Blog entry by Hasan Basri

Anyone in the world

Masjidil Aqsha bukan sekadar bangunan megah dengan sejarah panjang. Ia adalah simbol peradaban, saksi perjuangan, dan lambang keteguhan iman umat Islam di seluruh dunia. Terletak di jantung Kota Tua Yerusalem, masjid ini memiliki nilai spiritual, historis, dan politik yang luar biasa besar. Banyak yang mengenalnya karena keindahan Kubah Batu (Dome of the Rock) yang berwarna emas, namun sesungguhnya kompleks Masjidil Aqsha jauh lebih luas dan penuh makna dari sekadar satu bangunan ikonik.

Jejak Awal Sejarah Masjidil Aqsha

Sejarah Masjidil Aqsha tak lepas dari kisah para nabi. Menurut riwayat, Nabi Ibrahim عليه السلام dan Nabi Ya’qub عليه السلام pernah mendirikan tempat ibadah di wilayah ini. Namun, secara formal, pembangunan kembali masjid tersebut dilakukan oleh Nabi Sulaiman عليه السلام. Sejak saat itu, Masjidil Aqsha menjadi pusat ibadah dan ilmu bagi para nabi dan umat terdahulu.

Dalam Al-Qur’an, Allah سبحانه وتعالى berfirman dalam Surah Al-Isra ayat 1:

"Mahasuci Allah yang telah memperjalankan hamba-Nya pada malam hari dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha yang telah Kami berkahi sekelilingnya, agar Kami perlihatkan kepadanya sebagian dari tanda-tanda (kebesaran) Kami. Sesungguhnya Dia Maha Mendengar lagi Maha Melihat."

Ayat ini menjadi bukti kuat betapa mulianya Masjidil Aqsha. Dari tempat inilah Rasulullah ﷺ melakukan peristiwa Isra dan Mi’raj, naik ke langit untuk menerima perintah shalat lima waktu. Karena itu, Masjidil Aqsha bukan hanya simbol sejarah, melainkan juga bagian dari ibadah yang sangat mendalam bagi umat Islam.

Arsitektur dan Keindahan yang Memikat

Kompleks Masjidil Aqsha mencakup area seluas sekitar 14 hektar, mencakup beberapa bangunan penting seperti Dome of the Rock, Masjid Qibli, serta berbagai mihrab, menara, dan madrasah kuno. Kubah Batu (Dome of the Rock) dibangun pada masa Khalifah Abdul Malik bin Marwan sekitar tahun 691 M, menjadi salah satu mahakarya arsitektur Islam tertua di dunia.

Bangunan ini memiliki mosaik indah, kaligrafi ayat-ayat Al-Qur’an, serta kubah berlapis emas yang memantulkan cahaya mentari dengan megah. Sedangkan Masjid Qibli, yang terletak di sisi selatan kompleks, merupakan tempat utama jamaah melaksanakan shalat berjamaah. Lantainya berlapis marmer, dan pilar-pilar batu kuno di dalamnya menyimpan sejarah berabad-abad.

Pusat Peradaban dan Pendidikan Islam

Selama berabad-abad, Masjidil Aqsha menjadi pusat keilmuan Islam. Banyak ulama besar yang lahir dan mengajar di sini. Di masa kekuasaan Islam, terutama pada era Khalifah Umar bin Khattab رضي الله عنه dan pemerintahan Bani Umayyah, kompleks ini dijadikan tempat pengajaran Al-Qur’an, tafsir, hadis, dan fiqih.

Selain itu, Masjidil Aqsha juga menjadi pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan budaya masyarakat Yerusalem. Umat Islam dari berbagai penjuru dunia datang untuk menuntut ilmu, berdagang, sekaligus beribadah. Tidak heran jika Yerusalem dikenal sebagai “kota tiga agama”, namun bagi umat Islam, Masjidil Aqsha tetap menjadi inti spiritual yang suci.

Perebutan dan Keteguhan Umat

Seiring berjalannya waktu, Masjidil Aqsha menjadi saksi banyak konflik. Dari masa Perang Salib hingga penjajahan modern, kompleks ini berkali-kali mengalami kerusakan, penodaan, dan perebutan kekuasaan. Namun, umat Islam di Palestina dan dunia tidak pernah berhenti memperjuangkan kehormatannya.

Pada masa Sultan Shalahuddin Al-Ayyubi, Yerusalem berhasil direbut kembali dari tangan pasukan salib pada tahun 1187 M. Salah satu langkah pertama yang dilakukan Sultan adalah membersihkan Masjidil Aqsha dan memulihkannya sebagai tempat ibadah. Hingga kini, semangat Shalahuddin masih menjadi inspirasi bagi generasi muda Muslim di seluruh dunia untuk menjaga dan mencintai Al-Aqsha.

Makna Spiritual Masjidil Aqsha bagi Umat Islam

Masjidil Aqsha memiliki tiga dimensi utama bagi umat Islam: sejarah, ibadah, dan persatuan. Dari segi sejarah, ia menjadi penghubung para nabi dan umat terdahulu. Dari sisi ibadah, ia adalah kiblat pertama umat Islam sebelum Ka’bah. Sementara dari sisi persatuan, ia menjadi simbol ukhuwah Islamiyah lintas bangsa dan generasi.

Ziarah ke Masjidil Aqsha bukan sekadar perjalanan wisata religi, tetapi perjalanan spiritual yang menggugah kesadaran akan pentingnya menjaga warisan Islam. Rasulullah ﷺ pernah bersabda:

"Janganlah kamu bersusah payah bepergian kecuali menuju tiga masjid: Masjidil Haram, Masjidku ini (Masjid Nabawi), dan Masjidil Aqsha." (HR. Bukhari dan Muslim)

Hadis ini menunjukkan kedudukan Masjidil Aqsha yang sangat istimewa.

Tantangan dan Harapan Masa Depan

Hingga hari ini, Masjidil Aqsha masih menghadapi berbagai tekanan politik dan keamanan. Namun, umat Islam di seluruh dunia terus menunjukkan kepedulian melalui doa, dukungan moral, dan berbagai upaya kemanusiaan. Banyak lembaga Islam internasional yang fokus membantu pelestarian masjid ini agar tetap terjaga keasliannya.

Harapan besar umat Islam adalah melihat Masjidil Aqsha kembali damai, bebas, dan menjadi pusat cahaya ilmu serta ibadah bagi seluruh manusia. Keberadaannya bukan hanya milik bangsa Palestina, tetapi milik seluruh umat yang beriman kepada Allah سبحانه وتعالى dan mencintai Rasulullah ﷺ.

Penutup

Masjidil Aqsha bukan hanya bangunan bersejarah, melainkan simbol keteguhan, persatuan, dan kecintaan kepada Allah سبحانه وتعالى. Ia menjadi saksi bisu perjalanan panjang peradaban Islam dan pengingat bahwa kemuliaan umat akan selalu terikat pada keimanan dan penjagaan terhadap tempat-tempat suci.

Menjaga Masjidil Aqsha berarti menjaga identitas Islam itu sendiri. Semoga suatu hari nanti, umat Islam dapat kembali beribadah di sana dengan damai, tanpa ketakutan, dan penuh rasa syukur atas karunia Allah سبحانه وتعالى yang tiada henti.


[ Modified: Saturday, 25 October 2025, 5:13 PM ]