Blog entry by Hasan Basri

Anyone in the world

Setelah menabung bertahun-tahun, Pak Wahyu (64) dan Bu Santi (61) akhirnya menjejakkan kaki di Haramain, dua kota suci yang selama ini hanya mereka lihat lewat layar televisi dan mimpi malam hari.

“Kalau bukan karena doa, mungkin kami nggak akan sampai sini,” ujar Pak Wahyu pelan, memegang tangan istrinya yang bergetar menahan haru. Bu Santi menatap langit Madinah, air matanya menetes pelan. “Alhamdulillah, akhirnya kami di sini juga…”

Madinah: Kota yang Menenangkan Raga dan Jiwa

Begitu tiba di Madinah, suasana damai langsung terasa. Udara hangat, tapi lembut. Di sepanjang jalan menuju Masjid Nabawi, jamaah dari berbagai negara berjalan tenang, saling memberi salam.

Pak Wahyu, yang dulu seorang guru, berdiri kagum melihat menara masjid yang menjulang. “Inilah tempat Rasulullah ﷺ dulu berdakwah,” katanya pelan. Sementara Bu Santi memejamkan mata, merasakan ketenangan yang tak pernah ia temui sebelumnya.

Setiap hari mereka berjalan berdua menuju Masjid Nabawi. Meski langkah Pak Wahyu agak pelan karena lututnya sudah tak sekuat dulu, ia menolak naik kursi roda. “Aku mau setiap langkahku jadi saksi cinta kepada Allah سبحانه وتعالى,” ujarnya tersenyum.

Malam-malam di Madinah mereka isi dengan doa dan shalawat. Di depan Raudhah, Bu Santi berbisik lirih, “Ya Rasulullah ﷺ, doakan anak-anak kami agar bisa menyusul ke sini.” Tak ada teriakan, tak ada keramaian—hanya bisikan cinta dan air mata yang mengalir tanpa suara.

Makkah: Kota yang Menguji, tapi Juga Menyembuhkan

Perjalanan dilanjutkan menuju Makkah. Bus penuh dengan lantunan talbiyah, dan setiap suara serak jamaah tua terdengar seperti puisi yang lahir dari hati.

Ketika pertama kali melihat Ka'bah, Bu Santi terisak. “Itu… itu rumah Allah سبحانه وتعالى yang selama ini aku rindukan.” Pak Wahyu menunduk, menahan tangis yang akhirnya pecah juga.

Makkah tidak semudah Madinah. Cuacanya panas, jalanan padat, dan setiap ibadah menuntut kekuatan fisik. Tapi keduanya tidak mengeluh. “Kalau dulu kita bisa kuat kerja puluhan tahun buat dunia,” kata Pak Wahyu, “masa untuk ibadah sebentar aja nggak kuat?”

Saat thawaf, mereka saling berpegangan erat. Di tengah ribuan jamaah, tangan mereka tak pernah lepas. “Aku takut nyasar,” canda Bu Santi, tapi matanya tetap sembab.

Malam itu, mereka duduk di pelataran Masjidil Haram, memandangi Ka'bah dalam diam. Tak banyak bicara, hanya doa yang bergulir. Pak Wahyu berbisik, “Ya Allah, jika ini perjalanan terakhir kami, jadikan ini momen terbaik dalam hidup kami.”

Pelajaran Hidup dari Dua Kota Suci

Madinah memberi kelembutan, Makkah memberi keteguhan. Madinah mengajarkan sabar, Makkah mengajarkan syukur. Keduanya menjadi saksi perjalanan cinta yang tak hanya manusiawi, tapi juga ilahi.

Bu Santi mengaku, di usia senja ini, ia merasa seperti dilahirkan kembali. “Aku dulu takut tua, takut sakit, takut kehilangan. Tapi di sini, aku belajar bahwa hidup ini cuma titipan. Yang abadi cuma cinta kepada Allah سبحانه وتعالى.”

Pak Wahyu menambahkan, “Bertahun-tahun aku kerja keras buat keluarga. Tapi di depan Ka'bah, aku sadar: yang paling berharga bukan harta, tapi kesempatan untuk bersujud.”

Kembali dengan Hati yang Baru

Sepulang dari Haramain, hidup mereka berubah. Rumah kecil di pinggir kota kini dipenuhi ketenangan. Mereka rutin salat berjamaah, membaca Al-Qur’an bersama, dan sesekali memutar video perjalanan umrohnya.

“Setiap kali lihat Ka'bah di layar,” kata Bu Santi, “rasanya kayak dipanggil lagi. Rindu itu nggak pernah selesai.”

Anak-anak mereka pun melihat perubahan itu. Ayah dan Ibu kini lebih lembut, lebih sering tersenyum, dan tidak lagi sibuk dengan urusan dunia. “Haramain bukan cuma tempat ibadah,” kata Pak Wahyu, “tapi cermin hidup. Di sana, kita belajar siapa diri kita sebenarnya.”

Haramain: Akhir dari Rindu, Awal dari Cinta Abadi

Kini, setiap kali azan terdengar, Pak Wahyu dan Bu Santi saling menatap dan tersenyum. Bukan karena nostalgia, tapi karena mereka tahu—hati mereka sudah tertambat di dua kota suci itu.

Madinah dan Makkah telah mengikat mereka dengan tali doa dan cinta yang tak akan pernah putus. Mereka menua bersama, tapi hati mereka tetap muda—karena setiap hari mereka hidup dengan rindu yang indah, rindu untuk kembali ke Haramain.