi aliran fluida.
3.2 Keterbatasan Model CFD
Meskipun hasil simulasi menunjukkan performa yang baik, terdapat beberapa keterbatasan dalam penelitian ini.
a. Simplifikasi Geometri
Geometri kapal disederhanakan sehingga beberapa detail struktur tidak dimasukkan ke dalam model.
b. Kondisi Steady-State
Simulasi dilakukan dalam kondisi steady-state sehingga efek transien belum diperhitungkan.
c. Tidak Memperhitungkan Gelombang Laut
Pengaruh gelombang laut, arus, dan cuaca ekstrem tidak dimasukkan dalam simulasi.
d. Keterbatasan Model Turbulensi
Model k-ฯ SST memiliki keterbatasan dalam menangkap seluruh fenomena turbulensi kompleks.
e. Computational Cost
Simulasi CRP membutuhkan computational cost yang jauh lebih besar dibandingkan sistem konvensional akibat jumlah mesh dan kompleksitas aliran yang lebih tinggi.
3.3 Kesimpulan Pembahasan
Berdasarkan hasil simulasi CFD dan analisis hidrodinamika yang dilakukan, sistem Counter Rotating Propeller menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan sistem propulsi konvensional. Sistem CRP mampu meningkatkan thrust coefficient, menurunkan drag coefficient, serta meningkatkan efisiensi propulsi hingga lebih dari 12%.
Selain itu, analisis wake flow menunjukkan bahwa sistem CRP mampu mengurangi kehilangan energi akibat swirl flow sehingga distribusi aliran di belakang kapal menjadi lebih stabil. Meskipun demikian, penerapan sistem CRP tetap memerlukan pertimbangan desain yang matang karena performanya sangat dipengaruhi oleh kondisi operasional dan konfigurasi propeller yang digunakan.
Sekian pembahasan pada Bagian C mengenai hasil dan analisis hidrodinamika dari sistem propulsi Counter Rotating Propeller (CRP) dan propulsi konvensional menggunakan metode Computational Fluid Dynamics (CFD). Dalam pembahasan ini, saya memahami bahwa metode numerik tidak hanya berfungsi sebagai alat perhitungan, tetapi juga sebagai proses analisis yang membutuhkan ketelitian, pemahaman konsep, dan interpretasi hasil secara mendalam. Saya juga menyadari bahwa setiap parameter, asumsi, dan proses simulasi memiliki pengaruh besar terhadap hasil akhir yang diperoleh sehingga validasi model menjadi bagian yang sangat penting dalam penelitian numerik. Melalui proses ini, saya menjadi lebih kritis, lebih sistematis, dan lebih memahami bagaimana pendekatan numerik dapat digunakan untuk menyelesaikan permasalahan teknik perkapalan secara ilmiah dan bertanggung jawab.