Tanggung Jawab Industri dalam Green Business

1. Pendahuluan Green Business secara sederhana dapat kita artikan sebagai sebuah kegiatan bisnis yang memperhatikan masalah lingkungan. Isu ini merupakan isu yang akhir-akhir ini semakin ramai dibicarakan oleh orang-orang di berbagai penjuru dunia. Memang permasalahan lingkungan yangdiderita oleh bumi kita tercinta ini sudah sedemikian akut, dan tampaknya jika tidak segera diberikan pengobatan dan tindakan pencegahan penyakit lebih lanjut, rasa-rasanya dalam waktu singkat bumi ini akan segera menjadi tempat yang tidak layak lagi untuk ditinggali oleh umat manusia dan makhluk hidup lainnya. Bahkan pada saat ini pun kita sudah bisa merasakan ‘cicilan’ dampak yang diakibatkan parahnya kerusakan lingkungan di sekitar kita. Banjir, polusi, pencemaran air, dan juga tentunya permasalahan yang kini menjadi isu global, global warming.

Merasakan langsung berbagai dampak tersebut memang seperti merasakan cipratan air ketika menepuk kolam. Artinya, semua yang kita derita sekarang memang merupakan akibat dari perbuatan kaum kita sendiri, yaitu manusia. Tidak perlu saling menyalahkan, namun analisis tetap dibutuhkan. Kita dapat melihat bahwa kegiatan industri memiliki andil yang sangat besar dalam kerusakan lingkungan. Bukannya hendak menjelekkan aktivitas industri, namun memang ada konsekuensi dari kemajuan peradaban yang kita usahakan. Dan dengan semakin berkembangnya ilmu pengetahuan, seharusnya konsekuensi kerusakan lingkungan dapat semakin kita tekan, kalau memang tidak bisa dihilangkan sama sekali.

2. Perkembangan Isu Lingkungan Isu lingkungan telah menjadi isu global yang dapat diterima oleh semua pihak. Tidak seperti dulu, di tahun 80-an dan 90-an, di mana yang banyak terjadi adalah konfrontasi terbuka antara berbagai NGO lingkungan dengan pihak industri. Misalnya seperti yang terjadi pada kasus WALHI melawan Freeport di Indonesia beberapa tahun yang lalu. Zaman sekarang perusahaan-perusahaan semakin membenahi dirinya masing-masing, baik dalam hal sosial maupun lingkungan hidup. Fokus diskusi saat ini bukan semata-mata tentang perilaku usaha yang salah, tetapi bagaimana caranya menjalankan bisnis yang lebih bertanggung jawab dan bahkan mengambil peran terdepan dalam membantu menyelesaikan masalah-masalah yang ada di masyarakat, termasuk masalah lingkungan ini.

Bahkan sebenarnya sebuah perusahaan industri memiliki potensi yang amat besar untuk mengusung tema-tema lingkungan. Masyarakat modern akan semakin cerdas dalam memilih produk yang akan mereka konsumsi. Pertimbangan dalam memilih suatu produk tidak lagi hanya terfokus pada fungsi dan tampilan produk, namun juga tentang ‘siapa’ yang memproduksi produk tersebut. Contoh kasus di Eropa, pada saat Nestle mengeluarkan produk coklat Cailler, yang ternyata kotak bungkusannya sangat sulit didaur ulang, produk ini mendapat kecaman keras dari kelompok pro-lingkungan di sana, yang mengakibatkan Nestle harus berpikir ulang untuk memperbaiki image yang telah ditimbulkan oleh produk tersebut. Dalam hal ini pencitraan perusahaan menjadi penting, dan amat terkait dengan sisi marketing.

3. Corporate Citizenship Seiring dengan berkembangnya isu-isu lingkungan yang tadi sudah kita bahas, maka berkembang pula konsep Corporate Citizenship, atau sering disebut juga Corporate Social Responsibility, yaitu konsep perusahaan dengan tanggung jawab kepada masyarakat untuk menjadi komponen penting untuk menyelesaikan masalah-masalah di dalam masyarakat, baik secara lokal, nasional, maupun internasional, sesuai kemampuan dari perusahaan tersebut.

Beberapa bentuk tanggung jawab yang dapat diambil suatu perusahaan pelaku industri dalam isu lingkungan di masyarakat antara lain:

a) pemakaian material yang ramah lingkungan

Memang tidak semua proses memiliki material pengganti yang ramah lingkungan,

namun setidaknya usaha dan penelitian ke arah ini harus terus dilakukan, meliputi

pembiayaan dan kerja sama dengan lembaga-lembaga penelitian dan universitas.

b) proses produksi yang ramah lingkungan

Pemilihan proses produksi tidak hanya didasarkan pada pertimbangan efisiensi

waktu dan biaya, namun juga meliputi aspek lingkungan, dengan analisis AMDAL yang

baik.

c) pembuangan dan pengolahan limbah dan residu lain yang mengacu kepada usaha-usaha

meminimalisir efek yang ditimbulkan terhadap lingkungan

d) produk yang ramah lingkungan, mudah untuk di-recycle.

Biasanya meliputi kemasan, gas buang dari produk otomotif, dan lain sebagainya

e) aktif dalam kampanye pro-lingkungan, secara internal perusahaan maupun secara

eksternal.

f) turut serta dalam pembudayaan konsep ramah lingkungan di masyarakat. Pembiasaan

yang dimulai dari manajemen perusahaan, para karyawan, sampai pada masyarakat di

sekitarnya. Misalnya pembudayaan ‘bike to work’, membuang sampah pada tempatnya,

dan lain-lain

4. Penutup Pada dasarnya kita harus mulai membuang rasa egois dalam diri kita. Menyadari sepenuhnya bahwa anak dan cucu kita mungkin masih akan terus tinggal di bumi yang sama. Dan juga menyadari bahwa bumi tempat tinggal kita ini adalah amanah, yang harus kita kelola dengan sebaik-baiknya, tidak hanya memanfaatkan tanpa adanya usaha-usaha untuk memelihara.

Seringkali dogma-dogma di atas dibenturkan dengan kepentingan bisnis, dengan dalih kemajuan peradaban dan kepentingan teknologi. Namun yang harus kita ingat bahwa filosofi dasar itu sendiri adalah hal yang kita buat untuk membuat kehidupan kita lebih nyaman dan lebih bermanfaat. Kalau ternyata teknologi yang kita buat memberikan mudharat yang lebih besar dari kemanfaatannya, buat apa kita pertahankan? WalLahu? a’lam.

Forum diskusi terkait topik ini silahkan klik: http://www.ccitonline.com/mekanikal/tiki-view_forum_thread.php?comments_parentId=1574&topics_offset=1&topics_sort_mode=lastPost_desc&forumId=23

Atau buka yahya homepage: http://www.ccitonline.com/mekanikal/tiki-index.php?page=yahya