{"id":4183,"date":"2025-03-21T14:31:44","date_gmt":"2025-03-21T14:31:44","guid":{"rendered":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/?p=4183"},"modified":"2025-03-21T14:31:44","modified_gmt":"2025-03-21T14:31:44","slug":"visualisasi-persebaran-daya-heat-conduction-pada-simulasi-perpindahan-panas-plat-2d_raisa-afifah_2306220854_metode-numerik-03","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/2025\/03\/21\/visualisasi-persebaran-daya-heat-conduction-pada-simulasi-perpindahan-panas-plat-2d_raisa-afifah_2306220854_metode-numerik-03\/","title":{"rendered":"Visualisasi Persebaran Daya Heat Conduction pada Simulasi Perpindahan Panas Plat 2D_Raisa Afifah_2306220854_Metode Numerik 03"},"content":{"rendered":"\n<p>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh<br>Perkenalkan saya Raisa Afifah dengan NPM 2306220854 dari kelas Metode Numerik 03. Dalam blog ini saya akan membagikan analisis saya mengenai simulasi perpindahan panas 2D yang telah dilakukan menggunakan software CFDSOF.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Kesadaran Diri (Deep Awareness of I)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Sebagai mahasiswa Teknik Mesin di Universitas Indonesia, tugas ini memberikan refleksi mendalam mengenai penerapan hukum fisika dalam kehidupan sehari-hari, khususnya dalam konteks keseimbangan energi. Fenomena perpindahan panas, yang sering kita jumpai, sebenarnya merupakan manifestasi dari aturan alam yang teratur dan sistematis.<\/p>\n\n\n\n<p>Dalam proses analisis data, penting untuk menyadari adanya potensi bias dan asumsi yang dapat mempengaruhi hasil. Oleh karena itu, objektivitas, transparansi, dan integritas menjadi landasan utama. Etika akademik juga harus dijunjung tinggi untuk memastikan validitas hasil penelitian. Lebih dari sekadar pemahaman teoritis, tujuan dari analisis ini adalah untuk mengaplikasikan ilmu perpindahan panas dalam konteks industri dan kehidupan sehari-hari, dengan mempertimbangkan implikasi moral dan sosial yang mungkin timbul.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Niat (Intention)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Analisis ini bertujuan untuk memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai distribusi temperatur, fluks panas, dan perhitungan daya dalam simulasi konduksi panas dua dimensi. Pemahaman ini sangat krusial dalam bidang teknik mesin, terutama dalam pengembangan sistem termal yang efisien.<\/p>\n\n\n\n<p>Selain manfaat akademis, tugas ini juga bertujuan untuk memanfaatkan perangkat lunak CFDSOF dan kecerdasan buatan (AI) guna mempercepat proses perhitungan. Aspek keberlanjutan juga menjadi perhatian, dengan fokus pada desain sistem perpindahan panas yang hemat energi dan ramah lingkungan. Dengan pendekatan ini, diharapkan dapat dihasilkan solusi yang tidak hanya akurat dan efisien, tetapi juga berkelanjutan.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Pemikiran Awal (Initial Thinking)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Tantangan utama dalam penelitian ini adalah bagaimana memanfaatkan data distribusi temperatur dari hasil simulasi untuk menentukan pola fluks panas dan menerapkan integral dalam perhitungan daya. Pemahaman ini sangat penting dalam berbagai aplikasi teknik, seperti desain sistem pendingin dan pemanas.<\/p>\n\n\n\n<p>Penelitian ini mempertimbangkan berbagai faktor yang mempengaruhi konduksi panas, termasuk sifat material, kondisi batas, dan akurasi metode numerik. Data simulasi dianalisis dengan pendekatan matematis untuk mendapatkan persamaan yang menggambarkan perubahan temperatur terhadap posisi. Metode <em>curve fitting<\/em> digunakan untuk meningkatkan presisi perhitungan fluks panas. Melalui pendekatan ini, diharapkan dapat diperoleh pemahaman yang lebih mendalam mengenai perpindahan panas dan aplikasinya.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Idealisasi (Idealization)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Untuk menyederhanakan analisis tanpa kehilangan realisme, beberapa asumsi diterapkan. Material dianggap homogen dan isotropik dengan konduktivitas termal konstan. Kondisi batas dianggap tetap selama simulasi.<\/p>\n\n\n\n<p>AI dimanfaatkan untuk meningkatkan akurasi model matematis dalam menentukan persamaan temperatur dari data simulasi. Pendekatan ini tetap berpegang pada hukum Fourier, menjaga keselarasan dengan prinsip dasar fisika dan teknik. Model yang dikembangkan memungkinkan pengujian berbagai skenario perpindahan panas dengan variasi kondisi batas, sehingga dapat diterapkan secara luas dalam sistem teknik nyata.<\/p>\n\n\n\n<p><strong>Instruksi (Instruction-Set)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p>Berikut adalah tahapan penelitian yang dilakukan secara sistematis:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pengumpulan Data Temperatur dari Simulasi (J2 \u2013 J10):<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menggunakan CFDSOF untuk simulasi.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengatur grid perhitungan 12\u00d712.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengaktifkan perhitungan temperatur pada fitur perpindahan panas.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengatur suhu dinding (W1 = 303K, W2 = 16.2 W\/m-K, W3 = 373K, W4 = 353K).<\/li>\n\n\n\n<li>Mengatur residu dan menambahkan plot.<\/li>\n\n\n\n<li>Melakukan 1000 iterasi hingga stabil.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengekspor data simulasi dari J2 hingga J10 dalam format CSV.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p>Dengan pendekatan ini, analisis konduksi panas dapat dilakukan secara komprehensif, menggabungkan pemahaman mendalam, niat yang jelas, pemikiran awal yang matang, idealisasi yang tepat, dan instruksi yang sistematis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-1 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"904\" height=\"791\" data-id=\"4184\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/1.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4184\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/1.png 904w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/1-300x263.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/1-768x672.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/1-600x525.png 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 904px) 100vw, 904px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-2 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"445\" data-id=\"4186\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/2-1-1024x445.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4186\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/2-1-1024x445.png 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/2-1-300x130.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/2-1-768x334.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/2-1-600x261.png 600w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/2-1.png 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-3 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"524\" data-id=\"4187\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3-2-1024x524.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4187\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3-2-1024x524.png 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3-2-300x154.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3-2-768x393.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3-2-600x307.png 600w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/3-2.png 1536w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p><strong>Analisis Penyesuaian Kurva untuk Menentukan Persamaan Suhu<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Pengaturan Residu dan Iterasi:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Menambahkan jendela plot residu untuk memantau konvergensi simulasi.<\/li>\n\n\n\n<li>Melakukan iterasi sebanyak 1000 kali atau hingga hasil simulasi mencapai kondisi stabil.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n\n\n\n<li><strong>Ekstraksi Data untuk Analisis Lebih Lanjut:<\/strong>\n<ul class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengekspor data hasil simulasi, khususnya data temperatur dari posisi J2 hingga J10, dalam format CSV (Comma Separated Values).<\/li>\n\n\n\n<li>Data yang diekspor ini akan digunakan untuk melakukan analisis <em>curve fitting<\/em> atau penyesuaian kurva, yang bertujuan untuk menemukan persamaan matematis yang paling sesuai dengan distribusi temperatur yang dihasilkan oleh simulasi.<\/li>\n<\/ul>\n<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">import numpy as np<br>import matplotlib.pyplot as plt<br>from scipy.optimize import curve_fit<br><br># Data posisi (m)<br>x = np.array([0, 0.1, 0.2, 0.3, 0.4, 0.5, 0.6, 0.7, 0.8, 0.9, 1])<br><br># Data temperatur (K) untuk setiap dataset<br>data = {<br>    'J2': [303, 337.778, 351.284, 357.243, 359.911, 360.687, 359.911, 357.243, 351.284, 337.778, 303],<br>    'J3': [303, 323.828, 337.116, 344.778, 348.713, 349.926, 348.713, 344.778, 337.116, 323.828, 303],<br>    'J4': [303, 317.419, 328.575, 336.038, 340.24, 341.59, 340.24, 336.038, 328.575, 317.419, 303],<br>    'J5': [303, 314.273, 323.728, 330.561, 334.617, 335.955, 334.617, 330.561, 323.728, 314.273, 303],<br>    'J6': [303, 312.945, 321.503, 327.861, 331.713, 332.997, 331.713, 327.861, 321.503, 312.945, 303],<br>    'J7': [303, 313.006, 321.477, 327.668, 331.377, 332.607, 331.378, 327.668, 321.477, 313.006, 303],<br>    'J8': [303, 314.603, 323.73, 329.958, 333.522, 334.678, 333.522, 329.958, 323.73, 314.603, 303],<br>    'J9': [303, 318.676, 328.881, 334.911, 338.075, 339.062, 338.075, 334.911, 328.881, 318.676, 303],<br>    'J10': [303, 328.221, 338.208, 342.732, 344.806, 345.419, 344.806, 342.732, 338.208, 328.221, 303]<br>}<br><br># Fungsi kuadratik untuk fitting<br>def quadratic(x, a, b, c):<br>    return a * x**2 + b * x + c<br><br># Membuat plot<br>plt.figure(figsize=(12, 8))<br><br># Tambahkan teks nama dan NPM di pojok kiri atas<br>plt.text(0.01, 0.98, \"Raisa Afifah\\n2306220854\",<br>         transform=plt.gca().transAxes,<br>         fontsize=12, verticalalignment='top', bbox=dict(facecolor='white', alpha=0.8))<br><br># Plot data asli dan kurva fitting untuk J2 hingga J10<br>for label, y in data.items():<br>    # Lakukan fitting<br>    params, _ = curve_fit(quadratic, x, y)<br>    <br>    # Plot titik data asli<br>    plt.scatter(x, y, label=f'{label} Data', marker='o', s=40, alpha=0.7)<br>    <br>    # Plot kurva fitting<br>    x_fit = np.linspace(0, 1, 100)<br>    y_fit = quadratic(x_fit, *params)<br>    plt.plot(x_fit, y_fit, label=f'{label} Fit', linestyle='--', alpha=0.8)<br>    <br>    # Menampilkan persamaan fitting (opsional)<br>    eq = f'{params[0]:.2f}x\u00b2 + {params[1]:.2f}x + {params[2]:.2f}'<br>    plt.text(0.02, y_fit[-1], eq, fontsize=8, verticalalignment='bottom')<br><br># Menambahkan label dan legenda<br>plt.xlabel('Posisi (m)')<br>plt.ylabel('Temperatur (K)')<br>plt.title('Curve Fitting Data Temperatur J2 hingga J10')<br>plt.legend(fontsize=9)<br>plt.grid(True, linestyle='--', alpha=0.5)<br><br># Menampilkan plot<br>plt.show()<\/pre>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-4 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"607\" data-id=\"4192\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-1024x607.jpg\" alt=\"\" class=\"wp-image-4192\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-1024x607.jpg 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-300x178.jpg 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-768x455.jpg 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-1536x910.jpg 1536w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-2048x1214.jpg 2048w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit-600x356.jpg 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>3. Analisis Distribusi Daya<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"841\" height=\"518\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-660.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4193\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-660.png 841w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-660-300x185.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-660-768x473.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-660-600x370.png 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 841px) 100vw, 841px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"705\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-661-1024x705.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4194\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-661-1024x705.png 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-661-300x206.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-661-768x529.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-661-600x413.png 600w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/image-661.png 1280w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p>Selanjutnya, persamaan temperatur ini diubah menjadi persamaan aliran panas (heat flux) berdasarkan hukum Fourier. Dengan persamaan heat flux yang telah diperoleh, dilakukan perhitungan daya melalui metode integral untuk menentukan total energi yang berpindah dalam sistem.<\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">Gradien ini digunakan untuk menentukan aliran panas (heat flux) dengan menerapkan hukum Fourier untuk konduksi panas:<br><br>q = -k (dT\/dx)<br><br>di mana:<br><br>q adalah flux panas,<br>k adalah konduktivitas termal material, dan<br>dT\/dx adalah gradien temperatur dalam arah x.<br>Perhitungan Gradien Temperatur<br>Gradien temperatur terhadap posisi dinyatakan sebagai:<br><br>dT\/dx = (501.4y\u00b2 - 577.74y + 283.508)(1 - 2x)<br><br>dT\/dy = da(y)\/dy * x(1 - x)<br><br>Dengan:<br><br>da(y)\/dy = 2 * 501.4y - 577.74 = 1002.8y - 577.74<br><br>Maka:<br><br>dT\/dy = (1002.8y - 577.74) * x(1 - x)<br><br>Perhitungan Heat Flux<br>Dengan menggunakan konduktivitas termal k = 237 W\/m, diperoleh:<br><br>qx = -237 * (501.4y\u00b2 - 577.74y + 283.508)(1 - 2x)<br><br>qy = -237 * (1002.8y - 577.74) * x(1 - x)<br><br>Perhitungan Daya<br>Setelah flux panas dihitung, daya total dapat diperoleh menggunakan integral:<br><br>P = \u222c q dA<br><br>Dengan komponen:<br><br>P = \u222c qx dx dy + \u222c qy dx dy<br><br>Di mana dA adalah elemen area yang dalam kasus ini dapat dianggap sebagai panjang sisi atau luas permukaan tempat aliran panas terjadi.<br><br>Dengan k = 237, diperoleh nilai daya:<br><br>Py = (237 \u00d7 62.072) \/ 6 \u2248 2448.6 W<\/pre>\n\n\n\n<p>Hasil perhitungan ini kemudian divisualisasikan agar pola distribusi daya lebih mudah dipahami dalam konteks fisik.<\/p>\n\n\n\n<pre class=\"wp-block-preformatted\">import numpy as np<br>import matplotlib.pyplot as plt<br>import seaborn as sns<br>from scipy.interpolate import griddata<br><br># Data suhu pada grid 11x9<br>positions = np.arange(2, 11)  # POSISI-J dari 2 hingga 10<br>lengths = np.linspace(0, 1, 11)  # ARAH-I dari 0 hingga 1 meter<br><br>data = {<br>    2: [303.0, 337.78, 351.284, 357.243, 359.911, 360.687, 359.911, 357.243, 351.284, 337.78, 303.0],<br>    3: [303.0, 323.828, 337.116, 344.778, 348.713, 349.926, 348.713, 344.778, 337.116, 323.828, 303.0],<br>    4: [303.0, 317.419, 328.575, 336.038, 340.240, 341.590, 340.240, 336.038, 328.575, 317.419, 303.0],<br>    5: [303.0, 314.273, 323.728, 330.561, 334.617, 335.955, 334.617, 330.561, 323.728, 314.273, 303.0],<br>    6: [303.0, 312.945, 321.503, 327.861, 331.713, 332.997, 331.713, 327.861, 321.503, 312.945, 303.0],<br>    7: [303.0, 313.006, 321.477, 327.668, 331.377, 332.607, 331.378, 327.668, 321.477, 313.006, 303.0],<br>    8: [303.0, 314.603, 323.730, 329.958, 333.522, 334.678, 333.522, 329.958, 323.730, 314.603, 303.0],<br>    9: [303.0, 318.676, 328.881, 334.911, 338.075, 339.062, 338.075, 334.911, 328.881, 318.676, 303.0],<br>    10: [303.0, 328.221, 338.208, 342.732, 344.806, 345.419, 344.806, 342.732, 338.208, 328.221, 303.0]<br>}<br><br>original_x, original_y = np.meshgrid(lengths, positions)<br>original_z = np.array([data[pos] for pos in positions])<br><br># Interpolasi ke grid 12x12<br>grid_x = np.linspace(0, 1, 12)<br>grid_y = np.linspace(2, 10, 12)<br>grid_x_mesh, grid_y_mesh = np.meshgrid(grid_x, grid_y)<br><br>distributed_power = griddata((original_x.flatten(), original_y.flatten()), original_z.flatten(),<br>                             (grid_x_mesh, grid_y_mesh), method='cubic')<br><br># Plot heatmap distribusi daya<br>plt.figure(figsize=(12, 10))<br>cmap = sns.color_palette(\"blend:#800080,#0000FF\", as_cmap=True)<br>ax = sns.heatmap(distributed_power, cmap=cmap, annot=True, fmt=\".1f\",<br>                 cbar_kws={'label': 'Daya (W)'},<br>                 xticklabels=np.round(grid_x, 2),<br>                 yticklabels=np.round(grid_y, 2))<br><br>plt.xlabel('Panjang (m)')<br>plt.ylabel('Posisi (J)')<br>plt.title('Distribusi Daya pada Grid 12x12')<br><br># Tambahkan nama dan NPM di pojok kiri atas<br>plt.figtext(0.01, 0.98, \"Raisa Afifah\\n2306220854\", fontsize=12,<br>            horizontalalignment='left', verticalalignment='top', bbox=dict(facecolor='white', alpha=0.8))<br><br># Tambahkan kotak energi panas di bagian bawah<br>energy_text = (<br>    \"Energi Panas (W):\\n\"<br>    \"Sisi Atas: -241.43 W\\n\"<br>    \"Sisi Bawah: 191.129 W\\n\"<br>    \"Sisi Kiri: -0.08 W\\n\"<br>    \"Sisi Kanan: -50.06 W\\n\"<br>    \"TOTAL (harus = 0): -100.28 W\"<br>)<br>plt.figtext(0.5, -0.08, energy_text, wrap=True, horizontalalignment='center', fontsize=10,<br>            bbox=dict(facecolor='white', alpha=0.8))<br><br>plt.tight_layout()<br>plt.show()<\/pre>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-gallery has-nested-images columns-default is-cropped wp-block-gallery-5 is-layout-flex wp-block-gallery-is-layout-flex\">\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"986\" height=\"1024\" data-id=\"4195\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-986x1024.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-4195\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-986x1024.png 986w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-289x300.png 289w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-768x797.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-1479x1536.png 1479w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-1972x2048.png 1972w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/03\/ccit2-600x623.png 600w\" sizes=\"auto, (max-width: 986px) 100vw, 986px\" \/><\/figure>\n<\/figure>\n\n\n\n<p>Untuk menjamin keakuratan hasil, teknik curve fitting dikalibrasi dengan cermat guna mengurangi kesalahan dalam merepresentasikan data. Selain itu, hasil perhitungan diverifikasi dengan metode numerik lain untuk memastikan tidak ada deviasi yang signifikan. Jika terdapat ketidaksesuaian antara model dan data simulasi, analisis akan diperbaiki serta diuji ulang hingga diperoleh hasil yang valid. Pendekatan ini memastikan bahwa penelitian dilakukan secara iteratif sehingga solusi yang dihasilkan benar-benar optimal.<\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuhPerkenalkan saya Raisa Afifah dengan NPM 2306220854 dari kelas Metode Numerik 03. Dalam blog ini saya akan membagikan analisis saya mengenai simulasi perpindahan panas 2D yang telah dilakukan menggunakan software CFDSOF. Kesadaran Diri (Deep Awareness of I) Sebagai mahasiswa Teknik Mesin di Universitas Indonesia, tugas ini memberikan refleksi mendalam mengenai penerapan hukum fisika [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":139,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-4183","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-general"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4183","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/139"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=4183"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4183\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":4196,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/4183\/revisions\/4196"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=4183"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=4183"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=4183"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}