Berikut adalah progress saya dalam karya tulis ilmiah saya pada bagian latar belakang:
Dalam beberapa tahun terakhir, penerapan artificial intelligence (AI) dan pemrograman menjadi salah satu pendorong utama transformasi manajemen dunia maritim. Perubahan ini terlihat pada upaya integrasi data, otomasi proses, optimasi rute, serta peningkatan keselamatan dan efisiensi operasi kapal maupun pelabuhan. Organisasi Maritim Internasional (IMO) juga sedang menyusun strategi digitalisasi maritim global yang ditargetkan untuk diadopsi pada akhir 2027, dengan arah menuju sektor maritim yang lebih terhubung, harmonis, dan otomatis. Di saat yang sama, UNCTAD menegaskan bahwa digitalisasi melalui AI, blockchain, dan otomasi merupakan kunci untuk memperbaiki operasi pelabuhan, mempercepat penanganan kargo, dan mengurangi waktu tunggu.
Sektor maritim memiliki peran strategis dalam pergerakan perdagangan internasional, logistik, dan konektivitas antardaerah. Namun, tingginya volume arus barang, kompleksitas rantai pasok, serta tekanan perubahan iklim membuat manajemen maritim membutuhkan pendekatan yang lebih adaptif dan berbasis data. UNCTAD mencatat bahwa pelabuhan yang telah mengadopsi digitalisasi seperti AI dan otomasi melaporkan waktu tunggu yang lebih rendah, pelacakan kargo yang lebih baik, dan proses transshipment yang lebih efisien. Kondisi ini menunjukkan bahwa transformasi digital bukan lagi pelengkap, melainkan kebutuhan operasional dalam tata kelola maritim modern.Dari sisi kebijakan, IMO menekankan bahwa digitalisasi maritim harus mencakup standar yang terintegrasi, sistem Maritime Single Window, sertifikat elektronik, dan penguatan keamanan siber. IMO juga secara eksplisit menyebut AI dan navigasi otonom sebagai teknologi yang berpotensi mentransformasi sektor ini, sekaligus menuntut perhatian serius pada risiko siber dan kesenjangan digital global. Dengan demikian, penerapan AI dalam dunia maritim tidak hanya menyangkut teknologi, tetapi juga tata kelola, interoperabilitas sistem, dan kesiapan kelembagaan.Dalam ranah akademik, kajian terbaru menunjukkan bahwa AI dan machine learning mulai digunakan untuk pemodelan konsumsi bahan bakar, predictive maintenance, optimasi rute, dan peningkatan efisiensi energi di sektor transportasi laut. Artikel tinjauan dari JOIV menegaskan bahwa pendekatan berbasis AI dapat membantu pengambilan keputusan, menekan biaya operasional, dan mendukung keberlanjutan lingkungan maritim. Studi lain tentang transformasi digital maritim di Indonesia juga menyoroti peluang besar berupa efisiensi, keselamatan, dan pengelolaan lingkungan yang lebih baik, tetapi masih dihadapkan pada keterbatasan infrastruktur digital, kompetensi sumber daya manusia, dan penyesuaian regulasi.