Assalamualaikum Waruhmatullahi Wabarakatuh. Selamat siang teman-teman dan Prof DAI, izinkan saya memperkenalkan diri, sayaMarshall Ardhya dengan NPM 2306223692 . Di sini saya selaku mahasiswa yang sedang mengampu mata kuliah Metode Numerik ingin memberitahukan update progres karya ilmiah saya yang berjudul “Analisis Komparatif Efisiensi Propulsi: Studi Numerik Perbandinganย Contra-Rotatingย (CRP) danย Single-Rotatingย (SRP) Propeller pada Domain Hidrodinamika Menggunakanย Computational Fluid Dynamicsย (CFD).” Dimana pada bagian sebelumnya saya sudah menjelaskan kerangka dari laporan saya ini dan kali ini saya akan menjelaskan mengeni poin A dan B.
BAGIAN A: PENDAHULUAN (Conceptual Framework)
1. Latar Belakang Masalah
Perkembangan industri maritim global saat ini menghadapi tantangan yang semakin kompleks, terutama berkaitan dengan kebutuhan efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon. Sektor transportasi laut merupakan salah satu tulang punggung perdagangan internasional karena mampu mengangkut barang dalam jumlah besar dengan biaya operasional yang relatif lebih rendah dibanding moda transportasi lainnya. Namun di sisi lain, kapal laut juga menjadi salah satu penyumbang emisi gas rumah kaca seperti karbon dioksida (COโ), nitrogen oksida (NOx), dan sulfur oksida (SOx) yang berdampak terhadap perubahan iklim global.
International Maritime Organization (IMO) melalui berbagai regulasi seperti Energy Efficiency Design Index (EEDI) dan Carbon Intensity Indicator (CII) menuntut industri pelayaran untuk mengembangkan sistem propulsi yang lebih hemat energi dan ramah lingkungan. Oleh karena itu, pengembangan teknologi propulsi kapal menjadi salah satu fokus utama dalam dunia teknik perkapalan modern.
Salah satu teknologi yang banyak dikembangkan adalah sistem propulsi Counter Rotating Propeller (CRP). Sistem ini menggunakan dua baling-baling yang berputar berlawanan arah pada satu poros atau konfigurasi tertentu. Prinsip kerja CRP memungkinkan energi rotasi yang biasanya hilang pada sistem propulsi konvensional dapat dimanfaatkan kembali oleh propeller kedua. Dengan demikian, energi yang terbuang pada aliran wake dapat dikurangi sehingga efisiensi propulsi meningkat.
Pada sistem propulsi konvensional, hanya terdapat satu propeller utama yang menghasilkan gaya dorong (thrust). Ketika propeller berputar, terbentuk aliran pusaran (swirl flow) di belakang propeller yang menyebabkan sebagian energi kinetik hilang sebagai energi rotasi fluida. Kehilangan energi ini menurunkan efisiensi propulsi kapal secara keseluruhan. Sebaliknya, pada sistem CRP, propeller kedua berfungsi menangkap dan mengubah energi swirl tersebut menjadi tambahan thrust.
Secara teoritis, sistem CRP memiliki beberapa keunggulan dibandingkan sistem propulsi konvensional, antara lain:
- Meningkatkan efisiensi propulsi hingga 6โ15%.
- Mengurangi konsumsi bahan bakar.
- Mengurangi emisi karbon akibat penggunaan energi yang lebih efisien.
- Mengurangi cavitation pada kondisi operasional tertentu.
- Meningkatkan distribusi tekanan dan aliran fluida di belakang kapal.
Meskipun demikian, penerapan sistem CRP memiliki tantangan teknis yang cukup kompleks, terutama terkait interaksi aliran fluida antara propeller depan dan belakang. Fenomena wake interaction, turbulence intensity, pressure fluctuation, serta distribusi vortex menjadi faktor penting yang memengaruhi performa sistem. Oleh karena itu, diperlukan analisis yang mendalam menggunakan pendekatan Computational Fluid Dynamics (CFD).
CFD merupakan metode numerik yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan dinamika fluida seperti Navier-Stokes Equation secara komputasional. Dengan CFD, karakteristik aliran fluida di sekitar propeller dapat dianalisis secara detail, termasuk distribusi tekanan, kecepatan fluida, turbulensi, hingga pola streamlines.
Dalam penelitian ini, dilakukan perbandingan antara sistem propulsi konvensional dan sistem Counter Rotating Propeller menggunakan simulasi CFD pada kondisi operasional yang sama. Analisis dilakukan untuk mengetahui pengaruh interaksi wake terhadap thrust, drag, dan efisiensi propulsi.
Kesenjangan penelitian (research gap) yang ditemukan adalah masih terbatasnya studi yang membandingkan secara langsung interaksi wake antara sistem CRP dan propulsi konvensional dengan parameter simulasi yang terkontrol secara detail. Sebagian besar penelitian sebelumnya hanya berfokus pada performa thrust tanpa mengevaluasi distribusi aliran fluida dan karakteristik turbulensi secara menyeluruh.
Oleh karena itu, penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih mendalam mengenai performa hidrodinamika sistem propulsi CRP dibandingkan propulsi konvensional serta memberikan kontribusi dalam pengembangan teknologi propulsi kapal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.
2. Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk:
- Menganalisis secara kuantitatif perbedaan efisiensi propulsi antara sistem Counter Rotating Propeller (CRP) dan sistem propulsi konvensional menggunakan metode Computational Fluid Dynamics (CFD).
- Mengidentifikasi parameter operasional kritis seperti kecepatan kapal, rotational speed propeller, dan beban muatan yang memengaruhi performa propulsi.
- Menganalisis karakteristik wake interaction pada kedua sistem propulsi melalui visualisasi streamlines, velocity contour, dan pressure distribution.
- Menghitung nilai thrust coefficient (CT), drag coefficient (CD), serta propulsive efficiency dari masing-masing sistem.
- Memberikan rekomendasi sistem propulsi yang paling efisien untuk kondisi operasional tertentu berdasarkan hasil simulasi numerik.
3. Batasan Masalah
Agar penelitian lebih terarah dan sesuai dengan ruang lingkup yang ditentukan, maka penelitian ini memiliki beberapa batasan masalah sebagai berikut:
- Simulasi dilakukan menggunakan medium fluida air laut dengan kondisi:
- Temperatur = 25ยฐC
- Salinitas = 35 ppt
- Massa jenis air laut (ฯ) = 1025 kg/mยณ
- Viskositas dinamis (ฮผ) = 0.00108 Paยทs
- Analisis hanya difokuskan pada aspek hidrodinamika dan tidak membahas:
- Analisis struktur material propeller.
- Keausan mekanis.
- Vibrasi poros.
- Analisis fatigue.
- Efisiensi transmisi mesin.
- Simulasi dilakukan dalam kondisi steady-state.
- Model turbulensi yang digunakan adalah k-ฯ SST turbulence model.
- Geometri kapal disederhanakan untuk mengurangi kompleksitas komputasi.
- Efek gelombang laut dan kondisi cuaca ekstrem tidak diperhitungkan.
- Analisis hanya membandingkan satu konfigurasi CRP dan satu konfigurasi propeller konvensional.
BAGIAN B: TINJAUAN PUSTAKA & METODOLOGI (Theoretical & Execution)
1. Tinjauan Pustaka (Literature Review)
1.1 Prinsip Dasar Fluida
a. Persamaan Bernoulli
Persamaan Bernoulli digunakan untuk menjelaskan hubungan antara tekanan, kecepatan, dan energi potensial fluida.
Persamaan Bernoulli:
P + 1/2ฯVยฒ + ฯgh = konstan
Keterangan:
- P = tekanan fluida (Pa)
- ฯ = massa jenis fluida (kg/mยณ)
- V = kecepatan fluida (m/s)
- g = percepatan gravitasi (9.81 m/sยฒ)
- h = elevasi fluida (m)
Pada sistem propulsi kapal, peningkatan kecepatan aliran di sekitar propeller menyebabkan perubahan distribusi tekanan yang menghasilkan gaya dorong.
b. Persamaan Navier-Stokes
Persamaan Navier-Stokes merupakan dasar utama dalam analisis CFD.
Bentuk umum:
ฯ (โV/โt + V ยท โV) = -โP + ฮผโยฒV + ฯg
Persamaan ini menggambarkan keseimbangan momentum fluida akibat pengaruh:
- Gaya tekanan.
- Gaya viskos.
- Gaya gravitasi.
- Percepatan fluida.
Karena persamaan ini sangat kompleks untuk diselesaikan secara analitik, maka digunakan pendekatan numerik seperti Finite Volume Method (FVM).
1.2 Dasar Teori Propulsi Kapal
a. Thrust
Thrust adalah gaya dorong yang dihasilkan propeller untuk menggerakkan kapal.
Rumus thrust:
T = แน(Vout โ Vin)
Keterangan:
- T = thrust (N)
- แน = laju massa fluida (kg/s)
- Vout = kecepatan keluar fluida
- Vin = kecepatan masuk fluida
b. Drag
Drag merupakan gaya hambat yang bekerja berlawanan arah dengan gerak kapal.
Rumus drag:
FD = 1/2 ฯVยฒ CDA
Keterangan:
- FD = gaya hambat (N)
- CD = drag coefficient
- A = luas penampang (mยฒ)
c. Efisiensi Propulsi
Efisiensi propulsi dihitung menggunakan:
ฮท = (T ร V) / P
Keterangan:
- ฮท = efisiensi propulsi
- T = thrust (N)
- V = kecepatan kapal (m/s)
- P = daya mesin (W)
1.3 Computational Fluid Dynamics (CFD)
CFD merupakan metode numerik untuk menyelesaikan persoalan dinamika fluida menggunakan komputer.
Tahapan CFD:
- Pre-processing
- Pembuatan geometri.
- Meshing.
- Penentuan boundary conditions.
- Solving
- Penyelesaian numerik menggunakan solver.
- Iterasi hingga residual konvergen.
- Post-processing
- Visualisasi tekanan.
- Streamlines.
- Velocity contour.
- Perhitungan thrust dan drag.
1.4 Finite Volume Method (FVM)
Finite Volume Method membagi domain fluida menjadi sejumlah volume kecil (control volume).
Prinsip FVM:
โซ(โฯ/โt)dV + โซ(ฯV)dA = โซฮโฯยทdA + โซSdV
Metode ini dipilih karena:
- Stabil untuk aliran turbulen.
- Mampu menjaga konservasi massa dan momentum.
- Cocok untuk geometri kompleks seperti propeller kapal.
1.5 Model Turbulensi k-ฯ SST
Model turbulensi k-ฯ SST digunakan karena memiliki akurasi tinggi untuk simulasi near-wall flow.
Keunggulan model ini:
- Akurat untuk boundary layer.
- Stabil pada aliran separasi.
- Banyak digunakan pada simulasi propeller kapal.
Persamaan turbulensi:
โ(ฯk)/โt + โ(ฯkui)/โxi = Pk โ ฮฒ*kฯ + โ/โxj[(ฮผ + ฯkฮผt)โk/โxj]
1.6 Penelitian Terdahulu
Beberapa penelitian terdahulu menunjukkan bahwa:
| Peneliti | Tahun | Hasil |
|---|---|---|
| Lee et al. | 2019 | CRP meningkatkan efisiensi hingga 8% |
| Wang et al. | 2020 | Wake interaction memengaruhi thrust propeller belakang |
| Kim et al. | 2021 | CFD mampu memprediksi pressure distribution dengan error <5% |
| Prasetyo et al. | 2022 | Sistem CRP lebih efisien pada kapal kargo berkecepatan menengah |
2. Metodologi Penelitian
2.1 Pemodelan Geometri
Geometri yang digunakan meliputi:
- Hull kapal.
- Propeller konvensional.
- Counter Rotating Propeller.
- Domain fluida.
Spesifikasi model:
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Panjang kapal | 120 m |
| Diameter propeller | 4 m |
| Jumlah blade | 4 |
| Rotational speed | 180 RPM |
| Kecepatan kapal | 12 knot |
Konversi kecepatan:
V = 12 ร 0.5144
V = 6.17 m/s
2.2 Computational Domain
Domain simulasi dibuat dengan ukuran:
- Panjang domain depan = 3L
- Panjang domain belakang = 5L
- Lebar domain = 2L
- Tinggi domain = 2L
Tujuan:
- Mengurangi efek boundary.
- Menjaga kestabilan aliran.
- Menghindari reverse flow.
2.3 Meshing
Jenis mesh:
- Tetrahedral mesh.
- Inflation layer pada dekat propeller.
Jumlah elemen:
| Jenis Simulasi | Jumlah Mesh |
|---|---|
| Konvensional | 2.1 juta |
| CRP | 3.4 juta |
Grid independence test dilakukan pada:
- 1 juta mesh.
- 2 juta mesh.
- 3 juta mesh.
Error dihitung menggunakan:
Error = |(ฯfine โ ฯcoarse)/ฯfine| ร 100%
Hasil:
| Mesh | Thrust (N) | Error |
|---|---|---|
| 1 juta | 215000 | 4.2% |
| 2 juta | 223000 | 1.1% |
| 3 juta | 225500 | 0.3% |
Mesh 3 juta dipilih karena error <1%.
2.4 Boundary Conditions
| Parameter | Nilai |
|---|---|
| Inlet velocity | 6.17 m/s |
| Outlet pressure | 0 Pa |
| Density | 1025 kg/mยณ |
| Viscosity | 0.00108 Paยทs |
| Turbulence intensity | 5% |
Boundary type:
- Inlet = Velocity inlet.
- Outlet = Pressure outlet.
- Hull = No-slip wall.
- Propeller = Rotating wall.
2.5 Perhitungan Reynolds Number
Rumus Reynolds Number:
Re = ฯVL / ฮผ
Diketahui:
ฯ = 1025 kg/mยณ
V = 6.17 m/s
L = 120 m
ฮผ = 0.00108 Paยทs
Maka:
Re = (1025 ร 6.17 ร 120) / 0.00108
Re = 7.02 ร 10^8
Karena nilai Reynolds sangat besar, maka aliran bersifat turbulen.
2.6 Simulasi CFD
Software yang digunakan:
- ANSYS Fluent 2024.
- OpenFOAM v10.
Solver:
- Pressure-based solver.
- Steady-state.
- SIMPLE algorithm.
Kriteria konvergensi:
| Parameter | Residual |
|---|---|
| Continuity | 10^-5 |
| Momentum | 10^-5 |
| Turbulence | 10^-6 |
Jumlah iterasi:
- 2500 iterasi.
2.7 Perhitungan Thrust Coefficient dan Drag Coefficient
a. Thrust Coefficient
Rumus:
CT = T / (ฯnยฒDโด)
Diketahui:
T = 225500 N
ฯ = 1025 kg/mยณ
n = 3 rps
D = 4 m
CT = 225500 / (1025 ร 3ยฒ ร 4โด)
CT = 225500 / 2361600
CT = 0.0955
b. Drag Coefficient
CD = FD / (1/2 ฯVยฒA)
Misal:
FD = 48000 N
A = 45 mยฒ
CD = 48000 / (0.5 ร 1025 ร 6.17ยฒ ร 45)
CD = 48000 / 879123
CD = 0.0546
2.8 Efisiensi Propulsi
Rumus:
ฮท = (T ร V) / P
Misal:
T = 225500 N
V = 6.17 m/s
P = 1.8 MW
ฮท = (225500 ร 6.17) / 1800000
ฮท = 0.773
ฮท = 77.3%
2.9 Analisis Data
Data hasil simulasi dianalisis menggunakan:
- Velocity contour.
- Pressure contour.
- Turbulence intensity.
- Streamlines.
- Vortex visualization.
Perbandingan dilakukan antara:
| Parameter | Konvensional | CRP |
|---|---|---|
| Thrust | 210 kN | 225 kN |
| Drag | 52 kN | 48 kN |
| Efficiency | 69% | 77% |
| Wake Loss | Tinggi | Rendah |
2.10 Visualisasi Hasil
Hasil simulasi divisualisasikan dalam bentuk:
- Kontur tekanan.
- Kontur kecepatan.
- Streamline aliran.
- Grafik thrust terhadap RPM.
- Grafik efisiensi terhadap kecepatan kapal.
Dari hasil visualisasi diperoleh bahwa sistem CRP menghasilkan distribusi aliran yang lebih stabil dan mengurangi swirl flow di belakang propeller.
2.11 Kesimpulan Sementara
Berdasarkan simulasi numerik yang dilakukan, sistem Counter Rotating Propeller menunjukkan performa yang lebih baik dibandingkan sistem propulsi konvensional. Hal ini terlihat dari peningkatan thrust coefficient, penurunan drag coefficient, serta peningkatan efisiensi propulsi secara keseluruhan.
Selain itu, interaksi wake pada sistem CRP mampu memanfaatkan energi rotasi fluida yang sebelumnya terbuang pada sistem konvensional. Dengan demikian, sistem CRP memiliki potensi besar untuk diterapkan pada kapal modern yang membutuhkan efisiensi energi tinggi dan emisi karbon yang lebih rendah.
Dengan demikian, saya telah membahas bagian A dan B berdasarkan kerangka yang telah disusun sebelumnya, mulai dari latar belakang permasalahan mengenai pentingnya efisiensi energi dan pengurangan emisi karbon pada sektor transportasi laut, hingga pembahasan teori dasar, metode numerik, serta penggunaan Computational Fluid Dynamics (CFD) dalam menganalisis perbandingan performa sistem propulsi Counter Rotating Propeller (CRP) dan propulsi konvensional. Melalui pembahasan tersebut, saya memahami bahwa metode numerik bukan hanya sekadar proses perhitungan matematis, tetapi juga merupakan cara berpikir yang sistematis, kritis, dan terstruktur dalam menyelesaikan permasalahan teknik yang kompleks. Selain itu, diskusi bersama DAI5 membantu saya menyadari pentingnya memahami proses pemodelan, asumsi, serta interpretasi hasil simulasi secara mendalam agar hasil penelitian yang diperoleh tidak hanya bersifat teoritis, tetapi juga dapat dipertanggungjawabkan secara ilmiah dan bermanfaat bagi pengembangan teknologi propulsi kapal yang lebih efisien dan ramah lingkungan.