ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

Migel Saputra Chen

assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh

Halo semuanya, bagaimana kabarnya?
Perkenalkan saya Migel Saputra Chen, sebagai salah satu mahasiswa Universitas Indonesia dengan jurusan Teknik Perkapalan. Saya lahir di Bogor dan besar di Bogor. Orang tua saya berasal dari Jambi, Sumatara barat. Terkadang kami sekeluarga masih sering untuk pulang ke kampung halaman (jambi). Kota yang terkesan besar karena sebagai Ibu kota provinsi Sumatra Barat, tetapi nyatanya hanyalah sebuah kota kecil. Ya, Jambi merupakan sebuah kota kecil yang kian panas saat ini, dikarenakan maraknya penanaman pohon pohon sawit ini. Tetapi ada satu hal yang sangat jauh berbeda dengan kota kota di jabodetabek ini. Jambi menjadi sebuah kota kecil, yang cocok untuk menikmati masa tua, dan slow living. Pertokoan yang baru buka jam 9, kegiatan kegiatan pasar baru buka jam 8, dan kehidupan setiap pagi di meja kopitiam. Orang orang akan bangun pagi dan duduk di kopitiam, hanya untuk sarapan dan berbincang dengan teman sebaya mereka, para orang tua mulai duduk dan berbincang keadaan mereka setiap pagi, kopitiam menjadi sebuah tempat pertukaran pendapat. Mereka yang setiap pagi berada di kopitiam tersebut, niscaya nya tidak akan merasa bosan ataupun lelah dengan kehidupannya masing masing, cerita yang terus bebrbeda hari harinya, berasal dari meja kopitiam yang diatasnya berisi segelas kopi hitam, semangkuk tamie, sepiring telor ayam kampung setengah matang.

Saat ini saya berusia 20 tahun, keseharian saya melakukan perjalanan PP dari bogor sampai ke Universitas Indonesia di depok jawa barat. Lama waktu perjalanan saya membutuhkan kurang lebih 2 jam perjalanan, dalam sehari saya menghabiskan waktu 3 sampai 4 jam untuk pulang pergi Bogor depok.

Pendidikan saya :
Saya SD hingga SMA di Mardi Yuana Bogor, ya memang sekolah yang jelek dan tidak terkenal. saya yakin semua yang membaca tidak mengetahuinya. Saya TK di Mardi Waluya Bogor. Saya masuk di UI menggunakan jalur SNBT. saat SMA memang saya ingin sekali dapat masuk di UI, maka dari itu saya pun mendapatkan kesempatan menjadi siswa eligible, sehingga saya memiliki kesempatan untuk mencoba SNBP. sayangnya saya di tolak oleh UI melalui jalur SNBP. ya saya coba kembali di SNBT, beruntungnya saya lolos. Teknik Perkapalan memang benar bukan pilihan pertama saya, teknik perkapalan adalah pilihan terakhir saya, entah dari mana pula saya bisa memilih teknik perkapalan ini. Tapi FTUI itulah pilihan pertama saya, ya sebenarnya saat masih SMA dulu saya tidak terlalu ingin untuk melanjutkan pendidikan S1 ini. Tetapi dorongan kali dorongan, suruhan kali suruhan, pengalaman berbagai orang, mendorong saya untuk melanjutkan pendidikan S1 ini. Ya meskipun saya jalani saat ini, tetapi terkadang ada rasanya kurang bersemangat, dan tak ingin melanjutkannya. Terlebih latar belakang kedua orang tua saya bukan berasal dari S1 tetapi hanya tamatan SMEA atau SMA, yang dulu setara dengan SMK. Orang tua saya juga, yang terkadang membuat saya tidak ingin melanjutkan S1 ini. Tetapi bila sedang lelah, sejenak berhenti dan berpikir, UKT sudah masuk sekian puluh juta, yang notabene nya rata kanan. Bjirrrr

Dalam perjalanan hidup saya sampai saat ini, saya menyadari bahwa banyak hal tidak selalu berjalan sesuai dengan rencana awal. Ada harapan yang pernah gagal, ada pilihan yang awalnya terasa asing, dan ada keadaan yang membuat saya harus belajar menerima kenyataan dengan lebih dewasa. Namun, dari semua itu, saya mulai memahami bahwa proses membentuk seseorang bukan hanya melalui keberhasilan, tetapi juga melalui rasa lelah, keraguan, dan keberanian untuk tetap berjalan. Saya bukan orang yang selalu memiliki motivasi besar setiap hari, tetapi saya berusaha untuk tidak menyerah begitu saja. Bagi saya, menjadi mahasiswa Universitas Indonesia bukan hanya tentang nama besar kampus, melainkan tentang tanggung jawab untuk membuktikan bahwa perjuangan orang tua, perjalanan jauh setiap hari, serta kesempatan yang telah diberikan tidak boleh disia-siakan.



Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *