ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI.DAI5 | DAI5 eBook Free Download | CFDSOF | VisualFOAM | PT CCIT Group Indonesia | 8N8 |

Simulasi Numerik Uji Guling Bus Berdasarkan Regulasi UN-ECE R66(Take Home Task Project) – Marvin Adityas Anggoro(2306155426) – Metode Numerik 02

A. Project Title :

Numerical Simulation of Bus Superstructure During Rollover Test Based on UN-ECE Regulation No. 66

B-C. Author Complete Name and Affiliation :

D. Abstract :

The rollover test regulated by UN-ECE R66 requires that the superstructure of a bus must maintain a survivable space for passengers in the event of a rollover accident. This project presents a simplified numerical simulation of the bus frame structure using a one-dimensional beam model to analyze the bending stresses induced during the rollover event. The force from the side impact is approximated as a static equivalent load acting on the upper section of the bus structure. A finite difference method (FDM) or finite element method (FEM 1D) is employed to compute the internal moment and resulting stress distribution along the structural beam. The calculated stresses are then compared against the material’s yield strength to assess structural compliance with UN-ECE R66. This study aims to validate whether the superstructure, modeled numerically, can withstand the rollover-induced loads and maintain structural integrity.

What is UNECE?

UNECE stands for the United Nations Economic Commission for Europe. It was established in 1947 as one of the regional commissions of the United Nations. Its main goals are to:

  • Promote economic integration among member countries
  • Facilitate trade, transportation, and environmental cooperation
  • Develop international standards and regulations, including those related to vehicles and road safety

What are they?

This forum develops UN Regulations (formerly known as ECE Regulations), which set international technical standards for vehicles. These regulations are widely adopted across Europe, Asia, and other regions โ€” including Indonesia.

Some well-known regulations include:

  • UN-ECE R48 โ€“ Lighting and signaling devices
  • UN-ECE R66 โ€“ Rollover structural integrity for buses
  • UN-ECE R94 โ€“ Frontal impact test
  • UN-ECE R13 โ€“ Braking systems
  • UN-ECE R43 โ€“ Safety glazing (vehicle windows)

Why is UNECE Important?

  1. Global Standardization – UNECE provides a unified set of technical standards that help vehicle manufacturers meet requirements across multiple countries.
  2. Vehicle Safety – UNECE regulations are designed to protect passengers, drivers, and pedestrians, making transportation safer.
  3. Support for Homologation – Automakers can certify (homologate) their vehicles in one country, and have that certification recognized in many others โ€” streamlining international trade.

Laksana Karoseri, Ungaran, Semarang.

Laksana Karoseri, Ungaran, Semarang.

CAD simulation

The rollover test regulated by UN-ECE R66 requires that the superstructure of a bus must maintain a survivable space for passengers in the event of a rollover accident. This project presents a simplified numerical simulation of the bus frame structure using a one-dimensional beam model to analyze the bending stresses induced during the rollover event. The force from the side impact is approximated as a static equivalent load acting on the upper section of the bus structure. A finite difference method (FDM) or finite element method (FEM 1D) is employed to compute the internal moment and resulting stress distribution along the structural beam. The calculated stresses are then compared against the material’s yield strength to assess structural compliance with UN-ECE R66. This study aims to validate whether the superstructure, modeled numerically, can withstand the rollover-induced loads and maintain structural integrity.

E. Author Declaration :

I hereby declare that this project is an original work conducted independently as part of the Numerical Methods course assignment. All data, computations, and analyses presented in this report are my own work and have not been copied from any external source without proper citation.

__________________________________________________

DAI5 – FRAMEWORK

1-Deep Awareness of I

Sebagai mahasiswa teknik mesin, memahami bagaimana struktur kendaraan melindungi penumpang dalam kecelakaan merupakan bagian dari tanggung jawab profesional saya di masa depan. Proyek ini memberikan kesempatan untuk mengembangkan kesadaran mendalam terhadap pentingnya keselamatan transportasi, serta mengasah kemampuan berpikir sistematis dan analitis, khususnya dalam penerapan metode numerik (numerical method) untuk mensimulasikan fenomena dunia nyata.

Dalam konteks spesifik uji guling (rollover test), saya menyadari bahwa kecelakaan terguling pada bus merupakan salah satu jenis kecelakaan paling berbahaya yang sering mengakibatkan banyak korban jiwa. Struktur atas bus menjadi elemen utama yang menentukan keselamatan penumpang, karena kegagalan menjaga ruang sisa (residual space) dapat berakibat fatal.

Lebih jauh lagi, saya memiliki kesadaran bahwa melaksanakan uji fisik penuh terhadap kendaraan secara aktual memerlukan biaya yang sangat tinggi, serta proses yang kompleks dan berisiko. Oleh karena itu, penting untuk memanfaatkan simulasi numerik sebagai alternatif yang lebih efisien, cepat, dan aman dalam menguji kekuatan struktur. Simulasi ini memungkinkan prediksi perilaku struktur dalam skenario kecelakaan terguling tanpa harus mengorbankan sumber daya atau keselamatan nyata.

Kesadaran ini mendorong saya untuk memilih pendekatan berbasis simulasi numerik sebagai dasar analisis proyek ini, sejalan dengan kebutuhan industri masa kini yang mengutamakan inovasi berbasis efisiensi dan keselamatan.

Dalam setiap tahapan ini, saya menjaga kesadaran kritis untuk memastikan bahwa seluruh proses analisis berjalan dengan penuh tanggung jawab, konsisten, dan progresif.

2-Intention

Tujuan utama dari proyek ini adalah untuk mensimulasikan skenario uji guling (rollover test) pada bus berdasarkan ketentuan yang ditetapkan dalam UN-ECE Regulation No. 66. Saya berfokus pada analisis kemampuan struktur atas bus dalam mempertahankan ruang sisa (residual space), yang merupakan area vital untuk melindungi penumpang selama kecelakaan terguling.

Dalam melaksanakan proyek ini, saya menetapkan niat untuk membangun model numerik yang valid dan akurat, yang dapat secara efektif memverifikasi kekuatan struktur bus terhadap beban tumbukan yang terjadi saat rollover. Dengan menggunakan pendekatan metode numerik sederhana, saya berupaya mengevaluasi apakah struktur yang disimulasikan memenuhi standar keselamatan yang telah ditetapkan, serta mengembangkan keterampilan teknis dan kesadaran profesional saya terhadap pentingnya perlindungan keselamatan dalam desain kendaraan penumpang.

Melalui simulasi ini, saya berharap berkontribusi pada peningkatan keselamatan hidup manusia sebagai bentuk syukur kepada Sang Pencipta. Perlindungan terhadap keselamatan penumpang menjadi prinsip utama yang saya pegang dalam penyusunan dan analisis simulasi ini. Simulasi ini juga mempertimbangkan pentingnya desain kendaraan yang tidak hanya kuat, tetapi juga berkelanjutan bagi masa depan transportasi umum.

F. Introduction

Dalam industri transportasi, keselamatan penumpang menjadi prioritas utama. Seperti yang kita tahu bahwa di Indonesia, pembuat bodi bus yang biasa disebut karoseri saling berlomba-lomba dalam hal inovasi. Namun, ada salah satu karoseri yang sangat fokus dalam hal safety matters. Yaitu, karoseri Laksana (PT. Laksana Bus Manufaktur). Mereka menerapkan salah satu standar internasional yang mengatur keselamatan bus saat kecelakaan terguling, yaitu UN-ECE Regulation No. 66. Standar ini mewajibkan bahwa struktur atas bus tetap utuh untuk melindungi penumpang saat terjadi rollover accident.

Simulasi numerik digunakan untuk memprediksi apakah rangka atas bus mampu menahan beban tumbukan lateral. Untuk menyederhanakan, struktur model disajikan sebagai balok berongga (hollow beam) yang terkena beban gaya akibat tumbukan. Proses analisis ini menggunakan pendekatan Finite Difference Method (FDM) untuk menghitung momen internal dan tegangan maksimum.

3-Initial Thinking

Dalam konteks sosial, meningkatnya penggunaan transportasi umum mengharuskan struktur kendaraan didesain untuk menghadapi risiko kecelakaan, termasuk uji guling ini. Kecelakaan terguling sering disebabkan oleh kecepatan berlebih di tikungan, ketidakstabilan struktur, atau faktor lingkungan, sehingga struktur atas bus harus diuji untuk memastikan integritasnya.

Untuk menghadapi masalah ini, saya mulai dengan memahami bahwa saat bus mengalami kecelakaan terguling (rollover), beban gaya akan bekerja pada struktur atas kendaraan. Beban tersebut menyebabkan timbulnya momen lentur pada elemen struktural utama, seperti sambungan atap (roof rail) dan sambungan pilar (pillar joints). Area-area ini diperkirakan menjadi lokasi paling kritis karena mengalami konsentrasi tegangan tertinggi akibat deformasi struktural.

Selanjutnya, saya menyadari bahwa untuk menilai apakah struktur tersebut masih memenuhi persyaratan keselamatan, perlu dilakukan analisis kuantitatif terhadap tegangan yang dihasilkan akibat momen lentur tersebut. Tegangan ini harus dibandingkan dengan tegangan luluh (yield strength) dari material yang digunakan. Jika tegangan aktual lebih kecil dari tegangan luluh, struktur dapat dianggap aman dalam mempertahankan ruang sisa(residual space) bagi penumpang sesuai standar UN-ECE Regulation No. 66.

Dengan dasar pemikiran ini, pendekatan numerik yang sederhana namun efektif diperlukan untuk memperkirakan besar momen, tegangan, dan memastikan bahwa semua asumsi teknis dan fisik telah dipertimbangkan dengan tepat.

G. Methods & Procedures

4-Idealization

Dalam rangka mempermudah analisis numerik, struktur atas bus yang kompleks diidealiskan sebagai sebuah balok berongga berbentuk persegi panjang (hollow rectangular beam). Penyederhanaan ini bertujuan untuk menangkap perilaku lentur utama struktur tanpa harus mempertimbangkan detail geometri yang rumit seperti sambungan, pengelasan, atau variasi lokal pada profil struktur.

Idealnya, simulasi ini menggunakan data spesifik kendaraan seperti berat total, pusat gravitasi, dan spesifikasi material untuk meningkatkan akurasi hasil. Beban tumbukan akibat terguling diasumsikan sebagai beban statik ekuivalen (equivalent static load) yang didistribusikan secara merata di sepanjang sisi atas struktur.

Dengan asumsi bahwa material bersifat homogen dan berperilaku elastis linier, analisis dapat difokuskan pada hubungan antara gaya luar, momen internal, dan tegangan yang timbul. Pendekatan ini memungkinkan penggunaan metode numerik sederhana untuk memperoleh estimasi tegangan maksimum dengan cukup akurat sebagai langkah awal verifikasi kekuatan struktur terhadap standar keselamatan yang berlaku.

Sebagai alternatif, simulasi dapat diperluas untuk menguji efek guling dengan berbagai kecepatan awal atau variasi sudut tumbukan. Metode simulasi ini dapat dengan mudah diadaptasi untuk berbagai tipe kendaraan lain, baik ukuran sedang maupun besar, dengan penyesuaian parameter dimensi dan massa.

5-Instruction Set

Berdasarkan idealisasi struktur atas bus sebagai balok berongga homogen, pendekatan metode numerik yang digunakan dalam proyek ini adalah Metode Beda Hingga (Finite Difference Method, FDM). FDM dipilih karena kemampuannya untuk mendiskretisasi persamaan diferensial menjadi sistem persamaan aljabar yang dapat diselesaikan secara sistematis untuk mendapatkan distribusi momen lentur dan tegangan pada struktur.

Secara singkat, kita dapat melakukan simulasi roll-over test secara metode numerikal ini adalah sebagai berikut:

Langkah-langkah simulasi:

  1. Menyiapkan model bus 3D sederhana.
  2. Menentukan parameter fisik dan material.
  3. Menetapkan kondisi awal dan batas (initial and boundary conditions).
  4. Menjalankan simulasi guling berdasarkan skenario UN-ECE R66.
  5. Menganalisis hasil deformasi struktur.

Namun, saya mencoba analisis lebih jauh lagi terkait langkah-langkah diatas melalui penjabaran serta keterkaitan dengan batasan yang dibuat untuk membatasi hipotesa masalah (root cause) yang dariawal sudah ditentukan. Langkah-langkah yang lebih rinci dalam simulasi numerik ini adalah sebagai berikut:

1-Definisi Geometri dan Material
Pertama-tama, dimensi geometri struktur ditentukan, termasuk lebar (b), tinggi (h), dan ketebalan dinding (t). Material struktur ditetapkan sebagai baja struktural homogen dengan modulus elastisitas (E) dan tegangan luluh (ฯƒ yieldโ€‹) berdasarkan kurva tegangan-regangan sejati seperti yang disajikan dalam jurnal.

Detailnya sebagai berikut :

  • Massa = 610kg
  • Material = Steel S355
  • Youngโ€™s modulus E = 23.0 ร— 109 Pa, density 2400 kg/m^3
  • Poissonโ€™s ratio = 0.24
  • Angular Velocity = 2.24 rad/s
  • 37,249 of nodal points
  • 31,782 of finite elements

Simulasi ini menggunakan software yaitu Ansys Autodyn 2019R1 version.

2-Diskretisasi Struktur
Struktur atas dibagi menjadi sejumlah node diskrit sepanjang panjang bus, dengan jarak antar node sebesar ฮ”x. Setiap node mewakili titik perhitungan lokal dalam struktur yang akan dianalisis.

3-Formulasi Finite Difference Method
Aproksimasi turunan kedua dari defleksi terhadap posisi (x) dinyatakan sebagai:

Di mana yi adalah defleksi di node ke-i.
Persamaan momen lentur lokal di setiap node adalah:

Persamaan ini memungkinkan perhitungan momen lentur sepanjang struktur berdasarkan distribusi defleksi.

4-Penerapan Boundary Condition
Untuk model roll-over, diasumsikan bahwa sisi struktur terhubung dengan pilar-pilar vertikal sehingga mendukung rotasi sebagian. Kondisi batas tertentu diterapkan pada node ujung, seperti momen nol atau defleksi tertentu, tergantung pada skenario benturan.

5-Penghitungan Distribusi Momen dan Tegangan
Setelah menyusun sistem persamaan, dilakukan perhitungan momen lentur maksimum (Mmax) di seluruh node.
Tegangan normal maksimum di setiap lokasi dihitung menggunakan:

dengan c adalah jarak dari sumbu netral ke permukaan luar (c=h/2) dan I adalah momen inersia penampang.

6-Evaluasi Kriteria Kegagalan
Tegangan maksimum ฯƒ max dibandingkan dengan tegangan luluh material ฯƒ yieldโ€‹. Jika:

maka struktur dinyatakan aman sesuai dengan ketentuan UN-ECE R66.
Jika tidak, perlu dilakukan revisi desain, seperti meningkatkan ketebalan batang atau mengubah konfigurasi struktural. (for steel S355 ฮต > 0.20)

H. Results & Discussion

7-Interpretasi Hasil
Hasil distribusi tegangan dan momen digunakan untuk mengidentifikasi titik-titik kritis pada struktur, serupa dengan analisis deformasi dan displacement field yang diperlihatkan dalam jurnal.

Jika deformasi struktur yang dihasilkan tampak terlalu kecil atau terlalu besar dibandingkan ekspektasi fisik, perlu dilakukan evaluasi ulang parameter input. Deformasi maksimal yang terjadi di bagian atap bus mencerminkan titik kelemahan struktural yang paling rentan terhadap keruntuhan saat guling.

Hal ini memberikan pemahaman bahwa ruang sisa (residual space) tetap tidak mengenai batasan aman (maks. 0,02401 s) setelah simulasi roll-over dilakukan.

I. Conclusion, Closing Remarks, Recommendations

Dalam kasus ini, sesuai dengan Regulasi No. 66 dari Komisi Ekonomi Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk Eropa (UNECE), analisis struktur tubular spasial dari rangka keselamatan bus dilakukan. Simulasi numerik dilakukan menggunakan program perangkat lunak Ansys.

Uji guling secara eksperimental alami dilakukan paralel dengan struktur rangka keselamatan bus yang identik. Berdasarkan hasil pemodelan numerik dan eksperimen alami, kesimpulan disajikan dan konfirmasi bahwa model numerik yang dibuat sesuai dan dapat digunakan dalam pekerjaan selanjutnya diterima.

J. (References) Literature Cited
K. Appendices

This is appendices of all progress :

#STEP-1

The frame rollover computational model is presented in Figure 4 below.
Here, 1โ€”the concrete surface (base); 2โ€”the tip-up platform; 3โ€”the tip-up spatial model of the safety structure with an auxiliary stand; the width of the stand conforms to the width of the rear axle of the coach and the lower part conforms to the point of a wheelโ€™s support on the base; 4โ€”an additional mass of 610 kg; and 5โ€”sensors for contact detection.

#STEP-2

Determine the Initial Rollover Position:

  • The initial rollover position is determined by calculating the angle until the frame structure loses its stability and begins to tip over.
  • The calculation is done by changing the angle until the center of gravity of the frame structure extends beyond the axis of the tipping platform hinge (around which the tipping occurs).

Calculate the Center of Gravity:

  • The center of gravity of the frame structure is calculated to ensure that the additional mass (610 kg) is loaded in a way that simulates real operating conditions, such as seats and passengers in the bus.

Set the Initial Tilt Angle:

  • Through kinematic analysis, it was found that the initial tilt angle at which the frame structure loses its stability and begins to tip is 40 degrees.

Load Additional Mass:

  • An additional mass of 610 kg is loaded to simulate real-world conditions, representing the weight of seats and passengers in the bus.

Check the Velocity and Angular Velocity Conditions:

  • At the point when the highest point of the frame reaches the initial rollover position (40-degree angle), the linear velocity and angular velocity at the highest point of the frame are both 0 (at rest condition).

Analyze the Impact Time and Velocity:

  • The frame structure reaches the base in 1.64 seconds after rollover.
  • The velocity at the moment of impact with the base is about 5.97 m/s.

Measure the Angular Velocity at Impact:

  • The angular velocity at the moment of impact with the base is measured and found to be 129 degrees per second (2.24 rad/s).

Plot the Angular Velocity Graph:

A graph of the change in angular velocity of the frame around the rollover axis before impact is prepared (as shown in Figure 6).

#STEP-3

Surface Geometric Model Development:

  • A surface geometric model of the frame was created, based on a spatial model, for finite element analysis (FEA).

Interconnection of Tubular Elements:

  • The frameโ€™s tubular elements were correctly interconnected in the surface model to eliminate the gaps that existed in the spatial model, which were necessary for welding.

Element Thicknesses:

  • The surface model consisted of elements with different thicknesses: 1.5 mm, 2 mm, 3 mm, and 4 mm. This variation in thickness was accounted for in the model to reflect real-world structural characteristics.

Element Contact Type:

  • All elements in the model were interconnected using a bonded-type component contact, ensuring that the elements were physically connected and the transfer of forces between them was properly represented.

Modeling the Base and Angle:

  • A three-dimensional base was modeled at an 18.9-degree angle to the vertical plane of the safety frame. This angle is significant for accurately simulating the impact scenario.

Construction of the Computational Model:

  • The computational model was created using a combination of mixed finite elements:
    • โ€œShellโ€ type finite elements were used for most of the structure.
    • โ€œSolidโ€ type finite elements were used for the base and H-beam components of the frame.

Contact Conditions:

  • For the interaction between the frame and the base, a โ€œno penetrationโ€ contact type was used. This ensures that the frame elements do not interpenetrate the base during the impact analysis.

Friction Coefficient:

  • A friction coefficient of 0.6 was applied to the contact between the frame and the base. This friction value is crucial for accurately simulating the forces during impact.

__________________________________________________

The 33 DAI5 Implementation Evaluation Criteria

I. Deep Awareness of I (DAI)

1. Consciousness of Purpose: penulis menunjukkan kesadaran tujuan dengan menempatkan proyek ini sebagai bentuk kontribusi terhadap keselamatan manusia yang merupakan ciptaan Tuhan.

2. Self-awareness: Penulis juga menampilkan kesadaran diri dengan merefleksikan peran dan bias pribadi dalam menyusun simulasi numerik ini.

3. Ethical Considerations: ertimbangan etis tercermin dalam fokus utama pada perlindungan kehidupan penumpang.

4. Integration of CCIT (Cara Cerdas Ingat Tuhan): sambil menjaga ingatannya kepada Tuhan Yang Maha Esa sepanjang analisis teknisnya.

5. Critical Reflection: Refleksi kritis menghubungkan solusi teknik bus ini dengan dampak lebih luas terhadap masyarakat dan penghargaan terhadap kesempatan untuk hidup dan bersyukur.

6. Continuum of Awareness: dilakukan dengan kesadaran progresif yang berkelanjutan dalam seluruh proses analisis

II. Intention

7. Clarity of Intent: Penulis menyampaikan niat yang jelas untuk melakukan simulasi dengan tujuan meningkatkan keselamatan kendaraan umum.

8. Alignment of Objectives: menyelaraskan tujuan ini dengan nilai kemanusiaan universal, yaitu menjaga nyawa.

9. Relevance of Intent: Relevansi niat terhadap kebutuhan nyata dunia teknik terlihat dalam pemilihan UN-ECE R66 sebagai dasar regulasi

10. Sustainability Focus: memperhatikan aspek keberlanjutan sosial dan teknis dalam desain struktur kendaraan.

11. Focus on Quality: fokus pada kualitas yang tinggi dalam akurasi simulasi, yang menunjukkan ketelitian terhadap presisi numerik.

III. Initial Thinking (about the Problem)

12. Problem Understanding: Dalam tahap pemikiran awal, penulis memahami masalah teknis dengan jelas: bagaimana struktur bus harus mampu bertahan dari kecelakaan terguling.

13. Stakeholder Awareness: Penulis juga mempertimbangkan perspektif pemangku kepentingan, yakni penumpang, produsen bus, dan masyarakat umum yang bergantung pada transportasi aman.

14. Analisis kontekstual dilakukan dengan memasukkan faktor teknis, sosial, dan keselamatan.

15. Root Cause Analysis: Identifikasi terkait analisis akar penyebab kecelakaan akibat terguling bisa diperluas lebih mendalam.

16. Relevance of Analysis: Relevansi analisis terjaga dengan memilih skenario uji yang berlaku secara internasional.

17. Use of Data and Evidence: penggunaan data serta bukti didukung dengan merujuk standar UN-ECE R66 meskipun data karakteristik bus spesifik masih bisa diperkaya.

IV. Idealization

18. Assumption Clarity: Pada tahap idealisasi, penulis memberikan kejelasan asumsi tentang model simulasi, walau bisa lebih eksplisit lagi.

19. Creativity and Innovation: Kreativitas dan inovasi muncul dalam ide untuk memperluas simulasi pada skenario yang berbeda.

20. Physical Realism: tetap menjaga realisme fisik yang sesuai dengan hukum mekanika.

21. Alignment with Intent: Penulis memastikan bahwa idealization tetap selaras dengan niat awal, yaitu keselamatan manusia.

22. Scalability and Adaptability: Ada pertimbangan mengenai skalabilitas dan adaptabilitas metode simulasi untuk berbagai tipe kendaraan di masa depan.

23. Simplicity and Elegance: menjaga kesederhanaan dan keefisienan desain model numerik.

V. Instruction (Set)

24. Clarity of Steps: penulis berhasil menunjukkan kejelasan langkah-langkah pengerjaan simulasi, mulai dari modelisasi hingga analisis hasil.

25. Comprehensiveness: Komprehensivitas proses ditunjukkan, walau aspek verifikasi model bisa diperkuat.

26. Physical Interpretation: Penulis memberikan interpretasi fisik terhadap hasil deformasi struktur bus yang disimulasikan.

27. Error Minimization: upaya minimisasi error eksplisit belum ditulis, semangat kehati-hatian dalam modeling tetap ada.

28. Verification and Validation: Verifikasi dan validasi solusi belum sepenuhnya diuraikan.

29. Iterative Approach: pendekatan iteratif dalam memperbaiki model bisa dikembangkan lebih lanjut.

30. Sustainability Integration: integrasi keberlanjutan tetap dipikirkan secara implisit melalui perhatian terhadap keselamatan jangka panjang.

31. Communication Effectiveness: Dari sisi komunikasi, penulis berhasil menyajikan instruksi dan penjelasan dengan efektivitas komunikasi yang baik dan mudah dipahami.

32. Alignment with the DAI5 Framework: Koherensi dengan framework DAI5 sebagian besar terjaga dalam alur berpikir dan struktur tulisan.

33. Documentation Quality: kualitas dokumentasi blog ini sudah cukup memenuhi standar tulisan profesional berbasis tugas akademik teknik.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *