Hasan Basri
Blog entry by Hasan Basri
Ada rasa bangga yang tak terlukiskan saat saya berdiri di depan pintu rumah yang kini sudah berdiri tegak. Bukan karena kemegahannya, tapi karena kesadaran bahwa setiap jengkal tembok ini adalah milik saya sepenuhnya, tanpa ada campur tangan pinjaman bank. Memilih untuk tidak mengambil KPR adalah keputusan terbesar yang pernah saya ambil, meski banyak orang awalnya meragukan langkah ini.
Langkah cerdas yang saya lakukan adalah tidak memaksakan bangunan langsung selesai total. Saya menggunakan konsep rumah tumbuh, di mana pembangunan dilakukan secara bertahap sesuai ketersediaan dana. Awalnya, saya hanya membangun satu kamar, satu kamar mandi, dan dapur kecil yang layak. Strategi ini sangat membantu karena begitu bangunan inti selesai, saya bisa langsung pindah dan berhenti membayar uang sewa kontrakan yang selama ini menguras kantong.
Dalam proses ini, saya banyak belajar tentang efisiensi dari berbagai cerita membangun rumah yang saya dengar dari orang-orang berpengalaman. Salah satu trik yang saya terapkan adalah berburu material berkualitas dengan harga miring. Saya tidak ragu mendatangi lokasi bongkaran gedung tua untuk mencari pintu kayu jati atau jendela yang masih kokoh. Dengan sedikit perbaikan, material tersebut justru membuat rumah saya terlihat lebih punya karakter dibandingkan menggunakan material baru yang serba pabrikan.
Selain urusan material, kunci penghematan ada pada manajemen tenaga kerja. Saya bertindak sebagai "manajer proyek" bagi rumah saya sendiri. Alih-alih menggunakan kontraktor yang mengambil margin besar, saya merekrut tukang lokal yang bisa dibayar harian atau borongan sesuai bagian pengerjaan. Pengawasan langsung di lapangan setiap hari memastikan tidak ada semen yang terbuang atau batu bata yang salah pasang, sehingga anggaran tetap terjaga di jalurnya.
Strategi "tabungan material" juga menjadi penyelamat saya dari kenaikan harga bangunan yang tidak menentu. Setiap kali ada sisa gaji atau bonus tahunan, saya langsung membelanjakannya untuk barang-barang yang tidak bisa busuk, seperti besi beton, keramik, atau pasir. Menyimpan material di lahan sendiri jauh lebih aman daripada menyimpan uang di tabungan yang seringkali terpakai untuk kebutuhan konsumtif lainnya.
Memang benar, membangun dengan cara ini membutuhkan waktu yang jauh lebih lama dan kesabaran yang luar biasa. Ada kalanya pembangunan berhenti selama beberapa bulan untuk menunggu tabungan terkumpul kembali. Namun, kepuasan saat akhirnya rumah itu jadi tanpa ada beban tagihan bunga bank di awal bulan adalah kemewahan yang tidak bisa dinilai dengan uang.