Blog entry by Hasan Basri

Anyone in the world

Jujur aja, nggak ada yang nyiapin aku untuk perjalanan ini. Dari awal cuma mikir, “Selesai ibadah, lanjut liburan ke Turki biar sekalian healing.” Tapi ternyata healingnya bukan cuma untuk badan, tapi juga untuk hati yang selama ini disembunyikan rapi. Dan semua dimulai di Istanbul.

Begitu keluar bandara, angin dingin menerpa wajah dan langsung merasa jadi karakter utama drama. Langit Istanbul sore itu warnanya ungu-jingga kayak filter aesthetic TikTok, tapi ini real life. Jalan raya dipenuhi gedung klasik, trem melintas, turis berlalu-lalang, dan aku cuma berdiri sambil berpikir, “Kenapa baru sekarang aku datang ke sini?”

Destinasi pertama: Hagia Sophia. Dari luar udah megah, tapi begitu masuk, suasananya kayak narik napas sampai dasar hati. Kubah besar, lampu gantung raksasa melingkar, lantai marmer, suasana yang tenang tapi intens. Rasanya kayak tempat ini menyimpan ratusan tahun cerita tentang kekuasaan, agama, peperangan, dan keajaiban sejarah. Tapi yang paling bikin merinding justru ketika suara adzan bergema dari dalam bangunan yang dulunya gereja, lalu menjadi masjid, sempat jadi museum, lalu kembali jadi masjid. Seakan dunia berkata, “Sejauh apa pun hidup ngebawa kamu, kamu tetap akan pulang ke Tuhan.”

Lanjut jalan dikit ke Masjid Biru. Di sini kejadian dramatis pertama dimulai. Waktu adzan Magrib berkumandang, seorang perempuan di rombongan tiba-tiba nangis terisak. Katanya suara adzan itu menyentuh sesuatu yang sudah lama dikunci rapat di hatinya. Tapi yang bikin makin dramatis, setelah shalat dia bilang pelan, “Selama ini aku kuat bukan karena aku nggak pernah patah, tapi karena aku belajar bertahan.” Semua jadi ikut diam, dan tiba-tiba Istanbul jadi lokasi curhat terbuka.

Petualangan makin hidup waktu sampai Cappadocia. Bangun jam 4 pagi, dingin banget, ngantuk berat, tapi begitu lihat lusinan balon udara naik bersamaan ke langit yang berubah perlahan jadi keemasan, semua orang langsung waras. Semua minta difotoin kayak lagi prewedding. Bahkan yang jomblo pun bilang, “Nggak punya pasangan nggak masalah, yang penting punya momen.” Dan bener sih kadang hidup bukan tentang siapa yang kita punya, tapi apa yang kita rasakan.

Tapi bagian paling deep bukan pemandangannya. Seorang bapak dalam rombongan tiba-tiba nyeletuk sambil lihat langit, “Dulu aku hidup untuk kerja, sekarang aku mau kerja untuk hidup.” Kalimat sederhana tapi kena banget. Kadang kita lupa bahwa hidup bukan cuma soal bertahan, tapi juga soal menikmati.

Destinasi lanjut ke Pamukkale. Kolam travertine putih bertingkat dan air hangatnya bikin siapa pun merasa kayak lagi spa di surga. Semua duduk merendam kaki sambil bengong memandangi alam. Ada yang bilang, “Kalau semua rasa capek bisa larut bareng air ini, kayaknya aku nggak akan pulang.” Semua ketawa, tapi dalam hati semua setuju.

Kusadasi dan Izmir jadi tempat mengembalikan tenaga. Laut biru, angin pesisir, dan sisa-sisa kota kuno Ephesus bikin imajinasi hidup. Rasanya seperti berjalan di masa lalu. Ada yang sambil lihat reruntuhan teater raksasa langsung bergumam, “Bangunan aja bisa bertahan selama ribuan tahun. Masa semangat hidup aku kalah?” Tepat dan relate.

Bursa jadi penutup yang manis. Kota adem, pegunungan, pasar tradisional, dan kuliner yang bikin lupa diet. Saat azan Dzuhur berkumandang di Ulu Cami, semua diam. Rasanya kayak ada magnet yang mengingatkan, “Kamu udah jauh berjalan, tapi jangan lupa siapa yang menuntun kamu selama ini.”

Banyak orang memilih perjalanan seperti ini karena ingin merasakan ibadah sekaligus perjalanan batin mendalam melalui paket wisata turki bikin aku menangis. Nama lucu, tapi efeknya nyata Turki benar-benar berhasil mengaduk-aduk perasaan.

Malam terakhir di tepi Bosphorus, semua duduk tanpa banyak bicara. Tidak ada kamera, tidak ada kehebohan. Air laut berkilau kena lampu kota, kapal pelan lewat, angin lembut berhembus. Seseorang berkata pelan, “Kalau hidup punya tombol restart, aku mau menekan tombol itu hari ini.” Semua hanya menatap air dan tersenyum tipis karena kadang kita tidak perlu menjawab apa pun, cukup merasa.

Dan saat pesawat pulang ke Indonesia akhirnya lepas landas, tidak ada satu pun yang kembali sebagai orang yang sama. Turki sudah menulis bab baru dalam hati masing-masing.