Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.
Perkenalkan nama saya Reza juniawan, mahasiswa Teknik Mesin Universitas Indonesia dengan NPM 2306155470. Pada kesempatan ini, saya ingin membagikan pengalaman saya menjalankan proyek simulasi aerodinamika menggunakan STAR-CCM+, di mana saya mempelajari bagaimana fluida pada kapal mengalir dan hubunagnnya dengan metode numerik. Dimana saya mengerjakan ini dibantu dengan framework DAI5 yang diperkenalkan oleh Prof. DAI.
Latar Belakang

Kapal selam modern seperti Scorpène Class bukan hanya menjadi simbol kemajuan teknologi militer, tetapi juga merupakan contoh nyata penerapan prinsip-prinsip mekanika fluida dan termodinamika yang dianalisis menggunakan metode numerik. Dalam perancangannya, berbagai simulasi berbasis komputer dilakukan untuk memprediksi perilaku kapal saat menyelam, bermanuver, maupun berada dalam kondisi operasional ekstrem di bawah laut. Salah satu pendekatan utama dalam simulasi ini adalah penerapan metode numerik seperti Finite Element Method (FEM), yang digunakan untuk menyelesaikan persamaan konservasi massa, momentum, dan konservasi energi dalam fluida yang mengalir di sekitar lambung kapal.
Ketika kapal menyelam, terjadi perubahan energi dari energi potensial menjadi energi kinetik, yang dianalisis melalui simulasi numerik guna mengetahui respons kapal terhadap tekanan hidrostatik dan gaya apung. Selain itu, aspek perpindahan panas pada sistem propulsi kapal (terutama yang menggunakan mesin diesel-listrik atau Air Independent Propulsion) juga dianalisis dengan metode numerik untuk memastikan efisiensi termal dan keamanan sistem. Model numerik memungkinkan evaluasi perubahan suhu, aliran massa, dan efisiensi energi pada berbagai skenario, tanpa harus melakukan uji coba langsung yang berbiaya tinggi.
Dengan demikian, keterlibatan metode numerik sangat vital dalam pengembangan kapal selam—mulai dari analisis struktur lambung terhadap tekanan laut dalam, desain sistem propulsi yang efisien, hingga pengoptimalan bentuk geometri untuk meminimalkan hambatan fluida (drag). Oleh karena itu, kapal selam menjadi contoh ideal penerapan prinsip konservasi energi, perubahan energi mekanik dan termal, serta penyelesaian sistem persamaan diferensial kompleks yang hanya bisa dipecahkan secara praktis melalui pendekatan numerik dan bantuan sofware ini.
1. DEEP AWARENESS OF I
Kemampuan dalam mensimulasikan fenomena fisika menggunakan metode numerik seperti Finite Element Method (FEM) dan Computational Fluid Dynamics (CFD) sangat penting, terutama dalam analisis sistem kapal selam yang kompleks. Dengan simulasi, kita dapat memahami interaksi aliran fluida di sekitar lambung, efek turbulensi, serta tekanan hidrostatik yang bekerja pada struktur kapal saat berada di kedalaman laut—semuanya tanpa perlu melakukan eksperimen fisik yang mahal dan berisiko. Proses ini memungkinkan pemecahan sistem menjadi elemen kecil yang dihitung secara detail, memberikan gambaran akurat tentang distribusi tekanan, kecepatan aliran, dan gaya drag. Ketelitian dan keteraturan hasil simulasi ini menyadarkan saya akan kebesaran Tuhan melalui keteraturan hukum-hukum alam, sekaligus menumbuhkan semangat untuk terus belajar dan beradaptasi sebagai mahasiswa teknik.
2. INTENTION
Tujuan saya dalam melakukan simulasi ini tidak hanya sebatas untuk meningkatkan nilai UTS, tetapi juga sebagai upaya memperdalam pemahaman saya mengenai penerapan metode numerik dalam dunia teknik secara nyata, khususnya dalam menganalisis aliran fluida melalui perangkat lunak ANSYS Fluent dengan menggunakan STAR-CCM+. Lebih dari itu, saya memandang proses ini sebagai bentuk ibadah intelektual sebuah ikhtiar untuk mengamalkan ilmu yang saya pelajari agar dapat memberikan manfaat dan kebaikan, bukan sekadar menyelesaikan kewajiban akademik. Saya berharap, melalui proses ini, saya tidak hanya mendapatkan hasil teknis yang baik, tetapi juga membentuk sikap profesional, bertanggung jawab, dan terus haus akan ilmu pengetahuan.
3. INITIAL THINKING
Sebelum memulai simulasi di STAR-CCM+, saya terlebih dahulu mencoba memahami konteks permasalahan teknik yang ingin saya angkat, yaitu bagaimana perilaku aliran fluida (air) saat melewati badan kapal selam dan bagaimana karakteristik tersebut memengaruhi gaya hambat (drag), distribusi tekanan, serta arah aliran (streamline) di sekitar lambung kapal. Permasalahan ini sangat relevan dalam dunia kelautan dan pertahanan, terutama untuk meningkatkan efisiensi gerak kapal, kestabilan saat bermanuver di bawah air, dan pengurangan konsumsi energi selama operasi.
Permasalahan ini saya uraikan menjadi beberapa komponen penting sebagai berikut:
- Geometri Kapal Selam
Saya menyederhanakan bentuk kapal selam menjadi model 3D dasar yang tetap merepresentasikan fitur hydrodinamis utama seperti haluan bulat, badan silinder, dan ekor sirip, agar simulasi efisien namun mampu menangkap fenomena hidrodinamika utama seperti wake region dan flow separation. - Domain Simulasi dan Boundary Condition
Saya membuat domain aliran berupa kanal fluida dengan kecepatan masuk konstan, misalnya 30 m/s, serta dinding luar yang diset bebas-slip atau simetri untuk merepresentasikan kondisi aliran laut terbuka. - Properti Fluida
Air laut diasumsikan sebagai fluida Newtonian dan inkompresibel, dengan nilai densitas dan viskositas yang disesuaikan pada suhu sekitar 28°C pada suhu perairan indonesia dan salinitas tertentu. - Model Fisis dan Turbulensi
Untuk menangkap fenomena vorteks dan perpisahan aliran yang terjadi di sekitar struktur sirip dan baling-baling, saya memilih model turbulensi k−ε Realizable, yang seimbang antara ketelitian dan efisiensi komputasi. - Skema Numerik dan Kriteria Konvergensi
Saya menggunakan skema second-order upwind agar hasil simulasi tetap akurat, dengan batas konvergensi residual 10⁻³. Mesh refinement dilakukan di area haluan dan ekor untuk menangkap detail distribusi tekanan dan kecepatan aliran.
Melalui proses ini, saya menyadari bahwa penyederhanaan geometri dan asumsi aliran tunak memang memiliki keterbatasan terhadap realisme hasil, namun langkah ini penting sebagai pendekatan awal yang terstruktur. Bagi saya, simulasi ini bukan sekadar praktik teknis, melainkan bentuk tanggung jawab ilmiah sekaligus ibadah intelektual dalam memahami keteraturan ciptaan Allah SWT melalui pendekatan sains dan rekayasa.
4. IDEALIZATION
Untuk mempermudah analisis kita dapat membreakdown permasalahan, Pada tahap ini, model kapal selam direpresentasikan dalam bentuk geometri 3D menggunakan perangkat lunak CAD, lalu dimasukkan ke dalam STAR-CCM+ untuk dianalisis lebih lanjut. Lingkungan fluida di sekitar kapal dibuat berbentuk balok besar yang mewakili kolom air laut, dengan asumsi bahwa air bersifat tidak termampatkan (incompressible) dan mengalir dengan kecepatan konstan terhadap kapal.
Kondisi batas (boundary conditions) dalam simulasi ini ditetapkan sebagai berikut:
- Inlet: Kecepatan aliran masuk
- Outlet: Tekanan hidrostatik (misalnya 0 Pa relatif terhadap kedalaman tertentu)
- Dinding kapal selam: Menggunakan kondisi no-slip, yang berarti tidak ada kecepatan relatif antara permukaan kapal dan air di sekitarnya.
Untuk proses diskretisasi, mesh dibangun menggunakan kombinasi antara elemen tetrahedral untuk volume fluida secara umum, serta prism layer pada dinding kapal selam untuk menangkap fenomena aliran batas (boundary layer). Di bagian-bagian tertentu yang kritis seperti sirip dan ekor kapal, digunakan refined mesh untuk menangkap perubahan gradien tekanan dan kecepatan yang lebih tajam secara lebih akurat.
Aliran pada kapal juga dipengaruhi oleh fluida air dimana diketahui dengan rumus

Kemudian dipengaruhi juga oleh coef drag dari air, atau gaya hambat

dimana untuk menghitung koefisien drag atau koefisien gaya hambat, yaitu angka tanpa satuan yang menyatakan seberapa besar gaya hambat (Fd) yang dialami suatu benda saat bergerak dalam fluida (seperti udara atau air), relatif terhadap kecepatannya, ukuran penampangnya, dan kerapatan fluida.
5. INSTRUCTION SET
Di tahap ini kita menjabarkan semua intruksi dan yang dilakukan pada analisis simulasi star ccm+ ini, yaitu sebagai berikut :
A. Import Geometri

Dimana pada proses ini mengimpor file dari bentuk misal yang saya gunakan adalah STEP dan kemudian dimasukan pada 3D-Cam yang ada pada task browser disebelah kiri.
B. Membuat Boundary

Dimana disini fungsinya untuk memberikan batasan bangun pada objek yang akan kita gunakan. Setelah geometri berhasil dimuat, sebuah blok primitif (Primitive Block) diciptakan untuk merepresentasikan volume kontrol atau domain aliran. Ukuran blok ini disesuaikan sedemikian rupa agar objek torpedo sepenuhnya berada di dalamnya, dengan menyisakan ruang yang cukup memadai di bagian hulu (depan), hilir (belakang), serta di sisi atas, bawah, kiri, dan kanan objek. Penentuan dimensi domain ini krusial untuk memastikan bahwa efek batas (boundary effects) tidak memengaruhi hasil simulasi di sekitar objek utama, serta memberikan ruang yang cukup bagi aliran untuk berkembang penuh dan menangkap efek bangun (wake effects) di bagian hilir. Selanjutnya, operasi Boolean “Subtract” diaplikasikan, di mana geometri objek torpedo digunakan untuk melubangi blok domain. Hasil dari operasi ini adalah sebuah “Part” baru yang merepresentasikan volume fluida di sekitar objek, siap untuk tahap meshing dan definisi kondisi batas.
C. Pembuatan Inlet dan Outlet


Setelah domain komputasi terbentuk, langkah krusial berikutnya adalah menetapkan kondisi batas pada setiap permukaan domain. Ini memberi tahu perangkat lunak bagaimana fluida berinteraksi dengan batas-batas simulasi.
- Identifikasi Permukaan Batas:
Setiap sisi dari blok domain komputasi, serta permukaan objek itu sendiri, akan menjadi “permukaan batas”. STAR-CCM+ secara otomatis mengidentifikasi permukaan-permukaan ini setelah operasi boolean. Penting untuk memverifikasi dan, jika perlu, mengganti nama permukaan-permukaan ini agar mudah diidentifikasi (misalnya, Inlet, Outlet, Wall, Symmetry Plane).
- Pemberian Jenis Kondisi Batas:
Setiap permukaan batas kemudian diberi “jenis” atau “tipe” kondisi batas yang sesuai dengan fenomena fisik yang ingin disimulasikan. Ini mencakup penetapan jenis aliran masuk (Velocity Inlet), aliran keluar (Pressure Outlet), permukaan padat (Wall), atau bidang simetri (Symmetry Plane). Pemilihan jenis kondisi batas yang tepat sangat esensial untuk akurasi dan stabilitas simulasi.
- Penetapan Parameter Kondisi Batas:
Setelah jenis kondisi batas ditentukan, parameter spesifik untuk setiap jenis akan diatur. Misalnya, untuk Velocity Inlet, nilai kecepatan aliran harus dimasukkan; untuk Pressure Outlet, nilai tekanan keluaran perlu dispesifikasikan; dan untuk Wall, properti permukaan seperti kondisi No-Slip atau Slip akan dikonfigurasi. Pengaturan parameter ini merepresentasikan kondisi operasional fisik dari sistem yang disimulasikan.
D. Memilih dan menganalisis keadaan yang terjadi
dimana tujuannya untuk mendefinisikan sifat-sifat fluida dan model matematika yang akan digunakan untuk memecahkan persamaan aliran. akan memilih jenis fluida (misalnya, udara, air), apakah aliran tersebut steady-state (tunak) atau transient (berubah terhadap waktu), incompressible (tidak termampatkan) atau compressible (termampatkan), serta model turbulensi jika aliran dianggap turbulen (misalnya, k-epsilon, k-omega SST). Pemilihan model fisika yang akurat sangat penting karena akan sangat memengaruhi hasil dan akurasi simulasi.

Dimana untuk hubungannya dengan metode numerik dapat dijabarkan dengan sebagai berikut :

Untuk aliran kompresibel atau transien, ada suku tambahan yang melibatkan laju perubahan densitas terhadap waktu.

Tentu, dalam simulasi CFD menggunakan STAR-CCM+ untuk objek seperti torpedo, beberapa persamaan dasar dari mekanika fluida akan dipecahkan secara numerik. Persamaan-persamaan ini adalah bentuk konservasi massa, momentum, dan energi. Berikut adalah rumus-rumus yang kemungkinan besar digunakan oleh solver STAR-CCM+, khususnya dengan Metode Volume Hingga (Finite Volume Method):
1.) Persamaan Kontinuitas (Konservasi Massa):
Persamaan ini menyatakan bahwa massa tidak dapat diciptakan atau dimusnahkan. Untuk aliran tunak (steady-state) dan inkompresibel (densitas konstan), bentuknya adalah:
∇⋅(ρu)=0
Di mana:
- ρ adalah densitas fluida (konstan untuk inkompresibel).
- u adalah vektor kecepatan fluida.
- ∇⋅ adalah operator divergensi.
Untuk aliran kompresibel atau transien, ada suku tambahan yang melibatkan laju perubahan densitas terhadap waktu.
2.) Persamaan Momentum (Persamaan Navier-Stokes):
Persamaan ini didasarkan pada hukum kedua Newton, yang menyatakan bahwa laju perubahan momentum suatu partikel fluida sama dengan jumlah gaya yang bekerja padanya. Ada tiga komponen (untuk arah x, y, z):
∇⋅(ρuu)=−∇p+∇⋅(τ)+ρg
Di mana:
- ρ adalah densitas fluida.
- u adalah vektor kecepatan.
- p adalah tekanan statis.
- τ adalah tensor tegangan viskos. Untuk fluida Newtonian, ini terkait dengan gradien kecepatan dan viskositas dinamis (μ): τ=μ[(∇u+(∇u)T)−32(∇⋅u)I] Di mana I adalah tensor identitas.
- ρg adalah suku gaya gravitasi (jika relevan).
Untuk aliran turbulen (yang sangat mungkin terjadi di sekitar torpedo pada kecepatan tertentu), persamaan Navier-Stokes ini tidak dipecahkan secara langsung (kecuali dalam Direct Numerical Simulation – DNS, yang sangat mahal komputasinya). Sebaliknya, solver akan menggunakan Reynolds-Averaged Navier-Stokes (RANS) equations.
E. Pembuatan Mesh

Proses Mesh, atau yang juga dikenal sebagai diskretisasi, adalah tahapan krusial dalam simulasi yang bertujuan untuk membagi domain komputasi (ruang di mana fluida mengalir, termasuk di sekitar objek seperti kapal selam) menjadi sejumlah besar sel-sel kecil yang saling terhubung. Pada foto diatas terlihat bahwa ruang di sekitar kapal selam Anda telah dibagi menjadi sel-sel berbentuk poligon, menunjukkan penggunaan Trimmed Cell Mesher. Setiap sel ini membentuk volume kontrol tempat persamaan-persamaan fluida (seperti persamaan konservasi massa, momentum, dan energi) akan diselesaikan oleh solver secara numerik. Hasil dari proses ini adalah volume mesh, yang merupakan jaringan sel-sel yang mengisi seluruh ruang fluida.

Pada persamaan energi diatas diubah menjadi bentuk aljabar diskrit yang dapat diselesaikan oleh komputer di setiap sel mesh. Proses ini melibatkan pembagian domain kontinu menjadi sel-sel kecil tempat nilai-nilai energi dihitung secara berulang hingga solusi konvergen. Tujuan utamanya adalah untuk memodelkan transfer panas dan perubahan suhu dalam aliran fluida secara komputasi.
F. Definisi Monitor dan Laporan
Untuk melacak parameter-parameter kunci selama proses simulasi berlangsung dan menghasilkan data kuantitatif yang relevan.Saya dapat membuat monitor untuk secara berkala melacak nilai-nilai penting seperti koefisien seret (drag coefficient), koefisien angkat (lift coefficient), atau laju aliran massa (mass flow rate) seiring dengan bertambahnya iterasi

Konvergensi simulasi Computational Fluid Dynamics (CFD) dipantau secara ketat melalui analisis plot residuals. Plot ini, yang merepresentasikan residual dari setiap persamaan governing yang dipecahkan (kontinuitas, momentum dalam tiga arah, serta persamaan model turbulensi seperti energi kinetik turbulen (Tke) dan laju disipasi turbulen (Tdr)), menjadi indikator utama kestabilan dan akurasi solusi. Sumbu-X menunjukkan jumlah iterasi yang telah diselesaikan oleh solver, sementara sumbu-Y menunjukkan nilai residual dalam skala logaritmik, di mana nilai yang lebih rendah mengindikasikan bahwa persamaan-persamaan tersebut terpenuhi dengan lebih baik di seluruh domain, sehingga solusi semakin mendekati konvergensi.
Dalam simulasi ini, saya mengamati bahwa pada tahap awal iterasi (sekitar 0 hingga 250), semua residual menunjukkan penurunan yang signifikan dan tajam, sebuah indikasi bahwa solver secara efektif memulai proses penyelesaian dan menemukan solusi awal. Setelah rentang tersebut, yaitu antara iterasi 250 hingga sekitar 480, nilai residual untuk semua persamaan cenderung mendatar pada tingkat yang rendah, sebagian besar berada di bawah 10−5 hingga 10−7. Kondisi ini merupakan pertanda kuat bahwa solusi telah mencapai konvergensi yang memadai dan stabil pada kondisi operasi awal yang saya tetapkan untuk kapal selam.
G. Hasil aliran yang terjadi

Karena laptop saya mengalami kendala maka untuk hasil mengguanakan sofware lain akan tetapi hasilnya tidak jauh beda dengan perhitungan. disini pada gambar di atas Warna Biru: Merepresentasikan kecepatan yang paling rendah (misalnya, di dekat batas domain yang jauh dari objek atau di area stagnasi). Warna Hijau/Kuning: Menunjukkan kecepatan menengah. Warna Merah/Oranye: Merepresentasikan kecepatan yang paling tinggi.
Bagian Depan (Hulu): Terlihat area berwarna biru/hijau di ujung hidung kapal selam. Ini mengindikasikan area stagnasi atau kecepatan rendah di mana fluida melambat saat mendekati permukaan objek.
Sepanjang Badan: Di sepanjang sisi badan kapal selam, terutama di bagian tengah hingga ke belakang, warna cenderung merah/oranye/kuning. Ini menunjukkan area kecepatan tinggi. Fluida harus mempercepat alirannya saat melewati bagian terbesar objek karena luasan penampang aliran menyempit (efek Bernoulli)

Bagian Belakang (Hilir/Wake Region): Di belakang ekor kapal selam, terdapat area yang didominasi warna biru/hijau yang meluas. Ini adalah daerah bangun (wake region), di mana fluida yang telah melewati objek mengalami perlambatan, pencampuran, dan seringkali turbulensi.
6. Kesimpulan
Dari simulasi yang saya lakukan, saya menyadari bahwa metode numerik memainkan peran inti dalam keseluruhan proses komputasi teknik, mulai dari pembuatan geometri hingga analisis hasil. Proses seperti pembagian mesh, penyelesaian aliran, dan interpretasi data semua bertumpu pada pendekatan numerik seperti diskretisasi, turunan pendekatan, dan integrasi.
Mesh memungkinkan bentuk kompleks diubah menjadi segmen kecil agar rumus fisis dapat dihitung secara numerik. Setelah simulasi selesai, berbagai metode matematister masuk regresi membantu mengubah data mentah menjadi informasi yang dapat dianalisis.
Dari pengalaman ini, saya belajar bahwa pemahaman numerik bukan hanya pelengkap, tapi fondasi penting untuk menjembatani antara teori fisika dan hasil komputasi teknik.
Mungkin segini saja yang dapat saya sampaikan, kurang lebihnya mohon maaf Terimakasih. Waalaikumsalam Wr.Wb.