{"id":15200,"date":"2026-05-17T16:57:15","date_gmt":"2026-05-17T16:57:15","guid":{"rendered":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/?p=15200"},"modified":"2026-05-17T16:57:15","modified_gmt":"2026-05-17T16:57:15","slug":"steven-fransisko-halomoan-2306266060","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/2026\/05\/17\/steven-fransisko-halomoan-2306266060\/","title":{"rendered":"Steven Fransisko Halomoan-2306266060"},"content":{"rendered":"\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Halo semuanya, apa kabar?<br>Perkenalkan, nama saya <strong>Steven Fransisko Halomoan<\/strong>, mahasiswa Universitas Indonesia dari program studi Teknik Perkapalan. Saya lahir dan besar di Bogor. Meskipun demikian, keluarga saya berasal dari medan, sehingga kami masih cukup sering pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Bagi saya, medan memiliki suasana yang sangat berbeda dibandingkan kota-kota besar di Jabodetabek. Walaupun merupakan ibu kota provinsi, Jambi tetap terasa seperti kota kecil yang tenang dan sederhana. Belakangan ini cuacanya memang terasa semakin panas akibat banyaknya perkebunan sawit, tetapi suasana kehidupan masyarakatnya masih sangat nyaman untuk menikmati hidup dengan lebih santai atau slow living. Aktivitas masyarakat dimulai lebih lambat dibandingkan kota besar; toko-toko biasanya baru buka sekitar pukul sembilan pagi, pasar mulai ramai sekitar pukul delapan, dan pagi hari identik dengan budaya duduk di kopitiam.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kopitiam menjadi tempat yang sangat khas di sana. Banyak orang tua berkumpul setiap pagi hanya untuk menikmati secangkir kopi hitam sambil berbincang mengenai kehidupan sehari-hari. Di atas meja biasanya tersedia segelas kopi, semangkuk tamie, dan telur ayam kampung setengah matang. Suasana sederhana seperti itu justru menghadirkan kehangatan dan rasa kebersamaan yang sulit ditemukan di kota besar. Dari obrolan ringan di meja kopitiam, selalu ada cerita dan pandangan baru yang membuat hari terasa lebih hidup.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saat ini saya berusia 21 tahun. Keseharian saya dipenuhi perjalanan pulang-pergi dari Bogor menuju Universitas Indonesia di Depok, Jawa Barat. Dalam satu hari, saya menghabiskan sekitar tiga hingga empat jam di perjalanan, dengan waktu tempuh kurang lebih dua jam sekali jalan. Walaupun melelahkan, perjalanan tersebut sudah menjadi bagian dari rutinitas yang harus saya jalani sebagai mahasiswa perantau harian.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Untuk riwayat pendidikan, saya menempuh pendidikan SD hingga SMA di Regina Pacis Bogor, sedangkan taman kanak-kanak di Mardi Waluya Bogor. Mungkin sekolah saya tidak terlalu dikenal banyak orang, tetapi tempat tersebut menjadi bagian penting dalam proses perkembangan saya hingga bisa berada di titik sekarang. Saya diterima di Universitas Indonesia melalui jalur SNBT. Semasa SMA, saya memang memiliki keinginan besar untuk dapat kuliah di UI. Karena itu, saya berusaha keras hingga menjadi siswa eligible dan memiliki kesempatan mengikuti jalur SNBP. Namun, saat itu saya belum berhasil diterima melalui jalur tersebut.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Kegagalan tersebut sempat membuat saya kecewa, tetapi saya mencoba kembali melalui SNBT dan akhirnya berhasil lolos. Jurusan Teknik Perkapalan sebenarnya bukan pilihan utama saya, bahkan bisa dibilang pilihan terakhir. Sampai sekarang pun saya terkadang masih heran bagaimana akhirnya saya memilih jurusan ini. Namun satu hal yang pasti, Fakultas Teknik Universitas Indonesia memang menjadi tujuan utama saya sejak awal.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Sejujurnya, ketika masih SMA saya tidak terlalu memiliki keinginan besar untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang S1. Akan tetapi, berbagai dorongan dari keluarga, pengalaman orang-orang di sekitar saya, dan pertimbangan masa depan akhirnya membuat saya memutuskan untuk tetap melanjutkan kuliah. Walaupun saat ini saya menjalaninya, ada kalanya rasa lelah dan kehilangan semangat muncul, terlebih karena latar belakang pendidikan orang tua saya bukan dari perguruan tinggi, melainkan lulusan SMEA atau setara SMA\/SMK pada masanya. Terkadang keadaan tersebut membuat saya berpikir ulang tentang perjalanan yang sedang saya jalani. Namun ketika rasa lelah datang, saya mencoba berhenti sejenak dan mengingat kembali perjuangan yang sudah dilakukan, termasuk pengorbanan orang tua yang telah mengeluarkan biaya pendidikan tidak sedikit demi masa depan saya.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Dari perjalanan hidup yang saya alami sampai saat ini, saya belajar bahwa tidak semua hal berjalan sesuai rencana. Ada harapan yang gagal tercapai, ada pilihan yang awalnya terasa asing, dan ada keadaan yang memaksa saya belajar menerima kenyataan dengan lebih dewasa. Namun justru dari proses itulah saya memahami bahwa seseorang tidak hanya dibentuk oleh keberhasilan, tetapi juga oleh rasa lelah, keraguan, dan keberanian untuk tetap melangkah.<\/p>\n\n\n\n<p class=\"wp-block-paragraph\">Saya bukan pribadi yang selalu memiliki motivasi besar setiap hari, tetapi saya percaya bahwa menyerah bukanlah pilihan yang tepat. Bagi saya, menjadi mahasiswa Universitas Indonesia bukan sekadar membawa nama kampus besar, melainkan juga tentang tanggung jawab untuk menghargai perjuangan orang tua, perjalanan panjang setiap hari, dan kesempatan yang telah diberikan kepada saya.<audio autoplay=\"\"><\/audio><\/p>\n","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Assalamualaikum warahmatullahi wabarakatuh. Halo semuanya, apa kabar?Perkenalkan, nama saya Steven Fransisko Halomoan, mahasiswa Universitas Indonesia dari program studi Teknik Perkapalan. Saya lahir dan besar di Bogor. Meskipun demikian, keluarga saya berasal dari medan, sehingga kami masih cukup sering pulang ke kampung halaman untuk berkumpul bersama keluarga besar. Bagi saya, medan memiliki suasana yang sangat berbeda [&hellip;]<\/p>\n","protected":false},"author":620,"featured_media":0,"comment_status":"open","ping_status":"closed","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"footnotes":""},"categories":[26],"tags":[],"class_list":["post-15200","post","type-post","status-publish","format-standard","hentry","category-general"],"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15200","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/users\/620"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=15200"}],"version-history":[{"count":1,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15200\/revisions"}],"predecessor-version":[{"id":15207,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/15200\/revisions\/15207"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=15200"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=15200"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/ccitonline.com\/wp\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=15200"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}