{"id":19518,"date":"2026-10-18T13:37:14","date_gmt":"2026-10-18T13:37:14","guid":{"rendered":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/?p=19518"},"modified":"2026-10-19T12:21:05","modified_gmt":"2026-10-19T12:21:05","slug":"laporan-tugas-besar-komputasi-teknik-magister-teknik-mesin-hafidz-zakiyun-alrasyid","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/2026\/10\/18\/laporan-tugas-besar-komputasi-teknik-magister-teknik-mesin-hafidz-zakiyun-alrasyid\/","title":{"rendered":"Laporan Tugas Besar: Komputasi Teknik-Magister Teknik Mesin- Hafidz Zakiyun Alrasyid"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">&#8220;<strong>ANALISIS SENSITIVITAS KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS EFEKTIF TERHADAP RESPONS TEMPERATUR TRANSIEN REAKTOR TOREFAKSI TUBULAR DENGAN OIL JACKET<\/strong>&#8220;<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Hafidz Zakiyun Alrasyid <br>Program Studi Magister Teknik Mesin <br>Fakultas Teknik<br>Univeristas Indonesia, Depok, Jawa Barat<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>Abstrak<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian ini membahas pemodelan dan simulasi perpindahan panas transien pada reaktor torefaksi kontinu tipe tubular dengan sistem pemanas oil jacket. Permasalahan yang dikaji adalah pengaruh perubahan koefisien perpindahan panas efektif terhadap laju kenaikan temperatur reaktor dan waktu yang diperlukan untuk mencapai temperatur target torefaksi. Model dikembangkan berdasarkan neraca energi dengan mengasumsikan temperatur reaktor terwakili oleh satu temperatur rata-rata, temperatur oli konstan, kapasitas termal efektif konstan, dan kehilangan panas ke lingkungan diabaikan. Persamaan diferensial yang diperoleh diselesaikan menggunakan metode numerik Forward Euler dengan interval waktu satu menit. Simulasi dilakukan untuk tiga skenario koefisien perpindahan panas efektif, yaitu 50, 100, dan 150 W\/(m\u00b2\u00b7K), menggunakan temperatur awal 25\u00b0C dan temperatur oli 300\u00b0C. Hasil model menunjukkan bahwa waktu analitis untuk mencapai temperatur 275\u00b0C masing-masing adalah 115 menit, 57,5 menit, dan 38,33 menit. Hasil ini menunjukkan sensitivitas waktu pemanasan terhadap koefisien perpindahan panas efektif dalam kerangka model yang digunakan. Akan tetapi, nilai koefisien tersebut merupakan skenario parametrik dan belum mewakili pengukuran aktual untuk jenis oli tertentu. Oleh karena itu, hasil penelitian ditafsirkan sebagai prediksi model sederhana yang memerlukan pengujian lebih lanjut menggunakan data eksperimen.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kata kunci: komputasi teknik, perpindahan panas transien, reaktor torefaksi tubular, oil jacket, Forward Euler, analisis sensitivitas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>A. DEKLARASI PENULIS<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Deep Awarenee<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kajian ini dilakukan dengan kesadaran bahwa pengembangan sistem energi dan rekayasa termal harus mempertimbangkan ketepatan ilmiah, keselamatan, tanggung jawab lingkungan, dan kemanfaatannya bagi masyarakat. Dalam kerangka DAI5, proses analisis juga menjadi sarana untuk merefleksikan tanggung jawab manusia sebagai perancang teknologi dalam menggunakan pengetahuan secara bijaksana, termasuk mengingat Tuhan Yang Maha Esa dalam menetapkan tujuan dan mempertimbangkan dampak pekerjaan teknik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis menyadari bahwa model matematis merupakan representasi terbatas dari fenomena fisik. Oleh karena itu, hasil komputasi tidak diperlakukan sebagai kebenaran eksperimental yang mutlak, melainkan sebagai prediksi yang berlaku dalam batas asumsi dan parameter yang digunakan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Niat Kegiatan Proyek<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegiatan ini bertujuan menganalisis respons temperatur transien reaktor torefaksi tubular dengan oil jacket melalui model matematis sederhana. Secara khusus, penelitian mengkaji pengaruh variasi koefisien perpindahan panas efektif terhadap temperatur reaktor, laju perpindahan panas, dan waktu yang diperlukan untuk mencapai temperatur target.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Niat tersebut diwujudkan melalui pemodelan berdasarkan neraca energi, penyelesaian numerik menggunakan Forward Euler, dan pemeriksaan hasil numerik terhadap solusi analitis. Model diharapkan menjadi dasar pemahaman mengenai perilaku termal reaktor sebelum dilakukan pengembangan model yang lebih rinci.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>B. PENDAHULUAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Latar Belakang<\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Torefaksi merupakan proses perlakuan termal terhadap biomassa untuk meningkatkan karakteristiknya sebagai bahan bakar padat. Salah satu sistem yang digunakan adalah reaktor kontinu tipe tubular dengan pemanas oil jacket, yaitu sistem yang memanfaatkan fluida pemanas untuk memindahkan panas melalui dinding reaktor menuju material biomassa. Penelitian Apriyanto et al. (2018) membahas rancangan dan kinerja reaktor torefaksi tubular dengan sistem tersebut, sedangkan Amrul et al. (2017) mengkaji simulasi termal transien pada reaktor tubular menggunakan molten salt sebagai media pemanas. Kedua penelitian tersebut menjadi referensi untuk memahami karakteristik reaktor dan proses pemanasan terhadap waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Berdasarkan hal tersebut, penelitian ini menggunakan komputasi teknik untuk menganalisis pengaruh perubahan koefisien perpindahan panas efektif terhadap respons temperatur reaktor. Model matematis berbasis neraca energi diselesaikan menggunakan metode Forward Euler untuk memperoleh perubahan temperatur terhadap waktu, laju perpindahan panas, dan waktu pencapaian temperatur target. Kajian ini difokuskan pada analisis sensitivitas menggunakan model sederhana, bukan pada validasi eksperimental atau pembuktian kinerja oli alternatif tertentu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2.  Pemikiran Awal terhadap Masalah (Initial Thinking)<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2.1. Analisis Masalah dan Penelitian Terdahulu<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permasalahan utama penelitian ini adalah bagaimana perubahan koefisien perpindahan panas efektif memengaruhi proses pemanasan reaktor torefaksi. Penelitian terdahulu telah membahas rancangan reaktor dan simulasi distribusi temperatur, tetapi penelitian ini berfokus pada model transien sederhana yang transparan dan mudah direproduksi untuk mengevaluasi sensitivitas waktu pemanasan terhadap perubahan parameter perpindahan panas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2.2. Penguraian Masalah dan Prinsip Dasar<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Permasalahan diselesaikan dengan menerapkan hukum kekekalan energi melalui neraca energi pada sistem termal yang diidealisasi. Temperatur reaktor direpresentasikan oleh satu temperatur rata-rata, sedangkan pengaruh perpindahan panas dirumuskan menggunakan koefisien perpindahan panas efektif. Persamaan diferensial yang dihasilkan diselesaikan secara numerik menggunakan metode Forward Euler dengan interval waktu satu menit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2.3. Posisi terhadap Perkembangan Teknologi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model komputasi sederhana dipilih karena memungkinkan pengaruh parameter termal dipelajari tanpa menggunakan simulasi CFD yang kompleks. Pendekatan ini diharapkan memberikan pemahaman awal mengenai respons temperatur reaktor, sekaligus menjadi dasar untuk pengembangan model yang lebih rinci apabila diperlukan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Rumusan masalah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Rumusan masalah penelitian adalah:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Bagaimana menyusun model matematis sederhana untuk menggambarkan perpindahan panas transien pada reaktor torefaksi tubular dengan oil jacket?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana perubahan koefisien perpindahan panas efektif memengaruhi temperatur reaktor terhadap waktu?<\/li>\n\n\n\n<li>Bagaimana perubahan koefisien tersebut memengaruhi waktu pencapaian temperatur 275\u00b0C?<\/li>\n\n\n\n<li>Seberapa sesuai hasil metode Forward Euler dengan solusi analitis untuk model yang sama?<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4. Tujuan Penelitian<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tujuan penelitian ini adalah:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Menyusun model perpindahan panas transien berbasis neraca energi.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengimplementasikan model menggunakan metode Forward Euler.<\/li>\n\n\n\n<li>Membandingkan tiga skenario koefisien perpindahan panas efektif.<\/li>\n\n\n\n<li>Menghitung temperatur reaktor, laju perpindahan panas, dan waktu pencapaian temperatur target.<\/li>\n\n\n\n<li>Memeriksa konsistensi numerik serta menjelaskan keterbatasan model.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5. Batasan Masalah<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penelitian dibatasi pada respons termal rata-rata reaktor. Distribusi temperatur lokal pada dinding, screw conveyor, oli, dan biomassa tidak dihitung secara terpisah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model menggunakan temperatur awal reaktor 25\u00b0C, temperatur oli 300\u00b0C, temperatur target 275\u00b0C, dan luas perpindahan panas 1,0214 m\u00b2. Nilai koefisien perpindahan panas efektif divariasikan pada 50, 100, dan 150 W\/(m\u00b2\u00b7K).<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kehilangan panas ke lingkungan, perubahan sifat material terhadap temperatur, dinamika pembakaran LPG, serta perubahan temperatur oli tidak dimodelkan secara eksplisit. Oleh karena itu, hasil simulasi tidak langsung menunjukkan konsumsi bahan bakar atau kinerja eksperimental reaktor.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large is-resized\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"682\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Copy-of-Salinan-dari-Salinan-dari-Seminar-1024x682.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19519\" style=\"aspect-ratio:1.501518328392741;width:747px;height:auto\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Copy-of-Salinan-dari-Salinan-dari-Seminar-1024x682.png 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Copy-of-Salinan-dari-Salinan-dari-Seminar-300x200.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Copy-of-Salinan-dari-Salinan-dari-Seminar-767x511.png 767w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Copy-of-Salinan-dari-Salinan-dari-Seminar.png 1241w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Gambar 1. Skema reaktor torefaksi kontinu tipe tubular dengan sistem pemanas oil jacket, screw conveyor, termokopel, datalogger, sistem penggerak, dan burner LPG.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>C. METODE<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong>Deskripsi Sistem <\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Objek kajian adalah reaktor torefaksi kontinu tipe tubular dengan pemanas oil jacket. Sistem menggunakan CALFLO AF sebagai fluida pemanas. Berdasarkan keterangan operasi yang diberikan, oli tidak dialirkan oleh pompa; perpindahan panas pada sisi oli diasumsikan melibatkan konveksi alami.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dimensi acuan yang digunakan berasal dari dokumen rancangan reaktor yang tersedia, sedangkan kondisi temperatur dan parameter komputasi mengikuti model awal dalam workbook.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Parameter<\/th><th>Simbol<\/th><th>Nilai<\/th><\/tr><tr><td>Diameter dalam tabung<\/td><td><math data-latex=\"Di\"><semantics><mrow><mi>D<\/mi><mi>i<\/mi><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">Di<\/annotation><\/semantics><\/math><\/td><td>0,2032 m<\/td><\/tr><tr><td>Panjang tabung<\/td><td>L<\/td><td>1,6 m<\/td><\/tr><tr><td>Luas perpindahan panas<\/td><td>A<\/td><td>1,0214 m\u00b2<\/td><\/tr><tr><td>Temperatur awal reaktor<\/td><td><math data-latex=\"T0\"><semantics><mrow><mi>T<\/mi><mn>0<\/mn><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">T0<\/annotation><\/semantics><\/math><\/td><td>25\u00b0C<\/td><\/tr><tr><td>Temperatur oli<\/td><td><math data-latex=\"To\"><semantics><mrow><mi>T<\/mi><mi>o<\/mi><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">To<\/annotation><\/semantics><\/math><\/td><td>300\u00b0C<\/td><\/tr><tr><td>Temperatur target<\/td><td><math data-latex=\"Ttarget\"><semantics><mrow><mi>T<\/mi><mi>t<\/mi><mi>a<\/mi><mi>r<\/mi><mi>g<\/mi><mi>e<\/mi><mi>t<\/mi><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">Ttarget<\/annotation><\/semantics><\/math><\/td><td>275\u00b0C<\/td><\/tr><tr><td>Waktu acuan kalibrasi<\/td><td>Tref<\/td><td>115 menit<\/td><\/tr><tr><td>Interval komputasi<\/td><td><math data-latex=\"\u0394t\"><semantics><mrow><mrow><mi mathvariant=\"normal\">\u0394<\/mi><\/mrow><mi>t<\/mi><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">\u0394t<\/annotation><\/semantics><\/math><\/td><td>1 menit<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Luas perpindahan panas dihitung dengan pendekatan luas permukaan silinder berdasarkan diameter dalam tabung:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">A = 1,0214m2<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai luas ini merupakan pendekatan geometris. Penggunaannya tidak berarti seluruh permukaan tersebut pasti mengalami kondisi perpindahan panas yang seragam dalam reaktor nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Idealisasi dan Asumsi Model<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Agar persoalan dapat diselesaikan melalui model sederhana, sistem diidealisasi sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asumsi 1 \u2014 Temperatur reaktor seragam. Reaktor direpresentasikan oleh satu temperatur rata-rata <math data-latex=\"Tr(t)\"><semantics><mrow><mi>T<\/mi><mi>r<\/mi><mo form=\"prefix\" stretchy=\"false\">(<\/mo><mi>t<\/mi><mo form=\"postfix\" stretchy=\"false\">)<\/mo><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">Tr(t)<\/annotation><\/semantics><\/math>. Gradien temperatur pada dinding dan di dalam biomassa tidak dihitung secara terpisah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asumsi 2 \u2014 Temperatur oli konstan. Temperatur oli dipertahankan pada 300\u00b0C selama simulasi. Model tidak menghitung penurunan temperatur oli akibat pelepasan panas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asumsi 3 \u2014 Kapasitas termal efektif konstan. Seluruh respons termal sistem diringkas ke dalam parameter <math data-latex=\"Ceff\"><semantics><mrow><mi>C<\/mi><mi>e<\/mi><mi>f<\/mi><mi>f<\/mi><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">Ceff<\/annotation><\/semantics><\/math>, yang diasumsikan tidak berubah terhadap waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asumsi 4 \u2014 Kehilangan panas diabaikan. Pada model dasar, energi yang berpindah dari oli dianggap masuk ke node termal reaktor tanpa kehilangan panas ke lingkungan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asumsi 5 \u2014 Koefisien perpindahan panas efektif konstan pada setiap skenario. Nilainya tidak diperbarui berdasarkan perubahan temperatur atau perubahan sifat fluida.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Asumsi 6 \u2014 Skenario koefisien bersifat parametrik. Nilai 50, 100, dan 150 W\/(m\u00b2\u00b7K) digunakan untuk mempelajari sensitivitas hasil. Nilai ini belum dibuktikan sebagai koefisien aktual untuk CALFLO AF pada geometri dan kondisi operasi reaktor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada model ini, <math data-latex=\"heff\"><semantics><mrow><mi>h<\/mi><mi>e<\/mi><mi>f<\/mi><mi>f<\/mi><\/mrow><annotation encoding=\"application\/x-tex\">heff<\/annotation><\/semantics><\/math> merupakan parameter perpindahan panas efektif secara keseluruhan. Parameter tersebut tidak boleh langsung dianggap identik dengan koefisien konveksi alami pada permukaan oli\u2013dinding. Model yang lebih rinci perlu memperhitungkan tahanan termal oli, dinding baja, dan sisi dalam reaktor.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"512\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-726-1024x512.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19536\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-726-1024x512.png 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-726-300x150.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-726-768x384.png 768w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-726-1536x768.png 1536w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-726.png 1774w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Gambar 2. Diagram konseptual perpindahan panas dari fluida pemanas di dalam oil jacket menuju dinding baja reaktor dan bagian dalam reaktor yang direpresentasikan menggunakan temperatur rata-rata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Model Matemati<\/strong>s<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">3.1 Neraca Energi<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Prinsip dasar yang digunakan adalah:<\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong><em>Laju Akumulasi Energi = Laju Energi Masuk &#8211; Laju Energi Keluar <\/em><\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan mengabaikan kehilangan panas ke lingkungan, neraca energi menjadi:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"257\" height=\"65\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-711.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19521\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">atau: <\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"230\" height=\"87\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-712.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19522\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan temperatur dalam persamaan dapat dinyatakan dalam \u00b0C maupun K karena besar selisih temperatur keduanya sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3.2 Penentuan kapasitas termal efektif<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada model awal, kapasitas termal efektif ditentukan melalui kalibrasi matematis dengan menggunakan waktu acuan 115 menit untuk mencapai temperatur target 275\u00b0C pada skenario <em>heff<\/em> = 50 W\/m2.K.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Solusi analitis untuk persamaan diferensial tersebut adalah:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"466\" height=\"77\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-713.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19523\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-713.png 466w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-713-300x50.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 466px) 100vw, 466px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan menetapkan<em> Tr<\/em> = 275C pada<em> t<\/em>=115 menit:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"301\" height=\"118\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-714.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19524\"\/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"312\" height=\"245\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-715.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19525\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-715.png 312w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-715-300x236.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 312px) 100vw, 312px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"277\" height=\"57\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-716.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19526\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Nilai tersebut merupakan kapasitas termal efektif hasil kalibrasi model, bukan pengukuran langsung kapasitas panas reaktor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Catatan: apabila waktu acuan 115 menit hanya merupakan asumsi, bukan data eksperimen, maka seluruh hasil berikutnya merupakan prediksi ilustratif yang bergantung pada kalibrasi tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3.3 Persamaan laju perpindahan panas<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Laju perpindahan panas dari oli ke node termal reaktor dihitung melalui:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"300\" height=\"55\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-717.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19527\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada awal proses, beda temperatur adalah:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"310\" height=\"60\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-718.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19528\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-718.png 310w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-718-300x58.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 310px) 100vw, 310px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sedangkan ketika temperatur reaktor mencapai target:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"335\" height=\"37\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-719.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19529\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-719.png 335w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-719-300x33.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 335px) 100vw, 335px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Karena beda temperatur mengecil seiring kenaikan temperatur reaktor, laju perpindahan panas dalam model juga menurun terhadap waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Persamaan ini menghitung laju panas pada model efektif, bukan secara langsung daya yang dibutuhkan oleh burner LPG.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4. Metode komputasi Forward Euler<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Metode Forward Euler digunakan untuk menyelesaikan persamaan diferensial dengan menghitung temperatur pada waktu berikutnya berdasarkan temperatur pada waktu saat ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bentuk umum metode Euler adalah:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"337\" height=\"72\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-720.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19530\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-720.png 337w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-720-300x64.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 337px) 100vw, 337px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan memasukkan persamaan neraca energi:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"422\" height=\"87\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-721.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19531\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-721.png 422w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-721-300x62.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 422px) 100vw, 422px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dalam persamaan ini, \u0394t=1 menit harus dikonversi menjadi 60 sekon karena parameter <em>heff<\/em> dan <em>Ceff<\/em> menggunakan satuan SI.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4.1 Algoritma komputasi<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Urutan komputasi adalah sebagai berikut:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Menetapkan parameter <em>T0, To, A, Ceff<\/em> dan <em>\u0394t<\/em>.<\/li>\n\n\n\n<li>Menentukan skenario <em>heff<\/em> yang akan dihitung.<\/li>\n\n\n\n<li>Menghitung temperatur reaktor pada langkah waktu berikutnya dengan persamaan Forward Euler.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengulangi perhitungan sampai waktu simulasi mencapai 120 menit.<\/li>\n\n\n\n<li>Menghitung laju perpindahan panas pada setiap langkah.<\/li>\n\n\n\n<li>Menentukan waktu pertama ketika temperatur mencapai atau melampaui target 275\u00b0C.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengulangi proses untuk nilai <em>heff<\/em> yang berbeda.<\/li>\n\n\n\n<li>Membandingkan kurva hasil numerik dengan solusi analitis.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4.2  Verifikasi Numerik <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Verifikasi dilakukan dengan membandingkan temperatur hasil Forward Euler dengan solusi analitis dari persamaan diferensial yang sama. Perbandingan ini bertujuan untuk mengevaluasi konsistensi implementasi numerik dan pengaruh interval waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Verifikasi tersebut tidak sama dengan validasi eksperimental. Validasi memerlukan data hasil pengukuran temperatur aktual reaktor terhadap waktu, yang kemudian dapat dibandingkan dengan prediksi model.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5. Skenario Simulasi <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga nilai koefisien perpindahan panas efektif digunakan sebagai skenario:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>Skenario<\/th><th><em>heff<\/em> (W\/(m\u00b2\u00b7K))<\/th><\/tr><tr><td>1<\/td><td>50<\/td><\/tr><tr><td>2<\/td><td>100<\/td><\/tr><tr><td>3<\/td><td>150<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Variasi ini dipilih untuk melihat bagaimana perubahan parameter memengaruhi respons temperatur. Pemilihan tersebut tidak menyatakan bahwa peningkatan nilai konduktivitas termal suatu oli otomatis menghasilkan nilai <em>heff<\/em> dalam proporsi yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Jika penelitian selanjutnya hendak membandingkan jenis oli, koefisien perpindahan panas harus ditentukan berdasarkan sifat masing-masing fluida, kondisi konveksi alami, dan geometri sistem atau melalui pengukuran yang sesuai.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>D. HASIL DAN PEMBAHASAN<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li><strong> Hasil model analitis <\/strong><\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan temperatur oli 300\u00b0C, temperatur awal 25\u00b0C, temperatur target 275\u00b0C, luas perpindahan panas 1,0214 m\u00b2, dan kapasitas termal efektif sekitar 146954,35 J\/K, model analitis menghasilkan waktu target yang berbeda untuk setiap skenario koefisien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Waktu menuju target dihitung melalui:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"385\" height=\"82\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-722.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19532\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-722.png 385w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-722-300x64.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 385px) 100vw, 385px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasilnya adalah:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th><em>heff<\/em> (W\/(m\u00b2\u00b7K))<\/th><th>Waktu analitis menuju 275\u00b0C (menit)<\/th><\/tr><tr><td>50<\/td><td>115,00<\/td><\/tr><tr><td>100<\/td><td>57,50<\/td><\/tr><tr><td>150<\/td><td>38,33<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil ini menunjukkan bahwa waktu yang diprediksi oleh model berbanding terbalik dengan heff, sebab parameter lain dipertahankan konstan dan waktu acuan dikalibrasi pada skenario pertama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2.  Hasil laju perpindahan panas <\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada awal proses, laju perpindahan panas dihitung menggunakan:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"246\" height=\"55\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-723.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19533\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk skenario pertama:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"342\" height=\"47\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-724.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19534\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-724.png 342w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-724-300x41.png 300w\" sizes=\"auto, (max-width: 342px) 100vw, 342px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"200\" height=\"58\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-725.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19535\"\/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan metode yang sama, laju perpindahan panas awal untuk skenario kedua dan ketiga adalah sekitar 28,09 kW dan 42,13 kW.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan metode yang sama, laju perpindahan panas awal untuk skenario kedua dan ketiga adalah sekitar 28,09 kW dan 42,13 kW.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketika temperatur reaktor mencapai 275\u00b0C, hasil model adalah:<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th><em>heff<\/em>(W\/(m\u00b2\u00b7K))<\/th><th>Laju panas awal (kW)<\/th><th>Laju panas pada 275\u00b0C (kW)<\/th><\/tr><tr><td>50<\/td><td>14,04<\/td><td>1,277<\/td><\/tr><tr><td>100<\/td><td>28,09<\/td><td>2,553<\/td><\/tr><tr><td>150<\/td><td>42,13<\/td><td>3,830<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penurunan laju perpindahan panas tersebut merupakan konsekuensi dari berkurangnya beda temperatur antara oli dan reaktor. Hasil ini merupakan laju panas yang dihitung oleh model efektif, bukan pengukuran aktual kebutuhan panas reaktor.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"999\" height=\"497\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-728.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19538\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-728.png 999w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-728-300x149.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-728-768x382.png 768w\" sizes=\"auto, (max-width: 999px) 100vw, 999px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Gambar 4. Perbandingan temperatur reaktor terhadap waktu pada tiga skenario koefisien perpindahan panas efektif, dengan temperatur awal 25\u00b0C dan temperatur oli konstan 300\u00b0C.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Grafik ini digunakan untuk menunjukkan bahwa skenario dengan nilai heff yang lebih besar mencapai temperatur target lebih cepat dalam model yang digunakan.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-full\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"999\" height=\"459\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-729.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19539\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-729.png 999w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-729-300x138.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/image-729-766x352.png 766w\" sizes=\"auto, (max-width: 999px) 100vw, 999px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Gambar 5. Perbandingan laju perpindahan panas efektif terhadap waktu pada tiga skenario koefisien perpindahan panas efektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Grafik ini memperlihatkan bahwa laju perpindahan panas terbesar terjadi pada awal pemanasan, ketika beda temperatur masih besar. Seiring kenaikan temperatur reaktor, laju perpindahan panas menurun karena beda temperatur semakin kecil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Perbandingan solusi analitis dan forward Euler<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dengan interval waktu satu menit, Forward Euler menghasilkan pendekatan diskret terhadap solusi analitis. Karena metode Euler menggunakan gradien pada awal setiap langkah waktu, hasilnya tidak tepat sama dengan solusi analitis.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-table\"><table class=\"has-fixed-layout\"><tbody><tr><th>heff (W\/(m\u00b2\u00b7K))<\/th><th>Waktu target analitis (menit)<\/th><th>Perkiraan waktu target Euler melalui interpolasi (menit)<\/th><th>Menit pertama Euler mencapai target<\/th><\/tr><tr><td>50<\/td><td>115,00<\/td><td>113,80<\/td><td>114<\/td><\/tr><tr><td>100<\/td><td>57,50<\/td><td>56,30<\/td><td>57<\/td><\/tr><tr><td>150<\/td><td>38,33<\/td><td>37,12<\/td><td>38<\/td><\/tr><\/tbody><\/table><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Perbedaan hasil ini menunjukkan adanya galat numerik akibat diskretisasi waktu. Untuk model yang sama, solusi analitis dapat digunakan sebagai acuan untuk memeriksa implementasi Forward Euler.<\/p>\n\n\n\n<figure class=\"wp-block-image size-large\"><img loading=\"lazy\" decoding=\"async\" width=\"1024\" height=\"591\" src=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Gambar_6_Perbandingan_Analitis_Euler-1-1024x591.png\" alt=\"\" class=\"wp-image-19540\" srcset=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Gambar_6_Perbandingan_Analitis_Euler-1-1024x591.png 1024w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Gambar_6_Perbandingan_Analitis_Euler-1-300x173.png 300w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Gambar_6_Perbandingan_Analitis_Euler-1-767x443.png 767w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Gambar_6_Perbandingan_Analitis_Euler-1-1536x887.png 1536w, https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2026\/10\/Gambar_6_Perbandingan_Analitis_Euler-1-2048x1183.png 2048w\" sizes=\"auto, (max-width: 1024px) 100vw, 1024px\" \/><\/figure>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\">Gambar 6. Perbandingan temperatur reaktor hasil solusi analitis dan metode Forward Euler untuk menunjukkan pengaruh diskretisasi waktu terhadap hasil komputasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4. Interpretasi fisik hasil<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Tiga hasil utama yang dapat diambil dari model adalah sebagai berikut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pertama, peningkatan koefisien perpindahan panas efektif menghasilkan waktu pemanasan yang lebih singkat. Hal ini terjadi karena laju panas yang dihitung model meningkat untuk beda temperatur awal yang sama.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kedua, laju perpindahan panas menurun ketika temperatur reaktor mendekati temperatur oli. Perilaku ini merupakan konsekuensi langsung dari persamaan perpindahan panas berbasis beda temperatur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Ketiga, nilai heff merupakan parameter yang sangat berpengaruh pada hasil waktu target. Oleh sebab itu, jika tujuan selanjutnya adalah memperkirakan kinerja reaktor nyata, nilai tersebut perlu ditentukan atau divalidasi berdasarkan kondisi fisik sistem.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5. Keterbatasan Model<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil model tidak dapat langsung digunakan untuk menyatakan bahwa penggantian oli tertentu akan mempercepat pemanasan reaktor dengan rasio yang sama seperti hasil simulasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model menggunakan satu temperatur rata-rata, kapasitas termal efektif konstan, dan temperatur oli yang dipertahankan konstan. Dalam sistem nyata, temperatur dapat berbeda sepanjang tabung, perpindahan panas dipengaruhi oleh dinding baja dan material biomassa, serta kehilangan panas ke lingkungan dapat terjadi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Selain itu, Ceff dikalibrasi melalui waktu acuan 115 menit. Jika waktu tersebut bukan data pengukuran, hasil model belum memperoleh validasi eksperimental independen. Oleh karena itu, model saat ini tepat digunakan untuk analisis sensitivitas dan pembelajaran metode numerik, bukan untuk menetapkan spesifikasi operasi akhir reaktor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>E. PENUTUP<\/strong><\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Kesimpulan <\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Model perpindahan panas transien sederhana telah disusun berdasarkan neraca energi untuk merepresentasikan respons temperatur reaktor torefaksi tubular dengan oil jacket. Persamaan diferensial diselesaikan menggunakan metode Forward Euler dengan interval waktu satu menit.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pada parameter yang digunakan, model analitis memprediksi waktu pencapaian temperatur 275\u00b0C sebesar 115 menit, 57,5 menit, dan 38,33 menit untuk skenario heff masing-masing 50, 100, dan 150 W\/(m\u00b2\u00b7K). Hasil tersebut menunjukkan sensitivitas waktu pemanasan terhadap perubahan koefisien perpindahan panas efektif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Hasil numerik menunjukkan perbedaan kecil terhadap solusi analitis akibat diskretisasi waktu. Dengan demikian, solusi analitis dapat digunakan untuk verifikasi implementasi metode Forward Euler pada model ini.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Namun, nilai koefisien perpindahan panas efektif masih berupa skenario parametrik, sedangkan kapasitas termal efektif diperoleh melalui kalibrasi. Karena itu, hasil penelitian belum membuktikan kinerja aktual oli tertentu atau menggantikan pengujian eksperimental.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">2. Saran <\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Pengembangan selanjutnya disarankan untuk:<\/p>\n\n\n\n<ol class=\"wp-block-list\">\n<li>Mengumpulkan data temperatur reaktor terhadap waktu dari pengujian aktual.<\/li>\n\n\n\n<li>Memastikan asal waktu acuan 115 menit yang digunakan untuk kalibrasi.<\/li>\n\n\n\n<li>Menentukan koefisien perpindahan panas berdasarkan sifat oli dan kondisi konveksi alami yang sesuai.<\/li>\n\n\n\n<li>Mempertimbangkan kehilangan panas ke lingkungan serta kapasitas termal komponen yang relevan.<\/li>\n\n\n\n<li>Membandingkan hasil model dengan data pengukuran sebelum digunakan untuk pengambilan keputusan operasional.<\/li>\n\n\n\n<li>Mengembangkan model multi-node atau simulasi distribusi temperatur apabila dibutuhkan analisis yang lebih rinci.<\/li>\n<\/ol>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>F. 33 KRATERIA DAI5<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">I. Deep Awareness of I (DAI)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>1. Consciousness of Purpose<\/strong><br>Penelitian ini dilakukan untuk memahami perpindahan panas pada reaktor torefaksi secara bertanggung jawab.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>2. Self-awareness<\/strong><br>Penulis menyadari bahwa hasil simulasi dipengaruhi oleh asumsi dan keterbatasan model.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>3. Ethical Considerations<\/strong><br>Hasil simulasi tidak digunakan untuk menentukan kondisi operasi sebelum keselamatan dan akurasinya diperiksa.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>4. Integration of CCIT<\/strong><br>Penelitian dilakukan dengan mengingat Tuhan Yang Maha Esa dan menjaga tanggung jawab moral.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>5. Critical Reflection<\/strong><br>Peningkatan koefisien perpindahan panas mempercepat pemanasan dalam model, tetapi belum membuktikan kinerja oli nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>6. Continuum of Awareness<\/strong><br>Kesadaran terhadap tujuan, asumsi, dan keterbatasan dijaga dari awal hingga akhir penelitian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">II. Intention<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>7. Clarity of Intent<\/strong><br>Penelitian bertujuan menganalisis temperatur reaktor terhadap waktu.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>8. Alignment of Objectives<\/strong><br>Tujuan penelitian diwujudkan melalui model neraca energi dan metode <em>Forward Euler<\/em>.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>9. Relevance of Intent<\/strong><br>Penelitian ini membantu memahami proses pemanasan pada reaktor torefaksi tubular.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>10. Sustainability Focus<\/strong><br>Kajian ini mendukung pengembangan pemanfaatan biomassa sebagai sumber energi alternatif.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>11. Focus on Quality<\/strong><br>Ketelitian dijaga melalui konsistensi satuan, pemeriksaan persamaan, dan verifikasi hasil numerik.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">III. Initial Thinking (about the Problem)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>12. Problem Understanding<\/strong><br>Masalah utama adalah pengaruh koefisien perpindahan panas terhadap temperatur reaktor.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>13. Stakeholder Awareness<\/strong><br>Hasil penelitian perlu dipahami oleh peneliti dan operator sebagai prediksi model, bukan jaminan kinerja nyata.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>14. Contextual Analysis<\/strong><br>Reaktor menggunakan <em>oil jacket<\/em> dengan CALFLO AF tanpa bantuan pompa sirkulasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>15. Root Cause Analysis<\/strong><br>Perubahan waktu pemanasan dianalisis berdasarkan koefisien perpindahan panas dan beda temperatur.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>16. Relevance of Analysis<\/strong><br>Model sederhana dipilih untuk menjawab masalah tanpa memerlukan simulasi CFD yang kompleks.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>17. Use of Data and Evidence<\/strong><br>Dimensi reaktor mengacu pada jurnal, sedangkan beberapa parameter lain masih berupa asumsi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">IV. Idealization<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>18. Assumption Clarity<\/strong><br>Model mengasumsikan temperatur reaktor seragam, temperatur oli konstan, dan kehilangan panas diabaikan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>19. Creativity and Innovation<\/strong><br>Analisis sensitivitas digunakan untuk mempelajari pengaruh perubahan koefisien perpindahan panas secara sederhana.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>20. Physical Realism<\/strong><br>Model menggunakan neraca energi, tetapi masih menyederhanakan kondisi termal reaktor yang sebenarnya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>21. Alignment with Intent<\/strong><br>Model dipilih agar dapat menghitung temperatur, laju panas, dan waktu pencapaian target.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>22. Scalability and Adaptability<\/strong><br>Model dapat digunakan untuk skenario lain dengan menyesuaikan parameter yang relevan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>23. Simplicity and Elegance<\/strong><br>Satu persamaan diferensial digunakan agar model mudah dihitung dan dijelaskan.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">V. Instruction (Set)<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>24. Clarity of Steps<\/strong><br>Proses dilakukan melalui penentuan parameter, penyusunan persamaan, iterasi numerik, dan analisis hasil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>25. Comprehensiveness<\/strong><br>Model mencakup parameter utama, tetapi belum menghitung seluruh fenomena perpindahan panas.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>26. Physical Interpretation<\/strong><br>Temperatur menunjukkan respons pemanasan, sedangkan laju panas menunjukkan perpindahan energi dalam model.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>27. Error Minimization<\/strong><br>Galat numerik diperiksa dengan membandingkan hasil <em>Forward Euler<\/em> dan solusi analitis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>28. Verification and Validation<\/strong><br>Verifikasi dilakukan secara analitis, sedangkan validasi eksperimen memerlukan data pengukuran aktual.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>29. Iterative Approach<\/strong><br>Parameter dan langkah waktu dapat diperbaiki untuk meningkatkan kualitas hasil simulasi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>30. Sustainability Integration<\/strong><br>Model dapat mendukung kajian penghematan energi, tetapi memerlukan data konsumsi energi dan emisi.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>31. Communication Effectiveness<\/strong><br>Persamaan, tabel, dan grafik disajikan agar hasil mudah dipahami dan diulang.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>32. Alignment with the DAI5 Framework<\/strong><br>Setiap tahap penelitian dihubungkan dengan tujuan, pemodelan, komputasi, dan evaluasi hasil.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><strong>33. Documentation Quality<\/strong><br>Seluruh parameter, asumsi, persamaan, hasil, dan keterbatasan dicatat secara sistematis.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n\n\n\n<p class=\"has-text-align-center wp-block-paragraph\"><strong>G. UCAPAN TERIMA KASIH<\/strong><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Penulis menyampaikan terima kasih kepada dosen pengampu mata kuliah Komputasi Teknik atas arahan dalam pembelajaran pemodelan dan penyelesaian numerik. Penulis juga mengapresiasi penulis penelitian terdahulu yang menyediakan referensi mengenai rancangan reaktor torefaksi tubular dan simulasi perpindahan panas transien.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Amrul, Fariz, M., &amp; Gandidi, I. M. (2017). Thermal simulation of continuous torefaction reactor tubular type for solid fuel production of municipal waste. Prosiding SNTTM XVI, 53\u201356.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Apriyanto, A., Amrul, &amp; Amrizal. (2018). Rancang bangun dan analisis unjuk kerja reaktor torefaksi kontinu tipe tubular dengan sistem pemanas oil jacket. Jurnal Mechanical, 9(2), 54\u201366.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sastra, A. (t.t.). DAI5, R12 [Dokumen panduan]. CCIT Online. <a href=\"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/dai5-r12.pdf?utm_source=chatgpt.com\">https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-content\/uploads\/2025\/04\/dai5-r12.pdf<\/a><\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\"><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>&#8220;ANALISIS SENSITIVITAS KOEFISIEN PERPINDAHAN PANAS EFEKTIF TERHADAP RESPONS TEMPERATUR TRANSIEN REAKTOR TOREFAKSI TUBULAR DENGAN OIL JACKET&#8220; Hafidz Zakiyun Alrasyid Program Studi Magister Teknik Mesin Fakultas TeknikUniveristas Indonesia, Depok, Jawa Barat Abstrak Penelitian ini membahas pemodelan dan simulasi perpindahan panas transien pada reaktor torefaksi kontinu tipe tubular dengan sistem pemanas oil jacket. Permasalahan yang dikaji adalah [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":653,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-19518","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-general"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19518","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/653"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=19518"}],"version-history":[{"count":4,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19518\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":19711,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/19518\/revisions\/19711"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=19518"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=19518"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=19518"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}