ccitonline.com

CCIT – Cara Cerdas Ingat Tuhan

| AI-DAI5 | DAI5 AI Agents | NIC | ZWI | | CCITEdu | DAI5 eBook | CFDSOF | Donation | Download | CCIT Corporation | DAI5 | 33 Kriteria Evaluasi Penerapan DAI5 | Search |

Kenapa kita perlu peduli tentang orang lain yang sering lupa berbicara kurang baik – Reza Juniawan (2306155470)

Assalamualaikum Perkenalkan nama saya reza juniawan, pada pertemuan minggu ke 5 saya ingin sedikit membahas yang di bicarakan di kelas.

Kita semua pasti pernah dengar kata-kata kasar di sekitar kita. Kadang sengaja, kadang spontan keluar tanpa dipikirkan. Di kampus, di tongkrongan, bahkan di media sosial, bahasa yang kurang baik seolah sudah jadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Padahal, cara kita berbicara itu bukan cuma soal kebiasaan, tapi juga mencerminkan siapa kita.

Sebagai mahasiswa, saya mulai berpikir: gimana caranya kita bisa bikin perubahan? Saya coba pakai framework DAI5 (Deep Awareness of I, Intention, Initial-Thinking, Idealization, dan Instruction-Set) buat memahami dan mencari jalan keluar.

1. Deep Awareness of I (Kesadaran Diri yang Mendalam)

Sebelum ngomongin orang lain, saya coba refleksi dulu. Jujur, kadang saya sendiri juga keceplosan ngomong kasar, apalagi kalau lagi bercanda. Tapi setelah dipikir-pikir, sebenarnya itu perlu gak sih? Apakah itu beneran penting dalam komunikasi? Dengan sadar bahwa saya juga bagian dari masalah, saya jadi lebih terbuka buat berubah.

2. Intention (Niat)

Setelah sadar, langkah berikutnya adalah punya niat buat berubah. Bukan cuma sekadar gak ngomong kasar, tapi juga membangun lingkungan yang lebih positif. Saya juga kepikiran, nanti kalau punya anak, pasti saya gak mau mereka tumbuh di lingkungan yang bahasanya sembarangan. Jadi, saya mulai dari diri sendiri dulu.

3. Initial-Thinking (Pemikiran Awal)

Saya mulai menganalisis, kenapa sih orang sering ngomong kasar? Mungkin karena udah kebiasaan dari kecil, atau karena lingkungan pergaulan yang mendukung itu. Bisa juga karena merasa lebih ekspresif atau seru kalau ngomong blak-blakan. Tapi kalau dipikir lebih jauh, sebenarnya ada banyak cara lain buat mengekspresikan diri tanpa harus pakai kata-kata yang kurang pantas.

4. Idealization (Membayangkan Solusi)

Bayangin kalau semua orang bisa berbicara dengan lebih santun tanpa kehilangan keakraban. Komunikasi tetap asyik, tapi lebih menghargai satu sama lain. Saya mulai mencoba ini di lingkaran pertemanan. Setiap ada yang ngomong kasar, saya balas dengan cara bercanda, kayak “Wah, kalau ngomongnya lebih sopan dikit, bisa jadi influencer nih!” Dari situ, obrolan tetap seru tanpa harus menegur secara kaku.

5. Instruction-Set (Langkah Nyata)

Gak cuma ngomong doang, saya juga mulai ambil tindakan kecil. Misalnya, lebih sadar dalam memilih kata saat ngobrol, atau mengajak teman-teman buat refleksi bareng. Kalau ada yang ngomong kasar, saya coba ajak diskusi tanpa menghakimi. Kadang juga saya bagikan konten tentang pentingnya komunikasi yang baik di media sosial, biar makin banyak yang sadar.

Perubahan gak bisa instan, tapi harus dimulai dari satu langkah kecil. Dengan memahami diri sendiri, menetapkan niat, menganalisis penyebab, membayangkan solusi, dan mengambil langkah nyata, kita bisa sedikit demi sedikit membangun budaya komunikasi yang lebih baik. Jadi, kalau kita bisa ngomong dengan lebih santun tanpa kehilangan keasyikan, kenapa enggak?


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *