Pada sisi progres proyek, saya telah menjalankan tahap finalisasi simulasi dengan melakukan serangkaian pengujian terhadap tingkat kerapatan grid yang berbeda. Saya telah menguji model menggunakan tiga skala kerapatan, mulai dari skala kasar, sedang, hingga halus. Dari hasil pengujian tersebut, saya mendapati bahwa selisih suhu rata-rata antara skala sedang dan halus hanya berkisar 0,85%. Oleh karena itu, saya memutuskan bahwa skala sedang sudah cukup representatif untuk digunakan dalam pengambilan data final, sehingga langkah-langkah instruksi simulasi saya menjadi lebih efisien namun tetap terjaga akurasinya.
Saya telah menyelesaikan pengujian sensitivitas terhadap rasio pengisian palka atau tingkat penggunaan ruang simpan. Saya melakukan perbandingan kondisi operasional saat palka terisi 75% sesuai rencana awal dengan kondisi beban penuh mencapai 90%. Saya mencatat bahwa pada kondisi beban sembilan puluh persen, waktu yang dibutuhkan untuk mencapai suhu aman yaitu 4 derajat Celcius mengalami peningkatan sebanyak tiga setengah jam. Angka-angka ini telah saya dokumentasikan secara mendetail sebagai bagian dari analisis performa sistem pendinginan air laut pada kapal ikan bawal putih yang saya teliti.
Saya telah melakukan pengecekan silang antara hasil numerik dari metode selisih hingga dengan perhitungan neraca massa dan energi yang dilakukan secara manual. Saya menghitung bahwa untuk mendinginkan dua puluh ton campuran ikan dan air laut dari suhu 28 derajat menjadi 1 derajat Celcius, diperlukan pembuangan energi sebesar kurang lebih 1,94 Giga Joule. Setelah membandingkan nilai tersebut dengan akumulasi aliran panas yang dihitung oleh program saya selama 14 jam simulasi, saya menemukan tingkat kesesuaian mencapai 96,2%. Selisih sebesar 3,8% tersebut saya identifikasi sebagai galat diskritisasi yang masih berada dalam batas toleransi keteknikan.
Saya telah melakukan finalisasi pada pemodelan kondisi batas untuk isolasi palka kapal. Saya memperhitungkan hambatan termal total yang mencakup berbagai lapisan, mulai dari perpindahan panas akibat aliran air laut di luar kapal, hantaran panas pada plat baja, hantaran panas pada lapisan isolasi poliuretan, hingga perpindahan panas ke air pendingin di dalam palka. Hasilnya, saya mendapati bahwa aliran panas yang menembus dinding palka pada kondisi stabil adalah sebesar 12 Watt per meter persegi. Data ini telah saya integrasikan sepenuhnya ke dalam model final yang saya bangun.
Saya telah menjalankan simulasi dengan durasi panjang selama 48 jam untuk mengamati stabilitas jangka panjang dari sistem pendinginan tersebut. Saya mengamati bahwa setelah suhu target tercapai, sistem secara otomatis memasuki fase pemeliharaan di mana suhu hanya berfluktuasi tipis di kisaran 0,5 hingga 1,5 derajat Celcius. Hal ini terjadi akibat interaksi dengan kebocoran panas dari lingkungan luar. Observasi ini memberikan gambaran yang sangat realistis mengenai pola kerja mesin kompresor yang akan sering mengalami siklus hidup dan mati pada tahap operasional tersebut.
Saya telah melakukan analisis spasial terhadap distribusi suhu di sepanjang sumbu memanjang palka kapal. Saya mendapati bahwa area yang terletak di dekat saluran keluar sirkulasi air laut menunjukkan laju pendinginan yang sedikit lebih lambat jika dibandingkan dengan area yang dekat dengan saluran masuk. Saya telah memetakan gradien atau kemiringan suhu ini serta menghitung nilai simpangan bakunya untuk menunjukkan tingkat keseragaman pendinginan di dalam palka. Langkah ini merupakan bagian dari upaya saya untuk memberikan rekomendasi desain yang lebih baik bagi kapal nelayan di masa depan.
Saya telah melakukan pengecekan silang terhadap nilai difusivitas termal yang saya gunakan dengan merujuk pada beberapa jurnal penelitian mengenai ikan tropis. Saya melakukan penyesuaian kecil pada nilai kapasitas panas spesifik ikan bawal putih menjadi 3550 Joule per kilogram Kelvin berdasarkan kadar air rata-rata sebesar 76%. Penyesuaian parameter ini saya lakukan untuk memastikan bahwa tahap idealisasi yang saya bangun benar-benar mendekati karakteristik biologis asli dari ikan yang saya analisis.
Saya telah memvalidasi performa algoritma yang saya buat terhadap kriteria stabilitas secara dinamis. Saya menyusun fungsi pengecekan otomatis di dalam kode pemrograman saya yang akan memberikan peringatan jika nilai kriteria stabilitas mendekati batas kritis yaitu satu per enam. Selama proses pengerjaan, saya memastikan nilai tersebut selalu berada di bawah nol koma satu untuk menjamin keakuratan hasil simulasi dan menghindari munculnya fluktuasi angka yang tidak diinginkan secara numerik.
Saya telah melakukan pengambilan data final dalam bentuk susunan data empat dimensi yang mencakup variabel ruang dan waktu, kemudian menyimpannya dalam format yang siap untuk diolah lebih lanjut. Saya juga telah melakukan pembersihan data untuk menghilangkan nilai-nilai anomali yang mungkin muncul akibat proses pembulatan pada langkah waktu awal simulasi. Kesiapan data ini menjadi penanda bahwa seluruh proses eksperimen numerik yang saya lakukan telah selesai secara teknis dan siap untuk dianalisis lebih dalam.
Saya telah melakukan evaluasi terhadap area yang kurang mendapatkan sirkulasi pendinginan yang sebelumnya telah teridentifikasi. Saya mencoba menjalankan skenario simulasi di mana kecepatan sirkulasi air pendingin ditingkatkan sebesar 20%. Hasilnya menunjukkan adanya pengurangan area yang kurang efektif tersebut sebesar 15%, namun di sisi lain hal ini meningkatkan beban kerja pompa secara signifikan. Analisis pertukaran nilai atau pertimbangan untung rugi ini telah saya siapkan sebagai materi diskusi teknis yang mendalam pada tahap pengerjaan selanjutnya.
link youtube:
https://youtu.be/jaY0hdS_hkA